Rabu, 05 Oktober 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                                edohaput 

Bagian  Keduapuluhenam

     Sejak peristiwa di rumah Slamet itu, kejadian - kejadian berikutnya terus berulang. Pak Lurah yang  ingin terus dapat menikmati tubuh Partini mendapat sambutan dari partini yang juga terus ketagihan. Ruang tengah rumah Slamet juga terus - menerus menjadi ajang pertempuran antara Pak Lurah dan Partini. Persenggaman keduanya penuh sensasi. Penuh kenikmatan. Dan berahkir dengan kepuasan. Partini sengaja menyerahkan tubuhnya untuk terus sebagai pemuas nafsu pak Lurah. Bale - bale bambu yang terus berderak ketika di atasnya pak Lurah sedang mencumbu Partini menjadi saksi bisu keganasan pak Lurah dalam bersenggama. Persenggamaan yang selalu berlangsung hebat itu  tidak ada orang yang tahu kecuali Slamet, karena dilakukan malam hari dan dengan sembunyi - sembunyi. Mbok Sargini maknya Partini tidak ambil pusing terhadap apa yang dilakukan anaknya. Yang ada di pikiran mbok Sargini hanya uang dan perhiasan yang semakin menumpuk di tangannya. Partini tak suka perhiasan. Partini tak suka uang. Buat apa uang ada di tangannya. Yang ada di pikiran Partini hanya ingin menguasai pak Lurah. Partini telah berketatapan kalau pun harus menjadi isteri ke empat pak Lurah Partini bersedia. Partini sangat mendendam atas perbuatan pak Lurah yang telah menipunya. Partini ingin pak Lurah merasakan akibatnya atas perbuatannya yang menipu dirinya. Partini ingin pak Lurahnya menderita. Partini ingin pak Lurah memperoleh malu. Partini ingin pak Lurahnya tercemar. Maka Pertini ingin hamil. Dan Partini akan membuka aib kalau anak yang dikandungnya adalah anak pak Lurah. Ketegaan dan kekejian pak Lurah terhadap dirinya akan dibalasnya. Pak Lurahnya telah merusak masa depannya. Pak Lurahnya telah merusak yang sebenarnya dicita - citakan Partini untuk dipersembahkan kepada Darman.
     Partini yang murah senyum kini telah berubah menjadi Partini yang mudah marah. Partini yang ramah kini telah berubah menjadi Partini yang  judes. Partini yang selalu ceria berganti menjadi Partini yang selalu berwajah murung. Partini yang mudah bergaul menjadi Partini yang tertutup. Ketertutupan Partini ini juga berlaku bagi Darman. Dulu sebelum ini terjadi apapun yang dilakukannya diberitahukannya kepada Darman. Sekecil apapun peristiwa menimpa dirinya Darman-lah yang pertama - tama diberitahu. Tetapi kini semua rahasia antara dirinya dengan pak Lurah dirahasiakannya terhadap Darman. Partini tidak ingin Darman tahu. Partini sangat paham betapa sedihnya Darman jika tahu peristiwa - peristiwa yang dialaminya dengan pak Lurah.
     Satu hari ketika Darman menemuinya di rumah, Partini sedang muntah - muntah. Perutnya mual. Dan bulan  yang lalu Partini sudah tidak lagi datang bulan. Partini hamil. " Masuk angin ya, Par ?" Tanya Darman sambil memegangi tengkuk Partini dan dipijit - pijit. Dengan kasar Partini menepiskan tangan Darman yang memijit - mijit tengkuknya. Darman kaget sekali. Belum pernah selama hidupnya mendapat perlakuan kasar seperti itu dari Partini. " Sudah, kang. Sana pergi tak usah ngurusi aku ! Ini urusanku. Masuk angin yang urusanku. Tidak masuk angin ya urusanku. Kang Darman pergi saja sana !" Dengan judesnya Partini mengusir Darman. " Par .... tak keroki ya, kalau masuk angin, yo ...... " Kata Darman lembut dan menampakkan rasa sayangnya. " Dak usah ! Kang Darman pergi saja ! Aku dah tak suka sama kang Darman. Pergi sana, kang !" Berkata begitu Partini sambil melototi Darman dan Pertini mencoba menampakkan wajah kebencian kepada Darman. Partini mencoba merubah penampilannya yang selalu manja dan jujur di depan Darman. Partini mencoba menampil wajah marahnya. Walaupun di dalam hatinya ingin berteriak minta tolong kepada Darman. Ingin ia memeluk tubuh Darman dan menangis di dada Darman. Mengungkapkan kesedihannya. Dengan mencoba meyikapi Darman dengan sikap yang judes, marah, seolah - olah sangat benci, Partini berharap Darman tidak lagi menyukainya. Kemudian menjauhinya. Partini ingin Darman melupakannya. Partini ingin Darman sakit hati atas sikapnya kemudian menjauhinya. Tak lagi sangat memperhatikannya. Partini tidak ingin Darman tahu apa yang sedang dialaminya. Partini tidak ingin Darman sangat kecewa atas dirinya. Partini tidak ingin Darman yang sangat menyayanginya menjadi sedih dan sangat menyesalkan apa yang terjadi pada dirinya. " Kamu itu kenapa ta, Par . Tiba - tiba kok jadi seperti ini ? Ada apa, Par ...?" Tanya Darman dengan lembut dan dengan tatapan mata yang penuh keheranan. " Sudah kang, kang Darman pergi saja ! Saya bilang kang Darman pergi ! Pergi dari rumahku, kang.....pergi ...!" Bentak Partini dengan nada yang sungguh kasar. Darman pergi dengan perasaan bingung. Tetapi ketika hendak meninggalkan Partini Darman mencoba menemukan apa yang sedang dirasakan Partini di kedalam mata Partini. Darman yang memang sejak kecil mengerti tabiat Partini,  tidak bisa ditipu. Ternyata Partini tidak mampu menyembunyikan perasaan cintanya, kasihnya, dan sayangnya kepada Darman. Mulutnya bisa membentak. Sikapnya bisa kasar. Tetapi sorot mata yang selalu jujur  tak bisa menipu Darman. Darman tahu Partini sedang dirundung kemalangan.
     Matahari belum seluruhnya tenggelam di balik gunung. Langit agak mendung. Slamet datang menemui Partini yang sudah kesekian kalinya. Kedatangan Slamet tak lain dan tak bukan untuk meminta Partini datang ke rumahnya, karena sudah ditunggu pak Lurah yang sudah siap untuk bersenggama. Pak Lurah yang sudah menelan viagra. Pak Lurah yang sudah mempersiapkan diri dengan stamina prima untuk bersenggama. Untuk memuaskan diri dengan tubuh muda penuh kenikmatan. Kali ini Partini menolak. Sudah sejak beberapa hari  belakangan, Partini telah menyiapkan surat untuk pak Lurah. Surat itu berisi pemberitahuannya bahwa dirinya hamil dan minta pak Lurah bertanggungjawab atas perbuatannya. " Maaf, kang Slamet. Saya malam ini tak bisa memenuhi panggilan den Lurah. Capai dan pusing sekali, kang. Tolong surat ini saja sampaikan ke den Lurah " Kata Partini bohong. Petang itu Partini tidak capai dan tidak pusing. Tetapi Partini ingin pak Lurahnya membaca suratnya. Karena ia tak akan mampu mengucapkannya di hadapan pak Lurahnya. Darman pergi dan bocengan sepeda onthelnya  kosong tanpa Partini duduk disana.
     Pak Lurah sangat kecewa Slamet pulang tanpa Partini. Hanya amplop yang dibawa Slamet. " Apa ini, Met ?" Tanya pak Lurah ketika menerima amplop surat dari Partini. " Surat dari Partini, den " Jawab Slamet . " Partini capek dan pusing, den. Jadi tidak bisa memenuhi panggilan den Lurah malam ini " Lanjut Slamet. " Aduh, Met. Aku sudah terlanjur menelan viagra. Gimana ini, Met. Anuku sudah terlanjur  hidup. Aduh, Met. Gimana ini ?" Pak Lurah kebingungan. Viagra telah membuat tongkat pak Lurah ereksi hebat. Sangat kaku. Mengembang sangat besar. Kalau tidak segera digunakan rasanya pegal sakit. Mau pulang dan ditancapkan di isterinya ? Tidak mungkin. Isteri pertama sedang meriang. Isteri kedua baru saja melahirkan anak pertama. Isteri ketiga sedang menstruasi. Pak Lurah bingung. " Aduh gimana, Met ? " Tanya pak Lurah. Yang ditanya tidak bisa memberi solusi. Mau meminta pak Lurah pulang agar menggunakan tongkat untuk isteri Slamet tidak berani. Itu berarti mengusir pak Lurahnya. Mau usul untuk pergi ke kota mencari pe es ka tidak mungkin karena pak Lurah tidak membawa mobil. Mau menyarankan agar pak Lurah onani saja tidak mungkin berani. Slamet tak bisa apa - apa. Slamet terdiam di hadapan pak Lurah dan hanya menunduk tak berani memandang wajah pak Lurahnya.   Tidak memperoleh jawaban dari Slamet, pak Lurah Gelisah " Aduh, Met. mani ini kalau tidak jadi keluar aku pusing banget, Met !" Kata pak Lurah sambil meraba tongkatnya yang sudah sangat kaku di dalam celananya. " Kambingmu, Met ! Bawa Kemari !" Perintah pak Lurah. Slamet tanggap. Ia segera berdiri dari duduk dan segera ke kandang kambing.
     Di luar rumah hujan mulai turun. Setengah berlari Slamet menuntun kambing di bawa masuk ke rumah. Slamet memilih kambing betina yang paling besar. Kambing ini pun pernah juga dipakai oleh Slamet untuk melampiaskan birahinya. Kaming oleh Slamet langsung dibawa ke ruang tengah. Pak Lurah sudah siap. Celananya sudah dilepas. Dan tongkatnya sudah mencuat. Sempat Slamet sedetik menatap tongkat pak Lurahnya yang memang sudah sangat kaku. Pantas pak Lurahnya tak tahan. Slamet segera menalikan kambing di kaki ranjang. Setelah itu Slamet meninggalkan pak Lurah di ruang tengah bersama kambing betinanya yang paling besar, gemuk, dan muda. Pak Lurah mendekati kambing dan dengan tangannya yang besar dan kuat segera mencengkeram pantat kambing dan mengangkatnya. Sehingga kambing hanya bertumpu pada kedua kaki depannya. Dengan demikian kambing tidak bisa bergerak dan meronta. Pak Lurah mengarahkan tongkatnya ke pepek kambing. Ujung tongkatnya menyentuh bibir pepek kambing. Sebentar pak Lurah menggosok - gosokkan ujung tongkat ke pepek kambing. Kemudian pak Lurah mulai memajukan pantatnya dan memundurkan pantat kambing. Terdengar suara ...precet ...precet ...precet ...yang berasal dari pepek kambing. Tongkat pak Lurah mulai masuk di pepek kambing. Dan sebentar kemudian suluruh tongkat pak Lurah tertelan pepek kambing. Pak lurah merasakan tongkat sangat hangat. Kedalaman pepek kambing lebih hangat dari pepek perempuan. Dan di kedalaman pepek kambing tidak ada yang menggerenjal seperti pepek perempuan. Hanya ada rasa halus, hangat dan menjepit tongkat. Tetapi jepitannya juga membuat tongkat terasa nikmat. Di kedalam pepek kambing tak ada yang meradang seperti kemaluan perempuan. Tak ada yang kasar - kasar menggelikan ujung tongkat. Tetapi kehangatannya yang melebih kedalaman kemaluan perempuan membuat tongkat yang memasukinya merasakan enak luar biasa. Pak Lurah mulai memompa. Bibir pepek kambing-lah yang sangat enak dirasakan oleh Pak Lurah. Bibir pepek kambing dirasakan pak Lurah begitu menjepit. Kambing mengembik ketika pak Lurah mulai dengan kuat memompa. Sebentar kemudian kambing tak lagi mengembik hanya saja kaki belakangnya yang terangkat bergerak - gerak menendang - nendang. Mungkin kambing merasakan pepeknya enak juga. Barangkali karena seringnya kambing ini disetubuhi Slamet, sehingga pepeknya sudah terbiasa dengan tongkat manusia. Dibenak pak Lurah yang terbayang adalah pepek Partini. Pak Lurah terus memompa. Semakin cepat dan semakin cepat. Pak Lurah tidak ingin berlama - lama dengan pepek kambing.  Pak Lurah ingin maninya segera tertumpah, dan pegal - pegal di tongkatnya segera hilang. Hangatnya di kedalaman pepek kambing dan jepitan bibir pepek kambing yang dirasakan sangat nikmat mempercepat tongkat pak Lurah siap menyemburkan mani. Beberapa saat kemudian setelah kurang lebih sepuluh menit tongkatnya menggarap pepek kambing, kaki pak Lurah mengejang menahan rasa geli nikmat di tongkatnya yang sudah memuncak. Dimundurkannya pantat kambing dan dimajukannya kuat - kuat pantatnya sendiri sehingga tongkatnya menancap sangat dalam di pepek kambing. Disaat itulah pak Lurah menjerit kenikmatan. Maninya menyembur di kedalaman pepek kambing. " Partin i i i i i i i i ..... aduh .... N i i i i i i i i i i i i i ..... !" Tubuh pak Lurah bergetar dan mengejang nikmat. Setelah beberapa saat pak Lurah melepaskan cengkeramannya di pantat kambing. Terdengar suara ....precet ....ceplok .... tongkat pak Lurah lepas dari pepek kambing. Dan di pepek kambing mani pak Lurah keluar dan meleleh - leleh membasahi pepek.
     Slamet menyajikan teh panas di ruang depan. Pak Lurah membuka surat Partini. Pak Lurah sangat terkejut. Karena kehamilan Partini sangat tidak diharapkan. Apalagi ternyata Partini juga menuntut tanggungjawabnya. Pak Lurah gundah. Pak Lurah gelisah. Dan pak Lurah cemas.

                                                       bersambung kebagian keduapuluhtujuh ........


