Rabu, 21 September 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput
Anggungan Perkutut

                                                                                                                             edohaput 

Bagian keduapuluhempat

     Hari masih pagi. Jam belum menunjukkan pukul delapan. Partini mengenakan rok yang paling baik yang dimilkinya. Rok itu tak lebih baik dari rok - rok yang paling jelek dan paling kumal yang dikenakan gadis kota. partini berdiri di pinggir jalan tepat di perempatan jalan desa. Tak lama kemudian muncul dari arah barat mobil pak Lurah. Model sedan warna hitam. Mobil berhenti dan Slamet keluar dari mobil dari pintu depan. Slamet membimbing Partini masuk mobil di jok depan yang tadi didudukinya. Slamet pindah di jok belakang. Mobil berjalan lagi menuju kota. 
     Di dalam mobil pak Lurah melirik Partini yang duduk kaku di samping. Roknya yang kependekan menyebabkan paha Partini terbukan. Pak Lurah menelan ludah. " Duduk yang santai saja, Ni. Punggungnya disandarkan " Kata pak Lurah sambil memngganti gigi presneling agar mobil tambah laju. Partini menuruti kata - kata pak Lurah dan kini posisi duduknya Partini santai. Punggungnya disandarkan di sandaran jok. Paha Partini jadi semakin terbuka hampir sampai ke pangkal paha  karena roknya yang memang kependekan itu jadi tertarik kebelakang lantaran ia duduk sandaran. Pak lurah menjadi mengemudi kurang konsentrasi karena matanya ingin melihat paha Partini. Paha seorang anak dari hasil hubungan antara mbok Sargini dengan babah Ong. Paha yang putih berbulu halus. " Sudah sarapan, Ni ?" Tanya pak Lurah sambil melirik paha Partini. " Sudah den " Jawab Partini sambil terus mengamati jalanan di depan mobil, dan sekali - sekali melihat pinggiran jalan yang dipenuhi rumah - rumah bagus. Mobil telah memasuki jalan beraspal dan melaju mulus tidak seperti sebelumnya yang melewati jalan desa tak beraspal. Payudara Partini yang tak berbeha lantaran tak ada beha yang baik tak lagi terguncang - guncang seperti sebelumnya ketika mobil menapaki jalan desa. Mobil melaju tambah kecang. Partini sedekap memeluk payudaranya sendiri. " Dingin ya, Ni ? " Tanya pak Lurah sambil melihat payudara Partini yang ditekan tangannya sendiri. " Ya den ini anginnya kok dingin banget ". Jawab partini. " Itu ace, Ni. Ya gini ini kalau wong desa dak pernah naik mobil bagus ". Timpal Slamet dari jok belakang. Pak Lurah mengecilkan sentoran angin ace. Tidak lama kemudian mobil berhenti tepat di depan Salon Ayu. Slamet bergegas turun membukakan pintu mobil untuk Partini. Pak Lurah segara membimbing Partini masuk di Salon Ayu. Salon termewah dan termahal di kota. Salon tempat para kalangan menengah ke atas merawat kecantikan. Seorang perempuan paruh baya tergopoh - gopoh menyambut kedatangan pak Lurah. Perempuan yang make up over menor ini adalah pemilik salon dan terkenal dengan panggilan tanten Lina. " O .. ini ya, pak. Gadis yang bapak maksudkan untuk dirawat ". Kata tante Lina kepada pak Lurah. " Cantik banget ! Siapa namamu, dhuk ?" Tanya tante Lina kepada Partini sambil tersenyum. " Partini, bu !" Jawan Partini. " Ah ... jangan panggil bu, ndhuk ! Tante .... gitu, ah !" Tante Lina ramah meminta Partini memanggilnya dengan sebutan tante. Partini hanya tersenyum. " Ya sudah ditinggal saja dulu, pak. Tiga jam lagi silakan kembali.. Partini sudah selesai aku rawat " Kata tante Lina kepada pak Lurah. Tak menjawab pak Lurah segera meninggalkan salon dan menuju mobil bersama Slamet melaju di jalan kota.
     Partini mendapat perawatan tubuh, perawatan wajah dan di make up. Partini merasa sangat bingung tapi sangat senang. Partini merasa sangat dimanjakan. Tubuhnya di lulur. Rambutnya dikeramas. Wajahnya dibersihkan. Partini  tak percaya kalau ini sedang terjadi pada dirinya. Partini tak percaya ini nyata. Partini merasa bagai mimpi di surga. Setelah selesai di make up, Partini didandani dengan kain kebaya. Lagi - lagi Partini tidak percaya kalau bayangan di cermin itu adalah dirinya. Mengapa aku sangat cantik ? Benarkah  aku berubah jadi sangat cantik ? Partini terkesima oleh kecantikkannya sendiri.
