Jumat, 26 Agustus 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                               edohaput 

Bagian kesembilanbelas  

     Darman melaksanakan tugas yang dibebankan polisi kepadanya. Mula - mula yang dikerjakan menyambangi rumah Minil. Darman mencoba mencari tahu dengan cara mengamati rumah Minil. Mencari tahu apakah jaket pak Lurah masih di rumah Minil. Atau sudah dikembalikan oleh Minil ke pak Lurah. Atau barangkali masih di rumah Minil. Pasti sudah dikembalikan. Kalau tidak ya pasti sudah diambil. Jaket itu sudah seminggu sejak peristiwa Minil terpeleset. Mungkinkah masih disimpan Minil. Kalaupun dicuci ya pasti sudah kering dan segera dikembalikan. Kalau jaket itu tertahan di rumah Minil rasanya tidak mungkin. Darman lewat di depan rumah Minil dan terkejut. Jaket pak Lurah ada di jemuran. Jaket itu belum dikembalikan atau ternyata belum diambil pemiliknya yaitu pak Lurah. Darman jadi maklum jaket itu belum dikembalikan. Jaket itu ternyata jaket kulit. Jaket itu dicuci, pasti sulit keringnya. Apalagi cuaca banyak mendungnya. Darman berlalu dari halaman rumah Minil sambil terus melirik jaket kulit yang sedang dijemur. Dan jaket itu tampaknya sudah mengering. Kalau jaket itu sudah kering pasti akan segera dikembalikan oleh Minil ke pak Lurah. Atau pak Lurah akan mengambilnya. 
     Malam mulai merangkak. Darman kembali menyambangi rumah Minil. Lampu minyak ruang depan masih menyala terang. Darman mendengar orang sedang bercakap - cakap. Darman berhenti dan duduk di teras rumah Minil. Darman ingin tahu siapa sedang ada di dalam rumah Minil. Darman duduk di lincak bambu yang ada dan menyulut rokok. Suasana sepi tak ada orang lewat.  
     " Jaket itu baru saja kering, Met " Terdengar di dalam rumah Mak Kurni berbicara. " Ya pantes saja yu, lha wong mendang - mendung gini ". Jawab Slamet.  " Den Lurah ya tidak kepingin jaket itu segera dikembalikan kok, yu. Tapi kalau sudah kering ya segera dikembalikan ". Kata Slamet lagi.  " Lha sekarang jaket itu bisa kamu bawa kok, Met. Besuk kamu bawa ke rumah den Lurah ". Terdengar mak Kurni menimpali kalimat Slamet. " Seperti saya kemarin ngomong, yu. Den Lurah ingin yang mengembalikan jaket itu Minil. Den Lurah ingin ketemu Minil. Kemarin kan sudah saya omongkan ta, yu, kalau den lurah itu kasihan sama Minil. Mosok anak sudah hampir perawan kok bajunya selalu compang - camping. Siapa tahu nanti kalau Minil ketemu sama den Lurah, terus Minil di kasih duit kan lumayan ta, yu ". Kalimat Slamet panjang mengingatkan mak Kurni. Slamet memang telah datang beberapa kali di rumah mak Kurni menanyakan jaket itu. " Ya sudah besuk biar Minil ke rumah den Lurah mengembalikan jaket itu, Met. Ya kamu tahu ta, Met,  kalau aku ini orang tak mampu. Sampai - sampai membelikan baju anak saja susah. Berapa ta, Met, hasil orang jual tempe kayak aku ini. Untung sedikit cuma bisa untuk beli beras. Ya matur nuwun betul, Met. Kalau den Lurah mau melasi Minil ". Kalimat mak Kurni juga jadi panjang. " Minil dak usah datang sendiri ke den Lurah, yu. Besuk malam aku tak kesini lagi. Nanti Minil saya boncengkan sepeda untuk ketemu den Lurah, yu ", pinta Slamet. " Wah jadi merepotkan kamu, Met. Matur nuwun ya, Met ya ". Kata mak Kurni  terdengar gembira. " Dak ..... dak merepotkan, yu. Justru aku senang bisa bantu - bantu Minil kalau benar - benar besuk den Lurah itu melasi Minil. Dan besuk malam itu den Lurah menunggu di rumahku kok, yu. Karena besuk malam itu den Lurah minta ditemani aku menjenguk orang sakit di tetangga desa. Jadi Minil besuk saya jemput saja dan saya ajak ke rumahku, yu. Den Lurah sudah menunggu di rumahku ". Slamet memberi penjelasan mak Kurni. " Ya sudah kalau gitu, pasrah Minil ya, Met. Tolong Minil diajari sopan besuk kalau ketemu den Lurah. O....ya....tak buatkan teh ya, Met !" Mak kurni terdengar sangat bergembira. " Dak usah, yu. Aku mau pulang saja kok, yu. Mau tidur. Capek banget seharian nyangkul di sawah. Lha ini Minil dah tidur ya, yu ?" Kalimat Slamet diahkiri dengan menanyakan Minil yang sudah tak terdengar suaranya. " Lha itu  ta, Met. Sudah bodo, malas lagi. Lha Minil itu tak suruh bantu - bantu bungkusi tempe saja tidak mau kok, Met. Sukaknya cuma tidur. Dia itu kan cuma gede badannya saja ta, Met. Pikirannya belum mau tahu susahnya orang tua cari beras. Pekerjaannya cuma glimpang - glimpung dengarkan radio. Kalau sudah lagunya dangdutan, wah ....Minil tak bisa diminta tenaganya, Met. Aku ini heran sama Minil itu lho, Met. Sejak ditinggal mati bapaknya kok jadi banyak diam dan tambah malas. Sekolah dak mau. Keluar rumah jarang. Keluar rumah ya kalau pergi mandi di pancuran itu. Lha wong saya ajak ke pasar saja ya dak mau kok, Met. O...ya tapi besuk  jangan malam - malam, Met. Nanti Minil keburu ngantuk. Kalau siang, atau sore saja ketemunya den lurah bisa ta, Met ? ". Dengan semangat mak Kurni ngomongkan sedikit tabiat anaknya. " Dak bisa yu, karena besuk seharian sampai sore den Lurah pergi ke kota mengantar isteri - isterinya belanja. Ya sudah, yu. Aku pulang dulu. Besuk malam kesini lagi. Yu Kurni jangan lupa kasih tahu Minil kalau besuk malam saya jemput ". Terdengar kursi kayu  berderit tersodok kaki Slamet yang beranjak berdiri dari duduk. 
     Darman mendengar Slamet mau pulang, segera cabut dari lincak dan segera pula meninggalkan teras rumah mak Kurni. Darman tidak ingin keberadaannya diketahui Slamet. Tak ingin pula Darman diketahui Slamet kalau dirinya telah menguping pembicaraan. Darman segera lenyap di kegelapan malam dan di rimbunnya tetanaman di sekitar rumah mak Kurni. 
     Darman tahu persis siapa itu Slamet. Slamet adalah begundal pak Lurah. Begundal adalah pembantu setia yang disayangi. Kemana perginya pak Lurah Slamet selalu diajak. Bahkan pada acara - acara pentingpun Slamet jarang ketinggalan. Slamet adalah pembantu yang menyediakan segala keperluan pak Lurah mulai dari urusan kecil - kecil sampai pada urusan besar dan urusan yang sifatnya pribadi. Hampir - hampir tidak ada yang tidak diketahui Slamet apa yang dikerjakan dan diperbuat pak Lurah. Slamet selalu mengiyakan apa yang diperintahkan pak Lurah. Hidupnya penuh diabdikan kepada pak Lurah. Urusan pribadinya menjadi terbengkelai. Sampai - sampai Slamet tak pernah berpikiran hidup berumah tangga. Kedua orang tua Slamet sudah tiada. Ia tinggal sendiri dan hidup dengan pemberian pak Lurah. Slamet adalah perjaka miskin yang tak banyak memilki ketrampilan. Hidup dan kehidupannya disandarkan pada pak Lurah yang cukup memberikan segala kebutuhannya. Bahkan rumah yang kini ditinggalinya pun pemberian pak Lurah.
     Darman sudah membayangkan apa yang akan terjadi pada Minil besuk malam. Minil dibawa ke rumah Slamet. Disana pak Lurah sudah menunggu. Wah ..... jangan - jangan Minil di apa - apakan sama pak Lurah. Waktu Minil terpeleset jatuh di pematang dan pak Lurah menolongnya, waktu itu pak lurah sudah cukup berani meraba - raba milik Minil. Padahal waktu itu banyak kerumunan orang. Lha besuk malam Minil sendirian di rumah Slamet. Disana hanya ada Slamet dan pak Lurah. Apa yang akan terjadi ?
     Rumah Slamet yang memang agak terpencil dari rumah - rumah warga lainnya sejak sore terus diawasi Darman. Darman tak mau ketinggalan. Ia sudah mengatur strategi. Begitu malam merangkak Darman sudah akan siap bersembunyi di samping rumah Slamet. Rumah Slamet yang tidak segede rumah - rumah warga lainnya dan terletak di tengah - tengah kebon pisang akan memudahkan Darman bersembunyi. Darman akan membuat lubang intip di beberapa tempat. Rumah Slamet yang terbuat dari dinding bambu itu akan memudahkan Darman membuat lubang intip. Alat untuk membuat lubang intip sudah dipersiapkan Darman. Darman harus mendahului kedatangan pak Lurah. Sebelum pak Lurah datang di rumah Slamet Darman sudah harus siap di tempat dia akan mengintip. Darman sangat mengenal rumah Slamet. Karena gotong royong sambatan membuat rumah itu Darman juga ikut bekerja. Di rumah Slamet hanya ada tiga ruangan. Ruang depan. Ruangan depan ada sepajang meja kursi kayu. Diterang lampu minyak. Di ruang tengah ada bale - bale atau tempat tidur yang terbuat dari bambu dan berkasur kapas randu. Tempat Darman tidur. Ruang ketiga ruang belakang ada dapur sederhana dan kamar mandi dan wese tempat buang air dan mandi yang amat ala kadarnya. Rumah orang tak berpunya pada umumnya di dusun. Di rumah Slamet belum tersentuh listrik. Lampu yang digunakan lampu minyak yang disebut gembreng atau teplok. Bahkan kalau sudah malam larut rumah Slamet ini hanya diterangi lampu sentir. Lampu minyak yang terbuat dari bola lampu yang sudah mati. Lampu - lampu seperti itu banyak dijual pasar desa.
     Malam mulai merangkak. Darman mengendap - endap diantara pohon - pohon pisang. Dan terus menuju samping rumah Slamet. Di dalam rumah Slamet sibuk dengan lampu - lampu minyak yang mulai dinyalakan. Di luar rumah Darman sibuk membuat lubang - lubang intip suara derik cengkerik dan walang kerik sangat membantu Darman membuat lubang - lubang intip. Tak lama kemudian pak Lurah datang. Motornya diparkir tepat di depan rumah Slamet. Pak lurah langsung masuk rumah dan ditemui Slamet. " Mumpung belum terlalu malam kau segera jemput Minil, Met !" Perintah pak Lurah yang tidak dijawab Slamet. Slamet segera mengeluarkan sepeda ontel dari rumah dan segera pergi. Darman mencoba mengintip. Pak Lurah duduk di ruang depan. Mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Di meja telah ada dua gelas teh. Mungkin itu sudah dipersiapkan Slamet untuk menjamu pak Lurah dan Minil. Tak urung jantung Darman berdegup juga menyaksikan pak Lurahnya dari lubang intip. Pak Lurah yang tinggi besar. Gagah. Tangannya besar tampak kokoh. Kalau - kalau sampai kelakuannya mengintip ini diketahui pak Lurah tak ayal dia bakal makan bogem mentahnya pak Lurah. Sekali pukul barangkali Darman langsung pingsan. Niatnya untuk mengintip apa yang akan terjadi menjadi ragu - ragu dan takut. Tetapi ketika teringat beban tugas yang diberikan polisi agar ia terus memantau kegiatan pak Lurahnya semangatnya tumbuh lagi dan menindih rasa takutnya.