  
     

Minggu, 02 Oktober 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                                 edohaput 

Bagian keduapuluhlima

     Partini tersadar. Partini menemukan dirinya telanjang bulat. Tubuhnya hanya tertutup selembar selimut. Partini melihat sekeliling. Yang ditemukan hanya pak Lurah yang sedang tersenyum sambil merokok duduk di kursi dekat dengan ranjang dimana dia terlentang di bawah selimut. Partini mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Dirawat dan didandani di Salon. Makan nasi goreng di restoran. Lalu kembali naik mobil bersama pak Lurah dan Slamet. Lalu ke hotel. Partini hanya bisa mengingat sampai disitu. 
     Setelah beberapa saat pak Lurah membiarkan Partini bingung, pak Lurah mendekati Partini dan duduk di tepi ranjang. " Ni .... " Sapa pak Lurah lembut. Partini menatap mata pak Lurah mencoba mencari sesuatu disana. Partini ingin bertanya mengapa dirinya berada di ranjang dan telanjang. Mengapa dirinya merasa sangat capai. Mengapa ada rasa tidak seperti biasanya di kemaluannya. Mengapa ada rasa kesemutan di payudaranya. Tetapi mulutnya kelu. Dan perasaannya menjadi aneh. Pak lurah melanjutkan kalimatnya setelah Partini memalingkan wajahnya. " Coba kau raba lehermu, Ni !" Berkata lembut begitu pak Lurah sambil tersenyum. Partini meraba lehernya dan disana melingkar sebuah kalung. " Sekarang di pergelangan tanganmu, Ni ! " Kata pak Lurah lagi. Dan Partini merasa di kedua pergelangan tangannya ada gelang - gelang yang terpasang. Terasa gelang - gelang itu berat di tangannya. " Dan di jarimu, Ni !" Kembali pak Lurah berkata. Partini tersadar di kedua jari manisnya terpasang juga cicin. Kalung, gelang, dan cincin belum dilihat Partini. Karena semuanya masih di bawah selimut. Pak Lurah telah memakaikannya perhiasan itu sebelum Partini sempat tersadar." Bangun, Ni. Mandilah di kamar mandi itu " Kata pak Lurah sambil menunjuk pintu kamar mandi. Berkata begitu pak Lurah kemudian berdiri dan meninggalkan Partini sendirian di kamar.
     Slamet mengetuk pintu kamar dan langsung masuk. Slamet mendapati Partini telah rapi berpakaian. Slamet memperhatikan tubuh Partini. " Wah kalungnya besar banget, Ni. Waduh gelang - gelangnya juga besar. Walah cicinnya itu bagus banget, Ni !" Celoteh Slamet. Slamet sangat tahu perhiasan- perhiasan yang dikenakan Partini itu. Karena di toko emas dia-lah yang memilihkan. Dan pak Lurah telah mengeluarkan jutaan rupiah untuk itu. " Dan ini tas barumu, Ni. Tadi aku yang memilihkan di toko. Mudah - mudahan kau senang " Slamet mengulurkan tas ke tangan Partini. " Bukalah tas itu, Ni !" Partini membuka tas yang baru saja diberikan oleh Slamet. Partini melihat di dalam tas yang dipegangnya lembaran - lembaran uang ratusan ribu yang tak terhitung oleh mata. " Sudah ayo pulang !" Slamet menggandeng Partini keluar kamar.
     Seminggu setelah peristiwa di hotel itu, Slamet menemui Partini. " Ni, den Lurah ingin ketemu kamu. Nanti malam jam tujuh kamu kujemput. Den Lurah menunggu di rumahku " Kata Slamet yang tidak dijawab Partini. Partini hanya menatap mata Slamet. Dan tatapan Partini ini diterjemahkan oleh Slamet sebagai tatapan atas kebencian pada dirinya. Slamet merinding juga ditatap demikian. Tatapan yang mengandung arti menyalahkan. Tatapan yang dirasakan Slamet sebagai tatapan menyesalkan mengapa dirinya tega menjerumuskan Partini. Slamet menjadi kikuk. " Gimana, Ni ?" Tanya Slamet dengan suara parau karena perasaan yang tidak enak. Partini tidak menjawab hanya mengangguk sedikit sementara matanya tetap menatap Slamet dan menjadikan Slamet tak betah berlama - lama di hadapan Partini. " Ya gitu, Ni " Setelah bertakata begitu Slamet segera meninggalkan Partini dan mengayuh sepeda onthelnya kuat - kuat agar larinya kencang. Slamet ketakutan terhadap tatapan Partini.
      Partini menyesali dirinya. Ia telah tertipu. Lomba ratu luwes yang dijanjikan pak Lurah hanya bohong. Itu hanya akal bulus pak Lurah agar bisa membawanya ke kota dan memerawaninya di hotel. Rasa menyesal Partini membuatnya menjadi nekat. Ia tahu undangan pak Lurah di rumah Slamet tiada lain pasti hanya ingin menyetubuhinya. Partini akan nekat layani pak Lurah. Semua sudah kepanlang tanggung. Perawannya telah diambilnya. Dan kini pak Lurahnya itu akan mengulangi menyenggamainya. Partini siap. Partini nekat. Partini tak lagi memikirkan kemaluannya yang sebenarnya keperawanannya akan dipersembahkan untuk Darman yang dicintainya. Kini kemaluannya akan terus diberikan untuk kepuasan pak Lurahnya. Partini sudah tidak perduli lagi kepada Darman. Partini sudah tidak akan peduli lagi akan kehidupannya.
     Pak Lurah yang sejak sore sudah menunggu di rumah Slamet melihat Partini datang bersama Slamet, segera menjemputnya di depan Pintu. Pak Lurah sangat senang Partini mau datang. Berarti Partini tidak mempersoalkan kejadian di hotel itu. Dan Partini pasti tidak menyesalinya karena perhiasan dan uang yang telah diberikannya. Dan yang lebih penting Partini pasti akan mau disetubuhinya lagi. Pak Lurah segera menggandeng Partini dan dibawa  ke ruang tengah yang disana oleh Slamet telah dipersiapkan kasur dan sprei bersih. Pak Lurah menawarkan minum. Partini menyambutnya. Pak Lurah dan Partini duduk di ranjang sambil minum. " Kau cantik, Partini. Kau nati pasti menang di lomba ratu luwes " Pak Lurah membuka percakapan di sela - sela minum. " Saya sudah tidak tertarik lagi kok den, dengan lomba ratu luwes " Jawab Partini yang mengagetkan pak Lurah. " Lho nanti kalau menang hadiahnya besar lho, Ni " Kata pak Lurah lagi. " Lomba ratu luwes itu sebenarnya tidak ada kan, den ? " Tanya Partini yang semakin mengagetkan pak Lurah. Mengapa Partini tahu kalau ratu luwes itu hanya akal - akalannya. " Den Lurah sudah dapat perawan saya sekarang apalagi, den " Kata Partini yang didengarkan pak Lurah bagai bunyi petir yang menggelegar. " Den lurah jujur saja kalau den Lurah hanya ingin tubuhku kan, den ?" lanjutan kalimat Partini ini juga mengguntur di telinga pak Lurah. Pak Lurah terdiam sebentar menunduk dan kemudian menatap mata Partini. Yang ditatap membalas menatap. Slamet yang menyaksikan kejadian ini bingung. Mengapa Partini tiba - tiba berani. Mengapa Partini yang bodo itu tiba - tiba bisa mengucapkan kata - kata yang bisa menyudutkan pak Lurahnya. Dan Slamet melihat Partini berani sedemikianrupa menatap pak Lurahnya. Dan tatapannya penuh dengan arti sikap menantangnya. Mengapa Partini tiba - tiba bisa berubah jadi begini. Pak Lurah kemudian tersenyum, dan memegang tangan Partini. " Maafkan aku Partini. Aku mencintaimu. Aku menyukaimu. Dan apa yang akan kamu minta aku akan penuhi Partini " Kata Pak Lurah dan mencoba menarik tubuh Partini untuk dipeluk. Partini menurut. Partini kemudian dipeluk pak Lurah. " Apa yang kamu minta Partini ? Pasti aku penuhi " Bisik pak Lurah di telinga Partini. Partini tidak menjawab. Ia hanya mendongakkan wajah dan mulutnya menganga menantang untuk dikulum. Melihat wajah Partini yang cantik dengan mulut menganga pak Lurah tak tahan. Pak Lurah  yang tadi sempat kaget atas kata - katanya Partini, kembali menganggap Partini gadis cantik yang bodo, yang miskin, yang bisa dipermainkannya dengan sesuka hatinya. Melihat mulut Partini yang menganga  nafsu birahi pak Lurah tiba - tiba menggelora. Segera diciumnya bibir Partini. Lama sekali pak Lurah mengulum bibir Partini. Dan Partini yang sudah nekat membalas permainan lidah pak Lurah. Partini secara ngawur juga menjulurkan lidahnya. Apakah yang dilakukannya itu benar sebagai balasan ciuman atau tidak Partini tak peduli. Yang jelas pak Lurahnya telah menjulurkan lidahnya dan membuatnya mulutnya geli, maka dibalasnya mulut pak Lurah dijuluri lidahnya. Pak Lurah kaget Partini membalas ciumannya. kekagetannya hanya berlasung sedetik karena setalh itu justru pak Lurah sangat menikmati juluran lidah Partini di mulutnya. Pak Lurah merebahkan Partini sambil terus mencium. Tangan pak Lurah sudah meremas payudara Partini. berganti - ganti penthil Partini memperoleh remasan dahsyat dari tangan pak Lurah. Partini yang sengaja tidak berbeha menyebabkan tangan pak Lurah sangat leluasa di penthil Partini. Tangan pak Lurah meluncur ke bawah mengarah ke selangkangan Partini. Bukan main kagetnya pak Lurah. Di selangkangan Partini pak Lurah menemukan kemaluan Partini tidak ditutup celana dalam. Kekagetan pak Lurah ini juga hanya berlangsung sedetik. Malah pikiran pak Lurah menjadi sangat senang. Berarti Partini memang sudah mempersiapkan diri untuk disenggamainya. Tanpa ampun kemaluan Partini segera menjadi permainan jari pak Lurah. Pertini merasakan kemaluannya geli luar biasa. Partini menggelinjang. Partini menikmati jari pak Lurah. Rok Partini telah lepas. Partini telanjang di pelukan pak Lurah. Pak Lurah melepaskan pelukannya, dan bergegas melepaskan bajunya, celana panjangnya dan kemudian celana dalamnya. Partini terlentang dengan kaki kangkang siap ditiduri. Tongkat pak Lurah mencuat. Bergegas pak Lurah segera melebarkan kangkangan kaki Partini. Ditubruknya Partini dan dalam sekejab tongkatnya telah menancap jauh ke kedalaman kemaluan Partini. Partini hanya bisa mendesah. " Aaaaaauuugghhhhh..... den..... !" Partini merasakan kemaluannya tertusuk benada besar, hangat, dan sangat membuat nikmat. Partini jadi lupa akan kejahatan pak Lurah. Yang dirasakan hanya enak. Eanak sekali di kemaluannya. Mendengar desahan Partini pak Lurah menjadi semakin kesetanan. Tanpa ampun kemaluan Partini segera dikocok dengan tongkatnya. Pompaannya tak berima. Pompaannya di kemaluan Partini sangat keras dan cepat. Partini menggeliat - geliat. Dadanya diangkat - angkat. Dan mulutnya terus mendesah. ".....Aaaaauuughh... den....aaaaahhhhh.... !" Partini tak dapat membendung rasa di kemaluannya. Partini melepaskannya. Partini orgasme. Partini mengangkat - angkat kakinya dan dilingkarkan dipinggul pak Lurah. Dengan sigap pak Lurah menelungkupkan tubuh Partini. Partini yang tengkurap diangkat pantatnya oleh pak Lurah. Kemaluan Partini menjadi terbuka dan tanpa ampun kembali tongkat pak Lurah menancap di kemaluan Partini dan dengan keras pula dipompakan. Tubuh Partini bergoyang - goyang maju mundur dan membuat sprei semakin awut - awutan. Kedua paha Partini dicngkam pak Lurah dan terus tubuh Partini ditarik dan didorong, sehingga tongkat pak Lurah keluar masuk di kemaluan Partini. Yang diperlakukan begitu hanya bisa mengaduh dan menjerit tertahan kenikmatan. Partini kembali orgasme. Kemaluannya sangat basah, sehingga suara kecipak - kecipak kemaluan Partini bisa didengar Slamet yang berada di dapur yang juga sedang malakukan onani sambil mengintip. Puas dengan posisi menembak kemaluan dari belakang, pak Lurah kembali menelentangkan tubuh Partini. Sebelum kembali menancapkan tongkatnya pak Lurah sempat mengelap kemaluan Partini dengan sprei yang sudah sangat tidak beraturan. Yang dilap kemaluannya hanya bisa meringis - meringis geli. Tongkat kembali menancap. Karena lendir di kemaluan Partini hilang karena dilap, kemaluan Partini menjadi seret lagi. Pak Lurah merasakan sempitnya kemaluan Partini. Kemaluan yang sangat terasa menjepit. Kemaluan yang masih penuh berbagai rasa di kedalamannya. Pak Lurah merapatkan paha Partini. Dengan posisi berjongkok kemudian pak Lurah kembali memompa kemaluan Partini dengan keras. Partini yang disenggamai dengan posisi ini menjadi semakin kelabakan karena kemaluan menjadi semakin menjepit tongkat pak Lurah yang besar, keras dan sangat kaku karena viagra. Partini tak tahan. Kemaluannya merasakan enak yang luar biasa. Geli yang amat sangat. Semua sisi kemaluannya, mulai dari bibir kemaluannya sampai dengan kedalaman kemaluannya semua tersentuh dan tergosok tongkat pak Lurah. Dirasakannya di dalam kemaluannya sangat  meradang bagai mau pecah dan : " Deeeeeeeennnnnn ...... aaauugggghhhhh.. ..aaahhhhh..... !" Partini menggelinjang hebat. Partini lagi - lagi sampai ke puncak. Tubuh Partini kemudian lunglai. Pak Lurah tak peduli, tak  berhenti memompa. Pak Lurah juga ingin mencari nikmat yang semakin mulai memuncak di penisnya. Maninya telah menumpuk semakin menggelembungkan tongkatnya. Pak Lurah mengganti posisi. Tak lagi berjongkok tetapi tengkurap bertumpu pada kedua tangannya yang ada di samping kirin kanan tubuh Partini. Dan kakinya selunjur ke belakang. Dengan demikian pak Lurah menjadi bisa semakin keras menyodokkan tongkat di kemaluan Partini yang telah berulang orgasme dan basah, licin, tetapi menambah nikmatnya tongkat pak Lurah. Napas pak Lurah semakin memburu. Keringat semakin mengucur. Dan wajahnya semakin memerah menahan rasa nikmat. Nikmat menyenggamai kemaluan gadis belia. Kemaluan yang masih begitu rapat. " Partini ....." Pak Lurah menatap wajah Partini yang terus menggeleng ke kiri ke kanan karena menahan rasa kemaluannya yang enak tak terperikan. Sekilas Partini menatap wajah lelaki yang penuh nafsu yang sedang menyenggamai kemaluannya. Yang sedang menyodok - nyodokan tongkat di kemaluannya. " Ayo ....Ni.... sekali lagi .... Ni ....sama ....sama...Ni !" Berkata begitu pak Lurah semakin mempercepat sodokannya. Dan dengan sigap pak Lurah mengangkangkan kaki Partini dan memposisikan pinggulnya di antara paha Partini dan menancapkan habis tongkatnya di kemaluan Partini. Tangannya memeluk tubuh Partini sangat erat. " Ni....sekarang....sekarang ..Ni.....Partini ........N i i i i i i i i i i .....!" Pak Lurah semakin menancapkan tongkatnya yang sebenarnya sudah habis tertelan kemaluan Partini. Pak Lurah seakan ingin seluruh tubuhnya masuk di dalam kemaluan Partini dan merasakan kenikmatannya. Di saat yang bersamaan Partini merasakan kemaluannya bagai tidak muat lagi menelan tongkat pak Lurah yang berkedut - kedut dan rasa hangat serta keleler - keleler mani pak Lurah yang tertumpah di kemaluannya, membuat kemaluan Partini merasakan sensasi yang luar biasa. Geli yang tak tertahankan. Dan di saat itulah kedua tubuh yang sedang bertumpuk itu saling berkelonjotan dan menimbulkan derik keras ranjang bambu tempat mereka berada di puncak senggama. Bersamaan dengan itu pula Slamet menjerit nikmat. Kemaluannya yang ada di dalam buah ketimun memuntahkan maninya. Buah mentimun pecah karena sodokan tongkat Slamet yang menggelembung hebat.