      Pak Lurah dan Slamet yang sudah kembali datang di salon dan segera dipersilahkan oleh tante Lina untuk melihat Partini di ruang belakang. Partini sedang diambil gambarnya dengan berbagai pose oleh fotografer salon. " Dia itu Partini ?" Bisik pak Lurah ke telingan tante Lina yang berdiri di sampingnya. Tante Lina mengangguk dan tersenyum sambil memperhatikan wajah pak Lurah yang tidak mempercayai matanya sendiri. Edan ! Kau sangat cantik Partini ! Seandainya lomba ratu luwes itu benar ada kau pasti menang ! Sayang itu hanya rekayasaku agar aku bisa membawamu ke kota dan menikmati tubuhmu ! Mata pak Lurah tak berkedip memperhatikan Partini yang sedang diatur - atur pose oleh fotografer. Pak Lurah menjadi tak sabar,  ingin rasanya segera memeluk Partini. Menciuminya. Tongkat pak Lurah mengembang di dalam celananya. Setelah selesai dengan fotografer Partini dibawa tante Lina ke dalam kamar. Keluar kamar Partini tidak lagi berkain kebaya. Rok baru dengan potongan seksi dikenakan di tubuh Partini. Dengan rok barunya Partini tampak tidak hanya cantik tetapi menjadi cantik dan seksi. Selesai dengan tante Lina yang menyodorkan nota, pak Lurah segera menggandeng Partini keluar dari salon. Mobil melaju dan berhenti di restoran terbesar di kota. Partini menjadi menarik perhatian pengunjung restoran. Pak Lurah dengan bangganya menggandeng Partini. Partini yang seksi. Partini yang cantik. Partini yang bersepatu hak tinggi. Partini yang memiliki kaki panjang dan bersih. " Mau makan apa, Ni ?" Tanya pak Lurah setelah mereka mengitari meja. " Bakso saja, den " Partini menjawab. Slamet menahan tawa. " Tahumu itu cuma bakso dan mie ayam ya, Ni !" Ledek Slamet. " Ini menu makanan, Ni ! Silahkan pilih yang kamu suka !" kata pak Lurah sambil menyodorkan buku menu. Partini melihat - lihat isi buku menu dan matanya terus melotot. Bingung. Belum pernah Partini melihat harga seporsi makanan semahal itu. " Nasi goreng saja, den " Ahkirnya Partini memilih. " Minumnya teh saja " Partini mengulurkan buku menu kepada Slamet. Slamet memilih, pak Lurah menulis.
     Dari restoran mobil melaju dan berhenti di halaman hotel. Hotel Graha Nendra. Hotel termewah di kota. Pak Lurah segera membimbing Partini masuk ke hotel. Pegawai resepsionis hotel segera menjemput pak Lurah dan memberikan kunci kamar. Rupanya pak Lurah telah lebih dulu memesan kamar. Pak Lurah terus menggandeng Partini. Pintu kamar dibuka. Partini menolak masuk. " Pulang saja, den. Sudah sore. Nanti simbok cemas " Rengek Partini. Pak Lurah tak menggubris rengekan Partini. Ditariknya Partini masuk kamar. Pak Lurah mengunci pintu dari dalam. " Ayo den pulang saja " Rengek Partini lagi. Kembali pak Lurah tak menggubris. Dipeluknya tubuh Partini. Partini meronta. Tetapi tiba - tiba Partini tidak punya tenaga. Tubuhnya lemas. Matanya berkunang - kunang. Dan setelah itu tak ingat apa - apa lagi. Rupanya ramuan obat yang dimasukkan oleh pegawai restoran ke gelas teh Partini atas suruhan pak Lurah sudah bekerja. Partini pingsan. Pak Lurah segera mengangkat tubuh Partini dan ditidurkan di ranjang mewah yang belum sempat dikagumi Partini. Sejenak pak Lurah mengagumi kecantikan Partini yang make upnya masih di wajahnya. Pak Lurah segera melucuti pakaian. Pak Lurah telah telanjang. Tongkatnya yang besar tampak begitu kaku dan mendongak. Satu demi satu yang dikenakan partini mulai dilucuti pak Lurah. Mulai dari sepatu baru, rok baru, beha baru, sampai pada celana dalam baru yang dikenakan oleh tanten Lina di tubuh Partini telah lepas. Partini pingsan telanjang. Nafsu birahi pak Lurah menggelagak. Diangkatnya tubuh telanjang Partini dan dipangkunya. Tangannya mulai meremas payudara Partini. Mulutnya tak henti - hentinya menciumi mulut Partini yang ternganga basah. Dari payudara tak sabar tangan terus turun ke selangkangan Partini. Tangan pak Lurah menemukan kemaluan Partini. Tanpa ampun kemaluan Partini menjadi bulan - bulanan tangan dan jari pak Lurah. Partini tidak tahu apa yang sedang dialami tubuhnya. Partini hanya merasakan mimpi melayang - layang. Puas dengan bibir, payudara, dan kemaluan, pak Lurah kemudian kembali menelantang tubuh telajang Partini. Lebar - lebar kaki Partini dikangkangkan. Sejenak ditatapnya kemaluan Partini yang bibirnya telah terbuka merekah. Kemaluan yang masih cantik. Dengan bibir yang halus belum berkerut. Kemaluan yang masih perawan. Kemaluan yang belum tersentuh tongkat. Bulu - bulu halus menghiasi kecantikan pepek Partini. Pepek yang sebentar lagi akan disantap. Dirasakan kenikmatan. Dirasakan jepitannya. Dirasakan kedutannya. Ah ... Partini ! Wajahmu cantik. Kemaluanmu ayu ! Dengan posisi menelungkup pak Lurah menempelkan ujung tongkatnya di bibir kemaluan Partini. Dibiarkan sebentar ujung tongkatnya menikmati kehangatan bibir kemaluan Partini yang basah oleh jel yang dioleskan tadi sambil mempermainkannya. Sambil memeluk tubuh Partini, tongkatnya didorong maju. Perlahan - lahan tongkat pak Lurah melesak masuk di kemaluan Partini. Edan ... enak sekali ! Kemaluan perawan cantik ! Nikmat luar