     Slamet datang bersama Minil. Di tangan Minil ada jaket pak Lurah yang tempo hari yang lalu dikenakan pak Lurah di tubuh Minil yang nyaris telanjang karena terpeleset dan tercebur di sawah. Malam ini Minil mau mengembalikan jaket itu ke pak Lurah. " Sehat kamu, Nil ?" , tanya pak Lurah stelah Minil duduk di kursi kayu dihadapannya. " sehat, den Lurah ". Jawab Minil menunduk memandangi dan mempermainkan jaket pak Lurah yang masih ada di pangkuannya. Dengan suaranya yang lirih Minil melanjutkan kalimatnya : " Maaf den Lurah, saya baru malam ini bisa mengembalikan jaket den Lurah. Jaket ini saya cuci keringnya lama, den ". Minil memandangi pak Lurah sambil meletakkan jaket di atas meja. " Dak apa - apa, Nil. Aku punya jaket yang lain kok. O ... ya Nil, benar kata Slamet  kamu cuma punya tiga potong baju dan itu saja sudah kekecilan  ?" Tanya pak Lurah sambil memperhatikan tubuh Minil yang memang montok, padat berisi. Rupanya Minil tumbuh subur. Tak ayal jika bajunya cepat kekecilan. Minil jujur menjawab : " Benar den, malah yang satunya sobek, den. Dan simbok belum sempat menambalnya ". Pak Lurah merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan segepok uang yang terdiri dari pecahan puluhan ribu dan sebagian yang yang pecahan dua puluhan ribu dan lima puluhan ribu. " Ni, Nil. Besuk kamu beli kain di pasar. Terus dijahitkan. Uang ini cukup untuk beli kain dan kamu buat sepuluh baju. Ongkos jahitnya besuk saya kasih lagi. Mau ta Nil saya kasih uang untuk beli kain ?" Mengucapkan kalimat ini pak Lurah sambil terus memandangi Minil dan tertawa. Lagi - lagi Minil gadis bodo yang cenderung bloon ini menjawab dengan jujur : " Mau den. Kata simbok nanti kalau diberi apa - apa oleh den Lurah supaya saya tidak menolaknya ". Pak Lurah semakin lebar tertawanya. Di dalam hati pak Lurah tertawa geli juga : Dasar mbokmu, Nil !". 
     Darman yang menyaksikan dari lubang intip terpana dengan uang yang ada di atas meja. Edan banyak banget uang itu. Jangankan sepuluh potong kain, dua puluh potong kain pun cukup. Baik benar ini den Lurah sama Minil. Wah ... uang itu sama dengan hasil ngojekku berbulan - bulan. Beruntung amat kamu, Nil ! Darman mulai menduga - duga apa iya uang sebanyak itu den Lurah tidak meminta imbalan. Masak iya ! Jangan - jangan ...... ah .... aku tunggu saja apa yang akan terjadi. Darman terus menahan napas sambil mengintip. Gerak pupil matanya terus berganti - ganti melihat reaksi Minil dan aksi pak Lurahnya. Di ruang depan sedari tadi Darman tidak melihat Slamet. Dimana Slamet. Jangan - jangan Slamet ada di luar rumah dan mengetahui perbuatannya. Darman bergeser dan mengintip ruang tengah. Darman tak ada di situ. Darman semakin kawatir. Bergeser lagi mengintip ruang belakang. Darman lega. Ternyata Slamet lagi menikmati singkong rebus di dapur.
     " Sudah ayo uang itu kamu kantongi ! Ada dak bajumu itu kantongnya ! Besuk kamu dan mbokmu ke pasar beli kain !" Perintah pak Lurah. Minil meraup uang di meja dan menjejal - jejalkan di saku bajunya. Dua kantong bajunya penuh berisi uang. Pak lurah mengeluarkan meteran gulung dari saku celananya. " Sudah ayo, Nil. Badanmu tak ukur dulu. Nanti saya buatkan catatan supaya tepat membeli kainnya !" Kata pak Lurah sambil berdiri dan menggamit tangan Minil. Minil menurut saja ditarik pak Lurah dan berjalan ke ruang tengah. Melewati sekat kain gordin kini Minil dan pak Lurah ada di ruang tengah. " Dah kamu berdiri saja. Aku mengukur badanmu !" Minil menurut saja. Pak Lurah mulai merentangkan meteran dan mengukur badan Minil. Dimulai dari pundaknya. Di luar mata Darman yang juga sudah berpindah tempat ke lubang intip ruang tengahnya, jantung semakin berdegup. Ini dia ! Pikirnya. Mulai dari pundaknya terus pak Lurah mengukur dadanya. Di situ tangan pak Lurah berulang - ulang mengukur. Dan menekan - nekan dada Minil dengan punggung telapak tangannya. Minil diam saja. Tak bereaksi. Karena Minil tak beraksi pak Lurah semakin nekat. Kini tangannya mulai meraba dada Minil dan disertai sedikit menekan dan meremas dari luar baju Minil. Minil tetap tak bereaksi. Pak Lurah membuka kancing baju tepat di dada Minil. Sambil memegang pundak Minil pak Lurah memasukkan tangannya ke dalam baju Minil dan disitu terus meraba kedua payudara Minil yang baru tumbuh membesar. Pak Lurah dengan lembut meraba - raba kedua gundukan daging yang sedang tumbuh di dada Minil. Meremas - remas lembut dan jari pak Lurah menekan - nekan dan menggesek - gesak puting penthil perawan    yang belum pernah diperlakukan begitu.  Terdengar Minil mendesah lirih : " Aduuuuuuh ....geli den Lurah ...aaaaah ....eeeeessss ....geli den .... ". Tetapi Minil tidak meronta dan tidak menolak. Darman mendengar rintihan Minil itu dan melihat adegan itu. Tak urung tongkatnya ereksi. Edan ...! Darman semakin menempelkan matanya di lubang intip. Slamet pun dari dapur yang dengan ruang tengah hanya disekat pakai kain gordin mendengar pula. Slamet juga mencoba mengintip. " Kamu dak punya kutang ya, Nil ?" Ditanya pak Lurah begitu Minil hanya menggeleng. Pak Lurah merogoh saku celananya dan mengeluarkan lagi uang dan ditempelkan di telapak tangan Minil. " Ni, Nil. Besuk beli beha juga. Sayang kalau penthilmu tidak ditutup beha ". Setelah memberikan uang,  kembali tangan pak lurah masuk dibalik baju bagian dada Minil. Kembali pak Lurah menikmati rabaan penthil yang masih sangat ranum. Dielus, diraba - raba, diremas lembut. Dan Minil terus mendesis. Puas dengan payudara, pak lurah terus mengukur pinggang Minil. Turun ke pantat Minil. Pak Lurah melingkarkan meteran di pantat Minil. Tangan pak lurah berhenti persis di depan rok yang dibaliknya ada kemaluan Minil. Sekali lagi dengan punggung tangannya pak Lurah menekan - nekan kemaluan Minildari luar baju. Punggung tangan pak Lurah menyentuh gundukan daging yang empuk kenyal. Yang diperlakukan begitu lagi - lagi tak bereaksi. Hanya sedikit memundur - mundurkan pantatnya. Seperti disuruh tangan pak Lurah tak ragu - ragu lagi menelusup ke balik rok Minil. Disana tangan pak Lurah mengelus - elus kemaluan Minil yang ditutupi celana dalam yang tepat di depan muka kemaluannya celana itu sobek karena usang. Pak Lurah meraba - raba celana dalam Minil tepat di bagian yang sobek. Pak Lurah merasakan tangannya menyentuh daging hangat lembut dan empuk. Seiring dengan itu lampu minyak di ruang tengah itu meredup dan hampir padam. Suasana jadi temaram. Di luar mata Darman menjadi tak lagi jelas menyaksikan adegan yang ada di dalam. Edan ! Ini pasti perbuatan Slamet. Slamet pasti sudah dipesan pak Lurah agar supaya mengisi lampu dengan sedikit minyak agar padam pada saatnya. Darman mencoba semakin menempelkan matanya. Tapi kabur karena lampu terus meredup. Dengan semakin meredupnya lampu Slamet pun jadi semakin berani menyibakkan gordin untuk memperjelas penglihatannya. Pak Lurah terus mengelus - elus kemaluan Minil. Minil mendesah lagi. Dan terus mendesis. Kali ini desahannya jadi agak keras : " Aduuuhh ...den..geli....den...." Dengan adanya desahan Minil pak Lurah semakin bernafsu. Apalagi Minil tak menolak kemaluannya dielus - elus dan di tekan - tekan. Dengan lirih pak Lurah membisikkan kata di telinga Minil : " Celana dalamu .... sobek Nil, besuk beli sekalian ya .... " Sambil berkata begitu tangan pak lurah merogoh lagi kantong dan menjejalkan uang ditelapak tangan Minil. Minil menggenggamnya. Minil yang terus diberi uang jadi lupa. Ingatannya hanya pada uang di sakunya dan uang yang ada di genggaman tangannya. Rasanya Minil ingin segera menghitung uang itu. Tangan pak Lurah memelorotkan celana dalam Minil. " Ini dilepas saja. Dibuang ... besuk beli yang baru ...." Berkata begitu pak Lurah sambil napasnya semakin memburu. Celana dalam Minil berhasil dilepas. Pak Lurah segera melumuri jarinya dengan jel yang sudah dipersiapkan dari rumah. Jel pelumas itu dimaksudkan untuk dioleskan di kemaluan Minil. Agar saat dipermainkannya nanti tidak terasa perih. Maklum pepek perawan. Lampu minyak di ruang tengah padam. Darman tak lagi melihat adegan. Secara samar - samar Slamet masih bisa menyaksikan dari balik celah gordin. Slamet ereksi dan mulai bernafsu. Slamet menggosok - gosok tongkatnya sendiri. Darman hanya bisa membayangkan yang sedang terjadi di ruang tengah yang berubah jadi gelap. Pak Lurah menyandarkan Minil di pinggir bale - bale bambu. Minil tak menolak. Pak Lurah mengangkangkan kaki Minil. Minil menurut. Pak Lurah membuka ruitsleting celananya dan mengeluarkan tongkatnya yang sudah kaku dan mendongak. Mulut pak Lurah menciumi leher Minil. Tangan kirinya memeluk Minil melingkar sampai bisa meramas penthil Minil dan jari tangan kanannya yang sudah dilumuri jel pelumas berada di kemaluan minil. Tangan kiri terus meremas penthil, sementara jari - jari tangan kanannya semakin nakal melumurkan jel di belahan kemaluan    Minil dan menyodok - nyodok,  mencari - cari liang senggamanya. Sementara itu juga pak Lurah terus menekan - nekankan tongkat di pantat Minil yang sudah tidak ditutupi celana dalam. Dan melelehkan sedikit maninya di kulit pantat Minil. Jari tengah tangan pak Lurah berhasil masuk di liang kemaluan Minil. Saat itulah Minil cukup keras mendesah tanpa sadar karena lupa dia sedang diapakan dan sedang ada dimana : "Auuuuugghhh ...aaaaah.... eeeesssssss....aduuuuuhhh..... !" Jari tengah tangan pak Lurah yang ada di dalam kemaluan Minil terjepit dan basah.. Minil terus menggelinjang dipelukan pak Lurah yang semakin erat dan semakin menekankan tongkatnya di pantat Minil. Tongkat pak Lurah terus menyodok - nyodok pantat Minil. Tongkat pak Lurah terus sedikit - sedikit melelehkan mani di pantat Minil. Yang dirasakan Minil hanya melayang. Rasa geli dan enak di penthilnya yang terus diremas dengan tangan kiri pak Lurah, rasa di pepeknya yang terus dikilik jari tengah pak Lurah, dan rasa di kulit pantatnya yang digesek  - gesek dan disodok - sodok tongkat pak Lurah dan ada rasa licin - licin hangat meleleh di kulit pantatnya.  Pak Lurah semakin menggelitik kemaluan Minil. Dengan pengalamannya yang cukup banyak tentang menggelitik kemaluan pak Lurah terus mempermainkan pepek Minil. Minil terus menggelinjang seperti cacing kepanas. Apalagi bila jari pak Lurah tepat mengenai sasaran di kedalaman kemaluannya. Minil bergetar dan menggeliat. Pak Lurah yang tahu itu, dan semakin menderanya dan Minil hanya bisa terus mendesis dan mendesah nikmat. " Auuuuggh.....aaaaahhh..."  Tubuh Minil menggelinjang. Darman yang tak lagi bisa melihat dan hanya mendengar desahan tak kuat menahan ereksinya tongkatnya. Darman onani. Di dapur Slamet pun onani. Secara tidak sengaja tangan Minil meraba pantatnya yang terasa di sodok - sodok sesuatu yang kaku, hangat dan keras dan ada cairan basah hangat dan licin, dan tangan Minil menemukan benda itu. Minil menggenggamnya erat. Pak lurah yang tongkatnya digenggam Minil merasakan kenikmatan yang luar biasa dan meminta Minil terus memegangnya : " Terus Nil. Genggam erat Nil. Aduh enak Nil !" Dan jari tangan pak Lurah semakin ganas di pepek Minil. Dan yang terjadi kemudian muncratlah mani pak Lurah membasahi pantat Minil. " Min......M i n i i i i i i i i l " Pak Lurah menjerit tertahan. Dan berbarengan dengan itu karena semakin ganasnya jari pak Lurah menggelitik kemaluan , maka lagi - lagi Minil Orgasme. : " Aaaaaaaahhhhh ....aaauuuuuughh ....... !!  Pepek Minil menjadi sangat basah. Sementara itu di luar Darman juga memuncratkan maninya. Keluarnya mani dari tongkat Darman membuat dirinya lupa. Sampai - sampai kakinya menendang - nendang semak - semak dan menimbulkan bunyi kersek - kersek. Untung suara itu tak terperhatikan oleh mereka yang ada di dalam rumah karena masing - masing sedang  sibuk dengan kenikmatannya. Karena bersamaan dengan itu Slamet pun memuncratkan maninya. Mukanya mendongak. Matanya terpejam dan : " Auuuuuuugghh .... !" maninya muncrat - muncrat membasahi sarungnya.