                                                bersambung kebagian keduapuluh enam .......


Rabu, 21 September 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput
Anggungan Perkutut

                                                                                                                             edohaput 

Bagian keduapuluhempat

     Hari masih pagi. Jam belum menunjukkan pukul delapan. Partini mengenakan rok yang paling baik yang dimilkinya. Rok itu tak lebih baik dari rok - rok yang paling jelek dan paling kumal yang dikenakan gadis kota. partini berdiri di pinggir jalan tepat di perempatan jalan desa. Tak lama kemudian muncul dari arah barat mobil pak Lurah. Model sedan warna hitam. Mobil berhenti dan Slamet keluar dari mobil dari pintu depan. Slamet membimbing Partini masuk mobil di jok depan yang tadi didudukinya. Slamet pindah di jok belakang. Mobil berjalan lagi menuju kota. 
     Di dalam mobil pak Lurah melirik Partini yang duduk kaku di samping. Roknya yang kependekan menyebabkan paha Partini terbukan. Pak Lurah menelan ludah. " Duduk yang santai saja, Ni. Punggungnya disandarkan " Kata pak Lurah sambil memngganti gigi presneling agar mobil tambah laju. Partini menuruti kata - kata pak Lurah dan kini posisi duduknya Partini santai. Punggungnya disandarkan di sandaran jok. Paha Partini jadi semakin terbuka hampir sampai ke pangkal paha  karena roknya yang memang kependekan itu jadi tertarik kebelakang lantaran ia duduk sandaran. Pak lurah menjadi mengemudi kurang konsentrasi karena matanya ingin melihat paha Partini. Paha seorang anak dari hasil hubungan antara mbok Sargini dengan babah Ong. Paha yang putih berbulu halus. " Sudah sarapan, Ni ?" Tanya pak Lurah sambil melirik paha Partini. " Sudah den " Jawab Partini sambil terus mengamati jalanan di depan mobil, dan sekali - sekali melihat pinggiran jalan yang dipenuhi rumah - rumah bagus. Mobil telah memasuki jalan beraspal dan melaju mulus tidak seperti sebelumnya yang melewati jalan desa tak beraspal. Payudara Partini yang tak berbeha lantaran tak ada beha yang baik tak lagi terguncang - guncang seperti sebelumnya ketika mobil menapaki jalan desa. Mobil melaju tambah kecang. Partini sedekap memeluk payudaranya sendiri. " Dingin ya, Ni ? " Tanya pak Lurah sambil melihat payudara Partini yang ditekan tangannya sendiri. " Ya den ini anginnya kok dingin banget ". Jawab partini. " Itu ace, Ni. Ya gini ini kalau wong desa dak pernah naik mobil bagus ". Timpal Slamet dari jok belakang. Pak Lurah mengecilkan sentoran angin ace. Tidak lama kemudian mobil berhenti tepat di depan Salon Ayu. Slamet bergegas turun membukakan pintu mobil untuk Partini. Pak Lurah segara membimbing Partini masuk di Salon Ayu. Salon termewah dan termahal di kota. Salon tempat para kalangan menengah ke atas merawat kecantikan. Seorang perempuan paruh baya tergopoh - gopoh menyambut kedatangan pak Lurah. Perempuan yang make up over menor ini adalah pemilik salon dan terkenal dengan panggilan tanten Lina. " O .. ini ya, pak. Gadis yang bapak maksudkan untuk dirawat ". Kata tante Lina kepada pak Lurah. " Cantik banget ! Siapa namamu, dhuk ?" Tanya tante Lina kepada Partini sambil tersenyum. " Partini, bu !" Jawan Partini. " Ah ... jangan panggil bu, ndhuk ! Tante .... gitu, ah !" Tante Lina ramah meminta Partini memanggilnya dengan sebutan tante. Partini hanya tersenyum. " Ya sudah ditinggal saja dulu, pak. Tiga jam lagi silakan kembali.. Partini sudah selesai aku rawat " Kata tante Lina kepada pak Lurah. Tak menjawab pak Lurah segera meninggalkan salon dan menuju mobil bersama Slamet melaju di jalan kota.
     Partini mendapat perawatan tubuh, perawatan wajah dan di make up. Partini merasa sangat bingung tapi sangat senang. Partini merasa sangat dimanjakan. Tubuhnya di lulur. Rambutnya dikeramas. Wajahnya dibersihkan. Partini  tak percaya kalau ini sedang terjadi pada dirinya. Partini tak percaya ini nyata. Partini merasa bagai mimpi di surga. Setelah selesai di make up, Partini didandani dengan kain kebaya. Lagi - lagi Partini tidak percaya kalau bayangan di cermin itu adalah dirinya. Mengapa aku sangat cantik ? Benarkah  aku berubah jadi sangat cantik ? Partini terkesima oleh kecantikkannya sendiri.
      Pak Lurah dan Slamet yang sudah kembali datang di salon dan segera dipersilahkan oleh tante Lina untuk melihat Partini di ruang belakang. Partini sedang diambil gambarnya dengan berbagai pose oleh fotografer salon. " Dia itu Partini ?" Bisik pak Lurah ke telingan tante Lina yang berdiri di sampingnya. Tante Lina mengangguk dan tersenyum sambil memperhatikan wajah pak Lurah yang tidak mempercayai matanya sendiri. Edan ! Kau sangat cantik Partini ! Seandainya lomba ratu luwes itu benar ada kau pasti menang ! Sayang itu hanya rekayasaku agar aku bisa membawamu ke kota dan menikmati tubuhmu ! Mata pak Lurah tak berkedip memperhatikan Partini yang sedang diatur - atur pose oleh fotografer. Pak Lurah menjadi tak sabar,  ingin rasanya segera memeluk Partini. Menciuminya. Tongkat pak Lurah mengembang di dalam celananya. Setelah selesai dengan fotografer Partini dibawa tante Lina ke dalam kamar. Keluar kamar Partini tidak lagi berkain kebaya. Rok baru dengan potongan seksi dikenakan di tubuh Partini. Dengan rok barunya Partini tampak tidak hanya cantik tetapi menjadi cantik dan seksi. Selesai dengan tante Lina yang menyodorkan nota, pak Lurah segera menggandeng Partini keluar dari salon. Mobil melaju dan berhenti di restoran terbesar di kota. Partini menjadi menarik perhatian pengunjung restoran. Pak Lurah dengan bangganya menggandeng Partini. Partini yang seksi. Partini yang cantik. Partini yang bersepatu hak tinggi. Partini yang memiliki kaki panjang dan bersih. " Mau makan apa, Ni ?" Tanya pak Lurah setelah mereka mengitari meja. " Bakso saja, den " Partini menjawab. Slamet menahan tawa. " Tahumu itu cuma bakso dan mie ayam ya, Ni !" Ledek Slamet. " Ini menu makanan, Ni ! Silahkan pilih yang kamu suka !" kata pak Lurah sambil menyodorkan buku menu. Partini melihat - lihat isi buku menu dan matanya terus melotot. Bingung. Belum pernah Partini melihat harga seporsi makanan semahal itu. " Nasi goreng saja, den " Ahkirnya Partini memilih. " Minumnya teh saja " Partini mengulurkan buku menu kepada Slamet. Slamet memilih, pak Lurah menulis.
     Dari restoran mobil melaju dan berhenti di halaman hotel. Hotel Graha Nendra. Hotel termewah di kota. Pak Lurah segera membimbing Partini masuk ke hotel. Pegawai resepsionis hotel segera menjemput pak Lurah dan memberikan kunci kamar. Rupanya pak Lurah telah lebih dulu memesan kamar. Pak Lurah terus menggandeng Partini. Pintu kamar dibuka. Partini menolak masuk. " Pulang saja, den. Sudah sore. Nanti simbok cemas " Rengek Partini. Pak Lurah tak menggubris rengekan Partini. Ditariknya Partini masuk kamar. Pak Lurah mengunci pintu dari dalam. " Ayo den pulang saja " Rengek Partini lagi. Kembali pak Lurah tak menggubris. Dipeluknya tubuh Partini. Partini meronta. Tetapi tiba - tiba Partini tidak punya tenaga. Tubuhnya lemas. Matanya berkunang - kunang. Dan setelah itu tak ingat apa - apa lagi. Rupanya ramuan obat yang dimasukkan oleh pegawai restoran ke gelas teh Partini atas suruhan pak Lurah sudah bekerja. Partini pingsan. Pak Lurah segera mengangkat tubuh Partini dan ditidurkan di ranjang mewah yang belum sempat dikagumi Partini. Sejenak pak Lurah mengagumi kecantikan Partini yang make upnya masih di wajahnya. Pak Lurah segera melucuti pakaian. Pak Lurah telah telanjang. Tongkatnya yang besar tampak begitu kaku dan mendongak. Satu demi satu yang dikenakan partini mulai dilucuti pak Lurah. Mulai dari sepatu baru, rok baru, beha baru, sampai pada celana dalam baru yang dikenakan oleh tanten Lina di tubuh Partini telah lepas. Partini pingsan telanjang. Nafsu birahi pak Lurah menggelagak. Diangkatnya tubuh telanjang Partini dan dipangkunya. Tangannya mulai meremas payudara Partini. Mulutnya tak henti - hentinya menciumi mulut Partini yang ternganga basah. Dari payudara tak sabar tangan terus turun ke selangkangan Partini. Tangan pak Lurah menemukan kemaluan Partini. Tanpa ampun kemaluan Partini menjadi bulan - bulanan tangan dan jari pak Lurah. Partini tidak tahu apa yang sedang dialami tubuhnya. Partini hanya merasakan mimpi melayang - layang. Puas dengan bibir, payudara, dan kemaluan, pak Lurah kemudian kembali menelantang tubuh telajang Partini. Lebar - lebar kaki Partini dikangkangkan. Sejenak ditatapnya kemaluan Partini yang bibirnya telah terbuka merekah. Kemaluan yang masih cantik. Dengan bibir yang halus belum berkerut. Kemaluan yang masih perawan. Kemaluan yang belum tersentuh tongkat. Bulu - bulu halus menghiasi kecantikan pepek Partini. Pepek yang sebentar lagi akan disantap. Dirasakan kenikmatan. Dirasakan jepitannya. Dirasakan kedutannya. Ah ... Partini ! Wajahmu cantik. Kemaluanmu ayu ! Dengan posisi menelungkup pak Lurah menempelkan ujung tongkatnya di bibir kemaluan Partini. Dibiarkan sebentar ujung tongkatnya menikmati kehangatan bibir kemaluan Partini yang basah oleh jel yang dioleskan tadi sambil mempermainkannya. Sambil memeluk tubuh Partini, tongkatnya didorong maju. Perlahan - lahan tongkat pak Lurah melesak masuk di kemaluan Partini. Edan ... enak sekali ! Kemaluan perawan cantik ! Nikmat luar biasa ! Pak Lurah terus menekankan tongkat dan ahkirnya tenggelamlah seluruh tongkat pak Lurah di dalam kemaluan Partini. Pak lurah menikamti kedalaman kemaluan perawan. Tongkat tidak digerakkan. Tapi dinikmati. Edan ! Enak sekali ! Sambil terus menciumi payudara, bibir dan leher Partini, pak Lurah mulai menikmati kemaluan perawan dengan menggerakkan tongkat maju mundur. Apa yang dilakukan pak Lurah bagai bersetubuh dengan boneka Love doll sex. Semakin lama semakin memburu napas pak Lurah dan semakin cepat pula memaju mundurkan tongkat di kemaluan Partini. Ketika dirasa mani mau menyembur pak Lurah berhenti menyodokkan tongkat. Ketika rasa mulai reda kembali tongkat mengembang kempiskan kemaluan Partini yang tidak seukuran dengan tongkat pak Lurah. Sebentar kemudian tubuh Partini ditengkurapkan. Dengan tangannya yang kokoh pantat Partini diangkatnya. Dan Tongkatnya dimasukkan dari belakanng dan dipompanya dengan penuh Nafsu. Sebentar kemudian kembali tubuh Patini ditelentangkan. Kembali tongkat melesak masuk. di liang senggama Partini. Sambil terus mendekap tubuh Partini, semakin cepat pak Lurah memompa kemaluan Partini. Mani yang ada di salurannya sudah sangat banyak. Terkumpul dan semakin menambah besar tongkat. Ujung tongkat telah sangat meradang nikmat. Pak Lurah semakin memacu pantatnya. Edan ! Enak sekali ! Kemaluan perawan cantik ! Kemaluan yang belum pernah tertusuk tongkat. Edan tak tertahankan nikmatnya ! Pak Lurah tak tahan. Siap menyembukan maninya di kemaluan Partini. Hentakan demi hentakan menggoyang - goyang tubuh Partin. Pak Lurah mendekap erat tubuh Partini, dan tongkat ditekan kuat - kuat dan di dalam kemaluan Partini  menyudul sesuatu yang membuat tongkat semakin tak tahan membendung mani. Dan ......" aaaaaaauuuuughhhhhhh ! Partini ! N i i i i i i i ......... ! " Cairan kenikmatan dari tongkat pak Lurah menyembur - nyembur di kedalaman kemaluan Partini. Setelah beberapa saat pak Lurah mencabut tongkatnya. Dari kemaluan Partini meleleh cairan putih kental bercampur darah merah perawan. Pak Lurah ke kamar mandi dicucinya tongkatnya. Kemudian dengan gayung pak Lurah membawa air ke ranjang. Dengan sangat pelan dan hati - hati kemaluan Partini dilap. Mulai dari bibir sampai liang senggama Partini dilap dan dibersihkan oleh pak Lurah. Kemudian pak Lurah menyelimuti Tubuh sintal, segar, dan indah yang tergolek telanjang di hadapannya. Pak Lurah istirahat santai. Minum dan merokok. Perkiraannya Partini belum akan siuman. Pak Lurah tahu betul kasiat dan ketahanan ramuannya. Selesai dengan rokok dan minumannya kembali pak Lurah mendekati tubuh Partini. Selimut di buka. Dipandanginya tubuh muda telanjang di hadapannya. Dan tangan mulai tak tahan untuk merabanya. Mula - mula payudaranya yang ranum dan memerah karena remasan tadi. Dikulumnya lagi bibir Partini yang masih ada sisa - sisa gincu merahnya. Dijilatinya leher Partini yang wangi. Kembali tongkatnya mengencang. Kaku dan terasa pegal. Kembali kaki partini dikangkangkan. Ditatapnya kemaluan partini yang bibirnya memerah lantaran tadi sudah cukup lama dikocok tongkatnya. Bibir kemaluan Partini sedikit lebih tebal dari pada sebelum di senggamainya tadi. Kembali pak Lurah menelungkup dan mengarahkan tongkat yang kaku pegal ke pepek Partini. Sekali dorong amblaslah seluruh tongkatnya. Mudahnya tongkatnya masuk ke kemaluan Partini dikarena di kemaluan Partini masih tersisa maninya yang melicinkan liang senggama. kambali napas pak Lurah memburu, Dan tongkatnya lebih dahsyat memompa dari pada persenggamaan yang pertaman, Maju mundunya tongkat lebih keras. Sampai - sampai menimbulkan suara kecipak di kemaluan Partini. Sambil terus memeluk kuat tubuh Partini yang lunglai dan menciumi wajah dan bibir Partini pak Lurah terus memompa tongkatnya sambil melenguh - lenguh kenikmatan. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Sampai - sampai keringat menetes - netes di tubuh Partini. Kegiatan mencari kenikmatan yang kedua telah berlangsung sepuluh menit. Ujung tongkatnya yang terus menerobos - nerobos lubang sempit, yang di kedalamannya terdapat beraneka rasa enak mulai tahan. Di saluran maninya telah terkumpul sangat banyak dan semakin menggelumbungkan tongkatnya. Pak lurah Siap menyemburkan lagi maninya di kemaluan Partini. Dengan kedua tangannya pantat Partini sedikit diangkat dan pompaan tongkat dipercepat dan diperkeras. Dan Pak Lurah menjerit kenikmatan. " P a r t i i i i i i i n n n n n  i i i i i i i i ............ ! " Tak kalah banyak dari yang pertama mani pak Lurah menyemprot rahim Partini. Seandainya saja Partini menerima ini dalam keadaan sadar barangkali Partini akan merasakan kedalaman kemaluannya disentor benda cair hangat kental yang sangat luar biasa banyak. Sampai disitu pak Lurah belum berhenti memompa rasanya ingin maninya tertumpah semakin banyak lagi dan kenikmatan yang dirasakan bertambah - tambah. Tak ayal jika dari kemaluan partini terdengar suara ..... ceprot ....!.....ceprot ..... ceprot ..... ! Dan seprei di bawah pantat Partini bagai tersiram air segayung.

