Senin, 23 Mei 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut

                                                                                                                      edohaput

Bagian kesembilan

     Tepat tanggal 30 April 2011, Pak Tuman, Tiong, Mursinu dan Samidi memenuhi panggilan polisi. Hari masih pagi. Belum jam sembilan. Pak Tuman, Tiong. Mursinu dan Samidi diambil sidik jarinya oleh polisi. Sidik jari mereka akan dicocokkan dengan sidik jari yang tertinggal di mayat Partini yang saat ini masih ada di loker es di rumah sakit. Setelah cukup di kantor polisi mereka digiring ke rumah sakit untuk diambil sample spermanya. Yang nanti juga akan dicocokkan dengan sperma yang tertinggal di kemaluan Partini. Hari itu setelah selesai berurusan dengan polisi mereka diperbolehkan pulang. Tak satu orang pun yang ditahan. Termasuk juga Darman, hari itu dibebaskan juga dari tahanan polisi.
     Tanggal 1 Mei 2011, harinya Minggu jamnya masih pagi,  mayat Partini oleh pihak polisi dan rumah sakit diantar ke ke dusun untuk dimakamkan. Prosesi pemakaman Partini membuat haru warga dusun. Mereka pada menangisi Partini yang diusung dengan kerenda dari rumahnya menuju kuburan dusun. Partini gadis lugu. Partini gadis ayu. Partini yang supel, sopan dan bertabiat baik. Partini yang diinginkan oleh para pemuda desa untuk dinikahi. Mengapa begitu cepat meninggalkan dunia. Dan kematiannya diliputi misteri.
     Hari itu Darman, Mursinu, Samidi dan pemuda - pemuda dusun disibukkan oleh prosesi pemakan Partini. Mereka pulalah yang mengusung jenasah dari rumah duka ke kuburan. Warga masih terus bertanya - tanya. Siapa orang yang tega membunuh Partini. Siapa orang itu, yang malam itu tega menyetubuhi Partini dan membunuhnya. Darman, Tiong, Samidi, Mursinu dan pak Tuman masih menjadi pembicaraan warga. Dari kelima orang itu siapa yang sebenarnya pembunuh Partini. Tetapi mengapa tak ada satu pun dari mereka yang ditahan polisi.
     Tanggal 3 Mei 2011, harinya selasa polisi kembali datang ke dusun. Para tokoh masyarakat, para pemuda, kepala dusun, pak lurah, tak ketinggalan Darman, Samidi, Mursinu, pak Tuman dan Tiong dikumpulkan oleh polisi di Balai Desa. Polisi mengumumkan bahwa Darman, Samidi, Mursinu, Tiong dan pak Tuman tidak ada yang terbukti membunuh Partini. Setelah polisi dan dokter menganalisa temuan, sidik jari mereka tidak cocok dengan sidik jari orang yang tertinggal di tubuh mayat Partini. Begitu juga sperma mereka tidak ada yang cocok dengan sperma orang yang tertinggal di kemaluan Partini. Hari itu nama baik pak Tuman, Mursinu, Samidi dan Tiong direhabilitasi setelah nama - nama mereka sempat menjadi gunjingan karena dipanggil polisi. Lebih - lebih nama baik Darman yang sempat ditahan polisi selama lima hari. Hari itu juga polisi mengumumkan hasil analisa dan diagnosa dokter bahwa kematian Partini bukan karena racun. Bukan karena dicekik. Dan bukan karena disetubuhi. Di tubuh Partini tidak ditemukan tindak kekerasan. Dokter dan polisi belum bisa menyimpulkan. Hanya saja diketahui oleh dokter bahwa Partini sedang dalam keadaan hamil dua bulan.
     Sejak hari itu misteri meninggalnya Partini hanya sebatas menjadi pembicaraan warga. Mereka hanya bisa bertanya - tanya siapa yang menghamili Partini. Mengapa Partini meninggal. Siapa yang malam itu,  tanggal 24 April 2011 malam menyetubuhi Partini. Seiring dengan berjalannya waktu maka ahkirnya cerita tentang Partini tenggelam juga. Apalagi sejak Partini meninggal mbok Sargini dibawa Tiong ke kota untuk dijadikan pembantu rumah tangga di keluarganya. Mbok Sargini tidak benar - benar dijadikan pembantu oleh Tiong. Karena pekerjaan yang dilakukan mbok Sargini hanya melayani keperluan sehari - hari Tiong dan yang paling utama adalah melayani Tiong di tempat tidur. Tiong menjadi betah menjalani masa lajangnya karena kebutuhan biologisnya terpenuhi dengan mbok Sargini. Sejak Partini meninggal babah Ong omnya Tiong dan suami tidak sahnya mbok Sargini yang juga telah berketurunan Partini  tak lagi mensubsidi kebutuhan mbok Sargini. Apalagi babah Ong kini tahu kalau mbok Sargini telah berada di rumah Tiong keponakaannya itu.
    
***
    
     Enam bulan sejak kematian Partini, tepatnya hari itu adalah hari Minggu tanggal 13 November 2011 waktu matahari masih berada di ufuk timur, ketika para warga yang berprofesi sebagai petani sedang pada mulai berangkat ke sawah, mereka dikagetkan oleh suara tangis dan ribut - ribut dari arah rumah pak Sukirban. Orang - orang pada mengurungkan pergi ke sawah dan bergegas membelokkan arah jalannya menuju suara tangis dan ribut - ribut di rumah pak Sukirban.
     Di rumah pak Sukirban, warga melihat pemandangan yang memilukan. Surinah meninggal dunia. Jasat Surinah tertelungkup di ranjang  di dalam kamarnya dengan tak sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Tangan Surinah berada di bawah dadanya. Sehingga dua buah dadanya yang besar menekan kedua tangannya. Menyebabkan payudara itu menyembul kesamping kiri kanan dada Surinah. Pantatnya yang besar padat dan sintal tampak lebih menonjol dibandingkan dengan punggungnya. Karena kaki Surinah agak membuka, maka kemaluan Surinah dapat dengan jelas terlihat. Kemaluan itu sudah banyak ditumbuhi rambut yang cukup lebat. Dan sekitar kemaluan Surinah ada cairan yang menempel di sprei. Bekas cairan itu masih sangat jelas terlihat. Bahkan seandainya diraba pasti masih basah. Bibir kemaluan Surinah yang sedikit membuka juga masih dapat dilihat dengan jelas kalau di situ masih ada lelehan cairan kental dan putih mirip ingus.
     Kepala dusun yang sudah memiliki pengalaman pada saat Partini dulu ditemukan meninggal di kamarnya, melarang warga untuk mendekat dan memegang jasad Surinah. Begitu juga kepada keluarganya kepala dusun juga tak memperbolehkan menyentuh jasad Surinah. Kepala dusun segera memasang tali di sekitar kamar Surinah dan melarang warga mendekati tali rafia itu.
      Baru kira - kira jam sembilan polisi bisa datang di rumah pak Sukirban. Para polisi segera mengolah tekape. Selama dua jam lebih polisi berada di rumah pak Sukirban untuk mengolah tekape. Sekitar tengah hari jasad Surinah dibawa polisi dengan mobil ambulan rumah sakit menuju kota untuk diadakan penyelidikan lebih lanjut terhadap sebab - sebab kematiannya.
     Surinah anak dari pasangan pak Sukirban dengan mak Temi. Usia Surinah belum mencapai delapan belas tahun. Tepatnya umur Surinah baru tujuh belas tahun lebih beberapa bulan. Seandainya  meneruskan sekolah Surinah baru duduk dibangku kelas sepuluh atau kelas satu es el tea. Tapi karena memang pak Sukirban ini hanya buruh tani yang tak memiliki lahan, maka tak akan mampu menyekolahkan Surinah ke jenjang es el tea di kota. Surinah anak kedua dari pasangan pak Sukirban dan mak Temi. Anak pak Sukirban dan mak Temi  yang pertama laki - laki, sudah berkeluarga. Dan tidak lagi tinggal bersama  pak Sukirban.
     Sepeninggal Partini julukan kembang dusun di dusun itu beralih ke Surinah. Surinah memang cantik dan manis. Secara umum memang tak secantik Partini, tetapi Surinah memiliki sedikit kelebihan dibanding Partini yaitu dada Surinah lebih besar, lebih montok dan pantatnya lebih gempal.  Seperti halnya dulu ketika Partini masih hidup, Surinah juga banyak diimpikan oleh para pemuda dusun, bahkan juga para pemuda desa. Roman muka Surinah mirip sekali dengan wajah gadis India. Hidung mancung, bibir tidak tebal tidak juga tipis cenderung sebagai bibir yang sensual. Surinah memiliki mata yang lebar. Beralis tebal. Bulu mata lentik dan lebat. Kulit Surinah hitam manis. Kulit yang bersih. Surinah pandai merawat diri. Mulai dari rambutnya yang lebat hitam legam selalu dirawatnya dengan ramuan tradisional yang disediakan maknya. Walaupun hitam tetapi kulit Surinah bersih. Di tangan, di kaki dan bahkan seluruh tubuh gadis ini ditumbuhi bulu halus. Di bagian - bagian tubuh yang disitu memang banyak tumbuh rambut, tumbuh lebih lebat dibanding di tubuh gadis dusun pada umumnya.
     Banyak orang mengatakan bahwa Surinah bukan anak pak Sukirban. Surinah sama sekali tidak mirip pak Sukirban. Tubuh pak Sukirban yang pendek berbeda sekali dengan postur Surinah yang tinggi semampai. Pak Sukirban berhidung cenderung pesek, hidung Surinah mancung dan panjang. Dan di dusun itu tak ada gadis yang memiliki wajah seperti wajah Surinah. Seperti halnya ketika Partini masih hidup, nampak sekali kalau Partini ini keturunan babah Ong. Cantik, kulitnya putih, mata bulat dengan sudut mata yang menyipit. Partini berbeda dengan gadis dusun pada umumnya. Demikian juga Surinah ia tidak memiliki wajah seperti gadis - gadis di dusunnya. Ada perbedaan yang sangat menonjol. Bila sedang ada kumpul - kumpul remaja di dusun, Surinah maupun Partini tampak sebagai mutiara diantara batu - batu kerikil.
     Memang benar Surinah bukan anak pak Sukirban. Ia ada di dunia ini  karena  hasil hubungan gelap mak Temi dengan anak laki - laki majikannya. Majikan mak Temi adalah seorang warga negara Malaysia keturunan India. Ketika itu mak Temi yang tergiur oleh upah tinggi, ikut - ikut melamar sebagai te ka we ke Malaysia. Upah kerja setahun di kampungnya, dapat dia peroleh hanya dalam waktu sebulan kalau ia sebagai pe er te di negara Malaysia. Lamaran mak Temi diterima. Mak Temi bekerja di Malaysia dengan meninggalkan pak Sukirban dan anak laki - lakinya yang waktu itu masih kecil. Sejak mak Temi bekerja di Malaysia kehidupan pak Sukirban menjadi lebih baik. Setiap setengah tahun pak Sukirban mendapat kiriman uang dari mak Temi lebih dari cukup. Sehingga bisa memperbaiki rumah yang dulunya rumah bambu diubah menjadi rumah bata. Binatang piaraan yang berupa kambing beralih menjadi sapi. Sepeda onthel berubah menjadi sepeda motor. Pak Sukirban menjadi lebih banyak tersenyum dari pada memberengutnya.
     Majikan mak Temi orang yang sangat kaya. Memilki banyak toko di berbagai tempat di Malaysia. Di keluarga majikannya pembantu rumah tangga yang ada tidak hanya dia. Ada sepuluh pe er te di keluarga majikannya. Ada perempuan Pilipana, ada perempuan Thailand, ada permpuan India. Dan perempuan India terbanyak sebagai pe er te di keluarga majikan mak Temi. Mak Temi satu - satunya orang Indonesia di keluarga itu. Mak Temi diperkerjakan di sebuah rumah besar di Kuala Lumpur. Rumah besar itu merupakan tempat dimana sering diadakan acara - acara keluarga majikannya. Tetapi untuk kesehariannya rumah besar itu sering kosong. Hanya sesekali dan kadang - kadang anak majikannya menggunakannya untuk acara kumpul - kumpul dengan kawan - kawan remajanya. Kebersihan dan keterawatan rumah besar itu menjadi tanggung jawab mak Temi. Pekerjaan mak Temi di rumah besar itu sebenarnya ringan. Kesehariannya selagi tidak ada acara pertemuan keluarga atau meeting pengusaha yang diadakan majikannya, pekerjaan mak Temi hampir tidak ada. Ia banyak kesepian. Yang dilakukannya hanya makan, tidur, nonton teve atau melamun merindukan anak dan suaminya.
     Satu malam mak Temi dibangunkan suara dering bel pintu. Anak majikannya datang bersama dengan seorang gadis chines. Gadis itu cantik sekali. Pakaian yang dikenakannya serba minim. Kulit gadis chines ini putih bersih sangat kontras dengan kulit majikannya yang cenderung hitam. Setelah mereka minta disediakan ini dan itu kepada mak Temi mereka duduk - duduk di sofa besar di depan pesawat teve yang juga kelewat besar. Pesawat teve empat belas inchi saja mak Temi belum pernah punya. Lho kok ini pesawat teve selebar daun meja makan. Malam itu mak Temi tidak bisa santai. Sambil tiduran kupingnya dipasang siaga. kalau - kalau  najikannya memanggil. Mata tak berani terpejam. Ia menyiagakan diri untuk disuruh - suruh.
     Suasana sepi. Hanya ada suara teve yang pelan dan bahasanya tak dipahami mak Temi. Mak Temi mencoba melongok ke ruang tengah dimana majikannya berada. Betapa kagetnya mak Temi begitu matanya melihat adegan yang di pesawat teve. Adegan yang sangat asing di mata mak Temi. Seorang perempuan lagi mengulum penis seorang laki - laki. Dan lebih kaget lagi setelah pandangan mata mak Temi tertumbuk dengan adegan yang ada di sofa. Pantat Majikannya sedang bergerak maju mundur di sela kedua paha gadis chines itu. Mak Temi tak berani berlama - lama melongok. Takut majikannya mengetahuinya. Dengan langkah hati - hati mak Temi masuk kamar dan menutup pintu kamar dengan sangat hati - hati takut mengganggu majikannya yang diketahui oleh mak Temi sedang bersetubuh.
     Satu malam yang lain majikannya datang ke rumah besar bersama dengan seorang gadis India. Gadis ini cantik sekali menurut ukuran mak Temi. Mengenakan kain sari khas India. Seperti tempo malam yang lalu ketika bersama gadis Chines, majikannya mengajak gadis India ini di ruang tengah. Ruangan yang luas dengan sofa - sofa besar. Setelah majikannya minta ini, minta itu, suruh ini, suruh itu, mak Temi kembali ke dapur dan tidur di ranjang di dekat dapur. Mak Temi tetap siaga menunggu untuk disuruh - suruh. Tetapi tidak ada lagi panggilan. Mak Temi mencoba melongok ke ruang tengah dimana majikannya berada. Mak Temi terkesma oleh pemandangan yang dilihatnya. Gadis India itu telah bertelanjang bulat dan sedang mengulum penis majikannya. Tidak lama kemudian gadis India itu dibaringkan oleh majikannya. Majikannya kemudian menindihnya dan memasukkan penisnya di vagina gadis India itu. Mak Temi tak tahan melihat adegan itu.
     Begitu juga dengan malam - malam yang lain selanjutnya, majikannya selalu datang di rumah besar dengan seorang perempuan. Tetapi yang paling sering bersama majikannya adalah gadis India yang cantik itu. Karena seringnya datang di rumah besar,  mak Temi jadi akrab dengan gadis India itu. Tak jarang mak Temi mendapat lembaran - lembaran ringgit dari gadis India itu. Belakangan diketahui oleh mak Temi gadis India yang bernama Malini itu adalah pacar majikannya. Satu saat mak Temi ditanya oleh Malini apakah pernah majikannya datang kerumah besar bersama dengan perempuan lain. Mak Temi tak bisa berbuat lain selain berbohong. Mak Temi telah mengingkari dengan apa yang dilihatnya. Perempuan yang datang bersama dengan majikannya dan bersetubuh dengan majikannya sudah tak terhitung. Semua perempuan yang datang bersama majikannya di rumah besar adalah wanita - wanita yang muda, cantik dan sexsi. Satu saat majikannya datang bersama seorang perempuan yang masih sangat muda. Gadis Malaysia asli. Mak Temi memperkirakan gadis ini baru lulus esempe. Masih nampak kekanan - kanakannya. Ketika disetubuhi majikannya gadis yang satu ini paling keras mendesahnya. Kadang - kadang menjerit. Dan kadang - kadang mengerang. Mak Temi yang hanya mendengar dari dari dapur jadi kepingin melongok juga ke ruang tengah. Apa yang dilakukan majikannya sehingga gadis yang disetubuhi itu mendesah - desah, mengerang dan menjerit. Betapa kagetnya mak Temi setelah dapat melihat pemandangan yang ada di ruang tengah itu. Majikannya sedang menyetubuhi anus gadis itu. Gadis itu menungging di sofa dan majikannya berdiri dan tongkatnya menusuk anus gadis itu. Pantat gadis itu ditekan kuat oleh majikannya dan semakin lama pompaan tongkat majikannya di anus gadis itu semakin cepat. Dan gadis itu mendesah - desah. Tanganya mencengkaram pinggiran sofa, dan rambutnya yang tergerai bergoyang - goyang seirama dengan kepalanya yang menggelleng ke kiri ke kanan. Dan pemandangan yang luar biasa itu oleh mak Temi disaksikannya lebih lama dari pada ketika ia melihat adegan - adegan sebelumnya. Dan erangan majikannya yang paling keras saat kenikmatannya dipuncak yang didengar mak Temi adalah ketika bersama dengan gadis ini. Satu hal yang aneh dirasakan mak Temi. Mengapa ia sangat terangsang menyaksikan adegan majikannya dengan gadis belia ini. Pemandangan - pemandangan sebelumnya tak sebegitu merangsang keinginannya disetubuhi laki - laki. Tetapi sekali ini tiba - tiba jantungnya jadi berdegup keras. Dan yang paling merangsang mak Temi adalah ketika majikannya orgasme. Tubuh manjikannya mengejang, kedua kakinya bergetar, tangannya mencekeram pantat gadis itu, dan erangannya keras tak terkontrol. Mak Temi menduga majikannya pasti mengalami kenikmatan yang luar biasa. Mak temi jadi ingat suaminya ketika orgasme. Paling - paling ia hanya menekan tongkatnya kuat - kuat di pepek dan hanya ah uh. Dan mak Temi menduga - duga apa yang dirasakan gadis itu. Enak ? atau Sakitkah ? atau nikmat sekali kah ? Mak Temi bingung. Kebingungannya dibawanya ke kamar mandi di sudut rumah bagian belakang. Mak Temi tak ingin diketahui majikannya apa yang akan dilakukannya di kamar mandi malam itu. Setelah di dalam kamar mandi mak Temi melucuti pakaiannya sendiri. Kemudian mengambil poisisi berjongkok setelah telapak tangannya dilumuri sambun cair.
Tangannya mulai mengelus anusnya dengan sambun cair. Ada rasa geli nikmat. Kemudian jari menekan - nekan anus. Enak. Mak Temi semakin berani jarinya dimasukkan ke anus. Geli. Mula - mula satu jari kemudian dua jari dan digerakkan maju mundur pelahan - lahan. Nikmat. Kedua jarinya licin keluar masuk di anus. Mak Temi bersangka kira - kira seperti ini yang dirasakan gadis itu ketika kemaluan majikannya masuk di anusnya. Geli. Nikmat. Ahkirnya mak Temi tak tahan. Karena ada rasa yang pegal, gatal, geli di kemaluannya. Mak Temi kemudian berdiri, kakinya kangkang dengan tangan satu bertumpu di dinding kamar mandi, tangan yang lain di kemaluannya. Dua jarinya langsung masuk ke lubang kemaluannya. Disodokan ke dalam. Di dalam kemaluannya di kilik - kilikan dan dicari - cari dengan jarinya dimana di dalam kemaluannya yang paling enak disentuh dan dikilik. Mak Temi menemukannya. Dan secara lebih cepat mak Temi mengilik bagian yang enak itu. Jarinya terus keluar masuk dan ketika sampai di bagian yang paling enak di situ berlama - lama. Makin lama makin cepat mak Temi mengilik. Semakin cepat ....semaki cepat...semakin cepat  dan tak terasa kemaluannya menjepit kedua jarinya dan pantat mak Temi menekan maju, kaki bergetar, payudaranya mengencang, puting penthilnya kaku, dan mak Temi mendongak kemudian mengerang ...saat itu ..tidak ada rasa lain selainnya kenikmatan di kemaluannya. Mak Temi menghentikan kegiatan jarinya setelah ia tak lagi kuat merasakan kegelian di kemaluannya. Kemaluan mak Temi membasah. Cairan kenikmatan mengalir keluar membasahi pahanya. Sepanjang hidupnya baru sekali itu mak Temi bermaturbasi.