biasa ! Pak Lurah terus menekankan tongkat dan ahkirnya tenggelamlah seluruh tongkat pak Lurah di dalam kemaluan Partini. Pak lurah menikamti kedalaman kemaluan perawan. Tongkat tidak digerakkan. Tapi dinikmati. Edan ! Enak sekali ! Sambil terus menciumi payudara, bibir dan leher Partini, pak Lurah mulai menikmati kemaluan perawan dengan menggerakkan tongkat maju mundur. Apa yang dilakukan pak Lurah bagai bersetubuh dengan boneka Love doll sex. Semakin lama semakin memburu napas pak Lurah dan semakin cepat pula memaju mundurkan tongkat di kemaluan Partini. Ketika dirasa mani mau menyembur pak Lurah berhenti menyodokkan tongkat. Ketika rasa mulai reda kembali tongkat mengembang kempiskan kemaluan Partini yang tidak seukuran dengan tongkat pak Lurah. Sebentar kemudian tubuh Partini ditengkurapkan. Dengan tangannya yang kokoh pantat Partini diangkatnya. Dan Tongkatnya dimasukkan dari belakanng dan dipompanya dengan penuh Nafsu. Sebentar kemudian kembali tubuh Patini ditelentangkan. Kembali tongkat melesak masuk. di liang senggama Partini. Sambil terus mendekap tubuh Partini, semakin cepat pak Lurah memompa kemaluan Partini. Mani yang ada di salurannya sudah sangat banyak. Terkumpul dan semakin menambah besar tongkat. Ujung tongkat telah sangat meradang nikmat. Pak Lurah semakin memacu pantatnya. Edan ! Enak sekali ! Kemaluan perawan cantik ! Kemaluan yang belum pernah tertusuk tongkat. Edan tak tertahankan nikmatnya ! Pak Lurah tak tahan. Siap menyembukan maninya di kemaluan Partini. Hentakan demi hentakan menggoyang - goyang tubuh Partin. Pak Lurah mendekap erat tubuh Partini, dan tongkat ditekan kuat - kuat dan di dalam kemaluan Partini  menyudul sesuatu yang membuat tongkat semakin tak tahan membendung mani. Dan ......" aaaaaaauuuuughhhhhhh ! Partini ! N i i i i i i i ......... ! " Cairan kenikmatan dari tongkat pak Lurah menyembur - nyembur di kedalaman kemaluan Partini. Setelah beberapa saat pak Lurah mencabut tongkatnya. Dari kemaluan Partini meleleh cairan putih kental bercampur darah merah perawan. Pak Lurah ke kamar mandi dicucinya tongkatnya. Kemudian dengan gayung pak Lurah membawa air ke ranjang. Dengan sangat pelan dan hati - hati kemaluan Partini dilap. Mulai dari bibir sampai liang senggama Partini dilap dan dibersihkan oleh pak Lurah. Kemudian pak Lurah menyelimuti Tubuh sintal, segar, dan indah yang tergolek telanjang di hadapannya. Pak Lurah istirahat santai. Minum dan merokok. Perkiraannya Partini belum akan siuman. Pak Lurah tahu betul kasiat dan ketahanan ramuannya. Selesai dengan rokok dan minumannya kembali pak Lurah mendekati tubuh Partini. Selimut di buka. Dipandanginya tubuh muda telanjang di hadapannya. Dan tangan mulai tak tahan untuk merabanya. Mula - mula payudaranya yang ranum dan memerah karena remasan tadi. Dikulumnya lagi bibir Partini yang masih ada sisa - sisa gincu merahnya. Dijilatinya leher Partini yang wangi. Kembali tongkatnya mengencang. Kaku dan terasa pegal. Kembali kaki partini dikangkangkan. Ditatapnya kemaluan partini yang bibirnya memerah lantaran tadi sudah cukup lama dikocok tongkatnya. Bibir kemaluan Partini sedikit lebih tebal dari pada sebelum di senggamainya tadi. Kembali pak Lurah menelungkup dan mengarahkan tongkat yang kaku pegal ke pepek Partini. Sekali dorong amblaslah seluruh tongkatnya. Mudahnya tongkatnya masuk ke kemaluan Partini dikarena di kemaluan Partini masih tersisa maninya yang melicinkan liang senggama. kambali napas pak Lurah memburu, Dan tongkatnya lebih dahsyat memompa dari pada persenggamaan yang pertaman, Maju mundunya tongkat lebih keras. Sampai - sampai menimbulkan suara kecipak di kemaluan Partini. Sambil terus memeluk kuat tubuh Partini yang lunglai dan menciumi wajah dan bibir Partini pak Lurah terus memompa tongkatnya sambil melenguh - lenguh kenikmatan. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Sampai - sampai keringat menetes - netes di tubuh Partini. Kegiatan mencari kenikmatan yang kedua telah berlangsung sepuluh menit. Ujung tongkatnya yang terus menerobos - nerobos lubang sempit, yang di kedalamannya terdapat beraneka rasa enak mulai tahan. Di saluran maninya telah terkumpul sangat banyak dan semakin menggelumbungkan tongkatnya. Pak lurah Siap menyemburkan lagi maninya di kemaluan Partini. Dengan kedua tangannya pantat Partini sedikit diangkat dan pompaan tongkat dipercepat dan diperkeras. Dan Pak Lurah menjerit kenikmatan. " P a r t i i i i i i i n n n n n  i i i i i i i i ............ ! " Tak kalah banyak dari yang pertama mani pak Lurah menyemprot rahim Partini. Seandainya saja Partini menerima ini dalam keadaan sadar barangkali Partini akan merasakan kedalaman kemaluannya disentor benda cair hangat kental yang sangat luar biasa banyak. Sampai disitu pak Lurah belum berhenti memompa rasanya ingin maninya tertumpah semakin banyak lagi dan kenikmatan yang dirasakan bertambah - tambah. Tak ayal jika dari kemaluan partini terdengar suara ..... ceprot ....!.....ceprot ..... ceprot ..... ! Dan seprei di bawah pantat Partini bagai tersiram air segayung.