                                                                bersambung kebagian keduapuluh ...........


  
     
     
     

Senin, 22 Agustus 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut
                                                                                                                        edohaput 


Bagian kedelapanbelas

     Satu mata Darman yang sudah menempel di lubang intip semakin terbeliak menyaksikan adegan yang ada di dalam kamar mandi yang diterangi lampu lima wath. Menik isteri ketiga pak Lurah telanjang bulat. Mulutnya sedang diciumi pak Lurah. Dan tangan kanan pak Lurah ada di selangkangan Menik mengelus - elus kemaluan Menik. Pak Lurah yang juga telanjang tampak tongkatnya sedang di sodok - sodokan di paha Menik. Mata Darman mencoba mengarah ke kemaluan Menik. Darman melihat kemaluan gadis muda umur sekitar dua belas tahun yang rambut kemaluan belum nampak. Di situ jari pak Lurah menusuk - nusuk liang senggama Menik. Mulut pak Lurah berganti - ganti antara mencium bibir dan melahap penthil Menik yang masih tampak sangat ranum. Dengan buas sambil ngos - ngosan pak Lurah melahap payudara Menik. Dan Menik hanya bisa menggelinjang di pelukan pak Lurah. Setiap kali paha Menik merapat, kembali dikangkangkan oleh pak Lurah, agar jari pak Lurah leluasa menusuk kemaluan Menik. Tangan Menik mencoba mencari - cari tongkat pak Lurah. Dan menemukannya. Lalu digenggamnya. Tongkat pak Lurah yang kaku dan sedang membesar dan memanjang. Agaknya Menik sudah tak tahan. Ingin kemaluannya ditusuk tongkat pak Lurah. Rupanya pak Lurah juga tahu kalau isteri ketiganya ini sudah tak tahan, ingin segera disetubuhi. Maka pak Lurah Segera mengangkangkan kaki Menik lebar - lebar dan dalam keadaan berdiri Menik dipepetkan di dinding kamar mandi. Dengan sedikit meredahkan pantatnya pak Lurah mengarahkan tongkatnya ke kemaluan Menik. Mata Menik sekejap terbeliak kemudian mengatup. Rupanya tongkat pak Lurah sudah menusuk kemaluannya. Dan yang seterusnya disaksikan oleh mata Darman adalah tubuh Menik yang terangkat - angkat oleh sodokan maju mundur tongkat pak Lurah. Menik merintih - rintih dan memeluk tubuh pak Lurah. Darman tak tahan. Ia segera pergi berjingkat dari pintu kamar mandi yang didalamnya sedang ada adegan kenikmatan. Pikiran Darman hanya ingin segera sampai di rumah dan onani di kamar mandi sambil membayangkan tubuh Menik.                Darman menyudahi ceriteranya. Dan para polisi yang mendengarkannya pada kelimpungan mencoba membetulkan celananya yang terasa menghimpit tongkat yang tidak terasa sudah membesar. " Jangan kamu ulangi perbuatan itu, Man. Kalau ketahuan yang diintip kamu bisa - bisa kena bogem mentah !" Kata polisi yang duduk di sudut sambil tertawa. Polisi yang lain pada menimpali dan membenarkan kata pak polisi yang duduk di sudut itu. " Begini, Man. Kamu benar - benar mempercayai kalau kematian Surinah ada hubungannya dengan anggungan burung perkutut itu ? ", tanya polisi yang di mejanya ada laptop. " Ya gimana ya pak ya ! Saya ini bingung. Saya sampai di kantor polisi ketemu bapak - bapak ini juga karena bingung. Cuma perasaan saya menuntun kemari. Anggungan perkutut itu saya kira ada hubungannya dengan kematian Surinah, pak ".  jawab Darman. " Coba kau cerita tentang anggungan perkutut itu, Man !", tanya polisi yang duduk persis di depan Darman. Dan polisi itulah yang paling sering menanyai Darman. " Sebelum cerita boleh merokok, pak ? Jika boleh beri saya sebatang, pak !" , pinta Darman sambil melirik polisi yang sedang merokok dan  duduk agak jauh dari Darman. Polisi itu tahu dan segera mengulurkan rokok dan koreknya kepada Darman. Darman segera menikmati asap rokok yang telah disulutnya. 
     " Waktu itu tengah malam telah lewat, pak. Dari pos kamling saya berjalan melewati depan rumah Surinah. Saya dengan jelas mendengar anggungan perkututnya pak Sukirban bapaknya Surinah. Sampai saya sudah cukup jauh dari rumah Surinah pun saya masih mendengar sayup - sayup anggungan itu. Suaranya sangat bagus, pak. Jarang sekali  saya mendengar suara burung perkutut yang merdunya seperti itu. Dan juga saya belum pernah mendengar burung perkututnya pak Sukirban itu manggung selama itu. Biasanya manggungnya pendek - pendek. Sebentar manggung lalu diam, nanti manggung lagi. Lalu diam lagi. Tapi malam itu persis ketika pak Lurah memberi sambutan di pemberangkatan jenasah Surinah,  perkutut itu tak pernah berhenti manggung, pak. Saya lalu menduga malam itu pak Lurah ada di rumah pak Sukirban. Dan malam itu pak Sukirban dan mak Temi sedang  berada di rumahnya Gadung anak pertamanya, pak. Dan Pak Sukirban dan mak Temi menginap di rumah Gadung malam itu, pak. Nah saya kan jadi curiga ta pak, sama pak lurah. Tapi saya tidak menuduh lho, pak. Tetapi saya hanya curiga ".  Semua mata polisi di ruangan itu tertuju kepada Darman yang penuh semangat berceritera. Ada polisi yang mengangguk - anggukan kepala, ada yang mengerinyitkan dahi, ada yang terdiam saja. " O jadi perkututnya pak Sukirban itu pemberian pak Lurah ta, Man ?", tanya polisi yang memang tugasnya menerima laporan Darman dan menanyai Darman. " Betul pak. pak Sukirban kan pekerjanya pak lurah juga. Saat musim tembakau pak Sukirban-lah yang mengurusi pengolahan tembakaunya pak Lurah, pak ", jawab Darman sambil tangannya membuang abu rokok di asbak. Kemudian Darman melanjutkan " Kalau mengingat jasa pak Sukirban kepada pak Lurah, ya apa tega pak Lurah membunuh Surinah, ya pak ? Wah saya bingung, pak. Tapi perasaan saya kok terus berkata kalau yang membunuh Surinah itu pak Lurah, pak. Gimana ya, pak ? Ya ... terserahlah kepada bapak - bapak polisi lah ". Darman menyudahi kalimatnya dengan ungkapan pasrah. 
  Polisi mempercayai cerita Darman. Tetapi polisi tak memiliki secuilpun bukti untuk mengawali penyelidikan. Padahal bukti awal ini sangat dibutuhkan. Polisi hanya mempunyai cerita Darman. Dan cerita itu  tidak sedikit pun yang bisa dipergunakan sebagai bukti awal jika pak Lurah terlibat atas kematian Surinah. Hanya anggungan perkutut saja yang bisa dipakai sebagai alasan. Dan alasan itu bukan alasan yang baik. Karena alasan yang hanya menduga - duga, menghubung - hubungkan antara kejadian - kejadian. 
     " Sekarang siapa Man, yang menjadi kembang desa setelah Partini dan Surinah mati ? Ada tidak, Man ?", tanya polisi yang sejak tadi hanya diam di sudut. Atas pertanyaan itu Darman kaget lantaran memang ada kembang desa setelah Partini dan Surinah tidak ada. " Ada ...ada, pak !"  Jawab  Darman tergagap. Darman jadi ingat kejadian minggu yang lalu. Ketika itu warga sedang melaksanakan kerja bakti membenahi jalan yang bopeng berlubang - lubang. " Tapi kembang desa yang satu ini masih kecil kok, pak. Umurnya baru sebelas tahun. Tapi tubuhnya sudah kayak perawan, pak. Cuma pikirannya saja yang masih kekanak - kanakan ". Darman semangat mengatakannya. " Namanya siapa, Man ?", tanya polisi itu lagi. " Namanya Tarmini, pak. Panggilan sehari - harinya Minil. Minil ini bapaknya sudah meninggal. Dia hanya hidup dengan mboknya. Mboknya tukang tempe, pak. Dia membuat tempe dan dijual di pasar desa. Tempenya mbok Kurni ini laris sekali lho, pak. Terkenal enaknya. Kalau digoreng dengan bumbu garam bawang gurih sekali, pak. Lebih enak lagi kalau di bacem ". Darman keterusan ngomong . " Lho kok malah tempe ta Man yang kamu omongkan ". Polisi yang lain menimpali. " Minil sekolah tidak, Man ?" Tanya polisi yang duduk di sudut. " Tidak pak. Dia itu bodo. dua kali dak naik kelas, trus keluar. Jadi esde pun dia dak lulus, pak ". Para polisi mengerinyitkan dahi dan pandangannya tertuju ke Darman. Polisi yang di depannya ada komputer bertanya : " Pak Lurah pernah menggoda Minil ya, Man ? " Ditanya begitu Darman cuma tertawa. Lantaran dia punya cerita menarik tentang Minil ini. Minil gadis yang masih bau kencur. Gadis bodo tapi sudah nampak kemontokannya dan kecantikannya. Minil yang selalu memakai rok kekecilan, sehingga tidak jarang jika duduk celana dalamnya dapat dipandangi dengan jelas. Minil yang tidak banyak punya pakaian. Maklum orang tua Minil tidak mampu membelikan pakain untuk Minil yang tumbuh subur.   " Lho kok malah tertawa. Ini pertanyaan penting lho, Man !" Kata polisi itu lagi. " Maaf pak, saya tertawa ini karena teringat pemandangan lucu yang dialami Minil. Boleh saya cerita, pak ?" Darman meminta waktu untuk lagi - lagi berceritera. Polisi yang duduk persis di hadapan Darman melihat arloji dan kemudian mengabulkan permintaan Darman : " Baik Man, tapi jangan panjang - panjang to the poin saja !" Darman mengerinyitkan dahi : " Apa itu to the point, pak ?" Darman bertnya karena memang tidak tahu arti kata - kata itu. " Sudah ayo cerita, to the point itu artinya singkat, jelas dan padat !" Darman sejenak manggut - manggut dan kemudian mulai cerita. 
     Minggu yang lalu semua warga turun kejalan untuk kerja bakti membenahi jalan yang berlubang - lubang. Satu - satunya jalan yang menghubungkan desa dengan kota. Jalan itu memang sudah lama tak dibenahi. Hari itu kegiatan kerja bakti sempat ditunggui pak Lurah. Sudah menjadi kebiasaan warga jika kegiatan kerja bakti ditunggui pak Lurah semua semangat dan semua senang. Semangat karena dilihat pemimpinnya, senang karena rokok yang dibeli pak lurah sangat cukup untuk mereka bekerja  sambil terus mengepulkan asap. Makanan dan minuman yang datang dari pak Lurah pun sangat cukup dan membuat warga jadi terus punya tenaga untuk kerja. 
     Hari itu masih pagi. Dengan menenteng kaleng bekas roti yang di dalamnya ada sabun, sikat gigi dan odol, dan di lehernya terkalungkan handuk lusuh yang sudah berlubang - lubang di beberapa tempat, Minil melewati dengan cueknya orang - orang yang sedang bekerja bakti.   Minil mau pergi mandi di pancuran tak jauh dari orang - orang yang sedang kerja bakti. Sudah menjadi kebiasaan warga dusun yang tidak punya kamar mandi di rumahnya, pancuran di sawah dekat sungai kecil itu menjadi tempat mandinya. Tak seorang warga pun memperhatikan langkah Minil pagi itu. Termasuk juga Darman. Minil gadis kencur bonsor yang bagi warga dusun terutama para pemudanya berpikiran belum layak Minil diperhatikan. Minilpun melenggang tanpa beban. Karena ia belum mempunyai rasa malu terhadap orang. Karena Minil merasa dirinya masih anak - anak. Darman yang secara kebetulan bekerja di dekat pak Lurah berdiri mengawasi warga yang sedang giat bekerja secara tidak sengaja melihat muka pak Lurah. Darman melihat pandangan mata pak Lurah sedang tertuju ke Minil yang sedang berjalan melewati pematang sawah. Sambil bekerja Darman terus mencoba mencuri - curi pandang ke muka pak Lurah. Ternyata hampir - hampir tak berkedip pandangan mata pak Lurah terus mengikuti langkah Minil sampai Minil tak lagi terlihat karena menuruni jalan setapak menuju pancuran. 
  Warga terus giat bekerja bakti. Tak seorang warga pun kecuali Darman yang memperhatikan pandangan mata pak Lurah yang terus memandangi tempat dimana Minil tadi menghilang untuk mandi. Darman mencoba menebak - nebak apa yang ada di benak pak Lurahnya. Mungkinkah pak Lurahnya yang sudah beristri tiga itu tergiur oleh gadis kencur bonsor itu ? Ah ... tak mungkin ! Tapi sejak tadi kok pandangannya itu .....ah...tidak ! Tapi ya mungkin saja. Minil itu kan gadis kencur yang buah dadanya sudah mulai nyembul. Dan pantatnya itu lho ! Padat dan sudah tampak seperti pantat perawan ! Tapi apa iya pak Lurah tergiur ? Jangan - jangan pikiranku saja yang jahat ! Atau jangan - jangan malah aku yang tergoda ! Edan..... ! 
     Betul tak lama kemudian Minil muncul. Tubuhnya hanya dililit handuk lusuh yang banyak lubang karena sobek. Melewati pematang Minil terus berjalan. Dan jalannya agak cepat. Darman kembali sambil bekerja matanya mencuri pandangan pak Lurah. Benar pak Lurah tanpa berkedip terus memperhatikan langkah Minil. Minil terus berjalan melewati pematang yang tadi ke tika ia berangkat menuju pancuran. Setelah agak dekat di kerumunan orang yang sedang bekerja entah karena apa Minil terpeleset di pematang dan jatuh tercebur di sawah yang ada airnya. Mungkin saja Minil tahu dipandangi pak Lurah lalu perasaannya keki dan mempercepat langkahnya jadi malah terpeleset. Atau mungkin memang Minil salah melangkah sehingga pematang licin dia tapaki juga. Tidak banyak yang tahu Minil terpeleset dan tercebur di sawah. Dengan sigap pak Lurah melompat ke pematang dan setengah berlari menuju tempat Minil tercebur. Ketika pak Lurah sampai di tempat, Minil sudah berusaha bangun dari terjerembabnya, tetapi handuk yang melilit tubuhnya terlepas. Pak Lurah segera menarik tubuh Minil. Ketika sudah berdiri di pematang Minil mencoba membalut tubuhnya dengan handuknya yang sudah basah air sawah. Pak Lurah membantu melilitkan handuk di tubuh Minil. Dengan sigap dan cepat dan itu pasti disengaja tangan pak Lurah sempat mengusap sedikit meremas payudara Minil. Payudara yang yang belum sempurna menggelembung tetapi sudah menyembul. Payudara yang begita kenyal. Dan kedua payudara Minil dengan cepat sempat sedikit diremas oleh pak Lurah. Minil tak tahu itu. Yang ia tahu ia dibantu pak Lurah untuk kembali melilitkan handuknya. Dan sempat pula tangan pak Lurah mengelus kemaluan Minil walaupun sangat cepat ketika membetulkan handuk di bagian paha Minil. Bahkan jari tengah pak Lurah sempat beberapa detik berhenti di belahan kemaluan Minil. Minil memang sempat kaget. Tetapi karena berlangsung sangat cepat maka hal itu tidak begitu dirasakannya. Saat itu pak Lurah segera melepas jaketnya dan menutupkan di tubuh Minil. Saat menutupkan jaket itu pak Lurah sekali lagi sempat meraba kedua payudara Minil dan agak lama meremas - remas karena talapak tangannya tertutup jaket. Minil yang diremas payudaranya tak bisa apa -apa. Hanya yang dirasakannya tangan pak Lurah hangat dan menekan payudaranya. Ada sekilas rasa geli yang belum pernah dirasakannya. Sehabis itu Minil terus berjalan melewati kerumunan orang yang sedang bekerja. Ada yang nyelutuk : " Makanya hati - hati Nil kalau jalan di pematang ! " Dan ada pula yang nyelutuk : " Jaketnya pak Lurah jangan dikotori. Dan segera dikembalikan !" Darman pura - pura tidak tahu dan tidak melihat kejadian itu. Tetapi sebenarnya ia sangat melihat apa yang diperbuat pak Lurahnya. 
     " Begitulah pak, ceritanya ". Darman mengahkiri ceriteranya. " Nah sekarang tugas untukmu, Man !" Kata polisi yang mengadapi komputer. " Kau harus terus mengawasi pak Lurahmu itu. Kamu harus terus memantau rumah Minil. Dan jaket itu seterusnya bagaimana. Kamu harus tahu. Dikembalikan oleh Minil kepada pak Lurah atau pak Lurah mengambilnya di rumah Minil ! Kamu sanggup, Man ?!". Polisi mengahkiri kalimatnya. " Sanggup, pak. Akan saya laksanakan !". Darman berdiri tegak dan hormat kepada polisi yang ada di hadapannya. 