                                                                  bersambung kebagian kesepuluh ........








    


    
   

Sabtu, 21 Mei 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                   edohaput

Bagian kedelapan 

     Mbok Sargini mendapati Darman berdiri di depan pintu kamar mandi rumahnya. " Lho kamu ta, Man ?", tanya mbok Sargini. " Ada tamu pak Tuman ya, mbok ?", Darman balik bertanya pura - pura tidak tahu atas kejadian yang baru saja disaksikannya. " Iya ini sedang tak carikan gula untuk bikin minum malah tergesa - gesa pulang ", jawab mbok Sargini. Dalam hati Darman menyalahkan mbok Sargini. Kenapa Partini ditinggal berlama - lama bersama pak Tuman. Untung Partini masih bisa menyadari. Kalau tidak keperawanannya hilang dinikmati pak Tuman. " Tumben ta mbok, di rumah tak ada gula. Lha tadi siang simbok kan suruhan saya ke pasar beli gula tiga kilo ta ? Dan gula itu belum dibawa ke warung ta, mbok ? ".  Mendengar kata - kata Darman begitu mbok Sargini hanya diam. Ia meninggalkan Partini bukan untuk mengambil gula ke warung. Itu hanya pura - pura. Yang benar adalah memang sengaja Partini ditinggalkan berdua dengan pak Tuman. Mbok Sargini memang memberi kesempatan kepada pak Tuman agar bisa leluasa merayu Partini. " Wis, Man. Aku ngantuk dan capai seharian di warung aku mau tidur ", kata mbok Sargini dan terus ngeloyor masuk kamarnya. Begitu masuk kamar kebiasaan mbok Sargini tak lagi - lagi keluar. Pulas tertidur karena kecapaian.
     Darman masih berdiri di depan kamar mandi dimana Partini di dalamnya sedang membersihkan sperma pak Tuman yang membasahi bajunya, dadanya dan tangannya. " Par, jangan lama - lama di kamar mandi ini sudah malam. Nanti kedinginan. Napa ta  Par ? Mandi ya ?", tanya Darman dari luar kamar mandi. " Simbok tadi masuk kamar ya, kang ", tanya Partini dari dalam kamar mandi. " Ya, tidur ! Tu ...malah sekarang dah ngorok ! Wis yo gek keluar dari kamar mandi !", pinta Darman. " Tolong ambilkan anduk, kang ! Itu digantungan !", pinta Partini. Darman mengambil anduk. Membuka sedikit pintu kamar mandi. Dan tangannya mengulurkan anduk ke Partini lewat celah pintu yang sedikit terbuka. " Masuk saja, kang ! Aku sedang sabunan !", pinta Partini. " Dak  ! Ini .... cepat .... diterima !", jawab Darman sambil menggoyang - goyangkan handuk. Partini dengan cepat menarik tangan Darman. Darman menabrak pintu kamar mandi dan tak urung jadi sempoyongan masuk kamar mandi. Darman mendapati Partini telanjang bulat. Partini mengguyurkan air di badannya. Darman melempar handuk ke tubuh Partini dan mau keluar. Dengan cepat Partini menggamit tangan Darman dan menariknya sehingga Darman menubruk Partini. " Kamu itu jangan edan ta, Par !" bentak Darman sambil melotot. Partini tahu Darman tak pernah memarahinya. Tak pernah benar - benar membentaknya. " Kang baru saja aku mau ditiduri oleh pak Tuman. Pepekku  diobok - obok, kang. Kang Darman tahu ta kalau tangan pak Tuman itu besar dan jari - jarinya panjang ? Jarinya masuk sampai dalam sekali , Kang. Trus digerak - gerakkan di dalam pepekku. Perih lho, kang ", Partini menceriterakan yang baru saja dialaminya. Darman diam saja karena apa yang diceriterakan Partini diketahuinya. " Wis ....wis ....dak usah cerita ini andukan !" Darman menempelkan handuk di tubuh Partini yang telanjang. " Kang, sekarang aku dipeluk, kang. Trus pepekku dielus - elus ya, kang. Kalau yang ngelus - elus kang Darman dan yang masuk ke pepekku jari kang Darman enak sekali lho, kang ", berkata begitu sambil Partini menempelkan tubuh telanjangnya ke Darman. " Lho piye ta, Par ! Ini nanti bajuku jadi basah. Wis ayo cepat ke kamar, ganti baju !" Darman melototi Partini. Yang dipelototi malah semakin manja. " Tapi kang Darman ikut ke kamar ya, kang !", Kata Partini manja dan sambil menyelimuti tubuh bagian bawahnya dengan handuk. Keluar dari kamar mandi diikuti Darman. Sampai di depan pintu kamar, Darman mendorong Partini agar segera masuk kamar. Kemudian dari luar kamar ia menutup pintu. " Lho kang Darman kok dak ikut masuk !", kata Partini sambil membuka lagi pintu kamar dan melihat Darman masih di depan pintu. " Kalau kang Darman dak mau masuk kamar aku ke kamar mandi lagi lho, kang !", Partini mengancam sambil matanya memelas memohon Darman masuk ke kamarnya. Kalau sudah begitu Darman kalah. Ahkirnya menuruti. Darman masuk kamar. Partini menutup pintu kamar rapat - rapat dan menuju ranjang, membuang handuknya dan rebah terlentang dengan kaki kangkang. Kemalauannya dilihat Darman membuka. Buah dadanya kencang menantang. Perutnya rata berkulit bersih di dekat pusar ada tahi lalat kecil. " Ayo kang, tiduri aku ", kata Partini yang diucapkan dengan nada memelas. Darman masih tetap berdiri terpaku di pinggir ranjang sambil mengamati Partini yang telanjang  dan kakinya ngangkang. " Ayo ta, kang. Sarung kang Darman dilepas ", kata Partini sambil terus menatap Darman yang bingung. " Kang ....ayo...ta...kang. Tiduri aku, kang ", kata - kata Partini semakin memelas. Darman duduk di tepi ranjang dan matanya menatap mata Partini. " Kang, ..... kang Darman itu ngerti dak ta kalau ....ka...lau ...aku itu sayang banget sama kang Darman ", kalimat Partini yang ini diucapkan lirih, tetapi ditelinga Darman bagai petir menyambar. Dan kalimat itu menusuk relung kalbunya. Darman jadi semakin membisu. Ditatapnya dalam - dalam mata Partini. Darman tidak tahu mengapa tiba - tiba di kedua sudut mata Partini mengalir air mata. Partini menangis yang hanya diwujudkan dengan lelehan air mata. Darman benar - benar tidak mengerti ada perasaan apa di hati Partini. Ada mengalir rasa iba terhadap Partini. Darman menghapus air mata Partini dengan tangannya. Ditarikanya tubuh Partini, sehingga Partini terduduk dan dipeluknya tubuh telanjang Partini dengan rasa iba yang penuh sayang. Diciumnya pipi Partini dengan penuh sayang. Dan di pipi itu ada cair hangat yang dirasakan Darman. Dengan lembut dan lirih Darman mebisikkan kalimat di telanga Partini : " Partini .....aku sangat mencintaimu....Par...". Mendengar kalimat Darman yang diucapkan dengan lirih dan berbisik di telinganya, Partini merasakan ada kesyahduan di hatinya. Dan seluruh tubuhnya seakan dijalari ketenangan dan ketentraman di pelukan Darman. Partini memeluk Darman seekan tak akan dilepaskannya. Air mata Partini semakin deras mengalir. Tetapi tak ada isakan di mulutnya. Partini sangat damai dan berbahagia di pelukan Darman. Partini mendongakkan wajah persis di depan wajah Darman dan mulutnya meluncurkan kalimat - kalimat yang mengagetkan dan sekaligus membuat Darman sangat iba dan trenyuh. " Kang ..... aku sangat iklas ....kalau yang pertama kali meniduri aku adalah kang Darman. Aku sangat takut dengan kejadian  ahkir - ahkir ini, kang. Rupanya simbok selalu mengumpankan aku pada orang - orang kaya itu. Mas Mursinu....pak Tuman .... koh Tiong ... seekan simbok membiarkan aku untuk dipermainkannya, kang. Malah kemarin sore kang Samidi datang ke warung. Warung sepi. Aku melihat kang Samidi memberikan sesuatu pada simbok. Simbok terus pergi. Katanya mau pulang ke rumah mengambil sayuran. Kang Samidi yang tadinya sedang minum teh, menyusul aku yang sedang mencuci piring di dapur warung. Tiba - tiba kang Samidi memeluk aku dari belakang. Terus meciumi pipiku. Aku meronta, kang. Tapi pelukkannya kang Samidi kuat sekali. Tanganya kanannya dengan paksa merogoh - rogoh masuk di dasterku, kang. Meremas - remas penthilku. Tangannya terus gerayangan kemana - mana. Dan ahkirnya berhenti di pepekku. Disitu terus dengan kasarnya mengobok - obok pepekku. Celana dalamku ditarik - tarik sampai sobek, kang. Terus kang Samidi mengeluarkan kemaluannya dan ditusuk - tusukkan ke pepekku, kang. Untung celana dalamku tak lepas. Dan pahaku aku rapatkan. Kemaluan kang Samidi terimpit pahaku, kang. Dan maninya kang Samidi keluar setelah agak lama thitthit kang Samidi menyodok - nyodok pahaku  " . Partini diam sejenak menatap mata Darman. " Aku ini siapa ta, kang. Nasibku kok kayak begini ". Air mata Partini tak berhenti mengalir dari kedua matanya yang indah. Darman mengusap air mata Partini dengan penuh iba. Kemudian menciumi wajah Partini. Bibir Darman ahkirnya menyentuh bibir Partini yang setengah terbuka. Dirasakan oleh Darman bibir Partini hangat basah dan lunak. Darman meneruskan mencium bibir Partini. Partini membalas ciuman cinta kasih Darman dengan penuh perasaan cinta pula. Disela - sela berciuman Partini terus meminta : " Tiduri aku, kang......aku iklas....tiduri aku, kang ...... perawanku untukmu, kang. Ayo ta, kang ..... tiduri aku......". Tangan Partini masuk ke sarung Darman dan menemukan benda hangat, kaku, dan mencuat. Tangan Partini menarik sarung Darman dan lepas melorot. Darman tinggal mengenakan celana dalam. Tangan Partini mengeluar mengeluarkan thitthit Darman dari celah celana dalam. Sambil terus memeluk Darman Partini rebah, sehingga tubuh Darman menindih tubuh Partini. Tangan Partini terus memainkan thitthit Darman yang sudah mencuat dari celana dalam. Partini merubah - rubah posisi rebahnya, sehingga ahkirnya pinggul Darman berada di antara paha Partini yang mengangkang dengan lututnya ditekuk ke atas dan menjepit pinggul dan pantat Darman. " Ayo, kang .....masukkan ..... ayo kang .... " , pinta Partini sambil mengangkat - angkat pantatnya sehingga berulang kali ujung penis Darman menyentuh - nyentuh bibir kemaluan Partini yang dirasakan oleh Darman lembut, basah, dan hangat. " Kamu akan jadi isteriku, Par. Besuk akan kumasuki setelah kita nikah ". Kata Darman sambil terus menciumi pipi dan bibir Partini. Darman merubah posisi agak melorot menjauhkan tongkatnya yang sangat kaku dari pepek Partini yang sudah siap terbuka dimasukki. Kini tangan Darman meremas penthil Partini dan terus turun ahkirnya berhenti di selangkangan Partini yang disana ada kemaluan Partini yang bibirnya terbuka dan basah. Darman memasukkan jarinya di pepek Partini. Mulutnya terus menciumi Partini. Jarinya terus maju mundur semakin lama semakin dipercepat seirama dengan geliatan Partini. Setiap Partini mengangkat - angkat pantat jari Darman semakin masuk ke liang kemaluan. Partini merasakan kenikmatan di pepeknya. Kepala jadi tergeleng ke kiri - ke  kanan, sehingga Darman tak lagi bisa mencium bibir Partini. Ahkirnya mulut Darman pindah ke penthil ranum dan kenyal. Partini merasakan kegelian nikmat penthinya. Sementara di pepeknya jari Darman dirasakan sangat nikmat. Partini merasakan pinggulnya kaku, penthilnya mengejang, lubang pepeknya menjepit jari Darman kuat - kuat dan yang dirasakannya hanya melayang dan ahkirnya semua rasa bertumpu di kemaluannya, kedua kakinya berkelenjotan, tangannya menjambak rambut Darman,  kepalanya tak berhenti bergerak menoleh ke kiri ke kanan dengan cepat kemudian desahan dan erangannya  tak tertahankan : " Kang ......kang .......kang Darman .......aaaaahhhhhh....kaaaaaaang !" Habis begitu Partini lemas terkulai dengan mata terpejam. Darman menarik jarinya dari lubang pepek Partini yang sangat basah. Kemudian Darman memegang tongkatnya sendiri dan mengocoknya. Partini yang membuka mata dan melihat Darman mengocok thithitnya yang sangat kaku segera bangkit dan memegang kelelakian Darman yang keras kaku menghangat dan memerah. Darman merasakan sangat pegal di kemaluannya. Tangan Partini yang halus lembut dirasakannya sungguh nikmat. Tangan Partini meremas lembut dan bergerak maju mundur. Darman tak bisa menahan rasa luar biasa nikmat di kelelakiannya. Dipeluknya Partini kuat - kuat dan diciumnya bibir Partini. Pinggul Darman kejang. Mata terbeliak menatap Partini dengan sorot penuh kenikmatan cinta. Partini membalas tatapan Darman sambil tersenyum cantik sekali dan di sudut matanya kembali mengalir air mata haru dan cinta menyaksikan kekasihnya yang akan segera sampai di puncak rasa. Dan dari mulut Partini keluar ucapan yang penuh kasih sayang : " Kang ...... kang ..... kang Darman ....". Darman tak kuat menahan : " Par.....Paaaaarrrr ..... Paaaarrrrttinniiiiiiiiii ........." . Darman memeluk tubuh telanjang Partini. Partini merasakan di genggaman tangannya kelelakian Darman berkedut - kedut dan di tangannya terasa ada meleleh cairan hangat, kental dan licin. Sesaat kemudian Darman lemas, ambruk dan rebah memeluk Partini. Suasana jadi sunyi. Yang terdengar hanya dengkuran dari kamar mbok Sargini.

                                                       bersambung kebagian kesembilan ........

Rabu, 18 Mei 2011

Anggungan Perkutut

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                              edohaput 