                                           bersambung kebagian keduapuluhlima .................

Minggu, 18 September 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut

                                                                                                                                      edohaput

Bagian keduapuluhtiga 

     Setelah lima belas menit menunggu polisi mempersilahkan Darman masuk ke ruang dimana dia sering diterima para polisi. Seperti hari - hari sebelumnya Darman duduk berhadapan dengan polisi yang di mejanya ada komputer. Dua polisi yang lain duduk bersebelahan dengan Darman. " Kedatangan saya hari ini membawa informasi yang semakin jelas kalau den Lurah terlibat, pak ". Darman membuka percakapan walaupun belum ditanya atau belum diminta menyampaikan laporan. " Den Lurah saya itu memang benar - benar keranjingan begituan, pak !" Darman semakin semangat. " Edan, pak. Minil yang saya ceritakan dulu itu kepada bapak - bapak,  digituin sama den Lurah sampai pingsan, pak !" Darman ingin polisi segera percaya akan laporannya. " Coba bayangkan, pak. Gadis perawan kok digenjot - genjot gitu, pak !" Ekspresi Darman seperti orang sedang emosi marah. " Sabar - sabar, Man. Pelan - pelan saja. Ceritakan yang kamu tahu dengan urut, runtut, dan tenang. Agar kami tidak bingung ". Kata polisi yang dimejanya ada komputer. " Lha iya ta, Man. Kamu itu gimana. Belum ditanya, belum diperintah ngomong kok sudah nerocos !" Kata polisi yang duduk bersebelahan dengan Darman. Darman sadar kalau dirinya terlalu semangat dan tergesa - gesa, lalu katanya : " Iya ...ya...pak. Maaf, pak. Habis saya ingin segera bapak - bapak ini percaya sama saya kalau den Lurah saya itu pasti terlibat dengan kematian Partini dan Surinah. Maaf ya, pak ". Para polisi hanya bisa tersenyum melihat Darman yang tiba - tiba mengendor emosinya. " Baik, Man. Sekarang kami siap ! Ceritakan dari awal dengan runtut !" Perintah polisi yang lain yang duduk bersebelahan juga dengan Darman. " Ni, rokok ! Kamu nikmati dulu !" Darman mengambil rokok yang ditawarkan polisi. Menyulut dan menikmatinya.
     Darman mengawali cerita. Diceritakan semua yang disaksikannya dari lubang intip di rumah Slamet. Para polisi sangat menikmati cerita Darman. Lebih dari tiga puluh menit Darman cerita. Dari a sampai z semua yang  dilihat dan diketahuinya diceritakan. Tidak ada yang ketinggalan. Diceritakan juga kepada polisi pertemuannya dengan Slamet. Dan kata - kata Slamet " Hus .... jangan ungkit - ungkit peristiwa lama " ketika Darman menyinggung - nyinggung Partini dan Surinah juga dengan penuh semangat diceritakan kepada para polisi. " Nah .... itulah, pak. Apa bapak - bapak masih tidak percaya  kalau den Lurah saya itu terlibat ? Tangkap saja den Lurah saya itu, pak !"  Kata  Darman penuh semangat  kepada polisi seolah ingin menegaskan bahwa polisi harus percaya kepada apa yang dipercayainya. Polisi yang di mejanya ada komputer menghela napas panjang. Jari - jarinya yang sedari awal ada kibord komputer menulis laporan Darman diistirahatkan di sisi kiri kanan tubuhnya. Dan duduk santai menyandarkan punggungnnya di sandaran kusi, lalu katanya : " Bukannya kami tidak percaya, Man. Tetapi kami tetap kurang bukti. Sekali lagi kami tidak bisa gegabah menangkap orang ". Mendengar kata - kata polisi ini Darman tampak sangat kecewa. Rasanya telah sia - sia bercerta banyak dengan polisi. Darman yang buta hukum tahunya pak Lurahnya segera dipanggil dan ditanyai. Seperti dirinya dulu ketika Partini meninggal. " Begini saja, pak. bagaimana kalau bapak - bapak memanggil Slamet. Tanyai dia, pak ! Saya yakin Slamet tahu semua tentang matinya Partini dan Surinah !" Darman tegang. Para polisi mengerinyitkan dahi. Dalam pikiran mereka mengagumi Darman yang juga cerdas dalam kasus ini. " Oke ..... oke .... Man ! Kami akan pertimbangkan usulmu ini. Tapi ingat, Man. Kamu tidak boleh menemui Slamet pada hari - hari ini. Kamu tenang saja. Slamet akan kami mintai keterangan !" Mendengar penuturan polisi ini Darman lega. Dan kemudian tersenyum. " Nah, gitu, pak. Saya yakin bapak - bapak pasti akan mendapatkan informasi yang jelas  dari Slamet ". Darman lagi - lagi mengambil rokok milik polisi. Menyulut dan menikmatinya. Siang itu Darman pulang dari kantor polisi dengan penuh kelegaan.
     Pagi sebelum jam delapan di rumahnya, Slamet dijemput polisi berpakaian preman. Dua polisi yang tidak berseragam yang datang di rumah Slamet, tidak menimbulkan tanda tanya bagai warga. Slamet tak bisa berkelit dan tidak bisa menolak. Kecuali dia bodo tentang polisi, Slamet juga sangat takut ketika polisi menunjukkan surat perintah harus membawa dirinya ke kantor polisi. Pagi itu Slamet dibonceng polisi untuk dibawa ke kota.
     Di kantor polisi Slamet sangat gelisah. Sangat gundah. Ia tidak tahu sama sekali mengapa tiba - tiba ia diboyong polisi. Setelah diberi minum, senack, dan rokok Slamet dibawa ke sebuah ruangan yang di ruangan itu sudah ada tiga polisi yang kemarin lusa menerima laporan informasi Darman. Slamet sangat ketakutan. Selama hidupnya Slamet belum pernah berurusan dengan polisi. Slamet duduk menghadap polisi yang di mejanya ada komputer. Dua orang polisi lain duduk bersebelahan dengan Slamet. Posisi ini persis ketika kemarin lusa para polisi itu menerima Darman. " Slamat pagi, mas Slamet ". Polisi yang di mejanya ada komputer membuka pembicaraan. Slamet tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu. Slamet hanya mengangguk. " Mas Slamet tidak usah takut berhadapan dengan kami ". Kata polisi itu lagi yang melihat wajah Slamet pucat pasi. " Tugas kami hanya bertanya dan mas Slamet menjawab pertanyaan kami dengan jujur. Jadi mas Slamet tidak perlu takut. Jawab saja nanti pertanyaan kami apa adanya sesuai dengan apa yang dilihat, diketahui, dan dialami oleh mas Slamet. Paham mas Slamet ?" Slamet hanya bisa mengangguk. Dalam pikirannya. Apa ya yang akan ditanyakan polisi ? Selama ini ingat - ingatnya dirinya tak pernah berbuat salah. Mendengar polisi yang sejak tadi berkata lembut Slamet sedikit lega. Ternyata polisi tidak membentak - bentaknya. " Santai saja, mas ! Ni, kamu boleh merokok !" Kata polisi yang duduk bersebelahan dengan Slamet sambil mengulurkan rokok ke Slamet. Slamet mengambil sebatang dan menyulut rokok yang apinya diberikan oleh polisi. Ah ....  ternyata polisi - polisi ini baik ! Pikir Slamet. Kalau begitu akau tak perlu takut. Setelah berkali - kali mengisap rokok Slamet menjadi lebih santai. Wajahnya tak lagi begitu pucat. Dan perasaannya berangsur - ansur tenang. " Baik, mas Slamet ! Apakah mas Slamet sudah siap menjawab pertanyaan kami ?" Polisi yang di mejanya ada komputer menawarkan ke pada Slamet. Slamet yang yang perasaannya mulai tenang, tidak lagi begitu ketakutan, dan pikirannya juga sudah tidak lagi begitu tegang menjawab : " Ya, pak. Saya siap menjawab pertanyaan Bapak ". Polisi yang duduknya bersebelahan dengan Slamet, menimpali : " Tidak ada pertanyaan yang sulit dijawab kok, mas Slamet !" Kata polisi yang lain sambil tertawa. Suasana menjadi sedikit cair. Karena ketika polisi tertawa Slamet ikut tersenyum. Walau masih senyum kecut. " Kamu belum beristri, mas Slamet ?" Tanya polisi yang di mejanya ada komputer. " Belum, pak ". Jawab Slamet sambil membungkukkan  badan. " Mengapa ? " Tanya polisi lagi. " Saya orang miskin, pak. Takut dak bisa kasih makan istri " Jawab Slamet jujur. " Punya isteri itu enak lho, mas Slamet. Ada yang bikinkan minum. Ada yang mijitin. Dan yang paling enak ada yang diajak bergumul di tempat tidur ". Kata polisi yang lain sambil tertawa. Semua yang ada di ruangan tertawa. Termasuk Slamet. Suasana menjadi semakin cair. Rasa takut Slamet hilang. " Pingin punya isteri dak, mas Slamet ?" Tanya polisi lagi. " Ya pingin, pak ". jawab Slamet. " Apanya yang diinginkan dari isteri, mas Slamet ? " Tanya polisi lagi. Slamet lambat menjawab dan malah dijawabkan oleh polisi yang duduk bersebalahan dengan Slamet. " Ya yang  diinginkan ya yang di dalam celana dalam ya, mas Slamet !" Semua yang di dalam  ruangan itu tertawa. Slamet juga ikut tertawa lepas. Suasana menjadi sangat cair. Lagi - lagi polisi menawarkan rokok. Dan Slamet menerima. " Apa pekerjaan mas Slamet sekarang ? " Tanya polisi setelah melihat Slamet selesai menyulut rokok. " Saya hanya menjadi pembantunya den Lurah, pak ". Jawab Slamet. " Senang ya, mas Slamet jadi pembantunya pak Lurah ?" Tanya polisi yang tadi meledek Slamet tentang isteri. " Ya senang, pak. Ikut orang kaya seperti den Lurah itu. Den Lurah itu orangnya murah hati,pak. Suka memberi. Orang miskin seperti saya ya pasti senang ta, pak, menjadi pembantunya den Lurah ". Jawab Slamet dengan kalimat yang agak panjang. Slamet tak lagi ngeri berhadapan dengan polisi. Ternyata polisi itu bisa bergurau juga. " Mas Slamet ini digaji berapa ta sama pak Lurah ?" Tanya polisi yang selalu mengansurkan rokok buat Slamet. " Kalau gaji ya cuma tiga ratus ribu sebulan, pak. Tetapi