                                                bersambung kebagian kesembilanbelas ...................


     

Minggu, 24 Juli 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput
Anggungan Perkutut 
                                                                                                                  edohaput 
Bagian ketujuhbelas 

     Jasad Surinah selesai diotopsi oleh dokter forensik dan ditempatkan di loker kamar mayat rumah sakit di kota.  Dari hasil otopsi diketahui Surinah meninggal karena sulit bernapas. Ditemukan oleh dokter paru - paru dan jantung Surinah tidak bekerja normal. Banyak darah berhenti di paru - paru dan jantung Surinah. Dokter belum bisa menentukan apa yang menjadi penyebab ada banyak darah membeku di paru - paru dan jantung yang menyebabkan Surinah meninggal. Hasil otopsi sedemikian rupa, persis sama dengan hasil otopsi yang menyebabkan kematian Partini. Seperti halnya hasil otopsi pada jasad Partini, ditubuh Surinah tidak ditemukan tanda - tanda adanya kekerasan. Hanya saja seperti halnya Partini, Surinah meninggal dalam keadaan hamil dua bulan. Dari hasil otopsi ini dokter menarik kesimpulan kematian Surinah dan kematian Partini disebabkan oleh adanya zat tertentu yang masuk melalui mulut mereka. Dokter memperkirakan zat yang belum diketahui unsurnya inilah yang menyebabkan ada darah beku di paru - paru dan jantung mereka. Terhadap sperma yang tertinggal di kemaluan Surinah dokter telah dapat mengidentifikasi bahwa unsur - unsurnya sama persis dengan sperma yang tertinggal di kemaluan Partini. Begitu juga sidik jari yang terdapat di tubuh mayat Surinah teridentifikasi sama dengan sidik jari yang tertinggal di tubuh Partini. 
     Dari hasil otopsi ini polisi mengembangkan penyelidikan. Polisi belum memiliki tersangka. Jangankan tersangka, mencurigai seseorang pun polisi belum bisa. Orang yang patut dicurigai seperti pak Tuman, Samidi, Darman, Mursinu, dan Tiong yang pernah diperiksa terkait kematian Partini adalah orang - orang yang tidak terbukti menyetubuhi Partini pada malam itu,  malam ketika Partini meninggal. Unsur sperma, sidik jari dan alibi mereka membuktikan mereka tidak melakukan kejahatan kepada Partini. Dan di tubuh mayat Surinah dari hasil otopsi ternyata ditemukan seperti apa yang tertinggal di tubuh mayat Partini dengan demikian pada orang - orang yang patut dicurigai itu pun tak mungkin bisa ditemukan bukti kalau salah satu dari merekalah pelaku kejahatannya. Lalu siapa pelakunya ? 
     Pada hari ketiga dari saat tubuh telanjangnya ditemukan meninggal di dalam kamarnya , tepatnya hari Rabu tanggal 16 November 2011 mayat Surinah dipulangkan polisi dari rumah sakit untuk dikuburkan di dusunnya. Para pelayat sudah sejak pagi menunggu kedatangan jenazah Surinah. Baru sekitar pukul sebelas siang ambulan pembawa jenasah tiba di tempat. Kedatangan jenazah Surinah disambut pingsannya mak Temi, dan isak tangis para wanita warga dusun. Surinah gadis dusun yang cantik, pendiam, dan tak suka banyak bicara meninggal secara misterius.
     Upacara pemberangkatan jenazah ke pemakaman dilaksanakan pada pukul empat siang hari itu. Pak Lurah yang juga datang melayat dan mendapat waktu untuk menyampaikan sambutan pada pemberangkatan jenazah Surinah itu berkata - kata terbata - bata.  Kalimat - kalimat sambutannya terputus - putus karena bibirnya bergetar mencoba menahan menitiknya air mata. Hampir semua pelayat hanya bisa menundukkan kepala dan menahan rasa haru. Apalagi pada saat itu pak Sukirban juga terpaksa harus pingsan juga. Seperti halnya dulu sambutan pak Lurah di kala pemberangkatan jenazah Partini yang meninggal secara misterius juga, kalimat - kalimat pak Lurah membuat pelayat tak kuasa menahan haru. Diahkir kata sambutannya pada pemberangkat jenazah Surinah dan juga pada saat pemberangkatan jenazah Partini dulu, pak lurah menyampaikan kalimat : " Semoga orang jahat yang tega menghilangkan nyawa Surinah diampuni dosa - dosanya, dan segera bisa ditangkap oleh polisi ".
***
    Sebulan setelah penguburan Surinah alias Ririn, Darman bertandang ke rumah pak Sukirban. " Tumben kau datang kesini malam - malam begini, Man ? Sini duduk sini ! Kebetulan itu makmu Temi  di dapur lagi goreng pisang ", sapa pak Sukirban menyambut kedatangan Darman. " Wah ...... sip pak ! Dingin - dingin begini ada pisang goreng ", jawab Darman sambil tertawa dan menempatkan pantatnya di kursi kayu. Dari dapur mak Temi membawa baki yang di atasnya ada sepiring pisang goreng dan dua gelas teh panas. " Man, sehat kamu ?", basa - basi mak Temi kepada Darman sambil menghidangkan teh dan pisang goreng. " Berkat do'a mak, aku sehat walaupun badan tambah kurus ", jawab Darman sambil tertawa. " Tu perutmu saja tambah besar kok bilang kurus. Dah itu tehnya diminum, pisangnya dihabisi saja !" Berkata begitu mak Temi kembali ke dapur. Darman menyerutup teh panas dan terus menyambar pisang goreng. " Wih .....pisangnya manis, tapi panas ", sambil mulutnya ternganga - nganga karena pisang yang panas. " Ya ditunggu dingin dulu ta, Man. Masak pisang panas masuk mulut ", pak Kirban tertawa melihat Darman yang mulutnya kena panasnya pisang goreng. Darman hanya tertawa dan meneruskan makannya sambil sesekali menyerutup teh yang panas juga. Alunan lagu langgam jawa dari radio menindih suara mulut Darman yang sesekali menghempaskan udara panas pisang goreng di mulutnya. " Dak Man. Kedatanganmu ini ada perlu apa cuma dolan ? ", tanya pak Sukirban yang memang heran. Tidak biasanya Darman bertandang malam - malam. Siang haripun Darman tak bertandang kalau tidak karena membeli rokok atau sedang mengojek mak Temi ke pasar desa.  " Cuma dolan, pak. Dari pada di rumah bengong tak ada teman, di sini kan bisa ngobrol ", jawab Darman sekenanya untuk menutupi maksud kedatangannya yang sebenarnya. Sudah berhari - hari pikiran Darman dirisaukan oleh anggungan burung perkutut milik pak Sukirban. Anggungan perkutut yang tak pernah berhenti sepanjang pak Lurah memberikan sambutan pada pemberangkatan jenazah Surinah sebulan yang lalu. Anggungan perkutut yang sangat merdu di telinganya, tetapi membuat gelisah perasaannya dan membuat risau pikirannya. Anggungan perkutut yang terus terngiang di telinganya. Anggungan perkutut yang membuatnya tidak nyenyak tidur. Anggungan perkutut yang membuat dirinya hampir saja menabrak orang di tepi jalan ketika mengojek orang ke pasar. Anggungan perkutut yang terus terngiang dan terus mengganggu benaknya. " Perkututnya digantung dimana pak ? Kok dak kelihatan di ruangan ini ?", tanya Darman sambil menyulut rokok. " Tak gantung di belakang, Man ! Di belakang perkutut itu bisa tidur. Kalau disini lampu terang terus, kasihan itu perkutut tak bisa tidur, Man ", jawab pak Sukirban rada  ngawur tetapi ketemu logikanya juga. " Kok nanya - nanya soal perkutut kamu, Man ? Sejak kapan kamu suka burung perkutut ?" Tanya pak Sukirban ke Darman yang malam itu membuat pak Sukirban bertanya - tanya. Tak biasanya Darman berbicara tentang perkutut. " Endak kok pak. Aku tak bisa merawat burung perkutut. Tapi mendengar agungannya aku suka lho, pak ! Beli berapa itu burung perkututnya pak ? Mahal, ya ? Agungannya sangat bagus lho pak !" Darman nerocos memuji burung perkutut milik pak Sukirban. " Dak beli, Man. Itu perkutut pemberian pak Lurah. Sebulan  aku bekerja di rumah beliau mengurus tembakau. Kerjaku merajang tembakau, mengeringkan dan memasukkannya ke keranjang. Kebetulan waktu itu pak Lurah untung besar, keran tembakaunya dapat terjual semua dengan harga yang amat baik. Aku dapat upah lumayan, Man. Dan aku dihadiahi burung perkutut itu " Pak Sukirban bercerita tentang asal muasal perkututnya. " Ooo ..... jadi burung perkutut itu pemberian pak Lurah ta ? Pantesan anggungannya sangat bagus. Pantesan ..waktu itu...". Darman tak meneruskan kalimatnya. " Pantesan apa, Man ?" Pak Sukirban ingin mendapat penjelasan dari kalimat Darman yang terputus. " Ah endak kok pak. Perkutut itu anggunganya sangat merdu. Pisangnya enak, pak. Tak makan lagi ya pak !" Darman mencoba mengalihkan pembicaraan. " Habiskan saja, Man ! Dari pada besuk basi !"
      Sepulang dari rumah pak Sukirban, Darman tak bisa tidur. Mata terpejam tetapi pikiran melayang. Menduga - duga. Menghubung - hubungkan. Anggungan perkutut itu. Malam itu. Ah tidak ! Tidak Mungkin ! Tetapi anggungan perkutut itu ? Apakah pak Lurah ? Ah .... tidak mungkin ! Tetapi malam itu mengapa anggungan perkutut itu tak berhenti. Terdengar  manggung terus. Apa iya pak Lurah tega berbuat  begitu. Tetapi perkutut itu akan terus manggung ketika pak Lurah ada di dekatnya. Malam itu, malam dimana Surinah alias Ririn yang pagi harinya ditemukan meninggal dunia, Darman sedang ronda malam. Malam itu anggungan perkutut pak Sukirban pemberian pak Lurah itu tak henti - hentinya terdengar di telinga Darman. Waktu itu malam telah larut. Darman terus berjalan melaksanakan ronda malam tanpa teman. Dan anggungan perkutut itu terus terdengar di telinganya dan semakin lama semakin tidak jelas karena Darman semakin jauh dari rumah pak Sukirban. 
    Anggungan perkutut itulah yang terus mengganggu pikiran Darman. Perkutut yang manggung tak berhenti sepanjang pak Lurah memberi sambutan pemberangkatan jenazah Surinah. Anggungan perkutut yang malam ketika ia ronda. Anggungan - anggungan perkutut yang terus menggelisahkan perasaannya. Anggungan perkutut yang menuntun pikirannya untuk mencurigai pak Lurah. Tetapi pikirannya tidak yakin. Mungkinkah pak Lurah tega membunuh Surinah ? Yang membuatnya ragu adalah apa masalahnya sehingga pak Lurah tega membunuh Surinah. Pak Lurah adalah orang yang sangat tersohor baiknya. Pak Lurah adalah pemimpin desa yang disegani dan dicintai rakyatnya. Mungkinkah apa yang dicurigakannya betul ? Tapi anggungan perkutut itu ? Darman bingung. Darman gelisah. Darman tak bisa menemukan jawaban. Darman ahkirnya berketetapan akan menceriterakan kegelisahannya, dan kegundahannya itu kepada polisi. 
      Hari masih pagi ketika Darman sampai di kantor polisi. Darman sudah tak merasa asing dengan para polisi yang menemuinya pagi itu. Polisi - polisi itu pulalah yang pernah menginterogasinya ketika dirinya ditangkap dan dicurigai sebagai pembunuh Partini. Darman menceriterakan tentang anggungan perkutut yang membuatnya penasaran kepada polisi. Polisi menempatkan cerita Darman ini sebagai laporan. Semua kalimat Darman pagi itu dicatat. Dan dibuat berita acara sebagai laporan seorang  warga. " Pak Lurahmu itu sudah mempunyai tiga isteri ta, Man ? Kata polisi disela -  sela cerita Darman. " Yang kedua dan yang ketiga cantik - cantik lho, pak. Dan masih muda - muda lagi ". Para polisi cuma bisa tersenyum mendengar tutur Darman itu. " Kata orang - orang, yang ketiga masih sangat muda, pak. Kata orang umurnya baru dua belas tahun. Padahal pak Lurahku itu kan sudah lima puluh tahun lebih , pak . Senang ya pak jadi orang kaya. Bisa beristri banyak dan cantik - cantik ". Darman nerocos ngomong. Kembali para polisi hanya bisa tersenyum oleh kalimat - kalimat Darman. " Saya pernah beruntung lho, pak ". Darman terus ngomong. " Beruntung apa, Man ?", tanya seorang polisi yang di mejanya ada laptop. " Beruntung karena saya bisa mengintip pak Lurah dengan isteri ketiganya yang sedang begituan ", kata Darman tanpa beban. Dan dengan santainya ngomong. Darman memang suka blak - blakan. Apalagi polisi - polisi yang dihadapannya sudah amat dikenalnya. Dan Darman tahu kalau para polisi itu suka dengan cerita - ceritanya yang berbau sex. Dulu ketika ia ditahan di kantor polisi karena dicurigai membunuh Partini, Darman banyak cerita tentang Partini. Partini yang malang. Partini yang menerima perlakuan para lelaki yang menginginkannya. Para lelaki yang ingin menyetubuhinya.  Para lelaki yang telah berhasil menjamah - njamah Partini. " Lho kok bisa kamu mengintip pak Lurah ?", tanya polisi yang duduk agak jauh dari Darman. 
     Waktu itu Darman sedang ada di rumah pak Lurah mengantar barang bawaan bu Lurah, isteri pertama pak Lurah. Ketika sedang memasukkan barang - barang di ruang belakang, Darman melewati kamar mandi yang terletak agak di sudut rumah. Rumah pak Lurah sangat besar. Rumah depan dekat pendopo terdapat banyak kamar dan ruang disana isteri kedua berada. Rumah tengah yang disana juga banyak ruangan untuk isteri ketiga. Sedangkan isteri pertama ada di rumah belakang. Yang merupakan rumah induk. Kalau mau ke rumah belakang Darman mesti melewati jalan yang dibuat untuk menghubungkan rumah - rumah depan, tengah dan rumah belakang. Sewaktu melewati jalan rumah tengah itu lah Darman mendengar ada desahan perempuan yang berasal dari kamar mandi yang kebetulan berada di tepi jalan penghubung yang dengan jalan hanya dibatasi taman. Keadaan sepi. Sore menjelang petang waktu itu lampu - lampu belum sempat dinyalakan. Suasana seperti itulah yang membuat Darman berani melakukan perbuatan gila. Yang juga mendorong Darman untuk nekat mengintip itu karena memang sudah lama penasaran dengan isteri ketiga pak Lurah. Yang masih sangat  muda dan cantik. Darman yakin bahwa yang mendesah di kamar mandi ini pasti isteri ketiga pak Lurah. Lagi pula karena saking seringnya keluar masuk rumah pak Lurah melewati jalan penghubung ini Darman jadi tahu kalau pintu kamar mandi itu slotnya rusak dan belum diperbaiki. Dan Darman juga sangat tahu kalau jalan penghubung ini bukan jalan umum yang tidak bakalan dilalui orang, kecuali isteri - isteri pak Lurah dan orang seperti dirinya yang sering keluar masuk mengantar barang dari pasar. Darman tahu pula kalau hari itu adalah hari giliran pak Lurah berada di rumah tengah. Dan isteri - isterinya yang lain tak bakalan lalu lalang di jalan penghubung ini. Maka terbukalah kesempatan Darman untuk nekat. Perbuatan gila yang berisiko. Jika ketahuan ia mengintip, tak ampun pasti akan mendapat ganjaran jelek dari pak Lurah. Resiko telah tertindih oleh hasrat ingin melihat tubuh indah isteri ketiga pak Lurah. Darman sangat yakin kalau di kamar mandi itu pasti pak Lurah sedang menggarap isteri ketiganya. Dan Darman juga yakin kalau orang sedang menikmati indahnya bercumbu pasti lupa akan sekitar. Jadi pasti tak akan tahu kalau diintip. Darman berjingkat dan sampai di depan pintu kamar mandi. Suara desahan membuatnya segera menempelkan satu matanya di lubang selot pintu yang sudah copot selotnya. 