Bagian ketujuh 

     Mendengar cerita Darman begitu polisi hanya bisa tersenyum. Para polisi yang ada di ruangan itu pada tak bisa menahan miliknya yang ikut menggeliat. Polisi - polisi yang ada di situ menjadi salah tingkah. Pantatnya sering membetulkan posisi duduknya. Bahkan ada yang terang - terang berdiri dari duduk dan membetulkan letak miliknya yang di dalam celana karena terasa terhimpit. Apa lagi pada umumnya celana polisi umumnya ketat. Satu - satunya  polisi  wanita sebagai pencatat yang ada di situ ikut menginterogasi Darman tampak sering tersipu dan mukanya memerah malu. Tetapi tak urung pahanya juga sering dirapatkan. Dihimpitkan. Karena terasa akan ada  yang mau membasahi celana dalamnya. Dan terasa ada sesuatu yang membuat miliknya terasa gatal - gatal geli serasa mau pipis. 
     " Yang belum kau ceritakan cuma tinggal satu orang, Darman. Sekarang teruskan dengan pak Tuman. Ada peristiwa apa pak Tuman dengan Partini ", kata polisi sambil lagi - lagi menyuruh Darman merokok. " Terima kasih rokoknya, pak ", kata Darman sambil menyulut rokok mahal lagi. Darman sangat menikmati rokok pemberian polisi.
     " Pak Tuman itu duda kaya dan dermawan sekali, pak ", Darman mulai bercerita. " Siapa yang kesusahan ditolongnya. Anak - anak yang sudah kehilangan bapak atau ibunya atau kehilangan dua - duanya mendapat perhatian utama dari pak Tuman. Pokoknya pak Tuman itu pemberi, penolong, dan orang yang dihormati di dusun, pak ", Darman semangat sekali menceritakan tentang pak Tuman ini.
     Pak Tuman juga langganan nasi pecelnya mbok Sargini. Karena memang di rumah tidak ada yang menyediakan makanan hariannya, maka pak Tuman menjadi langganan tetap mbok Sargini. Jika pak Tuman bosan dengan nasi pecel, mbok Sargini terpaksa harus memasakkan yang lain khusus untuk pak Tuman. Makan, minum sehari - harinya pak Tuman di warung mbok Sargini, tidak apabila pak Tuman sedang mempunyai pekerjaan di kota. Anak - anak pak Tuman sudah pada berkeluarga dan berkecukupan. Anak - anaknya ingin sekali bapaknya ikut dikeluarganya. Tapi pak Tuman tak pernah mau. Selama ia masih sanggup bekerja cari duit mengapa harus ikut anaknya. Ditinggal isterinya sudah dua tahun lamanya. Isterinya yang sakit jantung meninggal mendadak. Pak Tuman tipe orang yang  setia. Selama hidup berkeluarga dengan isteri dan anak - anaknya pak Tuman tak pernah macam - macam. Hidupnya diisinya dengan kerja dan kerja cari duit. Ia tak pernah punya keinginan yang aneh - aneh. Apalagi sampai berbuat selingkuh. Uang hasil kerjanya dibelikan sawah dan ladang. Semua anaknya dibuatkan rumah bagus. Anak pak Tuman tak ada yang terlantar. Hampir semua anaknya mewarisi semangat bekerja ayahnya. Maka tak ayal jika anak - anak Tuman menjadi orang yang berhasil, terpandang dan dihormati.
     Tak luput juga mbok Sargini mendapat keuntungan dari keberadaan pak Tuman. Kehidupan mbok Sargini tersokong juga oleh kedermawanan pak Tuman. Setiap kali makan pak Tuman selalu membayar lebih kepada mbok Sargini. Bahkan kadang - kadang mbok Sargini mendapatkan sokongan modal jualan dari pak Tuman ini. Mbok Sargini jadi merasa berhutang budi kepada pak Tuman. Tidak hanya duit yang tiap harinya diberikan, bahkan ketika orang tua mbok Sargini sakit di rumah sakit di kota sampai ahkirnya meninggal, pak Tuman-lah yang mencukupinya. Kecuali babah Ong waktu itu sedang surut cari duit, juga babah Ong tidak mungkin mencukupi kebutuhan mbok Sargini, karena babah Ong suami tidak sah mbok Sargini ini punya keluarga yang hidupnya boros. Maka satu - satunya penolong ya pak Tuman ini.
     Satu hari waktu itu belum terlalu sore. Pak Tuman sepulang dari kota mampir di warung mbok Sargini. Mbok Sargini dengan tergopoh - gopoh menyambut kedatangan sang dermawan. " Sampai sore den bepergiannya ke kota ?", tanya mbok Sargini yang tidak memiliki kalimat baik untuk menyambut pak Tuman. " Ya Ni, tadi banyak sekali orang yang pesan dagangan. Katanya mau dibawa ke Sumatra. Jadi ya begini, terpaksa nyampai sore ", Jawab Pak Tuman. " Minum apa den ? Kopi ya ?  Apa teh kental ? Itu kebetulan air panasnya ada, den !". Kalimat seperti itu selalu diucapkan mbok Sargini jika pak Tuman yang datang. Kadang - kadang mbok Sargini melalaikan tamu lain jika pak Tuman sedang ada di warungnya. " Ya wis kopi wae, Ni. Yang kental. Gulanya jangan banyak - banyak ", jawab pak Tuman sambil duduk santai di bangku warung. Mbok Sargini sibuk membuat kopi. " Ini kok sepi ta Ni, warungnya ?", tanya pak Tuman. " Iya den, tadi siang ramai ", jawab mbok Sargini. Selesai mebuat kopi dan menyajikannya mbok Sargini duduk  agak jauh dari pak Tuman. Itu kebiasaan mbok Sargini jika menghadapi pak Tuman. Ia selalu menjaga jarak karena harus menaruh hormat kepada orang yang satu ini. " Duduk dekat sini, Ni. Aku mau ngomong sama kamu ", perintah pak Tuman sambil membuka tutup gelas kopi. Uapnya mengepul menyebarkan aroma sedap. " Sudah sini saja, den. Saya mendengar kok suaranya den Tuman ", jawab mbok Sargini. " Wis cepat sini ngomongku mau pelan - pelan saja kok, Ni. Takut didengar orang. Ini penting ! Mumpung warung sepi ", perintah pak Tuman. Mbok Sargini menurut. Ia berpindah tempat duduk mendekat ke pak Tuman. Mbok Sargini agak heran, tumben pak Tuman mau ngomong pelan dengan dirinya. Sebelumnya tak pernah begitu. - " Begini ya, Ni. Kamu tahu ta kalau aku ini menduda sudah dua tahun ini ? Aku ini ya sudah tua. Umurku saja ya sudah hampir enam puluh tahun. Tapi Ni, lama - lama kok ya dak betah juga hidup menduda. Setiap malam ketika mau berangkat tidur bingung, Ni. Aku ini apa - apa cukup. Tapi yang satu itu jadi tak cukup, Ni. Kalau dulu ada ibunya anak - anak yang bisa dikeloni. Lha sekarang ?" Pak Tuman jeda. Menyerutup kopi yang mulai berkurang panasnya. " Lha itu den. Saya ya heran , kok den Tuman kuat menduda dua tahun. Padahal den Tuman itu kan orangnya sehat banget ta. Ya begini saja den, den Tuman segera kawin lagi saja ". Tiba - tiba mbok Sargini nerocos lepas kontrol. Ia lupa kalau yang sedang dihadapannya adalah pak Tuman. Selesai bicara mbok Sargini jadi kaget sendiri oleh ucapannya yang lancang. " Ma.....ma..maaf lho den, sampai keceplosan ..", mbok Sargini mencoba meralat kalimatnya. " Lha ya itu, Ni. Aku ini kepingin sekali kawin lagi. Tapi piye ...ya.....Ni." Pak Tuman tampak berpikir sebetar. Lalu menyulut rokok. " Walah den...., wanita mana yang tidak mau sama den Tuman. Jangankan janda gadispun pasti mau sama den Tuman. Segerakan saja den, biar dak bingung kalau malam ". Habis mengucap begitu mbok sargini kaget lagi atas ucapannya. Kali ini lebih tidak terkontrol keceplosannya. " Ni, ...memang banyak wanita yang mudah aku nikahi. Kamu tahu aku orang kaya. Wanita yang akan aku nikahi itu nantinya akan aku beri sawah satu hektar. Kamu tahu ta kalau anak - anakku semua sudah saya beri masing - masing tanah satu hektar. Dan mereka sudah tak buatkan rumah. Apalagi. Lha ini aku masih menyisakan satu hektar. Itulah yang nanti akan kuberikan wanita calon isteriku itu. Dan lagi semua perhiasan emas yang dulu milik ibunya anak - anak akan kuberikan juga kepada isteri baruku itu, Ni. Termasuk rumah yang sekarang ada. Rumah itu besar, perabotannya bagus, semua nanti untuknya, Ni ". Pak Tuman menyerutup kopi lagi dan menikmati asap rokoknya. " Wah....beruntung sekali ya den, nantinya wanita yang bakal diperistri den Tuman itu ?". Timpal mbok Sargini pada saat Pak Tuman jeda bicara karena menyerutup kopi. " Dengar baik - baik ya, Ni. Wanita yang aku inginkan untuk menamani aku itu tiada lain ya anakmu si Partini ?". Berkata begitu pak Tuman sambil menetap mata mbok Sargini. Mbok Sargini bagai disambar petir. Kaget. Kemudian tertunduk dalam - dalam. Ia tak mengira kalau anaknya-lah yang diinginkan pak Tuman. Dalam pikiran berkecamuk bayangan yang tidak karuan. Antara harta yang melimpah yang bakal dimiliki anaknya, pak Tuman yang sudah tua,  apa tidak kasihan anak gadisnya kawin dengan duda tua. Walaupun ternyata pak Tuman itu sehat, gagah dan tampan juga. Apa kata orang nanti. Apa pantas anaknya  yang baru berumur enam belas tahun berjodoh dengan pak Tuman. " Gimana, Ni ? Kamu setuju ?", tanya pak Tuman membuyarkan kebingungannya mbok Sargini. Mbok Sargini masih terus diam tertunduk tidak berani menatap mata pak Tuman. " Gimana, Ni ? Jawab saja apa adanya yang ada di hatimu ", tanya pak Tuman lagi. " Begini den, ....e....eee...nanti maksud.....maksud....den Tuman akan saya bicarakan dengan Partini, den ", jawab mbok Sargini terbata - bata. " Itu harus, Ni. Tapi kamu ya tolong membesarkan hati Partini agar mau kukawini ". Berkata begitu pak Tuman sambil berdiri dan merogoh kantung, mengeluarkan segepok uang ratusan ribu dan ditinggalkan di meja. Mbok Sargini tak bisa berkata apa - apa, hanya bisa melihat pak Tuman melangkah keluar warung.
     Sejak kedatangan pak Tuman tadi sebenarnya Darman ada di warungnya mbok Sargini juga. Tetapi ia berada di ruang belakang. Sehingga apa yang dibicarakan pak Tuman dan mbok Sargini didengar semuanya oleh Darman. Sudah menjadi kebiasaan Darman datang dan pergi di warung diam - diam. Maklum Darman sudah seperti keluarga sendiri di keluarga mbok Sargini.
     Malam itu malam ketiga sejak pak Tuman menyampaikan maksudnya kepada mbok Sargini. Tetapi pak Tuman belum memperoleh jawaban dari mbok Sargini. Maka malam itu pak Tuman sengaja datang di rumah mbok Sargini untuk menanyakan apakah lamarannya kemarin diterima. Pak Tuman datang dengan busana parlente. Wewangiannya memenuhi ruangan di rumah mbok Sargini. Partini ada di dalam kamar mendengarkan pembicaraan antara mboknya dengan pak Tuman. Partini sangat bingung. Apa ia akan menuruti kata mboknya, apa menuruti kata hatinya. Kalau menuruti kata mboknya ia harus menjadi isteri pak tuman, kalau menuruti kata hatinya ia tidak mau diperistri pak Tuman.