den Lurah sering juga ngasih uang tambahan, pak ". Jawab Slamet. Jawaban Slamet yang menambahkan uang tambahan membuka jalan untuk polisi memasang jebakan buat Slamet. " Wah, senang juga ya mas Slamet ini. Sudah dapat gaji masih juga ada uang tambahan. Kapan mas Slamet dapat uang tambahan terbanyak dari pak Lurah ?" Tanya polisi yang di mejanya ada komputer. Pertanyaan ini membuat Slamet kaget. Bingung mau menjawab bagaimana. Slamet sangat ingat pak Lurah memberi uang tambahan yang sangat banyak jika ia telah bisa mengantar  gadis yang diincar pak Lurah. Akahkah aku jujur ? pikir Slamet. Kalau aku jujur berarti aku membuka rahasia den lurah. Waduh celaka ini ! Slamet menjadi terdiam dan bingung. Tadi kata polisi ia diminta menjawab dengan jujur ! Waduh gimana ini ! Pintu ruangan di ketuk dari luar. " Masuk !" Kata polisi yang di depannya ada komputer. Seorang pegawai masuk membawa nampan yang di atasnya ada empat gelas teh dan empat gelas kopi. Pegawai itu segera membaginya termasuk di meja dimana Slamet duduk. Dan setelah selesai pegawai itupun segera keluar dan kembali menutup pintu ruangan. " Diminum, mas Slamet ! Kopinya dulu, apa tehnya dulu terserah, mas Slamet. Ayo mas, jangan sungkan - sungkan !" Perintah polisi yang sedari tadi belum bicara. Slamet membuka tutup gelas kopi dan segera menyerutupnya. Ngopi sambil ngrokok nikmat sekali ! Pikirnya. Para polisi pun juga meluangkan untuk minum. " Enak kan mas Slamet kopinya ? Tanya polisi yang di mejanya ada komputer memecah kesunyian. Dan membuyarkan kebingungan Slamet. " Enak, pak " Jawab Slamet singkat dan masih mencoba terus berpikir untuk jujur atau tidak. " Oh ...iya, mas Slamet, kapan ya mas Slamet mendapat uang tambahan terbanyak dari pak Lurah ?" Tanya polisi lagi. Ahkir dari kebingungannya Slamet memberani diri bertanya kepada polisi : " Maaf, pak. Saya dibawa ke kantor polisi ini sebenarnya untuk, apa ta, pak ?" Polisi yang di depan Slamet tersenyum lebar lalu menjawab pertanyaan Slamet : " Tidak penting kok, mas Slamet. Ya cuma seperti saya katakan tadi. Kami hanya bertanya dan mas Slamet menjawab dengan jujur. Tidak ada yang lain, mas Slamet. Dan kalau mas Slamet bisa jujur, itulah yang kami harapkan. Dan kalau mas Slamet bohong kami tahu lho, mas Slamet. Jadi sebaiknya mas Slamet jujur  dan terus terang saja !" Slamet mendengar kalau dia bohong polisi tahu, merinding juga bulu kuduknya. Maka Slamet berketetapan untuk jujur saja. " Nah, kapan Slamet diberi uang tambahan terbanyak olek pak Lurah ?" Slamet menjadi curiga. Lhok kok itu ya yang ditanyakan polisi ? Antara takut, bingung dan gelisah Slamet nekat menjawab : " Kemarin lusa, pak. Saya diberi uang tambahan satu setengah juta rupiah ". Jawab Slamet ragu - ragu. Ketiga polisi itu lalu dengan penuh kelegaan bersama - sama menghempaskan napas panjang dan menyantaikan duduknya. Jaring perangkapnya telah mampu menelan Slamet. Tinggal dengan satu pertanyaan lagi Slamet sudah pasti tidak bisa berkutik. Dan satu pertanyaan lagi yang dilontarkan pasti semuanya bakal terlontar dari mulut Slamet. Polisi berhasil menggiring Slamet dalam waktu yang sangat singkat. " Nah, mas Slamet, uang satu setangah juta rupiah itu diberikan pak Lurah kepada mas Slamet, atas jasa mas Slamet bisa membawa Minil kepada pak Lurah kan ? Betul kan mas Slamet ?" Atas pertanyaan polisi ini Slamet menjadi sangat kaget. Mukanya menjadi kembali pucat. Rasa takutnya menjalari lagi pikirannya. Karena memang begitu maka Slamet tak bisa lain keculai mengiyakan. " Lhok kok bapak - bapak tahu ?" Tanya Slamet antara sadar dan tidak. " Lho, kami ini polisi, mas Slamet. Polisi itu serba tahu. Tahu orang yang tidak jujur. Tahu orang yang jahat. Bahkan orang yang berpura - pura baik pun plisi tahu. Jadi benar kan, mas Slamet, kalau uang satu setengah juta itu diberikan pak Lurah kepada mas Slamet atas jasanya mas Slamet membawa Minil ?" Slamet mengangguk ragu. " Nah, begini mas Slamet. Kami membawa mas Slamet ke sini ini tidak lain dan tidak bukan untuk mencocokkan antara yang diketahui mas Slamet, dengan apa yang sudah kami ketahui tentang apa yang telah diperbuat pak Lurahnya mas Slamet. Kami polisi sudah tahu semua kok, mas Slamet. Jadi mas Slamet sekarang ini sedang kami mintai keterangan. Semua yang dilakukan pak Lurahnya mas Slamet kami sudah tahu. Jadi mas Slamet jangan berbohong. Kalau mas Slamet jujur, terus terang mengatakan apa yang telah diketahui dan dialami mas Slamet, mas Slamet tidak akan kena perkara. Tapi kalau mas Slamet mencoba menutup - nutupi perbuatan pak Lurah, justru nanti mas Slamet yang akan kena perkara. Paham, Mas Slamet !" Kalimat terahkir ini yang diucapkan polisi dengan serius dan dengan sedikit muka garang dan selalu menatap tajam Slamet, membuat nyali Slamet habis. Slamet berkeringat dingin. Slamet sangat takut. Slamet kembali merasa berhadapan dengan polisi. Bukan berhadapan dengan orang - orang yang menanyainya dan mengajaknya bergurau. Ketakutan dan kegundahan Slamet diketahui polisi. Dengan tatik jitunya polisi memanfaatkan suasana ini untuk semakin menekan Slamet. Walaupun tentang kematian Partini dan Surinah baru sedikit informasi yang dketahui polisi, namum dengan penuh kepercayaan polisi menekan Slamet. Seolah - olah Slametlah yang menyembunyikan rahasia. Polisi sebenarnya hanya coba - coba terhadap pertanyaan ini : " Dan yang lain ya, mas Slamet !" Polisi tambah garang. Dan lanjutnya : " Kami tahu kalau mas Slamet juga mengetahui atas perbuatan pak Lurah terhadap Partini dan Surinah ! Iya kan, mas Slamet ?" Bagai disambar petir Slamet mendengar pertanyaan polisi ini. Slamet hampir - hampir pingsan. Tubuhnya lemas. Pikirannya tak jalan. Mengapa terjadi begini. Ia tahu persis apa yang diperbuat pak Lurahnya terhadap Partini dan Surinah. Sambil mengelap keringatnya yang mengucur di dahi dan membasahi seluruh tubuhnya Slamet hanya bisa mengangguk lemah dan menunduk.
     Slamet ingat waktu itu diminta pak Lurah mengantar surat  yang sudah kesekian kalinya kepada Partini. Hari itu dengan penuh semangat Slamet mengayuh sepedanya untuk menemui Partini. Ketika Slamet datang Partini sedang bermalas - masalan di kursi panjang yang terbuat dari bambu. Partini tiduran disana. Kakinya dinaikkan di sandaran kursi, sehingga pahanya sangat terbuka sampai di pakal pahanya yang disana ada celana dalam. Slamet masuk rumah dan mendapati Partini. Kedatangan Slamet tidak mengejutkan Partini. Maka Partini tidak merubah posisi rebahannya. Slamet dengan jelas bisa melihat paha Partini yang putih. Dan melihat celana dalam Partini yang di dalamnya ada sesuatu yang membusung. Baru setelah Slamet duduk di hadapannya, Partini merubah posisinya dari rebahannya menjadi duduk bersila. Karena duduk bersila dan roknya menjadi tak sempurna menutup pahanya. Tak ayal celana dalamnya lagi - lagi menjadi jelas di mata Slamet. Begitu kentara di dalam celana dalam Partini tampak sesuatu yang membusung dan terbelah. " Ni, mbok duduknya jangan begitu. Tu punyamu kelihatan !" Kata Slamet tanpa basa - basi. Partini tersenyum manis sekali. Dan ada lesung di dagunya ketika tersenyum. " Ya dak usah dipandangi ta, kang ! Salahnya mata kang Slamet !" Karena memang sudah akrab sejak kanak - kanak maka Partini malah meledek Slamet. " Tu celanamu sobek. Dak malu pa ? Tu ... rambutnya ada yang menerobos celanamu !" Kata Slamet sambil menunjuk selangkangan Partini. Malu juga Partini diledek Slamet. Tak urung kakinya kemudian dikatupkan dan tak lagi celana dalamnya nampak oleh Slamet. " Ni, Surat dari pak Lurah. Aku disuruh menunggu jawabannya. Sudah cepat dibaca ! dan segera dijawab !" Kata slamet sambil mengansurkan amplop surat kepada Partini. Partini membuka amplop, mengeluarkan isinya dan membacanya. Slamet merokok menunggu Partini selesai membaca.
     Di dalam suratnya pak Lurah minta kepada Partini agar segara ke kota untuk merawat wajahnya di salon. Karena lomba Ratu Luwes di kecamatan tinggal sedikit hari lagi. Pak Lurah bersedia mengantar ke kota dan membiayai perawatan wajah Partini di Salon. Di surat - suratnya terdahulu pak Lurah membujuk Partini agar mau menjadi duta desa untuk mengikuti loba Ratu luwes. Partini marasa tersanjung atas tawaran pak Lurah. Dan menyanggupi tawaran pak Lurah. Apalagi pak Lurah sanggup membiayai semuanya. Bahkan belum apa - apa saja Partini telah mendapat uang dari pak Lurah tidak sedikit jumlahnya. Kata pak Lurah uang itu agar dipergunakan untuk membeli alat - alat kecantikan.
     Partini selesai membaca surat. " Gimana, Ni ?" Tanya Slamet. " Ya, kang aku ikut kemauan den Lurah ". Jawab Partini. " Kalau begitu besuk pagi kamu menunggu den Lurah di perempatan ". Kata Slamet gembira karena ia pun bakal ikut ke kota. " Den Lurah naik mobil kan, kang ?" Tanya Partini. sambil menampakkan senyum cantiknya. " Lha iya ta, Ni. Masak ngantar gadis cantik kayak kamu naik sepeda ontel ". Jawab Slamet sambil tertawa.
     
             bersambung kebagian keduapuluhempat ..........


     