                                  bersambung kebagian kedelapanbelas .....


     

Rabu, 29 Juni 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput
Anggungan Perkutut 
                                                                                                                                        edohaput

Bagian keenambelas

     Surinah terus tumbuh seiring dengan bergulirnya waktu. Tumbuh menjadi seorang gadis dusun yang cantik. Seorang gadis dusun yang tak berwajah gadis dusun pada umumnya. Surinah anak pak Sukirban yang sama sekali tak mirip dengan bapaknya. Surinah berhidung mancung, mata bulat, rambut tumbuh lebat hitam mengkilat, dan berperawakan tinggi semampai. Sangat berbeda dengan bapaknya yang berhidung pesek, rambut tumbuh jarang dan merah, dan berperawakan cenderung pendek. Kulit Surinah hitam manis. Tangan dan kakinya, bahkan seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu halus. Alisnya tebal menghiasi matanya yang lebar dan berpupil hitam legam. Surinah sangat mirip dengan gadis India. Bibir Surinah sedikit tebal tetapi sangat sensual. Giginya putih rata dan rapat. Lehernya jenjang tak seperti leher bapaknya yang pendek karena seringnya kepalanya dibebani keranjang rumput. 
     Seperti halnya Partini dan gadis dusun lainnya Surinah selepas es em pe tak lagi meneruskan pendidikannya.  Pekerjaan Surinah membantu emboknya jaga warung sembako yang dirintis orang tuanya sejak ia masih dalam kandungan. Seperti halnya Partini Surinah juga menjadi kembang dusun. Banyak perjaka dusun yang mengkhayalkannya. Ingin menikahinya. Bahkan ada yang secara terang - terangan mengatakan kepada Surinah. Tetapi Surinah belum ingin nikah. Satu hari mak Temi, mboknya meminta Surinah agar mau menanggapi keseriusan Mursinu : " Mas Mursinu kurang apa ta, Rin. Dia anak orang kaya. Malah dia sendiri ya sudah jadi juragan. Kenapa ta, Rin  ? Kalau banyak menolak jangan - jangan kamu malah jadi perawan tua lho ". Kata - kata maknya yang sangat sering diucapkannya itu tak pernah digubris Surinah yang karena kecantikannya maka orang memanggilnya dengan nama panggilan Ririn. Nama panggilan yang paling baik di dusun. Surinah tahu kalau Mursinu mendua hati. Mursinu menyukai Partini dan juga menyukai dirinya. Berkali - kali Mursinu mengajaknya main ke kota. Dirinya tak pernah mau. Apalagi setelah terdengar selentingan Partini yang pernah diajak Mursinu ke kota ternyata diajak ke kamar hotel. Ketika Partini menolak malah Partini dibawa ke hutan karet dan akan diperkosa. Selentingan itu ia dengar dari mulut Darman. Surinah berstatus ekonomi lebih baik dibandingkan Partini anak mbok Sargini si penjual nasi pecel. Maka para  lelaki dan khusunya para  pemuda dusun lebih berhati - hati memperlakukannya dari pada perlakuan mereka pada Partini. Apalagi Surinah ini lebih judes dan sedikit galak. Berbeda dengan Partini yang murah senyum, supel dan ramah. Satu - satunya pemuda yang terus berusaha dan berani mendekat hanya Mursinu. Pemuda dusun lain paling hanya bisa menyapa dan mengkhayal. Mursinu dengan kekayaannya bisa mempengaruhi orang tua Surinah. Dengan kekayaannya Mursinu bisa pamer kepada Surinah. 
     Satu hari sepulang dari usahanya memperkosa Partini yang terpaksa gagal, Mursinu mampir ke warung sembakonya Surinah. Karena Partini jelas dan telah terang - terangan menolaknya,  maka tujuan ahkir ya kepada Surinah.  Tak berhasil merayu Partini, kini harus berhasil merayu Surinah. Di pikiran Mursinu calon isteri kalau tidak Partini ya Surinah. 
     Hari itu sudah sore,  menjelang matahari terbenam. Mursinu memarkir motornya persis di depan warung mak Temi mboknya Surinah. Warus sepi. " Kok sepi, Rin. Make kemana ? ", tanya Mursinu kepada Surinah yang lagi duduk menunggu pembeli. Sore itu Surinah hanya mengenakan kaos dan rok pendek. Surinah wangi karena habis mandi. Kaos Surinah tak berlengan, sehingga buah dadanya yang besar sedikit nampak apabila lengannya diangkat. Rok pendek Surinah di atas lutut, sehingga ketika duduk pahanya dapat dilihat. " Simbok dan bapak lagi nengok lik Samijo yang sakit di rumahnya, mas ", jawab surinah kalem. " mas Mursinu mau beli apa ?", lanjut Surinah. Mursinu mengeluarkan lima lembar uang ratus ribu dan diberikan ke Surinah. "Banyak amat duitnya, mas ! Apa saja ta yang mau dibeli mas Mursinu ? ", tanya Surinah. Surinah tidak kaget. Sudah sering Mursinu berbuat sombong sedemikian rupa,  yang dibeli cuma rokok uangnya mesti lembaran ratusan ribu. Kesombongan Mursinu ini diam - diam tidak disukai Surinah. Tetapi karena Mursinu pembeli maka tetap dilayani dengan baik oleh Surinah. " Sudah terima dulu uangnya nanti tak sebut apa yang aku mau beli ". Berkata demikian sambil Mursinu masuk ke ruangan dimana Surinah lagi duduk dan juga ikut duduk di situ dan Mursinu nekat duduk dan memepet Surinah. Surinah bergeser menjauh. Tetapi dengan cepat tangan Mursinu menggamit tangan Surinah, sehingga Surinah menjadi tak bisa menjauh dari posisi duduknya Mursinu. " Lho mas Mursinu ini mau beli apa ? Aku kan harus melayani ta, mas ? ", sambil Surinah mencoba melepaskan tangan yang digenggam Mursinu. " Sabar ta, Rin. Nanti aku sebut yang aku mau beli. Duduk - duduk dulu kenapa ", kata Mursinu tetap menggamit tangan Surinah. " Ini sudah sore, mas. Warung mau tutup. Aku dah capek seharian tunggu warung ", jawab Surinah. " Nanti aku bantu nutup warung, Rin. Tenang saja ! "  Berkata begitu Mursinu sambil merangkul pundak Surinah. " Dengarkan ya, Rin. Aku tak ngomong. Sebenarnya aku ini sudah sangat ingin bertemu seperti ini sama kamu. Tetapi kalau kamu aku ajak ketemuan selalu saja menolak. Aku ini sungguh - sungguh lho, Rin. Sungguh mau memperistri kamu. Aku sudah bilang sama bapakmu dan juga makmu kalau aku segera akan melamarmu. Percayalah, Rin. Aku ingin membahagiakan kamu sekeluarga. Hartaku cukup untuk hidup keluarga kita sampai tiga turunan tanpa kita harus bekerja bersusah payah. Kalau kita masih mau bekerja harta kita nanti tak bakalan habis, Rin.  Apalagi ! Percayalah kepadaku. Hidup kita bakal senang ". Surinah yang tadinya mau berontak dari rangkulan tangan Mursinu, mendengar omongan Mursinu yang menyentuh perasaan kewanitaannya menjadikan dirinya malah melemas.   Mukanya tertunduk. Hati wanitanya tersentuh. Tangannya yang sedari tadi memegangi lima lembar uang lembaran ratusan ribu tampak gemetar. 
     Suasana di luar warung semakin temaram. Sinar matahari yang hampir tenggelam tak lagi tampak. Apalagi di sekeliling rumah Surinah ditumbuhi pohon - pohon besar yang rimbun. Orang datang ke warung pada sore begitu biasanya sudah tak lagi ada. Mursinu tahu itu. Ia semakin menjadi memiliki kesempatan untuk merayu Surinah gadis dusun cantik yang wajahnya mirip gadis India, gadis dusun yang diimpikannya. Gadis dusun yang selalu ada dikhayalnya ketika onani. Gadis dusun yang buah dadanya besar, pantatnya sintal dan bibirnya sensual. Tahu Surinah termakan rayuannya Mursinu segera berdiri dan mengeluarkan dompetnya dan menguras isinya dan segera dijejalkan di tangan Surinah. Surinah kaget. Tapi tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa menggenggam lembaran - lembaran uang ratusan ribu yang ditangannya terasa begitu tebal. Lampu di warung belum sempat dinyalakan. Suasana jadi agak gelap. Bagi yang rabun ayam sudah tidak mungkin mampu melihat. " Mas Mursinu mau beli apa ini kok uangnya banyak sekali, mas ? ", tanya Surinah yang mulai tahu maksud Mursinu. Untuk apa uang sebanyak itu diberikan ke dirinya. Surinah hanya bisa bingung. " Sudah itu untuk kamu. Besuk untuk beli hape sama beli rok baru ". Berkata begitu Mursinu sambil memegang kepala Surinah dan membelai rambut Surinah yang tebal sampai kepundak. Mendengar kata hape pikiran Surinah melayang ke hape yang sudah sejak lama diinginkannya. Belum banyak orang di dusun itu  memiliki hape. Hape di dusun itu masih langka dan merupakan barang mewah. Diketahuinya orang yang sudah membawa - bawa hape di dusun  hanya pak Kadus,  pak Tuman, dan orang - orang kaya saja. Surinah berangan memilkinya. Memainkannya. Kata hape itulah yang membuat Surinah seperti terhipnotis tanpa bisa berbuat banyak menurut saja ketika Mursinu menarik tubuhnya hingga berdiri dari duduk dan memeluknya. Surinah tak lagi berlogika. Mursinu memeluknya dan mendongakkan wajahnya dan mencium bibirnya. Surinah menjadi tak ingat sedang ada dimana. Matanya terpejam dan merasakan ada kehangatan di bibirnya. Merasakan ada sesuatu yang bermain di dalam mulutnya. Ada rasa geli campur enak nikmat di bibirnya. Dan baru kali itulah Surinah merasakan bibirnya dicium seorang laki - laki. Mursinu sedikit mengendorkan pelukan tangan kirinya di punggung Surinah, dan tangannya kanannya sudah tak kuat lagi menahan keinginannya untuk mencari -cari milik Surinah yang selalu dibayangkannya. Tangan kanan Mursinu menyusup lewat bawah kaos Surinah dan bergerak ke atas mendapat buah dada Surinah. Surinah kaget dan meronta. Mursinu memperat pelukannya. Surinah mau berucap. Tak bisa mulutnya terus dicium Mursinu. Surinah mengurungkan niatnya meronta ketika tiba - tiba ada rasa enak luar biasa dirasakan dadanya. Geli, tergetar - getar nikmat. Kenikmatan di buah dadanya yang diremas, ditekan - tekan, dan dipilin - pilin putingnya oleh tangan Mursinu dan kenikmatan di bibir dan mulutnya menjalar ke kemaluannya.  Surinah secara refleks merapatkan pahanya karena dirasakan  dari kemalauannya ada cairan yang rasanya mau mengalir keluar. Dan Surinah sudah merasakan bibir kamaluannya basah. Dia belum tahu rasa apa itu di kemaluannya tapi enak sekali. Dan rasa seperti itu sering pula dirasakan ketika mimpi basah. Tapi yang kali ini lebih enak dari ketika mimpi basah. Mursinu tahu kalau Surinah menikmati permainannya. Jangankan seorang gadis lugu seperti Surinah. Pe es ka yang sudah banyak berpengalamanpun  bisa dikalahkan Mursinu. Mursinu sangat berpengalaman dalam bidang mengalahkan wanita. Ia jago mencium bibir. Ia jago mempermainkan buah dada. Dan jarinya sangat jago mengilik kemaluan wanita. Jari Mursinu tak jarang membuat kelabakan para pe es ka yang dikencaninya. Mursinu tahu kalau Surinah nikmat di kemaluannya, maka tanpa menunggu lama tangan kanannya yang di buah dada Surinah cepat melorot ke bawah lewat bawah rok pendek Surinah langsung keselangkangan  Surinah yang merapat pahanya.  Surinah kaget lagi dan sadar kalau kemaluannya akan diraba Mursinu. Belum pernah kemaluannya diraba lelaki. Dia sendiripun jarang merabanya  kalau tidak sehabis pipis. Memang pernah pada satu malam Surinah mengelus - ngelus kemaluannya sendiri. Dan ketika kemaluannya mulai meradang, Surinah mengejang dan kemaluannya tiba - tiba membasah dan dirasakan itu enak sekali dan menyebabkan tidurnya pulas.  Surinah gadis enam belas tahun yang tidak banyak tahu tentang sex. Kekagetan Surinah diwujudkan dengan memundurkan pantatnya dan mencoba menjauhkan kemaluannya dari tangan Mursinu. Tetapi kekagetanya tiba - tiba lenyap ketika lehernya merasakan kegelian nikmat yang tak terkira ketika mulut Mursinu menyerang lehernya. Kenikmatan di lehernya menjadikan Surinah lupa akan pahanya yang merapat dan dengan mudah didorongkan oleh tangan Mursinu untuk kangkang.  Dan mulut Surinah hanya bisa mendesah ....aaaaaaagggghhhhhhhh ...... ! ketika jari Mursinu berhasil menyibakkan celana dalam Surinah dan jari tengahnya yang panjang berhasil pula masuk ke liang kewanitaan Surinah dan mengilik hebat. Saat itu Surinah tak lagi ingat apa - apa tubuhnya serasa bergetar dan melayang. Dan tangan Surinah hanya bisa mencengkeram dan memeluk tubuh Mursinu sampai - sampai lembaran uang ratusan ribu berjatuhan ke lantai. Surinah merasakan kemaluannya sangat enak luar biasa dan dirasakan celana dalamnya telah basah kuyub oleh cairan yang dikeluarkannya. Mursinu yang sangat bernafsu sempat bingung. Di situ tak ada tempat untuk merebahkan Surinah. Maksud hatinya tongkatnya akan dikeluarkan dari celana dan ditusukkan dikemaluan Surinah. Ruangan warung yang sempit tak memungkinkan dan tongkatnya juga sudah tak sabar. Rasanya sudah tidak mungkin ditahan. Maka jalan satu - satunya untuk memperoleh kenikmatan hanya memepetkan tongkatnya yang masih ada di dalam celana ke paha Surinah dan menggoyang - goyangkannya. Dan ....." Riiiiiiiiinnnnnn ......... aaauuuuuuggggghhhh.... !"  Mursinu memeluk tubuh Surinah erat sekali. 
     Suara motor Darman dan tukang ojek lainnya yang mengantarkan mak Temi dan pak Sukirban pulang dari menengok Samijo yang sakit mengagetkan Surinah dan Mursinu. Mereka segera melepaskan saling peluknya. Mursinu segera menyambar dua bungkus rokok dan keluar dari warung. Surinah memunguti lembaran uang ratusan ribu yang bertebaran di lantai dan memasukkan di saku roknya. " Lho mas Mursinu ta ?", sapa mak Temi ramah. " Ya mak mampir beli rokok ", jawab Mursinu terus menuju motornya. " Ndak duduk dulu mas ! " , teriak mak Temi. " Iya ...mbok duduk dulu di rumah, mas ! ", timpal pak Sukirban. " terima kasih mak ...pak....lain kali saja sudah malam ... !, jawab Mursinu sambil melarikan motornya dan masih dirasakan tongkatnya berkedut dan memuntahkan sisa maninya di dalam celana.