     " Par ! Ini lho den Tuman datang kamu temui ! Masak ada tamu kok ngumpet di kamar saja !" , teriak mbok Sargini kepada Partini setelah tadi sempat berbasa - basi dengan pak Tuman. Partini kebingungan apa mungkin ia tidak akan menemui pak Tuman ? Mboknya telah banyak berhutang budi. Tetapi jika ia menemui orang itu apa jadinya nanti kalau ditanya soal mau dan tidaknya akan diperistri orang itu ? Partini bingung. Partini tak menemukan pikiran jernihnya. Selintas yang ada di pikirannya hanya Darman. Darman-lah yang mungkin bisa menolongnya. Tapi malam ini tak ada Darman. Partini pasrah. Ia keluar kamar dengan sengaja rambut tidak ditata, daster yang agak kekecilan dengan dibagian dada tak ada kancing, tak pakai kutang, dan kakinya yang panjang hanya dialasi sendal jepit kusam. Dengan begitu ada harapan pak Tuman tidak suka dan ahkirnya membatalkan niatnya. " Lho piye ta, Par. Menemui tamu kok begitu. Mbok ya sisiran dulu ", kata mbok Sargini sambil memandangi anaknya yang nekat saja langsung menemui pak Tuman dan duduk di dekat mboknya. Tetapi walaupun begitu ada perasaan lega dari mbok Sargini. Itu berarti kata - katanya kemarin ketika menyampaikan maksud pak Tuman diterima oleh Partini. " Maaf den, .... anak sekarang .... sok dak ngerti aturan .... ", kata mbok Sargini lagi sambil melirik Partini yang duduk di sampingnya dan karena dasternya agak kekecilan maka pahanya jadi dapat dilihat dengan jelas. " Temani den Tuman ya, Par ! Mbok ke warung sebentar ambil gula pasir untuk buat minum. Di rumah gulanya habis ". Berkata begitu mbok Sargini cepat beranjak dan meninggal rumah. Ia takut nanti kalau Partini menyadari akan maksudnya yang sebenarnya. Gula di rumah sebenarnya masih banyak. Tetapi mbok Sargini memang berbuat begitu memberi kesempatan kepada pak Tuman agar langsung melamar Partini. Karena mbok Sargini-pun belum memperoleh jawaban dari Partini.
     Pak Tuman tahu. Partini tahu. Jarak rumah dengan warung cukup jauh. tak cukup setengah jam pulang pergi. Belum lagi membuka pintu. Menghidupkan lampu. mengambil gula pasir. Pasti butuh waktu. Hal itu diketahui pak Tuman. Pak Tuman jadi memiliki kesempatan cukup malam itu dengan Partini. Sebaliknya kepergian mboknya ke warung mengambil gula itu akan dirasakannya sangat lama oleh Partini. Pak Tuman membuka pembicaraan : " Par, ....e...e...mbokmu sudah bilang sama kamu....e...e...tentang maksudku, Par ?", tanya pak Tuman. Partini tidak menjawab. Mukanya tertunduk. Ia hanya bisa mempermainkan pangkal dasternya yang kekecilan. Ditarik - tariknya ke bawah maksudnya agar menutupi pahanya. Karena ketika tadi masih ada mboknya pak Tuman sempat memandangi pahanya. " Gimana Par ? Mau kan kamu ?", tanya pak Tuman Lagi. Partini tetap tidak menjawab dan tetap tertunduk. Karena tertunduknya Partini agak dalam makan buah dadanya jadi dapat dilihat oleh pak Tuman. Karena memang daster Partini di bagian dadanya kancingnya pada lepas. Pak Tuman melihat buah dada yang tampak mengkal. Putih. Menggunung. Buah dada gadis bonsor umur enam belas tahun. Dilihatnya  kaki Partini mulai dari ujung jari sampai ke paha. Sempurna ! Pikir pak Tuman. Karena daster yang kekecilan itu pula pak Tuman jadi bisa melihat sebagian pantat Partini. Putih padat.  Pak Tuman tak kuasa menahan. Kelelakiannya yang jarang menggeliat tiba - tiba serasa mendongak dan menyesak di dalam celananya. Pak Tuman pindah duduk di kursi panjang yang diduduki Partini. Ia tahu mbok Sargini bakal lama pulang ke rumah ia memiliki kesempatan. Partini beringsut menjauh. Pak Tuman segera memegang tangan Partini. Dirasakannya tangan itu halus, hangat, lembut. Partini tidak berontak. Pak Tuman jadi semakin berani. Partini ditarik dan dipeluknya. " Par, aku cinta padamu. Aku ingin jadi suamimu. Apa yang kamu mau tak penuhi, Par. Jangan takut kekurangan. Hidup kamu bakal enak ". Habis berkata begitu dan dengan napas yang sedikit ngos - ngosan pak Tuman mencium pipi Partini. Yang dicium pasrah. Tak menolak tetapi juga tak bereaksi. Partini hanya bisa pasrah apa yang akan dilakukan pak Tuman tak akan dilawan. Semua demi mboknya yang telah banyak berhutang budi . Lampu ruangan yang redup membuat pak Tuman semakin bergairah. Pikirannya yang ada hanya ingin menikmati tubuh Partini yang diam - diam telah lama sejak menduda selalu diimpikannya. Bahkan ketika malam tak bisa tidur, biasa pak Tuman menyetubuhi guling dan membayangkannya guling itu tubuh Partini. Berhenti memeluk guling setelah pangkal guling bagian bawah basah oleh maninya. Kali ini tubuh Partini sungguhan. Pak Tuman sangat gemas yang tiba - tiba partini pasrah. Diangkat tubuh Partini dipangkuannya. Pelan - pelan diciumi pipinya dengan penuh perasaan menggelora. Tangannya mulai menggeranyang ke dada Partini. Partini menggelinjang ketika puting penthilnya dipermainkan pak Tuman yang memang sudah sangat berpengalaman memuaskan isterinya dulu. Tangannya yang besar berganti -  ganti meramas penthil Partini yang memang masih sangat kenyal. Partini tidak meronta tapi menggeliat. Ada rasa enak juga remasan pak Tuman. Kepasrahan menjadi semakin pasrah. Partini semakin kehilangan kesdaran ketika pak Tuman menyibakan pahanya. Paha Partini terbuka. Tangan pak Tuman sudah berada di selakangan Partini dan mengelus - elus kemaluannya dari luar celana dalamnya yang tepat di depan kemaluannya sudah sedikit sobek. Partini jadi megap - megap dan ah uh ketika mulut pak Tuman melumat bibirnya. Tangan pak Tuman telah masuk ke celana dalamnya. Jari - jarinya sudah bermain di kemaluannya. Ada rasa nikmat. Tetapi tidak senikmat jari Darman tempo hari yang lalu. Pak tuman semakin tak bisa menahan. Dipelorotkan celana dalam partini. Dan berhasil dilepas. Ditidurkannya tubuh Partini di kursi panjang itu. Dengan cepat dibukanya retsluiting celananya dan tampaklah tongkat pak Tuman yang kaku, besar, hitam dan berurat. Sekali lagi pak Tuman meraba pepek Partini. Dan memasukkannya jarinya di pepek Partini. Pak Tuman tahu persis kalau Partini masih perawan. Maksud pak Tuman dengan memasukkan jari di kemaluan Partini akan menyebabkan liang pepek Partini akan membasah. Dan tongkatnya yang kelewat besar itu akan mudah masuk menyodok. Partini menutup mata. Sangat pasrah. Yang dirasakannya ada jari yang masuk kerluar di kemaluannya. Ada rasa nimat, geli, enak. Partini hanya bisa menggelinjang dan menggigit bibir. Pepek Partini basah. Ia merasakan nikmat yang sama seperti ketika jari Darman keluar masuk di lubang kemaluannya. Ia jadi membayangkan yang sekarang sedang mempermainkan pepeknya adalah Darman. Pak Tuman semakin membungkuk dan mengarahkan tongkatnya ke pepek Partini. Ujung tongkat Pak Tuman menempel di bibir kemaluan Partini. Tiba - tiba Partini tersadar, membuka mata dan bangkit dari poisisi terlentang dan kangkangnya, beringsut mudur dan tangannya dengan cepat memegang tongkat milik pak Tuman. Pak Tuman kaget tongkatnya dipegang Partini. Tetapi tangan itu begitu lembut, begitu halus, hangat dan sedikit basah keringat. Birahi pak Tuman yang memang sudah memuncak oleh karena tadi sempat mempermainkan kemaluan Partini. Dan lebih - lebih ia bisa benar - benar melihat kecantikan kemaluan Partini ketika Partini tadi membuka pahanya lebar - lebar, ngangkang , membuat rasa nimat di tongkatnya tak terbendung. Partini yang pernah memegang tongkat Mursinu ketika akan memperkosanya di kebun karet, jadi memiliki pengalaman.Waktu itu Tongkat Mursinu tak jadi masuk di lubang pepeknya karena mani telah mucrat keluar sebelum menyentuh pepeknya. Dan ia memegangnya. Dan Tangannya tak sengaja bergerak - gerak sehingga menambah nikmat Mursinu. Pengalaman itu ia praktikan di tongkatnya pak Tuman. Sekarang dengan sengaja genggaman tanganya digerakkan maju mundur. Dan remasannya di tongkat pak Tuman dibuat kuat dan lemah berganti - ganti dan maju mundur. Pak Tuman merasakan nikmat luar biasa. Diraihnya tubuh Partini, diciumi pipinya, kemudian dikulum bibirnya dengan sangat rakusnya diiringin ngos - ngos napasnya yang sangat memburu dan.... tiba - tiba.... pak Tuman memeluk tubuh Partini kuat - kuat sambil pantatnya bergoyang - goyang mulutnya mendesah mengerang : " Partini.....Partini....isteriku.....Par...aku cinta kau.....aaaahhhhh....Paaaarrrrrr !". Sambil mengerang begitu tubuh pak Tuman mengejang. Kepala mendongak ke atas. Mulut terbuka dan mata terpejam. Sungguh kenikmatan luar biasa. Yang dirasakan Partini napasnya sesak karena pelukan pak Tuman terlalu kuat. Dan di tangan yang menggenggam tongkat pak Tuman dirasakan ada cairan hangat, kental, banyak membasahi tangannya, bahkan ada yang muncrat mengenai buah dadanya.
     Darman yang sejak tadi berada di luar rumah dan mengamati apa yang terjadi di dalam rumah sangat bergembira hatinya berjingkrak. Ia merasa senang dan lega kemaluan pak Tuman tak jadi masuk di pepek Partini. Apa jadinya kalau yang mencuat hitam, besar, dan berurat itu masuk di lubang kemaluan Partini. Partini Pasti akan menjerit kesakitan. Dan ia tidak bisa menolongnya. Mungkin Partini akan pingsan ketika pak Tuman memompakan milikinya di lubang pepek Partini. Darman membayangkan Partini menangis. Memelas. Ia tak tega. Untung Partini masih bisa selamat dari rudal yang begitu ganasnya. Darman melihat Partini dari lubang celah dinding bambu pergi ke belakang. Ia tahu persis menuju kamar mandi. Maka dengan bergegas pula ia masuk rumah Partini melalui pintu belakang dan maksudnya akan menjumpai Partini di kamar mandi. Berbarengan itu pula pintu depan terdengar dibuka. Mbok Sargini pulang dari warung membawa gula pasir. " Kok duduk sendiri ta den, lha mana Partini. Dasar anak nakal  ada tamu kok dak ditemani ", kata mbok Sargini. " Wis....wis....Ni. Dak usah repot - repot buat minum. Aku tak pulang saja. Tadi aku sudah omong - omong banyak dengan Partini. Sudah aku tak pulang !" Berkata begitu pak Tuman segera beranjak dari duduk dan meninggalkan rumah mbok Sargini dengan membawa kepuasan yang luar biasa.