Jumat, 09 September 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 


                                                                                                                        edohaput 


Bagian keduapuluhdua

     Darman kembali ke kota untuk menemui polisi. Ia bermaksud menyampaikan laporan atas hasil misi tugasnya yang dibebankan oleh polisi kepada dirinya. Ia akan melaporkan temuannya tentang pak Lurahnya. Darman yakin pak Lurahnya terlibat terhadap kematian Partini maupun kematian Surinah alias Rini. Namun yang dibawa Darman ke polisi hanya sebatas cerita. Belum mengarah kepada bukti. Darman menceriterakan kepada polisi tentang perlakuan pak Lurah terhadap Minil. Polisi tidak menganggap perlakuan pak Lurah terhadap Minil sebagai benang merah yang bisa menghubungkannya dengan kematian Partini maupun Surinah alias Rini. Cerita Darman yang terahkir ini tak bisa dipakai sebagai alat untuk menuduh pak Lurah terlibat atas meninggalnya Partini maupun Surinah. " Ceritamu yang terahkir ini hanya bisa membuktikan bahwa pak Lurahmu itu doyan bersenggama dengan daum muda, Man. Belum bisa dipakai sebagai alat untuk menuduh pak Lurahmu terlibat atas kematian Surinah atau pun Partini ". Kata polisi yang menerima laporan Darman. Darman yang lugu, bodo dan tak tahu proses hukum bingung. " Lha terus saya gimana lagi, pak ?" Tanya Darman. " Tugasmu amati terus kegiatan pak Lurahmu ! Apa perkembangan selanjutnya yang dilakukan pak Lurahmu itu terhadap Minil ". Kata polisi yang lainnya. Yang duduk sambil mengetik di komputer, lalu katanya lagi : " Semua laporanmu, semua ceritamu tidak sia - sia, Man. Sudah saya catat. Saya rekam di komputer ini. Sudah ini kamu ngrokok dulu, Man !" Polisi itu mengangsurkan sebungkus rokok kepada Darman. Darman merokok, menikmati asap rokok. " Jadi pak Lurahku belum bisa dipanggil dan ditanyai seperti saya dulu itu, pak ?" Tanya Darman. " Belum, Man ! Tetapi tunggu saatnya nanti. Kalau memang perlu pasti akan dipanggil untuk dimintai keterangan ". Jawab polisi yang duduk persis di hadapan Darman. " O begitu ta, pak ? " Darman mengeluh. " Lha iya ta, Man. Polisi tidak boleh grusa - grusu. Polisi harus mempunyai bukti dulu. Supaya tidak dua kali kerja ".  Polisi memberi penjelasan kepada Darman. Polisi yang lain menimpali : " Kamu harus terus membantu kami, Man ! Polisi sebenarnya sudah punya rencana untuk mengungkap meninggalnya Partini dan Surinah. Kamu sabar, Man. Polisi punya keyakinan pasti akan terungkap ". Polisi yang lain lagi juga memberi penjelasan kepada Darman. Darman hanya melongo, karena tidak tahu apa rencana polisi.
     Dari kantor polisi darman meluncur ke rumah Slamet. Darman ingin menemui Slamet. Barangkali Slamet bisa memberi informasi tambahan tentang kegiatan pak Lurah. Slamet di rumah sedang menikmati teh kental manis ketika Darman datang. " Sini, Man. Kebetulan ! Temani aku minum ! Ni, ada singkong bakar ! Ni, teh kental manis !" Kata Slamet setelah Darman duduk. " Ni, gelasnya, Man. Tuang sendiri tehnya !" Kata Slamet lagi. Darman menuang teh. Mengangkat singkong bakar. Mengupas kulitnya dan makan sambil minum. " Tumben banget, Man, kamu datang ke rumahku. Biasanya lewat sini, noleh saja tak mau. Apalagi mampir. Lho kok ini sajaknya datang seperti ada keperluan ". Slamet nerocos menyindir Darman. Darman diam saja. Mulutnya penuh singkong bakar. " Habiskan saja singkongnya, Man. Lapar, ya ? Tu, di dapur masih ada nanti aku ambilkan lagi ". Slamet melihat cara makan Darman yang seperti orang kelaparan. Darman memang lapar. Sejak pagi sampai siang di kantor polisi. Darman belum sempat makan. " Hari ini dapat ojekkan berapa, Man ?" Tanya Slamet. Darman tak menjawab. Mulutnya terus mengunyah dan menelan singkong. Dua potong singkong bakar dan tiga gelas teh telah masuk di perutnya. Darman tak lagi lapar. " Trima kasih, ya Met. Aku jadi kenyang ". Darman bersendawa. Kemudian menyulut rokok. " Gini, Met. Kedatanganku kesini mau minta pertimbangan sama kamu ". Darman mulai bicara. " Weh ... apa dak keliru, Man. Minta pertimbangan kok ke aku ". Jawab Slamet. " Dengarkan dulu, Met. Aku kan belum ngomong apa - apa. Orang bisa saja beri pertimbangan baik, kalau dia tahu masalahnya ". Darman memberi penjelasan ke Slamet. " Ya ....ya.... dah cepat ngomong kalau aku bisa kasih pertimbangan ya nanti aku beri, kalau tidak maaf lho, Man ". Slamet seperti tak sabar ingin tahu apa yang akan dimintakan pertimbangannya. " Met, gimana Met. Kalau aku ingin menikahi Minil ? Nah ini,  yang ingin aku mintakan pertimbanganmu ". Darman berbohong besar kepada Slamet. Karena yang sebenar - benarnya Darman tak sedikitpun ingin menikahi Minil. Kebohongan Darman bertujuan agar Slamet terpancing cerita tentang Mnil dan barangkali akan cerita tentang hal - hal lain yang memang diharapkan Darman keluar dari mulut Slamet. " O... jadi malam itu ketika kamu di rumah yu Kurni itu kamu mendekati Minil ta, Man ?" Tanya Slamet. " Ya ... tapi malam itu Minil kan di rumahmu ini ta, Met ? Kata kamu pada yu Kurni Minil ketiduran Betul itu, Met ?" Darman bertanya, pura - pura tidak tahu terhadap kejadian yang sesungguhnya yang disaksikannya lewat lubang intip. Kini Slamet yang berganti berbohong : " Betul, Man. Lha Minil itu sedang diajak ngomong - ngomong sama den Lurah kok ngantuk. Padahal Minil mlam itu diberi uang untuk ongkos jahitan kain - kain yang juga den Lurah yang memberi uangnya untuk beli kain ". Mendengar penuturan Slamet ini Darman tersenyum dalam hati. Kebohongan Slamet sangat nyata. Minil bukan ngantuk dan ketiduran. Tetapi Minil kelelahan dan sempat pingsan ketika keperawanannya direnggut pak Lurah dengan cara senggama yang kasar malam itu. " Nah, Met. Gimana kalau aku ingin menikahi Minil ?" Darman lagi berbohong minta pertimbangan Slamet. Slamet bingung. Darman ini serius apa main - main ? Kalau serius terus bagaimana dengan pak Lurah yang pasti sedang suka - sukanya sama Minil. Kalau nanti benar Minil dilamar Darman, pak Lurahnya akan kehilangan kesenangan. Dan ia akan kehilangan penghasilan. Karena setiap kali pak Lurahnya ingin Minil ia lah yang pasti menjadi mak comblangnya. Dan karena itu ia dapat upah yang tidak sedikit. " Lho, kok diam Met ? " Tanya Darman mencari penegasan dari Slamet. " Sebelum aku kasih pertimbangan, aku tanya kamu, Man. Apa yang menarik dari Minil, kok kamu ingin menikahinya ?" Slamet malah ganti bertanya. " Lho ...gimana ta, Met. Aku ini mau minta pertimbangan kok malah ditanya ". Jawab Darman sambil tertawa. " Soalnya gini, Man. Minil itu cuma gadis bodo, esde saja tak tamat. Lugu, wagu, dan kurang ayu. Mlarat lagi. Apanya sih yang menarik ?" Slamet merendahkan Minil di depan Darman. Agar Darman tidak menyukai Minil. " Tapi, Met. Bokongnya itu lho, Met. Terus .... itu penthilnya yang baru tumbuh itu. Terus ..... Minil itu ayu lho, Met. Terus ..... pasti pepeknya enak banget. Mulut Minil itu kan kecil, Met. Pasti juga pepeknya juga sempit. Dan .... itunya, Met..e... e... bibir Minil itu merekah dan selalu basah kayak kena madu ". Slamet terdiam. Dalam hatinya membetulkan apa yang dikatakan Darman. Pak lurahnya juga sangat puas sama Minil. Bahkan pak Lurah telah meminta kepadanya agar Minil terus dipantau. Jangan sampai ada orang yang menginginkan Minil selain pak Lurahnya. Minil memang gadis bodo, bonsor, tapi amat menggairahkan. Minil akan menjadi gula - gula pak Lurahnya. Wah, Darman ini rupanya akan menjadi pengacau ! Pikirnya. " Lho kok diam, Met. Mana pertimbanganmu ? " Darman mendesak Slamet. Slamet bingung mau jawab apa. Slamet tidak pernah tahu kalau dirinya sedang dicoba untuk masuk perangkap. Maka jawabnya mulai jujur : " Menurut aku jangan, Man. Kamu akan menyesal kalau kamu menikahi Minil, Man. Minil itu sudah tidak lagi perawan ". Mendengar penuturan Slamet ini Darman pura - pura terkejut. " Ah ... kamu jangan ngawur, Met. Masak iya Minil sudah tidak lagi perawan. Kamu ya, Met yang memerawani Minil. Iya ,Met ?" Darman terus mencoba memasang perangkap dengan kalimatnya yang menyudutkan Slamet. Slamet tidak pernah merasa kalau dirinya sedang dipancing untuk berceritera tentang Minil. " Betul, Man. Minil itu sudah tak lagi perawan. Tapi bukan aku, Man, yang memerawani Minil ". Slamet rupanya sudah tak tahan untuk tidak jujur. " Lalu siapa, Met. Kalau bukan kamu. Hanya kamu kan, Met, yang selama ini dekat sama Minil ?" Darman menjebak Slamet dengan kalimat yang semakin menyudutkan Slamet. " Kalau bukan kamu, apa den Lurah ya, Met ?" Pertanyaan Darman yang terahkir ini sangat membingungkan Slamet. Slamet terdiam sesaat dan hanya menikmati rokok dan kemudian : " Tapi ini rahasia lho, Man. Sebenarnya yang memerawani Minil ya den Lurah, Man ". Mendengar jawaban Slamet ini hati Darman berjingkrak kegirangan. Kena kamu, Met ! Darman gembira tapi Darman tidak menampakkan kegembiraannya, justru sikap pura - pura kaget yang ditampakkan. " Nah, Man. Apa kamu masih ingin menikahi Minil ?" Tanya Slamet sambil memperhatikan wajah Darman yang menunjukkan kekecewaan. " Wah ... kalau begitu tak jadi saja, Met. Terima kasih, untung kau beritahu. Kalau tidak kecewa aku ". Darman pura - pura. " Untung kamu minta pertimbangan aku, Man. Kalau tidak bisa - bisa Minil itu kamu ceraikan setelah kamu nikahi ". Kata Slamet dengan penuh kebanggaan. Pernyataan Darman tidak lagi ingin menikahi Minil membuat Slamet lega. Kegiatan menyomblangi antara pak Lurah dan Minil tidak terganggu. Tidak ada yang mengacau. Berarti uang dari pak Lurah bakal terus mengalir ke sakunya. Dan komisi demi komisi pasti akan diberikan Minil pada dirinya. " Wah enak ya,Met. Jadi orang kaya seperti den Lurah itu. Duitnya banyak. Perawan saja bisa dibelinya. Padahal den Lurah itu isterinya saja sudah tiga ya, Met. Kok masih suka sama perempuan lain " Darman mulai memasang perangkap lagi dengan umpan membicarakan pak Lurah. Lalu kalimat Darman lagi : " Lha kalau orang miskin seperti kita ini, tongkat hidup cuma bingung mau dimasukkan kemana. Paling - paling dikocok sendiri atau dimaksukkan di pepek kambing ". Mendengar penuturan Darman ini Slamet hanya bisa tertawa. " Sudah pernah merasakan pepek kambing ya, Man ?" Tanya Slamet di sela - sela tawanya. " Terus terang sudah, Met. Habis tak tahan. Dan pepek kambing ternyata enak juga, Met. Kamu juga pernah kan, Met ?" Darman ganti bertanya. " Ya ini nasib perjaka miskin ya, Man. Tapi aneh lho, Man. Kambingku itu kalau aku gitukan kok diam saja. Malah pantatnya dimundur - mundurkan, Man. Apa kambing juga merasakan enaknya tongkat kita ya, Man ? Dan anehnya juga, Man. Kalau aku selesai sama pepek kambing kok terus badan ini lunglai banget. Dan rasanya aku sangat puas. Beda dengan kalau aku kocok sendiri lho, Man ". Darman tertawa ngakak mendengar penuturan Slamet. Selesai dengan ngakaknya Darman kembali fokus pada kegiatannya memasang umpan untuk perangkapnya. " Siapa ya, Met. Gadis di dusun kita ini yang pernah diperawani den Lurah, ya ? Partini dan Ririn ya, Met ?" Slamet yang tidak menyadari kalau kalimat Darman ini adalah  kalimat menyelidik dijawabnya dengan ucapan yang spontan dan tak terpikirkan lebih dulu. " Hus.... jangan ungkit - ungkit peristiwa lama !" Ucapan Slamet ini disampaikan sambil melototi Darman.
     Hus .... Jangan ungkit - ungkit peristiwa lama ! disimpulkan oleh Darman bahwa pak Lurah ada hubungan dengan Partini dan Surinah alias Ririn. Dan Slamet tahu hubungan itu. Tak bakal meleset dugaannya selama ini. Pak Lurahnya pasti terkait dengan kematian Partini dan Surinah. Darman menjadi semakin yakin anggungan perkutut itu pasti tanda pak Lurah malam itu ada di rumah Surinah. Darman tidak ingin tergesa - gesa. Strategi mengorek Slamet harus diatur lebih hati - hati. Agar Slamet bisa buka mulut tanpa disadarinya kalau dirinya sedang dikorek. Kali ini Darman telah memperoleh informasi yang sangat berharga. Dan informasi berharga ini akan disampaikannya kepada polisi.

                                     bersambung kebagian keduapuluhtiga ..........

Rabu, 31 Agustus 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                                    edohaput 