                                           bersambung kebagian keduapuluhlima .................

Minggu, 18 September 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut

                                                                                                                                      edohaput

Bagian keduapuluhtiga 

     Setelah lima belas menit menunggu polisi mempersilahkan Darman masuk ke ruang dimana dia sering diterima para polisi. Seperti hari - hari sebelumnya Darman duduk berhadapan dengan polisi yang di mejanya ada komputer. Dua polisi yang lain duduk bersebelahan dengan Darman. " Kedatangan saya hari ini membawa informasi yang semakin jelas kalau den Lurah terlibat, pak ". Darman membuka percakapan walaupun belum ditanya atau belum diminta menyampaikan laporan. " Den Lurah saya itu memang benar - benar keranjingan begituan, pak !" Darman semakin semangat. " Edan, pak. Minil yang saya ceritakan dulu itu kepada bapak - bapak,  digituin sama den Lurah sampai pingsan, pak !" Darman ingin polisi segera percaya akan laporannya. " Coba bayangkan, pak. Gadis perawan kok digenjot - genjot gitu, pak !" Ekspresi Darman seperti orang sedang emosi marah. " Sabar - sabar, Man. Pelan - pelan saja. Ceritakan yang kamu tahu dengan urut, runtut, dan tenang. Agar kami tidak bingung ". Kata polisi yang dimejanya ada komputer. " Lha iya ta, Man. Kamu itu gimana. Belum ditanya, belum diperintah ngomong kok sudah nerocos !" Kata polisi yang duduk bersebelahan dengan Darman. Darman sadar kalau dirinya terlalu semangat dan tergesa - gesa, lalu katanya : " Iya ...ya...pak. Maaf, pak. Habis saya ingin segera bapak - bapak ini percaya sama saya kalau den Lurah saya itu pasti terlibat dengan kematian Partini dan Surinah. Maaf ya, pak ". Para polisi hanya bisa tersenyum melihat Darman yang tiba - tiba mengendor emosinya. " Baik, Man. Sekarang kami siap ! Ceritakan dari awal dengan runtut !" Perintah polisi yang lain yang duduk bersebelahan juga dengan Darman. " Ni, rokok ! Kamu nikmati dulu !" Darman mengambil rokok yang ditawarkan polisi. Menyulut dan menikmatinya.
     Darman mengawali cerita. Diceritakan semua yang disaksikannya dari lubang intip di rumah Slamet. Para polisi sangat menikmati cerita Darman. Lebih dari tiga puluh menit Darman cerita. Dari a sampai z semua yang  dilihat dan diketahuinya diceritakan. Tidak ada yang ketinggalan. Diceritakan juga kepada polisi pertemuannya dengan Slamet. Dan kata - kata Slamet " Hus .... jangan ungkit - ungkit peristiwa lama " ketika Darman menyinggung - nyinggung Partini dan Surinah juga dengan penuh semangat diceritakan kepada para polisi. " Nah .... itulah, pak. Apa bapak - bapak masih tidak percaya  kalau den Lurah saya itu terlibat ? Tangkap saja den Lurah saya itu, pak !"  Kata  Darman penuh semangat  kepada polisi seolah ingin menegaskan bahwa polisi harus percaya kepada apa yang dipercayainya. Polisi yang di mejanya ada komputer menghela napas panjang. Jari - jarinya yang sedari awal ada kibord komputer menulis laporan Darman diistirahatkan di sisi kiri kanan tubuhnya. Dan duduk santai menyandarkan punggungnnya di sandaran kusi, lalu katanya : " Bukannya kami tidak percaya, Man. Tetapi kami tetap kurang bukti. Sekali lagi kami tidak bisa gegabah menangkap orang ". Mendengar kata - kata polisi ini Darman tampak sangat kecewa. Rasanya telah sia - sia bercerta banyak dengan polisi. Darman yang buta hukum tahunya pak Lurahnya segera dipanggil dan ditanyai. Seperti dirinya dulu ketika Partini meninggal. " Begini saja, pak. bagaimana kalau bapak - bapak memanggil Slamet. Tanyai dia, pak ! Saya yakin Slamet tahu semua tentang matinya Partini dan Surinah !" Darman tegang. Para polisi mengerinyitkan dahi. Dalam pikiran mereka mengagumi Darman yang juga cerdas dalam kasus ini. " Oke ..... oke .... Man ! Kami akan pertimbangkan usulmu ini. Tapi ingat, Man. Kamu tidak boleh menemui Slamet pada hari - hari ini. Kamu tenang saja. Slamet akan kami mintai keterangan !" Mendengar penuturan polisi ini Darman lega. Dan kemudian tersenyum. " Nah, gitu, pak. Saya yakin bapak - bapak pasti akan mendapatkan informasi yang jelas  dari Slamet ". Darman lagi - lagi mengambil rokok milik polisi. Menyulut dan menikmatinya. Siang itu Darman pulang dari kantor polisi dengan penuh kelegaan.