                                                bersambung kebagian kedelapan .....
    




Rabu, 11 Mei 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                                edohaput

Bagian keenam

     Darman memasuki kamar Partini dan mendapati Partini sedang melepas celana dalamnya. Darman membalikkan badannya dan akan menutup pintu kamar, tetapi suara Partini menghentikannya. " Sini, kang. Aku mau cerita sama kang Darman ". Partini menanggalkan celana dalamnya dan menaruhnya di keranjang pakaian kotor. " Mau cerita kok pakai melepas celana dalam segala ta, Par ?", tanya Darman yang tetap berdiri di pinggir ranjangnya Partini. " Duduk, kang. Aku mau cerita. Celana dalam aku lepas biar kang Darman nanti percaya ceritaku. Biar aku tak disangka kang Darman buat - buat. Dah kang, duduk !", pinta Partini. Darman yang diminta duduk mengikuti perintah Partini. Darman duduk di pinggir ranjang. Partini rebahan dan kaki kanannya ditumpangkan di paha Darman. " Dah cepet cerita. Mau cerita apa ta ?", tanya Darman. Partini menarik kaki kanannya, kemudian mengakang, sehingga rok dasternya tersingkap ke atas sampai ke pusar. " Ni, kang ". Partini menunjuk kemaluannya. " Jangan edan kamu, Par ". Darman kaget tiba - tiba Partini ngangkang dan menunjukkan kemaluannya. Darman terpana. " Lihat ni, kang. Bibir pepekku. Ada lukanya ta, kang ", kata Partini sambil memegang tangan Darman agar memegang kemaluannya. Darman menarik tangannya dan menjawab : "  Ya...ya...aku lihat ". Darman mendekatkan jarak matanya dengan kemaluan Partini. Darman dapat melihat dengan jelas kemaluan Partini yang merona merekah. Di atas kemaluan Partini ditumbuhi rambut yang tumbuh halus, dan belum begitu tampak. pepek Partini cantik. Bibirnya tipis. Di antara kedua bibir agak di atas ada tonjolan mirip biji kacang warnanya merah jambu. Darman melihat bibir kemaluan Partini sebelah kiri ada luka tergores. " Tak ambilkan yodium ya, Par. Kalau ditetesi yodium lukanya kan terus sembuh ". Darman mau bangkit dari duduknya. Tetapi Partini cepat - cepat menggapai tangan Darman dan berkata : " Tak usah kang. Tadi sudah tak tetesi yodium sedikit kok, kang. ". Partini semakin merenggangkan kangkangannya. Kemaluannya menjadi semakin merekah. Darman bingung dan mencoba memperbaiki posisi duduknya karena miliknya yang di dalam sarung menggeliat. Cepat - cepat Darman memegang kedua lutut partini dan merapatkannya. " Lho kok ditutup ta, kang. Lha wong kang Darman tak suruh lihat kok malah ditutup ". Berkata begitu Partini kembali mengangkangkan kakinya. " Ni akibatnya kalau manut simbok. Kemarin aku sudah dak mau diajak mas Mursinu ke kota. Tapi simbok maksa - maksa agar aku mau diajak ke kota oleh mas Mursinu. Aku dibelikan baju. Dibelikan gelang emas . Trus aku diajak ke kamar hotel. Aku dak mau. Aku minta pulang saja. Lha kok ketika berjalan pulang motor dibelokkan ke kebun karet, kang. Trus aku mau diperkosa. Ni kang pepekku mungkin kena kuku tangannya mas Mursinu. Sakit, kang. Jarinya mas Mursinu masuk ke pepekku, kang. sakit lho, kang . Penthilku di jilat - jilat, diremas - remas kang, sakit " Partini nerocos cerita. " Wis ...wis....dak usah diteruskan ceritamu !", kata Darman sambil mau berdiri. Tetapi lagi - lagi tangan Partini cekatan memegang tangan Darman. Darman kembali terduduk. Partini bangkit dari rebahan. Darman tak lagi melihat kemaluan Partini. Tetapi pahanya yang putih tetap tak tertutup daster. Partini membuka kacing baju yang menututpi dadanya. Sehingga buah dadanya yang putih bisa dilihat oleh Darman. " Ni, kang. Penthilku biru - biru memar karena diremas mas Mursinu ", kata Partini sambil menunjukkan bagian yang membiru di penthilnya. " Sudah tutup lagi. Aku percaya !", bentak sayang Darman. Bukannya mau nutup dadanya, malah tangan Darman di raih dan dilekatkan ke dadanya sambil meminta : " Coba kang, remas penthilku kang ". Tangan Darman tak beraksi. " Ayo ta, kang remas ... ", Partini merengek manja. Kalau sudah begitu ahkirnya Darman kalah. Sebenarnya betapa inginya Darman meremas penthil Partini. Betapa inginya ia mencium pipi Partini. Tetapi Darman sangat sayang kepada Partini. Betapa Partini menarik bagi Darman. Tetapi karena memang sejak kecil tak ada milik Partini yang belum dilihatnya maka Darman tak mudah menuruti kata hatinya. Darman malah melamun ketika waktu kecil mandi bersama Partini di sungai. Partini menarik - narik milik Darman. Darman mengaduh. Partini cekikikan. Darman membalas memegang punya Partini. Partini kegelian. " Ayo ta kang,  remas ...ayo kang !", pinta Partini semakin manja. Ahkirnya Darman meremas dengan sayang penthil Partini. Partini merasakan geli yang nikmat. Menggelinjang dan merebahkan kepalanya di dada Darman. " Ganti yang kanan kang diremas juga !", pinta Partini lirih seperti mendesah. Tangan kanan Darman berganti meremas payudara Partini yang sebelah kanan. Tangan kiri Darman memeluk tubuh Partini. Saat Darman gemas, remasnya di penthil Partini menjadi agak kuat. Partini menggelinjang. Wajahnya mendongak. Bibirnya yang tipis merah basah menganga. Darman bernafsu menciumnya. Tapi diurungkan. Partini terus mendesah. Darman terus meremas. " Kang, remasan tangan kang Darman kok enak sekali. Kemarin kok adanya cuma sakit ketika tangan mas Mursinu meremas penthilku, kang ". Kata Partini sambil tangannya gerayangan mencari milik Darman yang di dalam sarung. Darman bekelit dengan memundurkan pantatnya agar kelelakiannya tak di pegang Partini. Partini malah nekat. " Jangan ...saru !", bentak sayang Darman kepada Partini. Yang dibentak sayang bertambah nekat. Ahkirnya kepegang juga. " Kaku sekali ya, kang ". Kata  Pertini setelah berhasil menggenggam. " Hus ...saru ...!". Lagi - lagi Darman membentak sayang. " Kang, sekarang jari kang Darman masukkan ke pepekku, kang ", pinta Partini sambil mendesah dan napasnya memburu. " Jangan edan ..kowe...! Nanti sakit !", kata Darman sambil mau bangun beranjak dari duduk. Partini sigap , dengan cepat menangkap tangan Darman dan mendekatkan pada pepeknya. Tangan Darman tepat di selangkangan Partini. Wal hasil menyentuh juga benda lembut berbulu halus sedikit basah hangat. " Ayo kang jarinya masukkan ", pinta Partini sambil menekankan tangan Darman di pepeknya. " Ayo kang sekali ini saja ....", Partini terus merengek dan mukanya bersentuhan dengan pipi Darman. Darman tak kuasa. Dengan terpaksa menuruti kemauan Partini. Jari - jari Darman menyingkapkan bibir kemaluan Partini dan jari tengahnya masuk menusuk lubang kemaluan Partini. Partini Mendesah agak mengerang. " Lho kok enak sekali, kang. Kalau jari mas Mursinu kok menyakiti, kang !" , kata Partini sambil terus tubuhnya mengeliat dipelukan Darman. Darman jadi tergoda jari tengahnya yang masuk dalam di kemaluan Partini digerak - gerakkan, berputar - putar dan sesekali maju mudur. Partini mendesah ...menggeliat dan bergetar dan ....kemaluannya basah. Darman cepat - cepat menarik jarinya. Melepaskan pelukkannya, bangkit dari duduk, berdiri dan bergegas meninggalkan kamar Partini untuk pulang ke rumah.
     Sesampainya di rumah Darman langsung ke kamar mandi. Dilumurkan busa sabun di tangannya. Digenggamnya kemaluanya yang sangat kaku dan terasa pegal. Genggaman telapak tangannya bergerak maju mundur. Semakin lama semakin cepat. Dan ....." Partini .......Partini.....Partiniiiii.....Paaaaaaarrrrrr !"  Crot ....crot .....crot .....crot .....sperma Darman muncrat.
     Pagi - pagi Darman dikeluarkan dari sel oleh polisi. Disuruh mandi dan makan. Selesai mandi dan makan Darman kembali dienterogasi. " Sekarang ceritakan hubungan Tiong dengan Partini, Man !" Perintah polisi sambil menyodorkan rokok kepada Darman. Darman mengambil satu dan menyulutnya. Menghisap dalam - dalam dan menghempaskannya. Melihat itu para polisi yang siap menginterogasi Darman pada tersenyum. " Enak sekali rokoknya, pak. Saya tak pernah merokok rokok mahal kayak begini ", kata Darman sambil terus menikmati rokok. Darman menghisap rokok dalam - dalam, lalu menghempaskannya : " Tiong itu orangnya pendiam, pak ". Darman mulai bercerita.
     Tiong sangat sering bermalam di rumah Partini. Selain mbok Sargini mboknya Partini adalah isteri tidak sah babah Ong paman Tiong,  juga karena memang di dusun itulah Tiong bekerja sebagai petani tembakau yang bekerja sama dengan para petani setempat. Saat musim tembakau tempat yang paling enak untuk menginap dan beristirahat ya hanya rumah mbok Sargini. Seminggu sebelum Partini meninggal Darman bertemu Tiong di rumah Partini. Memang Darmanlah yang sering dimintai tolong oleh Tiong untuk kesana - kemari, beli ini beli itu, bahkan ke kota mengambilkan baju ganti Tiong , maklum Darman tukang ojek. Bagi Darman yang penting dapat upah.
     Malam itu Darman diminta Tiong untuk menemaninya di rumah mbok Sargini. Seperti biasanya kalau Darman diminta menemani Tiong di rumah mbok Sargini, Darman gembira. Selain karena dapat rokok mahal, juga uang dan makanan yang enak - enak yang jarang menyentuh lidahnya. Malam itu sudah lewat tengah malam. Darman antara tidur dan tidak merebahkan dirinya di lantai beralaskan tikar daun pandan. Tiong tidur di kamarnya yang sudah dipersiapkan ala kadarnya oleh mbok Sargini. Mbok Sargini membuatkan kamar tidur Tiong yang memang sering bermalam di rumahnya. Tiba - tiba kuping Darman mendengar pintu kamar dibuka pelan - pelan. Betul juga ketika Darman membuka sedikit matanya, dilihatnya Tiong keluar dari kamar. Berjalan berjingkat mendekati kamar Partini. Sesampai di depan pintu kamar partini Tiong mendorong - dorong pelan pintu kamar Partini. Kemudian mengintip kedalam kamar Partini. Sebentar mengintip Tiong berjingkat berjalan menuju ke arahnya. Darman terkesiap dan segera menutup matanya dan pura - pura pulas tidur. Setelah sebentar mengamati Darman dan yakin Darman sudah tidur Tiong kembali berjingkat ke kamar Partini. Tiong mengintip lagi. Darman memincingkan matanya ingin tahu apa yang akan diperbuat Tiong selanjutnya. Tiong terus mengintip sambil sesekali membenahi celana bagian depan. Rupanya milik Tiong menggeliat membesar. Tiong memperbaiki posisi miliknya agar leluasa membesar. Darman tahu pasti Tiong melihat sesuatu yang menyenangkan. Kalau tidak mana mungkin dia betah mengintip begitu. Darman tahu kebiasaan tidur Partini yang jarang berselimut. Polah tidur Partini sering membuat daster tersingkap ke atas. Mulai dari pusarnya sampai pahanya terbuka. Kadang tengkurap dengan pantat yang terbuka yang hanya ditutupi celana dalam yang sudah kekecilan. Siapa yang tidak bernafsu melihat hal demikian. Agaknya yang dilihat Tiong juga seperti itu. Atau jangan - jangan Partini tidur terlentang kakinya ngangkang dan tak pakai celana dalam dasternya tersingkap ke atas. Tiong terus mengintip. Darman mendengar derit pintu kamar dibuka. Lalu terdengar langkah halus dari arah belakang. Darman melebarkan bukaan matanya. Ia melihat mbok Sargini melangkah mendekati Tiong. Sesampai di dekat Tiong mbok sargini menggamit tangan Tiong. Tiong tidak kaget. " Sudah ayo, jangan buat mereka bangun !" , bisik mbok Sargini di telinga Tiong yang bisa juga didengar Darman. Mbok Sargini menarik tangan Tiong dan mereka berjalan ke kamar mbok Sargini. Terdengar oleh Darman pintu kamar ditutup. Jantung Darman jadi bedegup. Badanya gemetar. Rasa kantuknya hilang. Apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar. Timbul keinginan Darman untuk mengintip. Darman bangun dari rebahnya berdiri perlahan, berjingkat menuju kamar mbok Sargini. Kamar mbok Sargini yang hanya berupa sekat pager anyaman bambu banyak celah - celah lubang. Di luar kamar gelap. Di dalam kamar terang temaram. Ada sinar - sinar keluar dari celah - celah. Darman mengintip.
     Di dalam kamar mbok Sargini sedang melepas celana Tiong. Maka mencuatlah tongkat tiong yang sudah kaku sejak ia mengintip Partini." Wah sudah kaku banget milikmu, Tiong. Pasti karena ngintip Partini tadi, ya ? Jangan sering - sering ngintip Partini, Tiong. Nanti kamu jadi kepingin sama Partini, lho ", kata mbok Sargini sambil meremas - remas halus tongkat Tiong yang menjadi semakin kaku. " Sudah berapa kali hayo......, ngintip Partini ". Kata mbok Sargini tertahan agar tidak mengeluarkan suara keras. " Ya sering tante, kalau aku menginap disini aku mesti ngintip Partini. Habis Partini bahenol banget lho, tante. E...tante, besuk aku nikahi Partini ya, tan ? ", kata Tiong sambil sesekali meringis nikmat karena kemaluannya dipermainkan mbok Sargini yang dipanggil dengan sebutan tante oleh Tiong. " Ya besuk kalau sudah umur dua puluh, sekarang kan baru umur enam belas ", jawab mbok Sargini sambil memelorotkan celana dalamnya sendiri. " Kayak biasanya tak emut dulu ya, Tiong ? Om-mu itu kalau diemut ya suka sekali kok. Tapi ininya besar punya kamu lho, Tiong ", kata mbok Sargini sambil menggoyang - goyang tongkat Tiong. Tiong mendongak dan meringis nikmat. Mbok Sargini juga selalu memenuhi perintah babah Ong paman Tiong untuk ngemut dulu. Babah Ong kalau sedang diemut kakinya menari - nari merasakan nikmatnya diemut. Mbok Sargini mulai mengulum tongkat tiong. Tiong mendesah dan pantatnya bergerak - gerak. Tangan Tiong mencari - cari sesuatu yang ada di selangkangan mbok Sargini. Tiong menemukannya. Tangan Tiong meraba lebatnya rambut. Kemudia jarinya menyibakkan bibir kemaluan mbok Sargini. Dua jari langsung masuk menusuk kemaluan mbok Sargini. Tiong yang tongkatnya nikmat dikulum semakin nakal. Jarinya dimaju - mundurkan di pepek mbok Sargini. Mbok Sargini merapatkan pahanya yang putih menahan geli nikmat. Napas keduanya sudah memburu dan kegiatannya semakin ganas. " Sudah ayo masukkan, Tiong !", perintah mbok Sargini dengan nada bergetar. Tiong Merebahkan tubuh sintal padat  mbok Sargini dan segera menindihnya. Mbok Sargini membuka kangkangannya lebar - lebar memberi kesempatan Tiong menancapkan tongkatnya di pepeknya yang sudah basah. Sekilas Darman bisa melihat kemaluan mbok Sargini. Lebat ditumbuhi rambut. Agak menonjol menggunung. Bibirnya agak tebal. Tidak tipis kayak punya Partini. Mungkin kalau tua nanti punya Partini juga akan seperti itu. Tapi punya Partini sekarang rambutnya saja masih sedikit. Tiong menancapkan tongkatnya di lubang kemaluan mbok Sargini. Mbok Sargini mengaduh kenikmatan " Enak sekali, Tiong ", desah mbok Sargini. Tiong terus memacu pompaannya. Pantat maju mudur. Ranjang  yang mereka tiduri berderak - derak dan berkerit - kerit karena ikut bergoyang seirama polah mereka. Nampaknya mbok Sargini sangat nikmat. Kedua kakinya diangkat - angkat kemudian kakinya memeluk melingkar di pinggul Tiong. " Aduh.....Tiong.....Tiong.....aaaahhhh...Tiong.....aaahh !" Mbok Sargini orgasme. Tiong menarik tancapan tongkat dan segera mengelap pepek mbok Sargini yang sangat basah. Habis mengelap kemaluan mbok Sargini, kembali Tiong menancapkan miliknya dan terus dipompa. Ranjang semakin berderak dan berderit. Mbok Sargini menggila pantatnya bergoyang - goyang dan diangkat - angkat. Tiong semakin mendekap memeluk mbok Sargini sambil mulutnya menghisap - hisap penthil mbok Sargini yang besar, putih, dan masih kenyal.  " Tiong sekarang.....ayo....se...se..ka...rang...ah...aduh...edannn....enak sekali malam ini....aaaahhh...aduh...", desahan mbok Sargini. Tiong semakin keras memompa dan..."  Ayoo...tante ...sekarang......huuaaaghh  uuuhhh ...aaahhhhh.....tan.....tanteeeeeeee !" Tubuh Tiong mengejang. Kakinya berkelonjotan. Bersamaan dengan itu tubuh mbok Sargini menggelinjang - gelinjang. Dan yang terdengar dari mulutnya hanya " aaahhhhh....aaggggghhhh.....ti....tiong....!" . Melihat adegan itu Darman tak kuasa menahan birahinya. Ia segera berhenti mengintip , berjingkat kembali ke tempat tadi. Dan merebahkan dirinya.  Tubuhnya dimasukkan ke sarung. Celana dibuka. Miliknya yang sudah sangat kaku  sampai terasa pegal kemudian dikocok. Tak lama kemudian dari mulut Darman keluar desahan " Partini .....oh...Partini.....aaaauuughhh...Par....Par....Paaaarrrrrtiniiiiiiiiii !" Crot ...crot...crot...crot.....mani Darman muncrat banyak sekali dan membasahi sarungnya.