Bagian keduapuluhsatu 

     Begitu malam tiba Darman segera menjalankan misinya, mengintip. Lubang - lubang intip yang kemarin lusa ketika Minil mengembalikan jaket kepada pak Lurah belum berubah. Darman mencoba mengintip, melihat di dalam rumah Slamet. Sepi tak ada orang. Lho kok sepi ! Tak ada orang ! Dimana Slamet. Menurut informasi yang diterima dari mak Kurni tadi malam, malam ini Minil mau dijemput Slamet ke rumah ini. Dan akan diberi uang jahitan oleh pak Lurah. Apa Slamet sedang menjemput Minil, ya ? Belum selesai menerka - nerka tiba - tiba Darman mendengar sepeda motor datang. Pak Lurah ! Jantung Darman deg - degan. Antara senang dan takut. Senang karena misinya bakal berhasil dan informasi dari mak Kurni tenyata benar. Takut karena jangan - jangan perbuatannya ini ketahuan pak Lurah atau Slamet. Malapetaka bagi dirinya bakal tak terhindarkan. 
     Setelah memarkir motornya, pak Lurah langsung masuk rumah. Tidak duduk di ruang depan, tapi terus ke ruang tengah. Pak Lurah melepas jaketnya, celana panjangnya, celana dalamnya, dan berganti memakai sarung. Lho kok semua dilepas ? Darman semakin deg - degan. Pak Lurah kemudian tiduran di balai - balai bambu yang berkasur dan spreinya berbeda dengan yang disaksikan Darman kemarin. Kali ini sprei itu warnanya putih bersih. Wah Slamet ini benar - benar orang yang bisa memanjakan majikannya ! Pak Lurah tampak sekali menikmat asap rokoknya. Darman menjadi ingin merokok. Tangannya meraba saku bajunya. Ada rokok. Tidak mungkin. Jika aku merokok perbuatannku ini pasti ketahuan ! Seberapa pun keinginanku harus ku tahan ! 
    Kalau malam ini benar - benar terjadi, memang betul  pak Lurah ini benar - benar keranjingan bersenggama ! Isteri tiga. Bahkan isteri ketiganya masih sangat muda. Umurnya baru dua belas tahun.  Cantik lagi. Lha kok Minil masih akan digasak juga ! Benarkah keperawanan Partini, keperawanan Surinah alias Ririn juga digasak pak Lurah ? Apakah malam ini keperawanan Minil juga akan direnggut pak Lurah ? Dasar Minil,  goblog banget kalau malam ini mau dijemput Slamet ! Wah tapi Minil itu,  malam itu ketika digarap pak Lurah nampaknya malah menikmati. Jangan - jangan Minil yang goblog itu malah ingin terus digitukan, ya ? Wah kalau gitu ya edan semua ! 
     Slamet datang bersama Minil. Slamet memasukkan sepeda ke dalam rumah. Minil mengikuti dari belakang. Slamet tahu kalau pak Lurah juga sudah datang. " Dah Nil, kamu langsung ke ruang tengah temui den Lurah !" Tidak menjawab kata suruhan Slamet Minil langsung meyibakkan gordin yang mebatasi ruang depan dengan ruang tengah. Minil mendapati pak Lurah sedang tiduran. Begitu melihat Minil pak Lurah langsung bangun dan duduk. " Sini Nil, duduk sini !" Minil dengan tidak cangung langsung duduk di tepi balai - balai. Slamet lewat di ruangan di situ ada pak Lurah dan Minil langsung ke ruang belakang. " Met, buat minum  yang anget !" Perintah pak Lurah. Sambil jalan Slamet mengiyakan perintah : " Ya den .. ". Dengan hanya melirik ke arah Minil Slamet terus berlalu. 
     " Kata Slamet kain yang kamu beli sudah masuk ke  tukang jahit. Betul , Nil ? " Tanya pak Lurah membuka percakapan. Minil hanya mengangguk tanpa berani menatap pak Lurah. Tangannya mempermaikan kancing bajunya. " Ongkosnya berapa, Nil ?" Tanya pak Lurah lagi. Yang lagi - lagi tidak dijawab dengan mulut, melainkan dengan hanya menggeleng. " Jadi belum tahu berapa ongkosnya ? " Minil cuma mengangguk. 
" Tolong ambilkan celenaku yang tergantung itu, Nil. Bawa kesini !" Perintah pak Lurah. Minil bangkit dari duduk dan meraih celana panjang pak Lurah yang tergantung di paku yang ditancapkan. Minil membawanya ke pak Lurah. Pak Lurah mengeluarkan setumpuk uang lembaran ratusan ribu dari saku celananya. " Nih, Nil, besuk untuk bayar ongkos jahitan !" Tangan pak Lurah mengansurkan tumpukan uang dan diterima tangan Minil. Tangan Minil dipegang pak Lurah. Minil ditarik pak Lurah sehingga menjadi terduduk di samping pak Lurah dan tubuhnya menempel di bahu pak Lurah. " Tubuhmu anget, kamu ya sakit ya, Nil ? " Tanya pak Lurah setelah merangkul pundak Minil. Lagi - lagi Minil hanya menggeleng. Minil tak bereaksi ketika dirangkul pak Lurah. " Sudah jadi beli celana dalam ?" Tanya pak Lurah lagi. Dan pak Lurah agaknya memang punya maksud agar segera sampai sasaran dengan menanyakan celana dalam. Minil mengangguk sambil tangannya mempermainkan setumpuk tebal uang yang di tangannya. " Kamu pakai sekarang ?" Minil mengangguk. " Coba lihat, Nil ? " Tanya pak Lurah lagi yang semakin menjurus ke arah sana. Minil tampak bingung tapi segera membuka juga roknya sehingga celana dalam baru dan berenda berwarna hitam tampak di mata  pak Lurah. " Wah pinter juga kamu milih celana dalam, Nil. Bagus banget !" Berkata begitu sambil tangan pak Lurah meraba celana dalam yang dibaliknya ada kemaluan Minil. Sesaat tangan pak Lurah mengelus - elus pepek Minil. Minil merapatkan paha karena geli. " Kutangnya juga sudah beli, Nil ?" Tanya pak Lurah yang ini disambut Minil dengan menegakkan dadanya. Sehingga membusung dan menampakkan kalau ia pakai kutang. Pak Lurah membuka kancing baju Minil di bagian dada sambil berkata : " Coba lihat Nil !" Yang kancing bajunya dibuka tak bereaksi. Setelah membuka seluruh kancing baju bagian dada dan menyibakkannya pak Lurah melihat payudara Minil yang tertutup beha warna hitam berenda biru. Payudara yang belum begita besar tertutup beha. Tampak agak longgar. Tangan pak Lurah mengelus beha. Dan kemudian menelusup ke balik beha dan menemukan penthil kenyal, padat, dan punting yang belum nampak tonjolannya. Dan tubuh Minil ditariknya sehingga berada di pelukan pak Lurah. Tangan pak Lurah meremas - remas penthil Minil. Dan Jari - jari mencoba menemukan putingnya. Tidak menemukan karena memang belum menonjol. Napas pak Lurah semakin memburu. 
     Di luar rumah Slamet dingin. Darman menutupkan sarung di tubuhnya. Matanya terus tetap ditempelkan di lubang intip. Apa yang diperbuat pak Lurah dilihat Darman. Mudah - mudahan lampu minyak itu tidak mati seperti kemarin dulu itu ! Pikir Darman. Kalau lampu itu mati hanya kegelapan yang kau lihat. Sementara itu Slamet sibuk menjerang air di atas tumpuk kayu bakar. Dan Slamet terus memasang telinganya. Dia juga ingin mengintip. Kalau sudah ada desis dan rintihan Minil pasti kegitan sudah dimulai. Dan Slamet tidak menutup rapat gordin yang membatasi ruang tengah dengan ruang belakang. Ia menyisakan celah untuk matanya agar bisa melihat ke ruang tengah. " Dilepas saja bajunya ya, Nil ?" Berkata begitu pak Lurah sambil melucuti baju Minil. Dengan mudah rok terlepas karena memang Minil juga membantu - bantu supaya bisa segera lepas. Kemudian kutang juga dilepas. Kemudian pak Lurah merebahkan tubuh Minil yang telanjang dada. Pak Lurah melepas baju yang dipakainya. Tinggal kaos singlet yang dikenakannya. Pak Lurah kemudian membungkuk dan mulai menciumi payudara Minil. Menjilatnya. Menggigit - gigit kecil punting penthilnya. Minil mendesis dan tubuhnya menggeliat - geliat menyebabkan balai - balai bambu berderit. Sementara tangan pak lurah terus mengelus - elus kemaluan Minil dari luar celana dalam. Ketika mulut pak lurah ke leher Minil, tangannya telah menyelusup di bailik celana dalam Minil. Jari - jarinya telah berada di belahan kemaluan Minil, dan memcoba menyibak - nyibakkan bibir kemaluan untuk menemukan liang kenikmatan yang sempit dan hangat membasah. Pak Lurah kemudian rebah di samping tubuh Minil. Nampak sekali perbedaan kedua tubuh di atas balai - balai itu. Tubuh Minil yang tidak begitu besar. Tubuh seorang gadis kencur bonsor. Berbanding dengan tubuh yang tinggi besar. Dengan tangan dan kaki yang kekar. Besar tubuh Minil tak ada separuhnya dari besarnya tubuh pak Lurah. Pak Lurah memelorotkan celana dalam Minil. Dan Minil membantu - bantunya dengan mengangkat  pantatnya. Celana dalam Minil terlepas. Kemaluan minil tampak jelas di mata pak Lurah. Daging menggunung terbelah terletak di selangkangan. Pak Lurah melepas sarungnya. Dan tongkatnya yang besar, panjang, dan kaku teracung - acung di atas perut Minil. Minil tak melihat itu. Karena Minil terus memejamkan mata karena geli nikmat di penthilnya, di lehernya, dan di pepeknya. Pak Lurah melumurkan jel di kemaluan Minil, Jel dimasukkan juga di liang senggama kemaluan Minil, juga dilumurkan di ujung penisnya. Pak Lurah tahu seandainya tanpa jel Minil pasti akan menjerit kesakitan liang senggamanya yang perawan ditusuk tongkatnya yang begitu kaku, panjang, dan besar. Jel yang licin dirasakan kemaluan Minil. Minil merasakan kemalauannya seperti ketumpahan oli. Sambil menyiumi penthil, leher, pipi, daun telinga berganti - ganti, jari tangan pak Lurah terus melumerkan jel di permukaan kemaluan Minil. Pak Lurah kemudian mengangkangkan paha Minil lebar - lebar, Minil menurut. Kemudian pak Lurah memposisikan pinggul dan pantatnya di tengah antara paha Minil yang kecil bila dibanding paha pak Lurah yang begitu besar dan berbulu. Tongkatnya sangat mencuat. Kemudian pak Lurah menurunkan pantatnya seredah mungking sehingga ujung penisnya telah persis di hadapan kemaluan Minil yang bibirnya telah membuka lebar. Kemudian ujung tongkat ditempelkan di bibir kemaluan Minil. Pak lurah merasakan kehangatan bibir basah dan lunak lumer. Sebaliknya Minil yang bibir kemaluannya serasa ditekan ujung penis pak Lurah seklias teringat apa yang dilihatnya tadi malam. Kemaluan maknya ditusuk tongkatnya kang Darman, dan maknya melantunkan kata : " Aduh Man.....enak sekali....aaaaahhhh !" Akankah kemaluannya merasakan seperti kemaulan maknya yang ditusuk kang Darman ? Minil menunggu apa yang akan terjadi. Dengan dibantu tangannya pak Lurah mengepaskan ujung penisnya di liang senggama kemaluan Minil. Kemudian mendorongnya dengan pantatnya. Ujung penis masuk ke lingan kemaluan Minil. Minil mendesis. Pak Lurah merasakan sempitnya perawan gadis bonsor. " Minil .......". Lembut sekali pak Lurah menyebut nama Minil. Minil yang kemaluannya terasa dijejali benda besar, kaku dan hangat sekejap membuka mata dan menatap mata pak Lurah yang disana ditangkap oleh Minil ada rasa sayang yang teramat dalam dari pak Lurah. Minil hanya bisa berucap lirih : Den.....Lurah ..... " Kemudian kembali matanya mengatup. Minil membayangkan kemaluannya yang sedang ditusuk tongkat pak Lurah. Pak Lurah terus mendorongkan tongkatnya dan karena bantuan jel, tidak terlalu sulit tongkatnya yang begitu besar terus berjalan memasuki liang senggama Minil. Minil menggeliat dan tangannya erat menarik - narik sprei, kepalanya diangkat - angkat tetapi matanya terpejam dan mulutnya meringis dan mendesis. Dirasakan ada rasa sakit di kemaluannya. Dirasakan dikemaluannya ada benda yang masuk dan memenuhi bagian dalamnya. 
Pak Lurah terus mendorong masuk tongkat sampai tidak ada yang tersisa. Sampai disitu pak Lurah berhenti mendorong. Karena terasa sudah mentok. Sampai - sampai buah pelirnya telah terhimpit di antara pantatnya dan pantat Minil. Pak Lurah menghentikan kegiatan. Didiamkan tongkat menikmati seluruh kedalaman kemaluan Minil. Yang dirasakan Minil sakit dan perih karena robeknya selaput dara. Minil hanya bisa mendesis dan meringis. Melihat Minil yang demikian pak Lurah menjadi semakin sayang terhadap Minil. Kemudian tangannya mengelus rambut Minil mulai dari keningnya hingga belakang kepala Minil. Sesekali pipi Minil dicium dengan lembutnya dan seskali pula di telinga Minil pak Lurah menyebut - nyebut nama Minil dengan bisikan lembut pula. " Minil.....Minil....Min....Minil ...." Elusan rambut dan bisikan lembut pak Lurah menusuk relung hati Minil. Perasaan itu begitu terasa di dadanya. Ada rasa bahagia mengalir di pikiran dan relung hatinya. Perasaan itu menindih rasa sakit di kemaluannya. Dan anehnya Minil malah sebaliknya merasakan geli di kemaluannya perihnya hilang. Dan ada rasa pegal gatal di kemaluannya. Seluruh rongga di dalam kemaluannya terasa enak luar biasa dan ada rasa mau menyentak, meledak, pegal, dan rasa geli meradang yang tak tertahankan. Minil membuka mata dan menatap mata pak Lurah. Pak Lurah tersenyum dan menyebut namanya : Min .....Minil.....". Dan Minil tak kuasa menahan rasa di kemaluannya. Yang dilihat pak Lurah kemudian di wajah Minil adalah, lubang hidung Minil mekar, mulut menganga, dan dada diangkat - angkat dan desisnya dengan hebatnya keluar dari mulutnya : Aaaaauggggghh........". Berbarengan dengan itu kaki Minil menelosot - nelosot. Tangannya menggenggam dan menarik - narik seprei kuat - kuat. Dan yang dirasakan pak Lurah tongkatnya  yang ada di dalam kemaluan Minil bagai dililit - lilit dan kemudian dirasakan ada cairan hangat yang mengguyur tongkat. Minil orgasme. Sebentar kemudian Minil Lunglai. Dan kemaluan Minil dirasakan sangat basah oleh tongkat pak Lurah. Kemudian pak Lurah juga mulai bergiat memanjakan tongkatnya. Dengan lembut tongkat ditarik mundur dan dimajukan lagi. Mundur dimajukan lagi sambil menikmati apa yang ada di dalam