                                                  bersambung kebagian ketujuhbelas ........
    

Minggu, 26 Juni 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput
Anggungan Perkutut 
                                                                                                                        edohaput 

Bagian kelimabelas

     Temi tiba di tanah air, di dusun dimana ia dilahirkan, dibesarkan dan sampai saat menikahpun Temi tak pernah keluar dari dusun. Kedatangan Temi di dusun diantar dua pengawal yang sengaja disewa Rajiv agar menjaga keselamatan Temi sampai di rumah. Kepulangan Temi dari Malaysia yang tanpa kabar lebih dulu mengagetkan Sukirban, suaminya. Kepulangan Temi mendadak. Kontrak kerja yang ditandatangani selama lima tahun. Dan Sukirban juga ikut menandatangani surat kontrak kerja itu. Tetapi mengapa baru dua tahun kerja Temi pulang. Sukirban tak lagi ambil pusing. Temi isterinya yang dirindukannya pulang. Sukirban sangat senang. Apalagi uang yang dibawa Temi  pulang kelewat banyak.
     Warga dusun berdatangan menengok Temi. Mereka menyaksikanTemi yang bukan Temi dua tahun yang lalu. Temi yang sekarang kulitnya bersih. Tambah montok. Dan tampak lebih cantik. Temi yang gaya bicaranya agak pego. Lidahnya sudah kerasukan gaya bicara orang  Malaysia. Warga yang datang menengok terutama yang masih kerabat dan miskin mendapat rupiah dari Temi. Ada yang lima puluh ribu, ada yang seratus ribu, Temi menjadi dermawan mendadak. Temi menjadi buah bibir warga dusun. Baru dua tahun kerja di Malaysia kok sudah begitu banyak uangnya, sampai - sampai dibagi - bagikan. Berapakah gaji Temi ?
     " Yu, lha gimana ta yu Temi ini. Aku baru mau nyusul ke Malaysia kok yu Temi malah pulang ", kata Turiyah di saat mereka berdua di dapur. " Ke Malaysia itu tidak gampang, Tur ! Pakai duit banyak. Tak cukup delapan juta. Dikira mudah pa ?", Timpal Temi sambil mengangkat sayur dari tungku.
" Lagian surat - suratnya ngurusnya susah !" , lanjut Temi. " Semuanya sudah beres, yu. Aku tinggal berangkat semua yang ngurus pak Joned yang dulu juga ngurus keberangkatan yu Temi ". , kata Turiyah sambil menumpuk piring. " Lha uangnya dari mana, Tur ? ", tanya Temi sambil memandangi Turiyah. Seakan Temi tak percaya akan kata - kata Turiyah yang baru saja diucapkan. Karena Temi tahu kalau Turiyah tak bakalan punya duit untuk biaya ke Malaysia. Kerja lima tahun pun di dusun ini adiknya tak bakalan bisa ngumpulkan uang sepuluh juta. Tanpa malu - malu Turiyah bercerita dengan jujur kepada Temi dari mana asal uang yang akan digunakan untuk berangkat ke Malaysia. Mendengar cerita Turiyah , Temi hanya bisa menitikan air mata dan menyesalkan apa yang telah dilakukan Turiyah. Apa lacur nasi sudah jadi bubur. Guliran waktu tak akan berulang. Biarlah semua berjalan seiring waktu. Inilah nasib orang miskin.
     Tidak terasa telah dua bulan Temi berada di kampung. Uang pemberian Rajiv, Tuan Mudanya ketika di Malaysia dipergunakan untuk buka usaha warungan sembako. Sukirban membeli sapi dan sepeda motor. Gadung anaknya dibelikan sepeda baru yang di dusun belum pernah ada yang memilikinya. Kehidupan ekonomi keluarga Sukirban sangat tertolong dan terangkat berkat kerja Temi di Malaysia. Semakin hari usaha warungan sembako Temi semakin maju. Sukirban juga semakin rajin memelihara sapi - sapinya. Keluarga Sukirban menjadi keluarga yang tak lagi miskin.
     Turiyah berangkat ke Malaysia. Orang sedusun mengantar Turiyah sampai di ujung jalan dimana sebuah taksi sudah dipersiapkan pak Joned. Turiyah meninggalkan dusun pergi ke Malaysia sebagai te ka we pe er te. Dengan harapan besar besuk dia akan pulang kampung dengan membawa banyak uang seperti Temi kakaknya. Turiyah tak pernah tahu, kerja sebagai pe er te itu berat. Salah - salah bisa dipukuli majikan. Banyak pe er te yang babak belur sebagai korban kekejaman majikan. Banyak pula yang menjadi korban permerkosaan majikan laki - laki. Yang melawan untuk mempertahankan harga diri berakibat dijebloskan ke penjara. Bahkan tak jarang yang kena hukuman gantung karena melukai dan membunuh majikan. Kesabaran ada batasnya. Perlakuan majikan yang tak manusiawi menyebabkan kemarahan pe er te. Yang tak terkendali akibatnya menemukan kesengsaraan.
     Satu malam ketika Gadung sudah terlelap tidur, Temi dan Sukirban berada di dalam kamarnya. Sukirban memijit punggung Temi yang duduk membelakangi Sukirban. " Capek ya, Mi ? ", tanya Sukirban sambil menekan - nekankan jarinya di pundak Temi. " Lha iya ta, kang. Baru saja pulang dari kulakan di pasar tadi orang - orang sudah pada ngrubut yang beli ini beli itu ", jawab Temi sambil meringis merasakan pijitan Sukirban. " Lha itu, Mi. Kalau jualan laris ya badan jadi capek ". Sukirban terus memijit pundak dan punggung isterinya. " Kang Kirban kepingin, ya ? ". Temi membalikan tubuhnya dan kepalanya direbahkan di pangkuan Sukirban. " Pinginnya ya tiap malam, Mi. Tapi melihat kamu capek gini ya apa mau tak tumpaki ". Jawab Sukiban sambil membelai rambut Temi. " Ya mau saja ta kang. Kan capeknya jadi ilang kang, kalau aku ditumpaki kang Kirban ". Tangan Temi mulai nakal, masuk ke sarung Sukirban dan menemukan tongkat Sukirban yang sudah berdiri tegak. Tahu kalau tongkat suaminya sudah siap tempur, Temi segera melucuti pakaiannya sendiri. Termasuk pakain dalammnya. Temi telah telanjang. Temi terlentang. Saat Temi terlentang inilah Sukirban bisa memperhatikan perut Temi. Perut Temi membuncit. Temi hamil. Belum genap tiga bulan Temi pulang dari Malaysia. Kenapa kehamilan Temi telah sebesar ini. Sukirban mengelus perut Temi. Hatinya ingin bertanya, tetapi mulutnya terkunci. Sukirban tak berani bertanya. Ia takut menyinggung perasaan isterinya. Ia takut Temi marah. Toh Temilah yang bisa mengangkat keluarganya dari lembah kemiskinan. Sebesar apapun kecurigaan Sukirban, tetap ia tak mampu bertanya. Sejak kepulangan Temi dari Malaysia, Sukirban tak melihat Temi datang bulan. Benarkah Temi membawa janin dari Malaysia ? Jika kecurigaannya benar, lalu anak siapakah yang dikandung Temi ? Lalu sekarang berapakah usia kandungan Temi ? " Lho kok malah ngelamun ta kang ? Ayo cepet aku ditumpaki !" Berkata begitu Temi sambil memindahkan tangan Sukirban yang mengelus perutnya ke kemaluannya. Sukirban berganti mengelus - elus pepek Temi. " Penthilku dimut, kang !" Kata Temi sambil menikmati kemaluannya yang sedang dielus - elus Sukirban. Sukirban melepas sarungnya dan segera mengemut puting penthil Temi. Ketika mulut Sukirban sampai di puting penthilnya dan menghisap - hisap, Temi tak merasakan sensasi kenikmatan. Sukirban tidak ahli mempermainkan puting penthil dengan mulutnya. Berbeda dengan Rajiv majikannya di Malaysia, putingnya yang dipermainkan dengan mulut kemaluannya yang orgasme. Semenjak menjadi isteri Sukirban Temi belum pernah orgasme lebih dari dua kali. Rajiv membuatnya orgasme berkali - kali dan interval orgasme yang satu dengan yang lainnya sangat pendek. Temi merindukan disenggamai Rajiv. Sukirban memasukkan tongkatnya di pepek Temi. Menggenjotnya dan lima menit kemudian maninya sudah tumpah. Temi juga orgasme tetapi tak senikmat ketika orgasme karena tongkat Rajiv. Dulu ketika Temi belum pernah merasakan senggama dengan Rajiv, apa yang dilakukan Sukirban lebih dari cukup. Temi puas. Tetapi ketika Temi telah merasakan tongkat Rajiv, tongkat suaminya dirasakan hambar. Rasanya ingin Temi mengajari Sukirban bagaiman cara mempermainkan penthil, bagaimana cara mempermainkan pepek dengan jari, bagaimana cara mempermainkan bibir dengan bibir. Pengalaman yang diperoleh dari Rajiv ingin rasanya dikatakan kepada Sukirban agar suaminya mampu melakukan senggama yang penuh sensasi. Tetapi itu tak mungkin. Sukirban orang dusun yang punya pengalaman senggama hanya memasukkan tongkat di kemaluan kemudian dipompa dan keluar maninya. Dan itupun sudah membuat puas. Sukirban tidak punya pengalaman yang aneh - aneh. Temi ingin Sukirban mempermainkan mulutnya dengan bibir dan lidahnya dan Temi orgasme. Temi ingin buah dadanya diremas - remas sambil daun kupingnya dijilat - jilat dan dia orgamse. Temi ingin kemaluannya dikilik dengan jari dan pahanya disodok - sodok tongkat yang kaku dan hangat dan dia orgasme. Sukirban tak bisa melakukan itu. Sepulang dari Malaysia Temi belum merasakan sensasi senggama dengan Sukirban seperti ketika dia melakukannya dengan Rajiv di Malaysia.
     Waktu terus berjalan. Kandungan Temi telah berumur sembilan bulan. Menurut hitungan Sukirban baru tujuh bulan. Baru seminggu kandungan Temi di ritualkan dengan kenduri nujuh bulan kandungan, Temi melahirkan. Lahir dari rahimnya bayi perempuan. Orang sedusun mengatakan Temi melahirkan sebelum waktunya. Mereka mengkawatirkan kesehatan bayi Temi. Banyak dari mereka menasehatkan agar bayi dibeginikan dibegitukan agar sehat. Karena bayi yang lahir sebelum waktunya biasanya tak berumur panjang. Tetapi warga juga heran bayi Temi ini besar, tampak sehat, dan gemuk, bukan seperti bayi - bayi yang lahir sebelum waktunya. Orang sedusun tak ada yang tahu sesuatu yang dirahasiakan Temi. Bayi yang lahir ini adalah anak majikannya di Malaysia. Yang dihasilkan dari hubungan persenggaman yang penuh sensasi dan kenikmatan antara dirinya dengan majikannya. Pengalaman persenggaman yang tidak bisa dilupakannya dan malah ingin diulanginya.
     Tiga puluh lima hari sejak kelahirannya, orang dusun menamakan ritual selapanan dengan cara membuat nasi selamat dan dilaksanakan kenduri,  dan genap pada selapan hari itu bayi diberi nama. Sukirban memberi nama Surinah pada anak keduanya ini.