                                                                            bersambung kebagian ketujuh .....
    



Jumat, 06 Mei 2011

Anggungan Perkutut

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                         edohaput

Bagian kelima 

      Mursinu banyak duit. Ia pedagang cengkih yang berhasil.Sudah cukup lama ia memendam perasaan suka sama Partini. Ia tidak menyadari apakah dirinya jatuh cinta apa cuma nafsu. Yang jelas Mursinu sangat menyukai Partini. Sangat berharap Partini mau diperistri. Setiap ia melihat Partini miliknya menggeliat dan kaku. Dikala menjelang tidur yang menjadi bayang - bayang pengantar tidurnya hanya Partini. Tidak jarang ketika sulit tidur Mursinu menjadikan Partini obyek onaninya. Mursinu termasuk orang gede nafsu birahinya. Seminggu tak begituan kepalanya pusing. Mursinu tak seperti pemuda dusun pada umumnya. Yang lugu, tak berduit dan sederhana.  Mursinu sangat sering ke kota. Dan di kotalah Mursinu melampiaskan nafsu biologisnya dengan pe-es-ka - pe-es-ka yang mudah ditemui.
     Satu hari Mursinu mampir di warung nasi pecelnya mbok Sargini. Tujuannya menemui Partini. Kebetulan saat itu Partini sedang sendiri di warung. Mbok Sargini lagi kondangan ke tetangga dusun yang mantu. Hari itu memang disengaja oleh Mursinu. Dia tahu kalau Partini sedang sendirian di warung. Karena hari itu sudah agak larut siang maka warung sepi. Hal itupun sudah diperhitungkan oleh Mursinu. " Par, aku dibuatkan teh saja ", Mursinu membuka percakapan setelah duduk di bangku. " Tidak makan, Mas ?", tanya Partini pada Mursinu. Karena Mursinu orang terpandang dan kaya maka Partini memanggilnya dengan sebutan mas. " Aku sudah jajan tadi di kota, Par. Jadi sudah kenyang. Sudah teh saja yang panas dan manis ", jawab Mursinu. Mursinu memandangi Partini yang sedang membuatkan teh dan berdiri  membelakanginya. Pikiran Mursinu melayang. Pantatnya gempal menyembul. Kulitnya putih. Lengannya panjang. Karena Partini mengenakan daster tak berlengan maka Mursinu bisa melihat sedikit buah dada Partini yang pasti putih. Ketika Partini membungkuk mengambil senduk yang ada di rak meja bawah, Mursinu terkesima melihat kedua paha Partini yang bersih. Mursinu menelan ludah.
     Partini menyodorkan gelas teh di meja sambil agak membungkuk. Sekali lagi dari dalam dasternya Mursinu melihat buah dada yang ranum punya Partini. Mursinu menyulut rokok. " Par kesini, Par aku mau bilang sama kamu " , kata Mursinu sambil menggerakkan tangan memberi isarat agar Partini duduk didekatnya. " Aku duduk sisni saja, mas. Mas Mursinu mau ngomong apa ta, mas ? " , Partini menolak isarat Mursinu. " Penting, Par. Aku tak ingin yang aku omongkan ke kamu didengar orang lain. Sini !", pinta Mursinu. Partini maju duduk di hadapan Mursinu yang diantara Partini dan Mursinu ada meja dimana tehnya Mursinu tersaji. Mursinu ingin cepat - cepat menyelesaikan tugasnya. Ia takut keburu ada orang datang. Batalah niatnya." Begini Par, aku sebenarnya suka sama kamu. Aku ingin jadi ...ja...jadi pa...pacar kamu, Par ", kata Mursinu agak terbata - bata. " Kamu mau ta, Par ?", tanya Mursinu. Partini tersenyum dan meledek : " Mas Mursinu mbok jangan gitu, mas. Mas Mursinu itu kan orang kaya. Aku ini apa ta, Mas ? ", jawab Partini agak tertawa lebar. " Aku ini serius lho, Par ". Kata Mursinu lagi : " Mau ta Par jadi pacarku ? ". Partini cuma tersenyum dan tak mengambil reaksi serius dari kata - kata Mursinu. " Nih, aku tadi dari kota membeli ini ", kata Mursinu sambil meletakkan kotak kecil terbalut beludru biru di atas meja dan menyorongkannya ke Partini. " Ini hadiah untuk kamu, Par ". Tolong pikirkan untuk mau jadi pacarku ".  Berkata begitu Mursinu sambil menghabiskan teh yang dibuatkan Partini. " Sudah aku pulang. Besuk ketemuan lagi ya, Par ? " Aku tak mampir ke warung ini ". Berkata begitu Mursinu bangkit dari duduk dan meninggalkan Partini yang masih tertegun oleh kotak yang ditinggalkan Mursinu di atas meja.
     Mbok Sargini pulang dari kondangan diantar Darman.Tidak pulang ke rumah, tapi ke warung. Mbok Sargini menemukan Partini yang masih termangu memandangi kotak kecil berbalut beluduru biru. " Apa itu, Par ?". tanya mbok Sargini kepada anaknya semata wayang sambil menunjuk kotak kecil di atas meja. Yang ditanya cuma mengangkat bahu tanda tidak tahu. " Siapa yang naruh kotak itu, Par ?", tanya mbok Sargini lagi. " Mas Mursinu, mbok ", jawab Partini. " Lha kok ditaruh disitu. Ketinggalan pa, Par ?". Mbok Sargini jadi heran. " Tumben ya Dar, mas Mursinu mampir kesini ", kata mbok Sargini kepada Darman yang juga ikut memandangi dan bertanya - tanya tentang kotak kecil itu. Mbok Sargini dan Darman tahu persis jika kotak itu tempat menempatkan perhiasan berharga. " Ya jajan ta, mbok. Barangkali sekarang mas Mursinu sudah doyan sega pecel. Kalau biasanya kan sate kambing ", jawab Darman sekenanya. Tapi pikiran Darman sudah bisa menangkap kalau mas Mursinu ke warung pasti karena Partini. " Gini lho, mbok . Tadi mas Mursinu kesini. Beli teh. Tapi ngomong sama aku. Aku mau jadikan pacarnya, gitu lho mbok ", kata Partini ke mboknya yang tampak kaget mendengarkan penjelasan Partini. " Trus mas Mursinu ngasih aku kotak itu, mbok ", kata Partini lebih memberi penjelasan. " Sudah kamu buka belum kotak ini, Par ?", tanya mbok Sargini sambil meraih kotak kecil itu. Ditanya mboknya begitu Partini cuma mengangkat bahu tanda belum membuka. Mbok Sargini membuka kotak dan kaget : " Waduh Par ! Ini kan kalung emas ! Beruntung sekali kamu Par ! Ini dikasih ke kamu ya, Par ?". Mbok Sargini kegirangan. " Emas ini, Man ! Berat lho ini ! Ada lho ini kalau lima puluh gram ", kata mbok sargini sambil mengeluarkan kalung dari dalam kotak dan menimbang - nimbangnya dengan tangan. Darman hanya manggut - manggut dan terkesima oleh ulah mbok Sargini yang kegirangan. " Wah....wah...wah..baik benar ya mas Mursinu itu ? Par,  kamu mau ta dijadikan pacarnya mas Mursinu ? Kalau kamu nanti menjadi isteri mas Mursinu hidupmu bakal enak. Dia orang kaya. Bisa cari duit banyak. Aduh.....aduh.....beruntungnya anakku ", kata mbok Sargini sambil memeluk tubuh Partini. " Nih dipakai kalungnya, biar tambah cantik !", pinta mbok Sargini dan mau memakaikan kalung di leher Partini. Partini menolak. " Jangan sekarang mbok. Besuk saja ! ", tolak Partini. " Lho kenapa ini kan sudah diberikan ke kamu ta, Par !". Mbok sargini agak memaksa tapi Partini tetap tidak mau. Dia malah berdiri dan menuju ke dapur, sambil berkata : " Itu kalung disimpan simbok saja !". 
     Siang hari berikutnya Mursinu datang ke warung. Mbok Sargini begitu suka cita kedatangan pemuda  kaya yang menghendaki anaknya jadi pacarnya. " Mari ... mari.... duduk , mas Marsinu. Minumnya teh apa kopi .. e..apa jeruk, mas ?" Mbok Sargini dengan sangat sopan dan sangat antusias menanggapi Mursinu. " Teh saja, mbok ", jawab Mursinu sambil membenahi posisi duduknya. Disebut dengan panggilan " mbok " layaknya Partini memanggil atau Darman juga, mbok Sargini tambah berbesar hati. " Makan nasi pecel ya, mas. Tak buatkan yang istimewa ". Mbok Sargini menawarkan makan ke Mursinu. " Ndak, mbok. Aku sudah sarapan tadi. Masih kenyang. Partini kemana, mbok ?" , tanya Mursinu sambil mengawasi sekeliling yang tak nampak Partini. " Partini masih di rumah, mas. Paling sebentar lagi dia datang ", jawab mbok Sargini." Terima kasih lho, mas. Partini suka sekali dengan kalung yang mas Mursinu berikan kemarin ". Mbok Sargini berbohong. " Cuma kalung saja kok, mbok. Besuk rencananya Partini mau saya ajak ke kota, mbok. Mau saya belikan gelang dan pakaian yang bagus - bagus ", kata Mursinu yang sekaligus minta ijin mbok Sargini untuk mengajak Partini. " Boleh .....boleh...mas. Sekalian Partini agar punya pengalaman melihat kota. Tapi Partini bodo lho, mas. Dia itu lugu.... belum mengerti .... ya ..ya tolong saja mas dia itu diberi pengalaman ". Mbok Sargini dengan senang hati memberi ijin kepada Mursinu untuk mengajak Partini ke kota.
     Partini datang menenteng bakul yang berisi nasi yang dimasak di rumah. Partini langsung masuk dan tak menyapa Mursinu. " Lho kok tidak menyapa mas Mursinu, Par ?" , tanya mbok Sargini. Partini tidak menjawab dan langsung sibuk dengan pekerjaannya. " Maafkan Partini ya, mas. Dia itu sering begitu kalau badannya capai membantu mboknya". Mbok Sargini berbohong lagi. " Dah kamu dak usah kerja. Temani saja mas Mursinu sana ! ", pinta mbok Sargini kepada Partini. " Besuk kamu mau diajak mas Mursinu ke kota. Mau dibelikan baju - baju bagus dan gelang. Dah sana omong - omong sama mas Mursinu ." Mbok Sargini membujuk  Partini.
     Para langganan nasi pecel pada datang. Pembicaraan jadi terganggu. Mursinu berpamitan pergi : " Sudah ya, mbok. Aku pamit dulu. Besuk agak pagi aku kesini lagi jemput Partini ". Kata Mursinu  sambil meletakkan lembaran uang ratusan ribu di dekat tehnya. " Kembaliannya mas ! " Teriak mbok Sargini. " Dak usah toh besuk masih kesini ! " Jawab Mursinu. Mendengar kata - kata Mursinu mau datang menjemput, jantung Partini berdesir. Ia kaget. Dalam  pikirannya ia kan belum menyetujui diajak pergi. Maksud hati mau menjawab menolak, tetapi Mursinu keburu keluar dan melambaikan tangan ke dirinya : " Yuk Par, sampai besuk ya !". Berkata begitu Mursinu langsung menancap gas motor barunya. Partini tertegun. Dalam hatinya menyalahkan mboknya yang tanpa persetujuannya mengijinkan dia diajak Mursinu ke kota besuk. Apa yang harus diperbuat besuk ?  Akan menolak ? Apa bisa ? Kalau dia menolak apa mboknya tidak marah ? Partini bingung.