kemaluan Minil. Ketika tongkat dimundurkan Pak Lurah merasakan tongkatnya bagai dililit - lilit, disedot - sodot oleh kemaluan Minil. Dan ketika dimajukan pak Lurah merasakan tongkatnya membelah, menusuk, dan mendorong sesuatu yang melilit - lilit ketika tongkatnya dimundurkan. Luar biasa tak ada nikmat selain menyenggamai kemaluan perempuan. Apalagi ini perempuan perawan. Walaupun pelan tetapi tiada henti terus pak Lurah memaju mundurkan tongkat sambil terus menikmati kedalaman kemaluan Minil. Kemaluan Minil yang diperlakukan demikian tidak tahan. Rasa geli nikmat kembali menjalar, tubuhnya menjadi merinding. Rasa nikmat di pepeknya naik sampai di saraf otaknya. Tak ayal tubuhnya menjadi menggigil, kembali tangannya mencari - cari seuatu untuk digenggam, kakiknya menelosot - nelosot dan mata Minil sekejap terbeliak menatap pak Lurah dan : " Aaaaaaaahhhhgg .... den Lurah..... den.... !". Minil kembali sampai dipuncak kenikmatan. Kenikmatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kembali tongkat pak Lurah yang terus maju mundur di kamaluan merasa semakin longgar karena cairan licin yang dikeluarkan kemaluan Minil. Ujung penisnya semakin mengembang. Saluran kecingya telah dipenuhi air mani yang siap membasahi rongga kemaluan Minil. Tongkat semakin terasa pegal. Dan semakin gemas saja pak Lurah dengan tubuh Minil yang sedang disetubuhinya. Kemudian yang dilakukan pak Lurah mengangkat tubuh Minil, dipangkunya. Mulut Minil dicium. Lehernya dijilati. Dan tangannya mermas penthil. Dan pantat pak Lurah bergoyang - goyang menimbulkan suara balai - balai bambu sedemikian berderit. Pak Lurah menjadi garang. Napasnya memburu tak beraturan. Pantat Minil diangkat diturunkan, diangkat diturunkan dan semakin cepat - semakin cepat. Minil seperti cacing kepanasan menggeliat tak karuan. Pak Lurah tidak peduli. Rintihan Minil justru menambah semangat pak Lurah menghujam - hujamkan tongkatnya di kemaluan Minil .Setelah beberapa menit begitu, tubuh Minil kembali ditelentangkan dan dengan kuatnya pak Lurah memompa pepek Minil. Kedua paha Minil dicengkeram sedikit diangkat, dan pak Lurah juga sedikit mengangkat pantatnya dan terus memompa dengan kuat dan cepat. Minil menjerit kemudian lunglai. Dan pak Lurah tak peduli, terus dengan semakin cepat menjodokkan tongkat di kemaluan Minil yang entah wujudnya menjadi seperti apa karena disetubuhi dengan kuatnya. Kemudian tubuh minil yang sudah lunglai dibalikkan. Kali ini Minil tengkurap pantatnya di pangkuan paha pak Lurah. Kembali pak lurah memompakan tongkat di pepek Minil dengan cara pak Lurah mencengkeram kedua paha Minil dan paha itu dimaju mundurkan sehingga tongkat pak Lurah melesak masuk dan keluar di kemaluan Minil. Kegiatan ini dilakukan pak Lurah dengan kasarnya dan memakan waktu bermenit - menit. Minil tak lagi merasakan apa - apa karena sudah pingsan. Minil pingsan karena karena terlalu banyak orgasme, juga karena hentakan - hentakan tubuh pak Lurah yang begitu kuatnya. Kembali tubuh Minil yang lunglai diteletangkan, kali ini pak Lurah siap mengeluarkan maninya. Ia sudah tak tahan dengan enaknya kemaluan Minil. Setelah kemaluan melesak masuk pak Lurah tanpa ampun memompakan tongkatnya dengan kuat dan cepat di kemaluan Minil. Sampai - sampai beradunya paha pak Lurah dengan paha Minil menimbulkan suara ....ceplak ...ceplak ...ceplak ...ceplak ....!. Dan dari kemaluan Minil muncul suara kecipak .... kecipak ....  kecipak.....! Pak Lurah menjadi lupa diri dengan saking gemasnya terhadap tubuh Minil. Payudara Minil digigit. Dicupang. disedot dan pantat Minil diremas - remas kuat. Kegiatan pak Lurah ini menyebabkan Minil siuman. Minil tersadar. Terbeliak matanya. Dan anehnya Minil merasakan sensasi yang luar biasa dan dia orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya : " Ampun.... den...Minil ..tak kuat lagi ". Saat itu pula pak Lurah tak lagi kuat menahan maninya. Dengan kuat direngkuhnya tubuh Minil. Dipeluknya kuat - kuat  dan tongkatnya menyemburkan mani di dalam kemaluan Minil. Pak Lurah merasakan seolah kelaminnya pecah meledak  di dalam kemaluan Minil. Rasa nikmat luar biasa tak terbayangkan dirasakan pak Lurah. Pak Lurah mengerang hebat. Erangan pak Lurah begitu kautnya, sehingga semakin menyadarkan Minil yang sejanak tadi sempat pingsan. Sesaat Minil masih bisa merasakan tongkat pak Lurah berkedut cepat,  menyasak  - nyesak dan mendesak - desak di kedalaman kemaluannya dan semburan cairan kenthal, hangat, licin yang bagai air bah menerjang tanggul juga dirasakan Minil. Minil sesaat juga bisa menikmati air mani pak Lurah yang menghangat, meleleh, dan memenuhi seluruh rongga kemaluannya. Kemudian Minil lunglai dan lagi - lagi pingsan menyusul kejangnya kaki dan badan karena kemaluannya orgasme hebat. Lama sekali pak Lurah mendekap tubuh minil dan sesekali masih menggerakkan tongkatnya maju mundur untuk menuntaskan maninya yang masih tersisa di saluran. Sehabis itu pak Lurah juga terkulai di samping tubuh Minil yang pingsan.
     Darman masih terus menempelkan matanya di lubang intip. Melihat Minil diperlakukan begitu, rasa kasihan Darman muncul pula. Ingin rasanya Darman mengambil tubuh Minil yang lunglai lemas itu dan di bawa pulang ke mboknya. Minil yang terkulai dan perawannya telah direnggut dengan sedemikan ganasnya. Keperawanan yang dinikmati oleh pak Lurah yang memperlakukan pasangan senggamannya dengan begitu kejam. Slamet tak berani lagi mengintip. Ia segera sibuk mempersiapkan air hangat untuk pak Lurah bersih - bersih. Slamet mengisi ember - ember dengan air hangat. Kopi dan teh panas juga telah dipersiapkan Slamet.
     Pak Lurah bangkit dan meninggalkan Minil yang masih terkulai telanjang di balai - balai. Selesai bersih - bersih pak Lurah segera merapikan diri, mengenakan lagi seluruh pakainnya seperti ketika tadi datang. Minum kopi di dapur dan : " Tolong kau rawat Minil . Ingat Met, jangan kau apa - apakan dia. Minil milikku " Berkata begitu pak Lurah sambil mengulurkan setumpuk lembaran ratusan ribu pada Slamet. " Percayakan saya den.. di tangan Slamet Minil aman, den ? " Jawab Slamet sambil menerima uang pemberian pak Lurah. " Sudah aku pulang dulu ". Pak Lurah meninggalkan rumah Slamet. Minil sangat enak. Sambil berkendara menuju rumahnya pak Lurah terus berpikir mengatur strategi agar bisa terus berhubungan dengan Minil dan terus bisa selalu menyemenggamainya.
     Slamet tahu kalau Minil ternyata pingsan. Tubuhnya yang telanjang segera diselimutnya. Ke dapur Slamet mengambil ember berisi air hangat dan handuk kecil. Disibakkan selimut yang menutup tubuh  Minil. Slamet mulai mengelap tubuh Minil dengan air hangat. Wajahnya, lehernya, kemudian dadanya semua di lap oleh Slamet. Sampai di dadanya Slamet tergiur. Sebentar tangan Slamet meremas payudara Minil. Diteruskan mengelap perut dan terus ke bawah. Slamet mengangkang paha Minil. Slamet dengan jelas bisa melihat kemaluan minil. Bibir tampak tebal memerah. Slamet tahu pasti itu akibat tongkat pak Lurah yang tadi tak henti - hentinya menyodok dengan kuat. Dari liang senggamanya meleleh mani pak Lurah yang tercampur dengan darah merah, darah perawan Minil. Slamet memijit - mijit perut tepat di atas kemaluan Minil. Dan lelehan mani pak Lurah semakin banyak keluar dari pepek Minil dan membasahi sprei. Slamet mengelap kemaluan Minil sampai bersih. Minil siuman dari pingsannya. Dan samar - samar melihat Slamet yang masih terus mengelap kemaluannya. " Minta minum kang, aku haus banget " Kata Minil sambil mencoba bangun dari posisi tidurnya. Slamet bergegas mengambil teh di dapur dan memberikan gelas teh hangat ke Minil. Selesai minum Minil ambruk lagi. " Jangan tidur, Nil, ayo pulang !" Minil tak menggubris ajakan Slamet. Tubuhnya terlalu capai untuk bangun. Slamet menggoyang - goyangkan tubuh Minil. " Ayo Nil, pulang !" Sambil terus Slamet menggoyangkan tubuh Minil. " Dak kang, aku mau tidur sini saja, suk pagi saja pulangnya. Tolong uang ini dikasih ke simbok ". Tangan Minil mendorong tumpukan uang di sampingnya  dan terus menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
     Darman yang terus mengintip menyudahi kegitannya. Dan bergegas meninggal rumah Slamet, setengah berlari menuju rumah mak Kurni. Darman tahu kalau Minil tak pulang malam ini. Dan mak Kurni akan sendirian di rumah. Darman akan lagi menggoda mak Kurni. Hasrat bersenggamanya menggebu dengan menyaksikan persenggaman yang dilakukan Pak Lurah dan Minil tadi. Birahinya akan dilampiaskan ke mak Kurni. Darman langsung mendorong pintu yang Darman tahu pasti pintu di rumah mak Kurni belum dikancing lantaran mak Kurni sedang menunggu anaknya  pulang. Mak Kurni yang masih sibuk merapikan daun pisang calon pembungkus tempe dan duduk di lantai beralas tikar kaget. " Lho kok kamu, Man ? Aku kira Slamet dan Minil !" Mak Kurni menyambut kedatangan Darman. " Memangnya Minil sama Slamet kemana, yu ?" Darman pura - pura tidak tahu. Belum sempat dijawab Slamet masuk dan disapa mak Kurni : " Kok sendirian Minil mana ?" Dengan cepat Slamet menjawab dengan kebohongan yang kalimatnya telah dipersiapkan : " Walah yu, .... Minil itu memang tukang ngantukan tenan ta ? Lha wong sedang diajak bicara sama den Lurah kok kepalanya lentak - lentuk ngantuk. Malah terus tidur di kursi ". Mak Kurni mengerutkan keningnya dan : " Terus ?" Tanya mak Kurni. " Terus saya suruh tidur di tempat tidur ta, yu. Lha kok saya bangunkan ini tadi tidak mau bangun. Katanya besuk pagi saja pulangnya ". Slamet berbohong lagi. Mendengar penuturan Slamet, Darman tertawa dalam hati. Pinter juga Slamet berbohong ! Pikirnya. " Dan ini uang jahitan dari den Lurah untuk Minil ". Darman memberikan tumpukan uang ke hadapan mak Kurni. " Lho kok banyak banget, Met ?". Mak Kurni menghitung uang. " Dah terima saja, yu. Besuk sisanya kan bisa untuk keperluan lain - lain ". Slamet dengan santainya mengucapkan kalimat ini. " Terus den Lurah ?" Tanya mak Kurni. " Den Lurah ya terus pulang ta, yu. Lha yang diajak bicara malah ngantuk ". Slamet berbohong lagi . " Ya sudah Met, dak papa kamu segera pulang saja kasihan Minil sendirian. Oh .. ya Met titip Minil  lho". Slamet segera bangkit dari duduk dan meninggalkan Darman dan mak Kurni.
     Setelah Slamet pergi Darman menjulurkan kaki dan tiduran di depan mak Kurni yang lagi merapikan daun pisang yang sempat terhenti karena kedatangan Slamet. Darman menyulut rokok. " Mbok kamu itu dak usah ngrokok ta, Man ! Duitnya dikumpul - kumpul. Kalau sudah ngumpul kawinan. Dak takut jadi perjaka tua, pa Man ?"  Kalimat mak Kurni memecah kesunyian malam. " Dah kalau mau tidur sana di kamar Minil saja. Disini dingin, Man ?" Darman kaget dengan kalimat mak Kurni ini. " Lho aku boleh tidur sini ta, yu ?" Tanya Darman. " Ya apa mau pulang sudah malem gini. Disini tinggal tidur. Tapi besuk bangun pagi - pagi. Malu tetangga tahu kamu tiidur disini. Nanti dikiran kita berbuat yang enggak - enggak ". Kalimat mak Kurni lagi. " Lha kalau kayak kemarin malam itu enggak - enggak dak, yu ?" Goda Darman. " Ah embuh lah ... ya kamu itu yang bikin terjadi ". Jawab mak kurni manja. " Ini mumpung sepi diulang yuk, yu !" Goda Darman semakin menjurus sambil tertawa. " Wih enaknya kamu, Man ....Man... " Mak Kurni menimpali godaan Darman sambil tertawa juga. " Ya mau dak, yu. Kalau dak mau aku tak pulang saja ". Teringat kemarin malam Darman begitu membuatnya puas mak Kurni mulai terangsang. " Ya sudah sana kamu tiduran dulu di kamar Minil, nanti tak susul ". Darman bangkit dan segera menuju kamar Minil. Di dalam kamar Darman segera melucuti celananya, bajunya. Tinggal sarungnya saja yang membalut tubuhnya. Tongkatnya tak mau berhenti ereksi. Setelah mengancing pintu mak Kurni menyusul masuk kamar. " Sudah ayo, Man. Aku mau diapakan ?" Mak kurni masih berdiri di tepi ranjang. " Dilepas yu, dasternya " Perintah Darman. " Ah dak .... dingin, Man !" Berkata begitu tapi mak Kurni melepas juga dasternya. Mak Kurni telah telanjang dan masih berdiri. " Dah tiduran sini, yu !" Darman menarik tangan mak Kurni. Mak Kurni terduduk dan kemudian terlentang di samping Darman. Darman segera membuka sarungnya. Kemudian mengangkang kaki mak Kurni. Dan Darman segera ambil posisi memasukkan tongkat di kemaluan mak Kurni. Tak lama kemudian tongkat Darman telah masuk di kemaluan mak Kurni. " Aaaaaahhhh...Enak banget .... terpedomu, Man. Kaku banget. Gede lagi " Mak Kurni mengoceh sambil mendesis. " Awas Man......kalau kamu cepet keluar tak suruh bayar kamu ... " Mak Kurni mengancam agar Darman berlama - lama menyenggamainya. " Boleh yu, yu Kurni malam ini bakal tak buat puas ...puas sekali ... " Sambil terus memompa Darman terus meremas dan menyedot penthil mak Kurni. Mereka terus bergumul. Berganti posisi. Mak Kurni orgasme. Darman menyerang lagi. Lagi - lagi mak Kurni orgasme. Darman belum akan mengeluarkan maninya sebelum mak Kurni minta ampun.

                                                            bersambung kebagian keduapuluhdua ........