     Pagi sebelum jam delapan di rumahnya, Slamet dijemput polisi berpakaian preman. Dua polisi yang tidak berseragam yang datang di rumah Slamet, tidak menimbulkan tanda tanya bagai warga. Slamet tak bisa berkelit dan tidak bisa menolak. Kecuali dia bodo tentang polisi, Slamet juga sangat takut ketika polisi menunjukkan surat perintah harus membawa dirinya ke kantor polisi. Pagi itu Slamet dibonceng polisi untuk dibawa ke kota.
     Di kantor polisi Slamet sangat gelisah. Sangat gundah. Ia tidak tahu sama sekali mengapa tiba - tiba ia diboyong polisi. Setelah diberi minum, senack, dan rokok Slamet dibawa ke sebuah ruangan yang di ruangan itu sudah ada tiga polisi yang kemarin lusa menerima laporan informasi Darman. Slamet sangat ketakutan. Selama hidupnya Slamet belum pernah berurusan dengan polisi. Slamet duduk menghadap polisi yang di mejanya ada komputer. Dua orang polisi lain duduk bersebelahan dengan Slamet. Posisi ini persis ketika kemarin lusa para polisi itu menerima Darman. " Slamat pagi, mas Slamet ". Polisi yang di mejanya ada komputer membuka pembicaraan. Slamet tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu. Slamet hanya mengangguk. " Mas Slamet tidak usah takut berhadapan dengan kami ". Kata polisi itu lagi yang melihat wajah Slamet pucat pasi. " Tugas kami hanya bertanya dan mas Slamet menjawab pertanyaan kami dengan jujur. Jadi mas Slamet tidak perlu takut. Jawab saja nanti pertanyaan kami apa adanya sesuai dengan apa yang dilihat, diketahui, dan dialami oleh mas Slamet. Paham mas Slamet ?" Slamet hanya bisa mengangguk. Dalam pikirannya. Apa ya yang akan ditanyakan polisi ? Selama ini ingat - ingatnya dirinya tak pernah berbuat salah. Mendengar polisi yang sejak tadi berkata lembut Slamet sedikit lega. Ternyata polisi tidak membentak - bentaknya. " Santai saja, mas ! Ni, kamu boleh merokok !" Kata polisi yang duduk bersebelahan dengan Slamet sambil mengulurkan rokok ke Slamet. Slamet mengambil sebatang dan menyulut rokok yang apinya diberikan oleh polisi. Ah ....  ternyata polisi - polisi ini baik ! Pikir Slamet. Kalau begitu akau tak perlu takut. Setelah berkali - kali mengisap rokok Slamet menjadi lebih santai. Wajahnya tak lagi begitu pucat. Dan perasaannya berangsur - ansur tenang. " Baik, mas Slamet ! Apakah mas Slamet sudah siap menjawab pertanyaan kami ?" Polisi yang di mejanya ada komputer menawarkan ke pada Slamet. Slamet yang yang perasaannya mulai tenang, tidak lagi begitu ketakutan, dan pikirannya juga sudah tidak lagi begitu tegang menjawab : " Ya, pak. Saya siap menjawab pertanyaan Bapak ". Polisi yang duduknya bersebelahan dengan Slamet, menimpali : " Tidak ada pertanyaan yang sulit dijawab kok, mas Slamet !" Kata polisi yang lain sambil tertawa. Suasana menjadi sedikit cair. Karena ketika polisi tertawa Slamet ikut tersenyum. Walau masih senyum kecut. " Kamu belum beristri, mas Slamet ?" Tanya polisi yang di mejanya ada komputer. " Belum, pak ". Jawab Slamet sambil membungkukkan  badan. " Mengapa ? " Tanya polisi lagi. " Saya orang miskin, pak. Takut dak bisa kasih makan istri " Jawab Slamet jujur. " Punya isteri itu enak lho, mas Slamet. Ada yang bikinkan minum. Ada yang mijitin. Dan yang paling enak ada yang diajak bergumul di tempat tidur ". Kata polisi yang lain sambil tertawa. Semua yang ada di ruangan tertawa. Termasuk Slamet. Suasana menjadi semakin cair. Rasa takut Slamet hilang. " Pingin punya isteri dak, mas Slamet ?" Tanya polisi lagi. " Ya pingin, pak ". jawab Slamet. " Apanya yang diinginkan dari isteri, mas Slamet ? " Tanya polisi lagi. Slamet lambat menjawab dan malah dijawabkan oleh polisi yang duduk bersebalahan dengan Slamet. " Ya yang  diinginkan ya yang di dalam celana dalam ya, mas Slamet !" Semua yang di dalam  ruangan itu tertawa. Slamet juga ikut tertawa lepas. Suasana menjadi sangat cair. Lagi - lagi polisi menawarkan rokok. Dan Slamet menerima. " Apa pekerjaan mas Slamet sekarang ? " Tanya polisi setelah melihat Slamet selesai menyulut rokok. " Saya hanya menjadi pembantunya den Lurah, pak ". Jawab Slamet. " Senang ya, mas Slamet jadi pembantunya pak Lurah ?" Tanya polisi yang tadi meledek Slamet tentang isteri. " Ya senang, pak. Ikut orang kaya seperti den Lurah itu. Den Lurah itu orangnya murah hati,pak. Suka memberi. Orang miskin seperti saya ya pasti senang ta, pak, menjadi pembantunya den Lurah ". Jawab Slamet dengan kalimat yang agak panjang. Slamet tak lagi ngeri berhadapan dengan polisi. Ternyata polisi itu bisa bergurau juga. " Mas Slamet ini digaji berapa ta sama pak Lurah ?" Tanya polisi yang selalu mengansurkan rokok buat Slamet. " Kalau gaji ya cuma tiga ratus ribu sebulan, pak. Tetapi den Lurah sering juga ngasih uang tambahan, pak ". Jawab Slamet. Jawaban Slamet yang menambahkan uang tambahan membuka jalan untuk polisi memasang jebakan buat Slamet. " Wah, senang juga ya mas Slamet ini. Sudah dapat gaji masih juga ada uang tambahan. Kapan mas Slamet dapat uang tambahan terbanyak dari pak Lurah ?" Tanya polisi yang di mejanya ada komputer. Pertanyaan ini membuat Slamet kaget. Bingung mau menjawab bagaimana. Slamet sangat ingat pak Lurah memberi uang tambahan yang sangat banyak jika ia telah bisa mengantar  gadis yang diincar pak Lurah. Akahkah aku jujur ? pikir Slamet. Kalau aku jujur berarti aku membuka rahasia den lurah. Waduh celaka ini ! Slamet menjadi terdiam dan bingung. Tadi kata polisi ia diminta menjawab dengan jujur ! Waduh gimana ini ! Pintu ruangan di ketuk dari luar. " Masuk !" Kata polisi yang di depannya ada komputer. Seorang pegawai masuk membawa nampan yang di atasnya ada empat gelas teh dan empat gelas kopi. Pegawai itu segera membaginya termasuk di meja dimana Slamet duduk. Dan setelah selesai pegawai itupun segera keluar dan kembali menutup pintu ruangan. " Diminum, mas Slamet ! Kopinya dulu, apa tehnya dulu terserah, mas Slamet. Ayo mas, jangan sungkan - sungkan !" Perintah polisi yang sedari tadi belum bicara. Slamet membuka tutup gelas kopi dan segera menyerutupnya. Ngopi sambil ngrokok nikmat sekali ! Pikirnya. Para polisi pun juga meluangkan untuk minum. " Enak kan mas Slamet kopinya ? Tanya polisi yang di mejanya ada komputer memecah kesunyian. Dan membuyarkan kebingungan Slamet. " Enak, pak " Jawab Slamet singkat dan masih mencoba terus berpikir untuk jujur atau tidak. " Oh ...iya, mas Slamet, kapan ya mas Slamet mendapat uang tambahan terbanyak dari pak Lurah ?" Tanya polisi lagi. Ahkir dari kebingungannya Slamet memberani diri bertanya kepada polisi : " Maaf, pak. Saya dibawa ke kantor polisi ini sebenarnya untuk, apa ta, pak ?" Polisi yang di depan Slamet tersenyum lebar lalu menjawab pertanyaan Slamet : " Tidak penting kok, mas Slamet. Ya cuma seperti saya katakan tadi. Kami hanya bertanya dan mas Slamet menjawab dengan jujur. Tidak ada yang lain, mas Slamet. Dan kalau mas Slamet bisa jujur, itulah yang kami harapkan. Dan kalau mas Slamet bohong kami tahu lho, mas Slamet. Jadi sebaiknya mas Slamet jujur  dan terus terang saja !" Slamet mendengar kalau dia bohong polisi tahu, merinding juga bulu kuduknya. Maka Slamet berketetapan untuk jujur saja. " Nah, kapan Slamet diberi uang tambahan terbanyak olek pak Lurah ?" Slamet menjadi curiga. Lhok kok itu ya yang ditanyakan polisi ? Antara takut, bingung dan gelisah Slamet nekat menjawab : " Kemarin lusa, pak. Saya diberi uang tambahan satu setengah juta rupiah ". Jawab Slamet ragu - ragu. Ketiga polisi itu lalu dengan penuh kelegaan bersama - sama menghempaskan napas panjang dan menyantaikan duduknya. Jaring perangkapnya telah mampu menelan Slamet. Tinggal dengan satu pertanyaan lagi Slamet sudah pasti tidak bisa berkutik. Dan satu pertanyaan lagi yang dilontarkan pasti semuanya bakal terlontar dari mulut Slamet. Polisi berhasil menggiring Slamet dalam waktu yang sangat singkat. " Nah, mas Slamet, uang satu setangah juta rupiah itu diberikan pak Lurah kepada mas Slamet, atas jasa mas Slamet bisa membawa Minil kepada pak Lurah kan ? Betul kan mas Slamet ?" Atas pertanyaan polisi ini Slamet menjadi sangat kaget. Mukanya menjadi kembali pucat. Rasa takutnya menjalari lagi pikirannya. Karena memang begitu maka Slamet tak bisa lain keculai mengiyakan. " Lhok kok bapak - bapak tahu ?" Tanya Slamet antara sadar dan tidak. " Lho, kami ini polisi, mas Slamet. Polisi itu serba tahu. Tahu orang yang tidak jujur. Tahu orang yang jahat. Bahkan orang yang berpura - pura baik pun plisi tahu. Jadi benar kan, mas Slamet, kalau uang satu setengah juta itu diberikan pak Lurah kepada mas Slamet atas jasanya mas Slamet membawa Minil ?" Slamet mengangguk ragu. " Nah, begini mas Slamet. Kami membawa mas Slamet ke sini ini tidak lain dan tidak bukan untuk mencocokkan antara yang diketahui mas Slamet, dengan apa yang sudah kami ketahui tentang apa yang telah diperbuat pak Lurahnya mas Slamet. Kami polisi sudah tahu semua kok, mas Slamet. Jadi mas Slamet sekarang ini sedang kami mintai keterangan. Semua yang dilakukan pak Lurahnya mas Slamet kami sudah tahu. Jadi mas Slamet jangan berbohong. Kalau mas Slamet jujur, terus terang mengatakan apa yang telah diketahui