     Partini menemui Darman di rumah Darman. " Gimana kang besuk aku sebenarnya dak mau lho, kang. Aku takut ", keluh Partini. " Ya besuk kamu dak usah nolak. Ikuti saja Mursinu. Kalau dibeli - belikan ya mau saja. kalau sudah selesai belanja ya pulang saja ". Darman menasehati Partini. " Tapi kang....", Partini merajuk. " Dak usah tapi - tapian .....dah sana pulang ! Ini sudah malam lho ", perintah Darman. " Diantar, kang .... ", Partini semakin merajuk manja. " Lho rumahku ini kan cuma sepuluh meter dari rumahmu ta, Par. Masak harus diantar ", jawab Darman. " Kang ....ayo ta kang ", ajak Partini semakin manja Darman kalah. Ahkirnya Darman keluar rumah. Partini minta dirangkul. Di luar gelap. Hanya ada cahaya rembulan yang redup. Darman merangkul Partini. Tangan Darman yang merangkul Partini dipegangi Partini. Dan Partini menggosok - gosokkan tangan Darman ke buah dadanya. Darman merasakan gundukan kenyal menyentuh tangannya. Adu puting yang menyentuh tangannya. Partini tidak pakai kutang. " Jangan edan ta, Par !" . Darman menarik tangannya yang di pegang Partini. Partini tidak mau melepas. " Biar anget kok, kang. Aku adem lho kang ". Partini merepatkan badanya ke tubuh Darman. Tangan Darman yang satunya oleh Partini dipepetkan ke pepeknya. " Dasar cah edan .....saru !". Kata Darman yang disambut cekikikannya Partini. Partini dan Darman masuk rumah. Mbok Sargini sudah mendengkur. " Tidur sini saja ya, kang. Tidur sama aku ", Partini terus masih memegangi tangan Darman. " Edan pa ? Sekarang kita ini  dah gede bukan anak kecil lagi.  Kalau dulu kita sering tidur bersama. Lha kalau sekarang ya jangan ta ,Par. Dah sana tidur. Besuk telat bangun. Besuk kan mau pergi sama Mursinu ". Mendengar omongan Darman begitu Partini langsung melepas tangan Darman dan lari kekamar. Darman menutup pintu rumah Partini rapat - rapat dan pulang.
     Hari belum jam delapan. Mursinu sudah datang di warung. Ditemui mbok Sargini. Sebentar kemudian Partini datang. " Piye ta, Par ? Kok belum ganti pakain. Kamu kan mau diajak ke kota sama mas Mursinu. Mosok pakai rok kayak gitu " Mbok Sargini pura - pura memberengut memarahi Partini. " Dah dak apa - apa, mbok. Pakai pakaian lama  ke kota tak masalah. Dan walau hanya pakai rok kaya gitu Partini tetap cantik kok, mbok ". Mursinu menimpali kata - kata mbok Sargini. " Maaf lho mas Mursinu....Partini ini.... tak pengalaman ...." . Mbok Sargini merendahkan Partini. " Dah sana mboceng mas Mursinu !" Kata mbok Sargini sambil mendorong lembut pundak anaknya.
     Partini sengaja memakai rok jelek. Harapannya Mursinu tidak jadi mengajak ke kota. Tapi ternyata Mursinu tetap tidak mempermasalahan soal pakaian. Dengan cara apa lagi Partini bisa menolak. Partini hanya bisa pasrah. Mursinu menghidupkan motor. " Ayo, Par !", ajak Mursinu. " Sudah sana berangkat, simbok sendiri di warung dak apa - apa kok. Par ". Mbok Sargini mendorong Partini agar segera naik keboncengan Mursinu. Motor meluncur. Mursinu gembira. Partini gelisah dibonceng Mursinu.
     Di kota Mursinu mengajak Partini ke toko emas. Partini dibelikan gelang. Dari toko emas ke toko pakaian. Partini dibelikan pakaian. Partini sama sekali tak ada semangat memilih. Semua pakaian yang dibeli pilihan Mursinu. Dari toko pakaian Partini diajak makan di warung sate kambing. Partini tidak ada semangat untuk makan. Apa lagi daging kambing. Sama sekali ia tak suka. Selesai makan Mursinu membawa Partini ke losmen. Mau Mursinu Partini akan diajak ngamar. Dalam pikiran Mursinu Partini akan diajaknya berhubungan intim. Khayalan Mursinu sudah melambung. Ia bakal menikmati keperawanan Partini. Partini pasti tidak akan menolak karena sudah di beli - belikan barang - barang. Sampai di losmen Mursinu boking kamar. Dan mengajak Partini masuk kamar. " Mau apa mas kok pakai masuk kamar segala ? " , tanya Partini. " Sudahlah ayo, tak apa - apa cuma sebentar saja ", bujuk Mursinu. " Dak, Mas.  Aku dak mau, mas. Kita pulang saja ", sambil berkata begitu Partini berjalan keluar dari lingkungan losmen. Mursinu menyusul dengan motornya. Mereka kembali berbocengan. " Pulang saja, mas ", pinta Partini. " Ya pulang !" , jawab Mursinu ketus. Motor berjalan kencang. Sampai di perkebunan karet motor bebelok masuk ke kebun karet. " Lho kok kesini, mas ? ", tanya Partini. Mursinu justru mempercepat jalannya motor lewat jalan sempit semakin masuk ke kebun. Setelah  cukup jauh dari jalan Mursinu menghentikan mator dan menarik tangan Partini masuk ke semak - semak. " Kita mau apa disini, mas. Ayo pulang saja !". Partini berontak. Mursinu semakin nekat tubuh Partini dengan sekuat tenaga ditelentangkan di atas rumput.
     Darman yang dari sejak Mursinu dan Partini berangkat ke kota selalu membututi mereka kaget melihat Mursinu membelokkan motornya ke kebun karet. Darman segera menyembunyikan motornya dan berlari mengendap menuju tempat Mursinu dan Partini berada. Darman segera melihat Mursinu yang telah berhasil mebuka baju Partini yang menutupi dadanya. Disana Mursinu meremas - remas payudara Partini. Partini hanya bisa menggeliat - geliat. Mulutnya tak bisa bersuara karena telah ditutup mulut Mursinu yang dengan kasar mengulum bibir Partini. Dari mulut turun ke leher. Ahkirnya mulut Mursinu telah berada di pentil Partini. Disana mulut Mursinu menciumi dan menyedot - sedot puting susu Partini. Tangan Partini berusaha menjauhkan kepala Mursinu dari dadanya. Tapi tak kuasa. Mursinu begitu kuatnya menekan. Tangan kiri Mursinu dengan kuat mencengkeram bahu partini sementara tangan kanannya sudah berada di selangkangan Partini. Tangan Mursinu masuk ke celana dalam Partini. Disana jari - jari tangan Mursinu menekan - nekan kemaluan Partini. Jari - jari itu berusaha menyibakan bibir kemalauan dan masuk menusuk - nusuk pepek Partini. Mula - mula masuk satu jari dan dikocok - kocokan. Lalu dua jari masuk dan di kocok - kocok. Sementara itu mulut Mursinu berpindah - pindah dari bibir ke leher ke pentil lagi. Partini mendesah bukan karena nikmat tetapi sebaliknya justru ia meraskan kesakitan dan jijik terhadap mulut Marsinu yang bau rokok. Jari - jari tangan Mursinu yang berkuku menyakiti kemaluannya. Mursinu semakin kesetanan. Dengan sakali tarik celana dalam Partini sobek dan terlepas. Mursinu semakin leluasa mempermainkan pepek Partini. Mengusap usapnya dan menusuk - nusukkan jarinya. Mula - mula satu jari dikocok - kocokkan. Dua jari masuk. Partini semakin kesakitan. Merasakan tubuh Partini menggelinjang - gelinjang, Mursinu mengira Partini keenakkan. Mursinu sudah tak kuat lagi menahan birahinya. Celananya dipelorotkan dan mencuatlah tongkolnya yang besar kaku, siap menusuk kemaluan Partini. Partini merasakan pahanya menyentuh benda kaku yang menggesek - gesek. Dia tahu itu tongkatnya Mursinu. " Jangan, mas. .....Jangan , mas.... ", Partini mulai menangis dan telapak tangannya berusaha menutupi kemaluannya yang akan ditusuk tongkolnya Mursinu. Mursinu berusaha menepiskan telapak tangan Partini yang menutupi kemaluannya. Dan mliliknya di dosok - dosokan ke kemaluan Partini. Mursinu sudah sangat bernafsu. Entah didorong oleh rasa apa tiba - tiba Partini melapaskan telapak tangannya yang menutupi kemaluannya dan berganti memegang tongkolnya Mursinu. Dipegang tangan Partini yang lembut dan hangat basah keringat, dan karena nafsu birahi yang sudah begitu memuncak Mursinu merasakan kenikmatan luar biasa miliknya digenggam Partini. Dan tak kuat lagi Mursinu menahan kenikmatanya. Partini merasakan yang dipegangnya berkedut - kedut dan memuntahkan cairan kental dan licin. Mani Mursinu menyembur - nyembur ke paha Partini dan sebagian ada pula yang menempel di kemaluan Partini. Beberapa saat kemudian tubuh Mursinu terguling lemas di rerumputan. Partini sibuk membenahi roknya yang awut - awutan. Tak lama kemudian Mursinu menyadari keadaannya dan segera menarik tangan Partini dan membocengkannya pulang.
     Dua hari dari peristiwa itu mbok Sargini mengembalikan semua barang - barang yang telah dibeli Mursinu untuk Partini. Mbok Sargini sangat menyesal mengijinkan Partini diajak Mursinu ke kota. Cerita Partini kepada mboknya membuat mbok Sargini marah.  Mbok Sargini tidak mengira kalau Mursinu akan berbuat jahat terhadap anaknya. Semua barang yang telah diterimanya dilemparkannya di depan Mursinu.
     Sejak peristiwa itu Partini selalu murung. Darman datang menghibur. " Napa ta, Par belakangan ini kok cemberut terus. Jengkel sama aku ya ?" , tanya Darman. Yang ditanya tak bereaksi. " Kangen sama Mursinu ya. Kalau kangen aku ya mau kok memanggilkan Mursinu agar dia datang ". Goda Darman. Yang digoda lalu bangkit dari duduk dan masuk kamar. Darman kembali tiduran di kursi kayu. Satu - satunya kursi yang ada di rumah Partini. Darman memindah gelombang radio dan mencari siaran wayang kulit. Siaran wayang kulit ditemukan. Darman menguap karena ngantuk. Darman sangat tahu mengapa Partini dua hari ini murung. Darman sangat tahu perasaan Partini. Darman juga tak mengira kalau Mursinu bakal berbuat seperti itu. Darman sangat menyesalkan perbuatan Mursinu. Darman semula berprasangka baik. Dan mengharapkan Mursinu akan bisa membahagiakan Partini. Tetapi semua itu pupus setelah dirinya menyaksikan peristiwa di kebun karet kemarin lusa. Berkali - kali Darman menguap. Tiba - tiba dari kamar partini memanggil : " Kang kesini, kang. Aku mau cerita !" Darman bangkit dari tiduran dan menuju kamar partini.
     Mbok Sargini sudah mendengkur di kamarnya. Dengkuran mbok Sargini kadang diselingi batuk - batuk. Mbok Sargini kalau sudah berangkat tidur jarang bangun - bangun. Walau kadang - kadang kepingin pipis mbok Sargini ogah bangun. Tidak jarang mbok Sargini jadi ngompol. Kalau sudah ngompol baru mbok Sargini bangun. Darman masuk kamar Partini. Darman mendapati Partini lagi melepas celana dalamnya.