                                                              bersambung kebagian keenambelas ...........
     

Jumat, 10 Juni 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput
Anggungan Perkutut 
                                                                                                                                  edohaput
 Bagian keempatbelas

     Temi ahkirmya membulatkan tekat untuk menyatakan kehamilannya kepada majikan mudanya, tuan Rajiv. Apapun resikonya. Diusir, dipecat, atau akan diapakan oleh majikannya itulah resiko yang yang harus diterima. Kalaupun dipecat ia sudah bertekat akan pulang ke tanah air. Tetapi ia juga yakin bahwa majikannya adalah manusia pasti akan mengasihani. Apalagi yang membuatnya hamil toh juga majikannya ini. Jika ia pulang nanti dirinya masih mengahadapi masalah. Bagaimana menyatakan kehamilannya kepada suaminya, Sukirban. Sungguh pelik. Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur. Dia harus menanggung akibat dari perbuatannya. 
    Hari masih sore. Tuan Rajiv datang ke rumah besar. Sejak berbuat intim dengan Temi Rajiv jarang pulang ke rumah dimana keluarganya tinggal. Ia memilih pulang ke rumah besar. Kalau sebelumnya Rajiv datang ke rumah besar apabila ada acara pertemuan bisnis atau jika ia membawa perempuan untuk pemuas birahinya. Rajiv merasa cukup dilayani Temi. Perempuan lain tak lagi ada dipikirannya. Temi sudah cukup. Temi lebih memberi kepuasan dari pada perempuan - perempuan yang telah pernah dibawanya ke rumah besar. Sore itu  Rajiv minta Temi membuat teh kental manis. Seperti biasanya Rajiv datang di rumah besar kegiatannya mandi, makan, istirahat, dan mengajak Temi bersenggama.
     Temi menyalakan lampu - lampu karena hari telah merangkak malam. Rajiv beristirahat di ruang tengah menonton acara teve sambil menikmati teh dan makan jajanan yang di beli sebelum sampai di rumah besar. Temi sibuk di dapur menyiapkan makan malam tuannya. Lima telur mata sapi, dua gelas susu, dan roti tawar, serta buah - buahan segar yang tadi dibelinya di mall. " Temiiiiiii !" Rajiv berteriak memanggil Temi. Itulah kebiasaan Rajiv memanggil Temi. " Ya....tuaaaan !" Temi berteriak juga membalas panggilan tuannya dan sambil setengah berlari mendekat. " Makan malam !", Kata Rajiv setelah Temi berada di hadapannya. " Ya tuan ", jawab Temi dan segera balik ke dapur.
     Rajiv makan malam. Temi mandi. Habis mandi Temi membersihkan meja makan. Rajiv kembali ke ruang tengah dan menikmati acara teve. Temi makan malam. Apa yang dimakan Rajiv dimakan Temi juga. Kecuali makanan yang kadang - kadang Temi tidak doyan karena tidak cocok dengan selera lidahnya. Terutama apabila tuannya membawa pulang makanan khas India. Temi tak doyan. " Temiiiiii !" Tuannya kembali memanggil. Ini dia ! Pikir Temi. Senggama lagi ! Majikannya pasti akan mengajaknya ke kamar. Sudah dua hari tuan mudanya ini tak mengajaknya. " Ya tuaaaan !" Temi setengah berlari menuju ruang tengah. Sesampainya di ruang tengah dimana disitu ada teve yang kelewat besar layarnya, Temi kaget. Di layar teve terpampang adegan orang India yang sedang bersenggama. Tuannya hanya memakai kimono seperti biasanya. Hanya saja kali ini kimono itu telah tidak menutup bagian depan tubuh majikannya. Rajiv duduk dengan posisi lutut ditekuk dan naik di atas sofa. Tongkatnya  mencuat dan sedang dipenggangnya. Temi hanya bisa melongo. Matanya berganti - ganti melihat antara Rajiv dan tongkatnya yang sudah mencuat  dan adegan di layar teve yang disana seorang lelaki sedang berpagut dengan seorang perempuan. Laki - lakinya ganteng dan perempuannya cantik. Orang India memang banyak yang ganteng - ganteng dan cantik - cantik ! Pikir Temi. Tampak di layar adegan laki - laki India yang ganteng itu sedang memasukkan tongkatnya ke kemaluan perempuan cantik lewat belakang, nungging. Dilihat di mata Temi perempuan cantik itu sangat menikmati kemaluannya yang sedang dipompa. " Kesini kau ! Kenapa bengong berdiri ! Kesini ! ", perintah Rajiv. Temi mendekat. Tangannya segera ditarik rajiv dan Temi jatuh dipangkuan Rajiv dan pantatnya terosodok tongkat Rajiv yang ereksi sangat kaku. Dengan cekatan tangan Rajiv membuka daster Temi. Kemudian memelorotkan celana dalam Temi. Temi membantu - bantu usaha Raijiv. Temi Telanjang di pangkuan Rajiv. Penthil Temi yang tidak berbeha segera mendapat serangan tangan Rajiv. Diremas, dipilin putingnya, dan ditekan - tekan. Tak lagi disuruh tangan Temi telah menggenggam tongkat Rajiv, dan mengelus - elusnya. Rajiv mulai menciumi bibir, leher dan telinga Temi. Tangannya bergerak ke bawah mengelus perut Temi, berhenti di pusar dan mengilik terus ke bawah, sampailah di selangkang Temi. Kemaluan Temi menjadi bulan - bulanan Rajiv. Mata Temi terpejam tak lagi melihat adegan di layar yang telah berganti posisi perempuan terlentang di bawah laki - lakinya menggenjotkan tongkatnya di kemaluan perempuannya dengan ganas. Sampai - sampai perempuannya terdorong di ujung ranjang. Temi tak melihat itu. Ia lebih suka menikmati rasa geli di kemaluannya yang sedang digarap jari Rajiv. Pengalaman Rajiv  memainkan kemaluan perempuan selalu dirasakan Temi saat pemanasan bersenggama dengan Rajiv. Kalau sudah begitu Temi hanya bisa mendesah dan menggeliat kemudian orgasme berulang dan kemaluannya begitu basah. Begitu juga Rajiv sudah tak terkonsentrasi melihat layar. Tangan Temi semakin berpengalaman memainkan tongkatnya. Tangan Temi mengambil cairan basahnya di kemaluannya untuk memperlincin tangannya sehingga dengan mudah tangannya maju mundur menggenggam tongkat Rajiv. Rajiv pun hanya bisa mendesah dan semakin gencar jarinya di kemaluan Temi, mulutnya tak henti - henti berganti - ganti antara mengulum bibir, menghisap puting penthil, dan menggigit - gigit kecil leher Temi. Rajiv tak tahan. Ia segera ingin menikmati kedalaman kemuluan Temi yang rasa di dalamnya terdapat berbagai aneka macam rasa yang semuanya enak dan nikmat. Ada rasa hangat, ada rasa dicengkeram - cengkeram, ada rasa yang menyentuh dan menyundul ujung penisnya dan rasa - rasa enak dan nikmat lainnya. Rajiv menelentangkan Temi tidak di sofa melainkan di lantai yang beralaskan babut sutera. Temi bersiap dengan membuka kedua pahanya. Rajiv menempatkan dirinya di antara paha Temi. Sekilas Rajiv menatap kemaluan Temi yang terbuka, memerah, dan basah akibat permainan jarinya. Rajiv menancapkan tongkatnya. Seperti biasanya Temi terbeliak matanya dan mendesah kuat saat tongkat Rajiv masuk. Tongkat yang sangat kaku, besar dan panjang. Tongkat milik seorang  muda keturunan India. Temi hanya bisa memejamkan mata dan mendesah menikmati itu. Dirasakan tak ada sisa ruang di kemaluannya. Semuanya terisi. Dan ditekan - tekan. Edan enak sekali ! Pikirnya. Inginnya rasa seperti ini tak pernah terhenti. Ingin terus.....ingin terus.....terus......jangan ada jeda. Sebaliknya Rajiv juga sangat menikmati kemaluan perempuan Indonesia yang kalau dimasuki langsung mencengkeram dan di dalamnya terdapat rasa - rasa yang sangat luar biasa. Kemaluan yang  bibirnya tidak begitu tebal, kemaluan yang kedalamannya dangkal sehingga sodokan tongkat bisa mentok, kemaluan yang kalau orgasme mengucurkan cairan hangat dan mampu meremas - remas tongkat. Ah...kemaluan  seorang perempuan  pembantu dari Indonesia. Kemaluan yang membuat dirinya ketagihan. Kemaluan yang tidak seperti kemaluan - kemaluan perempuan yang telah dirasakannya. Rajiv tak bisa sangat dipuaskan oleh kemaluan perempuan India, kemaluan perempuan Malaysia, perempuan Pilipina. Bahkan Rajiv pernah merasakan juga kemaluan seorang perempuan kulit putih. Kemaluan yang besar dengan kedalaman yang jauh, tongkatnya tak bisa mentok dan rasa didalamnya lemir dan tidak mencengkeram. Kemaluan Temi lah yang menjadi segalanya. Kemaluan perempuan Indonesia. Rajiv pernah membaca tentang anatomi kemaluan dari berbagai suku bangsa. Pada dasarnya sama. Tetapi mengapa punya Temi begitu enak ? Ah.....barangkali kebetulan saja ! Pikirnya. Rajiv terus dan terus memompa tongkatnya di kemaluan Temi. Gesekan kulit tongkatnya dengan bibir kemaluan Temi dirasakannya sangat nikmat. Belum lagi ujung penisnya yang selalu mendapat tumbukan sesuatu yang kenyal lembut dan hangat di dalam. Rajiv sangat menikmati persenggamannya dengan Temi. Temi yang terus kemaluannya disodok - sodok , digesek - gesek keluar masuk, dan seluruh bagian dalam kemaluannya seolah dijelajahi, tak juga habis pikir. Kemaluan suaminya, Sukirban, tak seenak kemaluan orang India ini. Besar, panjang, dan memenuhi seluruh ruang dalam kemaluannya. Tak ada yang tak enak dirasa diseluruh bagian dari kemaluannya. Dari mulai bibir kemaluan sampai pada yang berada di paling dalam, semua .... semua.....semuanya....enak dan nikmat. Kemaluan yang jika disemprot sperma bergetar - getar dan sangat mencengkeram. Temi hanya bisa berkelenjotan, melenguh dan berulang orgasme menerima serangan tongkat Rajiv. Seakan Temi ingin menjerit keras - keras saking nikmatnya ketika orgasme. Orgasme yang keempat, kelima dan seterusnya membuat badanya menggigil dan kakinya bergetar. Rajiv yang tahu lawan senggamanya begitu menikmati dan telah juga dipelajarinya dimana titik - titik kemaluan Temi yang jika diserang dengan tongkatnya mempercepat Temi orgasme, diserangnya terus. " Tuan .....aduh tuan......tuaaaaann.......aaaaaaghh.....!" Temi orgasme lagi. Tongkat Rajiv  sudah sangat meradang. Sudah tiga perempat jam lebih menggenjot kemaluan Temi. Ujung penis sudah begitu membengkak. Saluran kencingnya sudah sangat menggelembung penuh mani yang siap menyemprot. Rajiv semakin menggenjot sampai - sampai keringatnya tambah mengucur. Temi tahu kebiasaan Rajiv apabila sudah semakin kuat menggenjot tongkatnya dan semakin cepat - semakin cepat pasti tak lama kemudian menyemprotkan maninya dan mendekapnya kuat - kuat dan kedua kakinya bergerak tak karuan. Mulutnya memanggil histeris namanya. Temi tahu itu. Temi mempersiapkan diri menerima terjangan hebat. Disamping itu Temi juga mencoba memposisikan kemaluannya agar bagian yang sensitif terserang dan ia akan ikut orgasme pula. Dan...." Tem i i i i i i i i i i i i i .......!"  Rajiv sangat merasakan hebatnya rasa penisnya mengeluarkan dan menyemprotkan maninya berulang di dalam kemuluan Temi. Sedetik kemudian Temi yang merasakan kemaluanya terguyur dengan derasnya sperma yang dirasakan sangat hangat meleleh memenuhi rongga kemaluannya tak kuat menahan. " Tuuuuaaaaaaannnnn ....... !" Temi sudah tak kuasa menggelinjang. Tenaganya telah terkuras habis. Hanya kemaluannya saja yang bergetar dan mencengkeram kuat. Itu dirasakan Rajiv dan ....." aduuuuhhh.... Tem i i i i i i i i i i......!" Sisa - sisa mani Rajiv menyemprot lagi di dalam kemaluan Temi.
     Di layar teve tak lagi ada gambar. Hanya ada tulisan the end. Rajiv dan Temi terkapar. Sebentar kemudian setelah sejenak meredakan napas yang sejak tadi memburu, Temi bangkit dan seperti biasanya membersihkan, mengelap tongkat Rajiv dengan dasternya, kemudian mengelap kemaluannya yang sangat basah oleh mani Rajiv dan cairan kemaluannya sendiri. Seperti biasanya pula Rajiv yang dielap - elap tongkat berjingkat - jingkat karena rasa geli yang amat sangat masih terasa. Disaat itulah Temi memperoleh kesempatan untuk mengatakan kalau persenggamaannya selama ini dengan tuan Rajin telah membuahkan benih di rahimnya. " Tuan ....mohon maaf ...tuan.....saya.......saya.....saya hamil tuan ...", kata Temi lirih sambil tetap mengelap tongkat Rajiv yang masih tetap ereksi. Rajiv kaget. Matanya menatap dalam - dalam di kedalaman mata Temi seakan ingin meyakinkan apa yang baru saja diucapkan Temi. Sorot mata Rajiv yang diterjemahkan oleh Temi bertanya dan mencoba mencari jawaban lebih tegas lagi dijawab oleh Temi : " Ya.... tuan ....saya telah hamil dua bulan ...". Temi menjawab sorot mata Rajiv. Rajiv bangkit dari rebah dan kemudian memeluk tubuh telanjang Temi dan dengan lembut mencium bibir Temi lama sekali, sampai - sampai Temi gelagepan. Setelah itu Rajiv bangkit dan pergi ke kamar mandi. Temi tidak bisa menterjemahkan pelukan majikannya dan ciumannya yang begitu lembut dibibirnya. Apa arti pelukan dan ciuman itu ? Ciuman dan pelukan sayangkah itu ? Atau pelukan dan ciuman cinta ? Atau pelukan dan ciuman kasihan kah ? Atau ... Temi tak menemukan jawabnya. 
     Malam telah larut. Temi tak bisa memejamkan mata. Pikirannya masih terus ingin menterjemahkan arti pelukan dan cimuan majikannya tadi. Pintu kamar diketuk. Temi bergegas membuka. Rajiv di depan pintu dan kemudian menggandengnya ke sebuah ruangan. Temi diminta duduk oleh Rajiv. Rajiv membuka sebuah tas koper di atas meja. Temi melihat tumpukan uang yang bukan ringgit tetapi rupiah. Temi memperkirakan tumpukan rapi uang itu berjumlah puluhan juta rupiah. Bahkan mungkin bisa ratusan juta. " Temi..... lahirkan anak awak di Indonesia. Uang ini cukup untuk biaya. Jika anak awak itu sudah lahir, datanglah kemari kau dengan anak awak. Rumah besar ini punya kau dan anak awak. Pagi - pagi bangun kau besuk. Dua pengawal mengantar kau pulang ke Indonesia sampai di depan pintu rumah kau. Temi ......I love you .... ". Kata - kata terahkir majikannya itu membuat air mata Temi meleleh. Rajiv menarik tangan Temi. Temi berdiri dari duduk. Temi merasakan tubuhnya dipeluk, air matanya diusap dengan lembut  oleh tangan yang biasanya sangat nakal dan bibirnya dicium lama sekali.