dan dialami mas Slamet, mas Slamet tidak akan kena perkara. Tapi kalau mas Slamet mencoba menutup - nutupi perbuatan pak Lurah, justru nanti mas Slamet yang akan kena perkara. Paham, Mas Slamet !" Kalimat terahkir ini yang diucapkan polisi dengan serius dan dengan sedikit muka garang dan selalu menatap tajam Slamet, membuat nyali Slamet habis. Slamet berkeringat dingin. Slamet sangat takut. Slamet kembali merasa berhadapan dengan polisi. Bukan berhadapan dengan orang - orang yang menanyainya dan mengajaknya bergurau. Ketakutan dan kegundahan Slamet diketahui polisi. Dengan tatik jitunya polisi memanfaatkan suasana ini untuk semakin menekan Slamet. Walaupun tentang kematian Partini dan Surinah baru sedikit informasi yang dketahui polisi, namum dengan penuh kepercayaan polisi menekan Slamet. Seolah - olah Slametlah yang menyembunyikan rahasia. Polisi sebenarnya hanya coba - coba terhadap pertanyaan ini : " Dan yang lain ya, mas Slamet !" Polisi tambah garang. Dan lanjutnya : " Kami tahu kalau mas Slamet juga mengetahui atas perbuatan pak Lurah terhadap Partini dan Surinah ! Iya kan, mas Slamet ?" Bagai disambar petir Slamet mendengar pertanyaan polisi ini. Slamet hampir - hampir pingsan. Tubuhnya lemas. Pikirannya tak jalan. Mengapa terjadi begini. Ia tahu persis apa yang diperbuat pak Lurahnya terhadap Partini dan Surinah. Sambil mengelap keringatnya yang mengucur di dahi dan membasahi seluruh tubuhnya Slamet hanya bisa mengangguk lemah dan menunduk.
     Slamet ingat waktu itu diminta pak Lurah mengantar surat  yang sudah kesekian kalinya kepada Partini. Hari itu dengan penuh semangat Slamet mengayuh sepedanya untuk menemui Partini. Ketika Slamet datang Partini sedang bermalas - masalan di kursi panjang yang terbuat dari bambu. Partini tiduran disana. Kakinya dinaikkan di sandaran kursi, sehingga pahanya sangat terbuka sampai di pakal pahanya yang disana ada celana dalam. Slamet masuk rumah dan mendapati Partini. Kedatangan Slamet tidak mengejutkan Partini. Maka Partini tidak merubah posisi rebahannya. Slamet dengan jelas bisa melihat paha Partini yang putih. Dan melihat celana dalam Partini yang di dalamnya ada sesuatu yang membusung. Baru setelah Slamet duduk di hadapannya, Partini merubah posisinya dari rebahannya menjadi duduk bersila. Karena duduk bersila dan roknya menjadi tak sempurna menutup pahanya. Tak ayal celana dalamnya lagi - lagi menjadi jelas di mata Slamet. Begitu kentara di dalam celana dalam Partini tampak sesuatu yang membusung dan terbelah. " Ni, mbok duduknya jangan begitu. Tu punyamu kelihatan !" Kata Slamet tanpa basa - basi. Partini tersenyum manis sekali. Dan ada lesung di dagunya ketika tersenyum. " Ya dak usah dipandangi ta, kang ! Salahnya mata kang Slamet !" Karena memang sudah akrab sejak kanak - kanak maka Partini malah meledek Slamet. " Tu celanamu sobek. Dak malu pa ? Tu ... rambutnya ada yang menerobos celanamu !" Kata Slamet sambil menunjuk selangkangan Partini. Malu juga Partini diledek Slamet. Tak urung kakinya kemudian dikatupkan dan tak lagi celana dalamnya nampak oleh Slamet. " Ni, Surat dari pak Lurah. Aku disuruh menunggu jawabannya. Sudah cepat dibaca ! dan segera dijawab !" Kata slamet sambil mengansurkan amplop surat kepada Partini. Partini membuka amplop, mengeluarkan isinya dan membacanya. Slamet merokok menunggu Partini selesai membaca.
     Di dalam suratnya pak Lurah minta kepada Partini agar segara ke kota untuk merawat wajahnya di salon. Karena lomba Ratu Luwes di kecamatan tinggal sedikit hari lagi. Pak Lurah bersedia mengantar ke kota dan membiayai perawatan wajah Partini di Salon. Di surat - suratnya terdahulu pak Lurah membujuk Partini agar mau menjadi duta desa untuk mengikuti loba Ratu luwes. Partini marasa tersanjung atas tawaran pak Lurah. Dan menyanggupi tawaran pak Lurah. Apalagi pak Lurah sanggup membiayai semuanya. Bahkan belum apa - apa saja Partini telah mendapat uang dari pak Lurah tidak sedikit jumlahnya. Kata pak Lurah uang itu agar dipergunakan untuk membeli alat - alat kecantikan.
     Partini selesai membaca surat. " Gimana, Ni ?" Tanya Slamet. " Ya, kang aku ikut kemauan den Lurah ". Jawab Partini. " Kalau begitu besuk pagi kamu menunggu den Lurah di perempatan ". Kata Slamet gembira karena ia pun bakal ikut ke kota. " Den Lurah naik mobil kan, kang ?" Tanya Partini. sambil menampakkan senyum cantiknya. " Lha iya ta, Ni. Masak ngantar gadis cantik kayak kamu naik sepeda ontel ". Jawab Slamet sambil tertawa.
     
             bersambung kebagian keduapuluhempat ..........