                                                      bersambung kebagian keenam ......


    

Senin, 02 Mei 2011

Anggungan Perkutut

Anggungan Perkutut
                                                                                                         edohaput
Bagian keempat 

     Samidi pernah diketahui Darman mengintip Partini. Darman lupa tanggal,  tetapi ia ingat betul waktu itu bulan Januari 2011. Tepatnya malam Jum'at Kliwon. Darman yang sedang berada di luar rumah tiba - tiba dikagetkan oleh adanya orang yang mengendap - endap di samping rumah Partini. Waktu itu menurut Darman malam telah melewati pukul nol - nol. Orang itu terus mengendap - endap dan ahkirnya berhenti di samping kamar tidur Partini. Darman bersembunyi di balik pohon dan mencoba mengetahui siapa orang itu. 
     Rumah Partini berdinding anyaman Bambu. Karena memang belum sempat diperbaiki maka disana - sini banyak berlobang - lobang. Tak luput dinding kamar Partini juga banyak lobang. Sehingga mudah sekali diintip dari luar. Di luar gelap. Di dalam terang. Sehingga dapat dengan jelas orang bisa melihat ke dalam melalui celah lobang itu. 
     Darman mencoba dengan hati - hati mengendap - endap di antara tumbuhan perdu yang membatasi rumahnya dengan rumah Partini. Ia ingin dengan jelas apa yang akan diperbuat orang itu. Setelah jarak pandang dikegelapan tidak lagi menjadi penghalang, Darman bisa melihat bahwa orang itu Samidi. Apa yang akan dilakukan Samidi malam - malam begini di samping kamar tidur partini. Darman menahan napas. menahan gerakan, agar tidak menimbulkan suara. 
     Samidi mulai menempelkan wajahnya ke dinding bambu. Sebentar - sebentar ia menjauhkan wajahnya dari dinding, tetapi kalau sudah menempel, cukup lama berhenti. Tangan Samidi dilihat oleh Darman tampak membuka reutsliting celananya. Samidi  mengeluarkan miliknya yang sudah kaku. Sambil terus mengintip Samidi menggerak - gerakkan tangannya maju mudur di miliknya. Kira - kira sepuluh menit berbuat begitu tiba - tiba pantat Samidi bergerak - gerak dan ada desahan dan suara pelahan yang masih bisa didengar Darman. " Oh... Partini ....Partini....ah....uh...Partini ". Setelah beberapa saat Samidi memasukkan miliknya dan mengendap - endap pergi.
     Setelah Samidi pergi Darman mendekati dinding kamar Partini. Ia ingin melihat juga apa yang ada di dalam kamar Partini. " O...pantas ... Samidi begitu ", bisik Darman setelah mengintip ke dalam. Ternyata Partini tidur miring dan rok dasternya tersingkap ke atas sampai ke pinggul. Pantatnya yang putih nampak ditutup celana dalam yang tidak mapan sungguh di tempatnya. Sehingga bagia belakang pantat tampak sedikit terkuak dan pepek Partini kelihatan separo. Darman menghidupkan korek untuk menerangi suasana di situ. Seperma Samadi tercecer disitu, ada juga yang menempel di dinding bambu.
     Esuk harinya Darman ketemu Samidi di tempat mereka sedang membantu orang yang sedang membenahi rumah. Orang sedusun bergotong royong. Tak ketinggalan para pemuda, juga Darman dan Samidi. Waktu mereka pada istirahat. Samidi mendekati Darman. Jantung Darman berdesir jangan - jangan Samidi tahu kalau dia mengetahui Samidi tadi malam ngintip Partini. " Man aku tak tanya sama kamu, Man " , kata Samidi setelah duduk di dekat Darman dan mulutnya penuh gorengan pisang." Tanya apa, Sam ?", jawab Darman pendek sambil menyerutup teh panas. " Begini, ...  kamu kan dekat sama Partini ta ? Mbok tolong disampaikan ke Partini kalau aku suka dia. Kalau dia mau aku ya mau banget lho, Man ". Kata Samidi serius." Lha mbok sampeyan ngomong sendiri ta , kang Samidi. Gitu aja kok malah lewat saya ", jawab Darman yang juga serius. " Maksudku gini lho, Man. Kalau dia nanti njawab mau akan terus saya lamar, Man ". Kata Samidi lagi. " Ya... nanti kalau ketemu Partini tak sampaikan, kang ". Jawab Darman. Pembicaraan terputus ketika orang lain nimbrung duduk disitu.
     Satu saat Darman ketemu Partini disampaikannya maksud Samidi itu. Tapi Partini menolak dengan halus kalau dia belum ingin berumah tangga. Partini masih ingin sendirian. Masih ingin membantu emaknya di warung pecel. Apalagi Partini juga masih belum cukup umur untuk nikah. Tentang tubuhnya yang kelihatan sudah dewasa karena memang partini bongsor. Jawaban Partini yang demikian itu juga telah disampaikan oleh Darman kepada Samidi. Samidi bisa mengerti. Samidi juga merasa seandainya Partini mau lantas apa modal yang bisa dipakai membahagiakan Partini. Pekerjaan tetap belum ada. Sawah ladang yang sedikit tak bakal cukup untuk itu. Samidi tidak sakit hati. Tetapi cita - cita untuk memiliki Partini tidak pernah terputus.
     Sejak peristiwa diketahuinya Samidi mengintip kamar Partini Darman selalu bangun tengah malam dan mencoba berada di luar rumah. Siapa tahu ada orang lain selain Samidi berbuat sama. Benar malam itu malam rabu. Darman lupa tanggalnya tapi masih dibulan Januari dua ribu sebelas. Ada orang mengendap - endap mendekati rumah Partini. Setelah dekat  orang itu mendekati dinding kamar Partini. Kemudian nampak membuat lubang untuk mengintip. Darman dengan sangat hati - hati untuk mendekatkan jarak pandang. Setelah cukup dekat : " Lho Samidi lagi ", katanya dalam hati.
     Samidi membuat lubang intipan semakin lebar. Setelah cukup lebar Samidi menempelkan matanya di lubang intipan. Samidi menikmati pemandangan yang lebih indah dari yang pernah dia lakukan sebelumnya. Partini tidur nyenyak terlentang. Selimutnya tak lagi menutupi badannya. Dasternya tersingkap sampai ke pusar. Partini tidak memakai celana dalam. Kemarin hujan dari pagi. sehingga Partini yang tidak punya banyak celana dalam terpaksa malam itu tidak memakainya karena masih pada basah. Beruntung sekali Samidi. Tampak Samidi gugup dan tergesa mengeluarkan miliknya dari dalam celana. Ia kawatir nanti kalau Partini merubah posisi tidurnya ia tak lagi bisa menikmati. Tangan Samidi terus bergerak mengocok. Samakin lama kocokannya semakin cepat. Sementara itu  satu matanya terus menempel di dinding anyaman bambu kamar Partini. Partini menggeliat dan melebarkan kakangannya. Samidi menjadi semakin bernafsu. Ia melihat jelas bibir kemaluan Partini membuka. Dalam khayalnya Samidi menempelkan penisnya dan menekannya disana. Dan masuk. Samidi pelan - pelan menggenjotnya. Napas Samidi semakin memburu. Tangannya terus bergerak. Ada nikmat yang akan memuncak. Samidi berhenti menggerakkan tangannya. Agaknya ia merasa sayang kalau cepat keluar. Partini merubah posisi lagi, miring. Sehingga kemaluannya nampak dibelahan pantatnya bagian bawah dan di antara kedua pahanya yang putih. Samidi sudah tak kuat lagi. Kocokannya kembali cepat dan.....: " Partini.....Partini....Partini.......aaahhh " . Tubuh Samidi bergetar. Tak lama  kemudian Samidi pergi dengan membawa kepuasan. Setelah itu Darman berganti mengintip. Darman tak tertarik. Darman menyalakan korek. Banyak sekali di dinding mani Samidi tertempel. Kental, putih, dan meleleh.
     Siang harinya Darman ke rumah Partini. Ia dapati Partini sedang menggoreng tempe. " Kebetulan kang Darman ke sini. Nih tak gorengkan tempe, kang ", sapa Partini.  " Kebetulan Par, aku belum makan ", jawab Darman. " Ya kang, aku buatnya nasi juga banyak kok, kang. Yuk makan bareng, bentar tak buat sambel bawang ", kata Partini lagi sambil sibuk. Sementara partini sibuk, Darman masuk ke kamar Partini. Ditempelkannya karton - karton kardus bekas bungkus mie yang sudah disiapkan Darman dari rumah. Darman menempelkannya dengan lem dan juga dijepit dengan bambu. Kuat. " Lho kang, kok ditempel - tempel gitu to , kang ? " , tanya Partini yang juga masuk kamarnya mencari Darman untuk diajak makan. " Biar kamu tak kedinginan, Par. Angin mudah masuk melalui celah - celah itu ", jawab Darman. " Terima kasih ya, kang. Ternyata kang Darman perhatian banget sama aku ", kata partini. " Dah yuk kita makan " , ajak Darman sambil mendorong bokong Partini. Yang didorong membalik : " Ini kang yang didorong !''. kata Partini menunjuk bagian depan pantatnya alias bagian pepeknya. " Bukan ini , kang !" Partini mengelus pantatnya. " Wis....wis....aneh - aneh wae....saru... yuk makan ". Kata Darman sambil meraih lengan Partini.
     Darman masih tetap bangun tengah malam dan keluar rumah. Kebiasaan ini terus dilakukan tiap malam. Satu malam, malam itu malam Sabtu. Para pemuda umumnya berada di rumah pak Haji Danuri menyaksikan laga sepak bola antara Liverpool dengan Real Madrid. Darman tak tertarik kesana. Ia setia menunggu siapa lagi yang akan mengintip kamar Partini. Kali ini pasti kecele. Benar juga waktu itu belum pukul sebelas. Gerimis kecil - kecil. Suasana sepi. Darman tetap bertahan di bawah pohon sawo. Terlihat orang mengendap - endap mendekati rumah Partini. Melihat gayanya dia lah Samidi. Darman menahan tawa. " Mati kau " . Katanya dalam hati. Samidi terus mendekati kamar partini. Matanya ditempelkan. Berpindah - pindah. Tak ada lubang. Matanya hanya bertemu dengan kegelapan. " Sial !" , gerutu Samidi yang didengar Darman. Darman kembali menahan tawa. Dengan kekecewaannya, cepat - cepat Samidi meniggalkan tempat itu. Dalam pikirannya apakah Partini tahu kalau ada orang ngintip kamarnya, sehingga ia kemudian menutupi dindingnya. Apakah ada orang tahu kalau dirinya suka ngintip kamar Partini. Terus orang itu memberi tahu Partini agar menutupi celah dinding kamarnya ? Pikiran berkecamuk di benak Samidi. Sejak itu kebiasaan mengintip Partini oleh Samidi dihentikan.
     Polisi mendengarkan cerita Darman tetang Samidi sambil manggut - manggut, kadang diselingi serius, kadang sambil membetulkan letak miliknya yang menggeliat di dalam celana ketika cerita Darman sampai pada pepek Partini. Kadang pula tertawa atau tersenyum. " Kamu minum saja dulu , Darman. Dan ini dimakan, nanti ceritamu diteruskan lagi." Kata polisi yang duduk di dekat Darman. " Terima kasih, pak ", kata Darman sambil meraih botol minuman. " Itu tentang Samidi ya, Darman ? Menurut kamu apa Samidi memperkosa Partini ? " . Tanya Polisi kepada Darman yang sedang mengunyah kue donat. " Wah itu saya tidak tahu, pak  " , jawab Darman sambil mencoba menelan donat. " Kalau Mursinu bagaimana, Man ? " , tanya polisi lagi. " Baik pak, nanti saya ceriterakan. Tentang Mursinu beda dengan Samidi, pak ", jawab Darman. " Kamu siap menceriterakannya, Man ?" , tanya polisi lagi. " Siap, pak ". Jawab Darman sambil mengusap - usap mulutnya yang ada mesis donat tertinggal di pipinya.


                                                                                bersambung kebagian kelima ......