                                                                  bersambung kebagian kelimabelas ........

Selasa, 07 Juni 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 
                                                                                                                                 edohaput 

Bagian ketigabelas

     Turiyah yang sudah terlentang di atas tikar pandan dengan kedua paha membuka menunggu Sukirban menempelkan tongkatnya di kemaluannya. Sukirban menggulung sarung dan celananya kemudian diletakkan di bawah pantat Turiyah. Pantat Turiyah menjadi terangkat ke atas. Dengan posisi jongkok Sukirban mengangkangi pinggul Turiyah. Karena pantat terganjal gulungan sarung maka kemaluan Turiyah jadi mengahadap ke atas. Dengan begitu maka mudah Sukirban menancapkan tongkatnya. Milik Sukirban telah menancap separo di kemaluan Turiyah. " Aduuuuuuh !.....kok enak sekali ya, kang !" .  Sukirban semakin mendorong miliknya masuk. " Aaaaaaaah, kang ! Enak banget !". Turiyah merasakan kehangatan tongkat Sukirban yang sangat kaku di dalam kemaluannya. " Jangan cepat - cepat keluar lho, kang. Main yang lama, ya !".  Sukirban tak menjawab, kedua tangannya di penthil Turinah dan meremas - remas. Tongkatnya merasakan kesempitan liang senggama milik Turiyah. Kemaluan perempuan yang belum lama diperawani orang. Dan dia adalah orang kedua yang memasukki kemaluan itu. Sukirban merasakan cengkeraman kemaluan Turiyah yang masih sangat kuat. Dia tak berani menggerakkan, memaju mundurkan tongkatnya dengan interval yang pendek. Takut kalau  ahkirnya menjadi tidak tahan karena keenakan. Ditarik kemudian dihujamkan lagi dan berhenti. Dinikmati kedalaman kemaluan Turiyah. Disana ada yang halus licin mengelus tongkatnya, ada yang tersundul oleh ujung penisnya dan bergetar - getar, di pangkal tongkatnya dirasakan bibir kemaluan Turinah menjepit - jepitnya. Perlahan ditarik lagi keluar dan dihujamkan lagi. Berhenti untuk dinikmati. " Enak banget, kang ! Jangan ditarik dulu . Aku tak menikmati thithit kang Kirban " . Turiyah merem melek menikmati milik Sukirban yang menyesak di dalam kemaluannya. Penthilnya yang juga terus menerus diremas Sukirban semakin membuat Turiyah kenikmatan. " Aduuuuuuh kang, pepekku geli banget. Tolong sodokkan semakin dalam kang. Tapi kang Kirban jangan gerak - gerak. Biar aku dulu yang enak. " Turiyah mengangkat pantatnya dan Sukirban menyodokkan tongkat. Tongkat Sukirban tak tersisa semua menancap. Turiyah merasakan ada bagian yang terdalam di kemaluannya tersundul, terdesak, dan ....." Kaaaaaangggggg ........ ! " Turiyah menjambak rambutnya sendiri.  Gigi atas dan gigi bawahnya beradu. Turiyah orgasme. Turiyah nikmat. Tongkat Sukirban merasakan adanya cairan hangat yang membasahinya. Kemaluan Turiyah menjadi sangat licin. " Kang Kirban masih kuat dak, kang ? Kalau dah dak kuat nahan ya ayo kang keluarkan. Tapi digenjot yang keras ya, kang. Biar aku juga enak lagi ". Kemaluan Turiyah yang basah dan licin membuat tongkat Sukirban tidak begitu tercengkeram. " Ayo ....kang genjot, kang. Aku dah geli lagi lho, kang !". Sukirban memompa pepek Turiyah yang licin. Semakin cepat....semakin cepat ...... Turiyah menggoyang - goyangkan pantatnya. Sukirban merasakan ujung penisnya bagai dicengkeram, dielus, dijilat, digosok - gosok dan dirasakan ujung penis sangat pegal seperti mau pecah. Sukirban dengan sangat cepat mengocok kemaluan Turiyah dengan tongkatnya. Tidak hanya pantat Sukirban yang bergerak. Tubuhnya pun sampai ikut terayun. Keringatnya mengucur membasahi dada dan punggungnya. Terus ....terus.....terus memompa dan ahkirnya dengan kekuatan yang dahsyat menancapkan tongkatnya di kemaluan Turiyah yang mencengkeram. " Turiyah.....Tuuuuuuuurrr.... aduuuuh.... Turiyaaaaaaaaah !!" Sukirban mendekap erat tubuh Turiyah. Sukirban menikmati keluarnya mani di kemaulan adik iparnya. Penisnya serasa pecah di kedalam kemaluan Turiyah. Kemaluan Turiyah yang digenjot sedemikian rupa juga tak tahan. Nikmat, geli, pegal, meradang dan Turiyah tak kuat menahannya juga . " Kaaaaaaaang ....! "  Sambil bekelenjotan dan kakinya menendang - nendang tak karuan. 
     Ganti cerita Temi kakak Turiyah yang berada nun jauh disana. Di negeri orang. Di Malaysia. Tubuhnya juga sedang dinikmati Rajiv majikannya yang sudah kesekian kalinya. Kali ini agak istimewa karena sudah setengah bulan Rajiv tak bersenggama karena sedang ditugaskan oleh ayahnya di Bangkok. Sudah menjadi kebiasaan Rajiv tiga hari tak bersenggama kepalanya puyeng. Di Bangkok Rajiv sangat disibukkan pekerjaan. Tak sempat mendatangkan wanita sebagai pemuas birahi. Maka sepulang dari Bangkok Rajiv langsung ke rumah besar. Tak lain tujuannya untuk melampiaskan birahinya dengan Temi.
     Malam itu Temi sangat menikmati keberingasan Rajiv, yang meminta tongkat  diemut sampai muncrat, minta Temi nungging dan rajiv menggenjot kemaluan Temi dari belakang sampai maninya tertumpah di kemaluan Temi. Dan masih minta lagi tongkatnya dielus - elus agar segera kaku lagi. Dan tak henti - hentinya kemaluan Temi menjadi sasaran tangan dan jari Rajiv yang terus mempermaikannya. Sampai - sampai Temi orgasme berluang. Belum lagi mulut Temi yang terus dikulum, penthil diremas, tubuh dipeluk - peluk sampai lungai. Semua dinikmati Temi dan selalu dipuncaki dengan orgasme. Rajiv yang memang sedang sangat bernafsu menjadi semakin garang tahu lawan senggamanya tak henti - hentinya orgasme. Kalau sedang begitu Temi tak lagi ingat tanah air. Tak lagi ingat dusunnya. Tak lagi ingat Sukirban suaminya dan Gadung anaknya yang ditinggalkannya. Yang ada di otak dan rasa seluruh jaringan saraf tubuhnya hanya rasa nikmat, enak, menyenangkan, apalagi apabila kenikmatan itu sedang berada di kemaluannya. Walaupun sudah dua kali spermanya muncrat, pertama di mulut Temi yang kedua di kemaluan Temi yang tadi nungging, tongkat rajiv kembali kaku setelah dimanja di tangan Temi. Tak luput juga birahi Rajiv kembali menggelegak juga disebabkan oleh lenguh dan desah Temi yang orgasme berkat jari Raijiv di kemaluan. Tongkat Rajiv kembali sangat kaku. Temi ditelentangkan. Pahanya dibuka. Rajiv melihat kemaluan Temi yang rambutnya telah basah kuyub oleh maninya oleh cairannya Temi juga. Melihat itu Rajiv tambah bernafsu. Ditancapkannya tongkatnya di kemaluan Temi dan digenjotnya kuat - kuat dan cepat. Tubuh Temi sampai bergoyang - goyang dan terdorong. Penthil dicengkeram Rajiv, mulutnya disumpal bibir dan lidah Rajiv. Temi hanya bisa mengklosot - klosotkan kedua kakinya dan membuat sprei ranjang awut - awutan. Tubuhnya menggigil kenikmatan. Mulutnya hanya bisa mendesah tertahan. Sementara itu Rajiv semakin keras menyodokkan tongkatnya di kedalaman kemaluan Temi. Temi orgasme burulang. Hampir tiap lima menit Temi orgasme. Kemaluannya banjir. Rajiv melepas ciuman dan melenguh hebat. Ujung tongkatnya serasa ada panas membara dan sangat meradang. Temi tahu kalau Rajiv akan sampai. Digoyangkannya pantatnya dan Rajiv semakin kuat menekankan tongkat kedalam kemaluan Temi dan menjerit keras " Tem i i i i i i i i i i i i i i i i i i !" 
Temi merasakan seakan ada air bah hangat memenuhi kemaluannya. Terasa kleler - kleler dan merangsang kemaluannya untuk kembali orgasme. Temi mendongak, matanya terbeliak, mulutnya menganga dan desahannya sangat keras " Aaaaaaaaaaggggghhhhh .....! Seiring dengan itu getar tubuhnya sangat terasa dipelukkan Rajiv. 
     Sejak pertama menikmati tubuh Temi Rajiv tak lagi suka membawa perempuan ke rumah besar. Temi menjadi satu - satunya pemuas birahinya. Temi beruntung. Selain limpahan ringgit dari majikannya ini yang bisa semakin besar saja kirimannya ke tanah air, juga beruntung karena bisa menikmati senggama yang luar biasa. Yang belum pernah diperoleh dari suaminya, Sukirban. Tidak hanya Rajiv yang selalu ketagihan. Temi pun sangat ingin terus diperlakukan begitu oleh majikannya. Persenggaman menjadi tak terkontrol. Siang hari sudah dilakuan, malam harinya dilakukan lagi. Bahkan ketika Rajiv libur kerja persenggamaan bisa dilakukan tiga kali sehari. Di kamar mandi. Di dapur. Bahkan satu ketika Temi yang sedang menggoreng daging langsung ditarik dan ditelanjangi dan disetubuhi oleh Rajiv sampai - sampai penggorengannya terbakar. Mungkin tubuh Temi dirasakan Rajiv lebih enak, lebih menggoda dan lebih membangkitkan kejantanan dari pada perempuan - perempuan yang sudah banyak disetubuhinya. Persenggaman menjadi sangat sering dilakukan. Dan sebagai akibat di persetubuhan yang selalu dahyat dan tidak  terkontrol itu Temi  h a m i l. 
     Temi cemas dengan kehamilannya. Dia tak berani mengungkapkannya kepada majikannya itu. Setiap dihadapan Rajiv dan berniat mau menyampaikan kehamilannya, mulut Temi terasa tekunci. Sebaliknya Rajiv yang masih muda dan belum pernah menikah tak tahu Temi hamil. Yang diketahui dan dirasakan  malahan kemaluan Temi semakin enak saja rasanya ketika disenggamai. Mungkin ada perubahan biologis di kemaluan Temi yang hamil dan yang mengarah kepada semakin enak disenggamai. Perubahan di perut belum kentara karena kehamilan Temi baru burumur dua bulan. Sejak Temi hamil Rajiv seperti kesetanan. Frekuensi menyetubuhi Temi menjadi semakin sering. Barangkali perubahan secara biologis di kemaluan Temi itulah yang membuat Rajiv semakin ingin terus menikmatinya.
     Temi bingung, antara cemas akan kehamilannya, bangga disukai Tuan Mudanya, kenikmatannya ketika dipelukan majikannya, ringgit - ringgit yang terus menumpuk di dompet dan tasnya, dan apa yang akan diperbuat seterusnya. Bagaimana nanti kalau Sukirban suaminya tahu ia telah dihamili orang. Apa yang akan dikatakan pada suaminya. Akankah ia pulang ke tanah air, pulang ke dusun meninggalkan limpahan ringgit - ringgit yang terus mengalir dan kenikmatan yang tak terperi ? Tetapi apa yang akan terjadi jika ia diketahui hamil oleh Tuan Besarnya ? Dipecatkah ? Apakah tuan Rajiv mau bertanggung jawab ? Temi tidak menemukan jawabannya. 

                                               bersambung kebagian keempatbelas ..........