     

Jumat, 09 September 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 


                                                                                                                        edohaput 


Bagian keduapuluhdua

     Darman kembali ke kota untuk menemui polisi. Ia bermaksud menyampaikan laporan atas hasil misi tugasnya yang dibebankan oleh polisi kepada dirinya. Ia akan melaporkan temuannya tentang pak Lurahnya. Darman yakin pak Lurahnya terlibat terhadap kematian Partini maupun kematian Surinah alias Rini. Namun yang dibawa Darman ke polisi hanya sebatas cerita. Belum mengarah kepada bukti. Darman menceriterakan kepada polisi tentang perlakuan pak Lurah terhadap Minil. Polisi tidak menganggap perlakuan pak Lurah terhadap Minil sebagai benang merah yang bisa menghubungkannya dengan kematian Partini maupun Surinah alias Rini. Cerita Darman yang terahkir ini tak bisa dipakai sebagai alat untuk menuduh pak Lurah terlibat atas meninggalnya Partini maupun Surinah. " Ceritamu yang terahkir ini hanya bisa membuktikan bahwa pak Lurahmu itu doyan bersenggama dengan daum muda, Man. Belum bisa dipakai sebagai alat untuk menuduh pak Lurahmu terlibat atas kematian Surinah atau pun Partini ". Kata polisi yang menerima laporan Darman. Darman yang lugu, bodo dan tak tahu proses hukum bingung. " Lha terus saya gimana lagi, pak ?" Tanya Darman. " Tugasmu amati terus kegiatan pak Lurahmu ! Apa perkembangan selanjutnya yang dilakukan pak Lurahmu itu terhadap Minil ". Kata polisi yang lainnya. Yang duduk sambil mengetik di komputer, lalu katanya lagi : " Semua laporanmu, semua ceritamu tidak sia - sia, Man. Sudah saya catat. Saya rekam di komputer ini. Sudah ini kamu ngrokok dulu, Man !" Polisi itu mengangsurkan sebungkus rokok kepada Darman. Darman merokok, menikmati asap rokok. " Jadi pak Lurahku belum bisa dipanggil dan ditanyai seperti saya dulu itu, pak ?" Tanya Darman. " Belum, Man ! Tetapi tunggu saatnya nanti. Kalau memang perlu pasti akan dipanggil untuk dimintai keterangan ". Jawab polisi yang duduk persis di hadapan Darman. " O begitu ta, pak ? " Darman mengeluh. " Lha iya ta, Man. Polisi tidak boleh grusa - grusu. Polisi harus mempunyai bukti dulu. Supaya tidak dua kali kerja ".  Polisi memberi penjelasan kepada Darman. Polisi yang lain menimpali : " Kamu harus terus membantu kami, Man ! Polisi sebenarnya sudah punya rencana untuk mengungkap meninggalnya Partini dan Surinah. Kamu sabar, Man. Polisi punya keyakinan pasti akan terungkap ". Polisi yang lain lagi juga memberi penjelasan kepada Darman. Darman hanya melongo, karena tidak tahu apa rencana polisi.
     Dari kantor polisi darman meluncur ke rumah Slamet. Darman ingin menemui Slamet. Barangkali Slamet bisa memberi informasi tambahan tentang kegiatan pak Lurah. Slamet di rumah sedang menikmati teh kental manis ketika Darman datang. " Sini, Man. Kebetulan ! Temani aku minum ! Ni, ada singkong bakar ! Ni, teh kental manis !" Kata Slamet setelah Darman duduk. " Ni, gelasnya, Man. Tuang sendiri tehnya !" Kata Slamet lagi. Darman menuang teh. Mengangkat singkong bakar. Mengupas kulitnya dan makan sambil minum. " Tumben banget, Man, kamu datang ke rumahku. Biasanya lewat sini, noleh saja tak mau. Apalagi mampir. Lho kok ini sajaknya datang seperti ada keperluan ". Slamet nerocos menyindir Darman. Darman diam saja. Mulutnya penuh singkong bakar. " Habiskan saja singkongnya, Man. Lapar, ya ? Tu, di dapur masih ada nanti aku ambilkan lagi ". Slamet melihat cara makan Darman yang seperti orang kelaparan. Darman memang lapar. Sejak pagi sampai siang di kantor polisi. Darman belum sempat makan. " Hari ini dapat ojekkan berapa, Man ?" Tanya Slamet. Darman tak menjawab. Mulutnya terus mengunyah dan menelan singkong. Dua potong singkong bakar dan tiga gelas teh telah masuk di perutnya. Darman tak lagi lapar. " Trima kasih, ya Met. Aku jadi kenyang ". Darman bersendawa. Kemudian menyulut rokok. " Gini, Met. Kedatanganku kesini mau minta pertimbangan sama kamu ". Darman mulai bicara. " Weh ... apa dak keliru, Man. Minta pertimbangan kok ke aku ". Jawab Slamet. " Dengarkan dulu, Met. Aku kan belum ngomong apa - apa. Orang bisa saja beri pertimbangan baik, kalau dia tahu masalahnya ". Darman memberi penjelasan ke Slamet. " Ya ....ya.... dah cepat ngomong kalau aku bisa kasih pertimbangan ya nanti aku beri, kalau tidak maaf lho, Man ". Slamet seperti tak sabar ingin tahu apa yang akan dimintakan pertimbangannya. " Met, gimana Met. Kalau aku ingin menikahi Minil ? Nah ini,  yang ingin aku mintakan pertimbanganmu ". Darman berbohong besar kepada Slamet. Karena yang sebenar - benarnya Darman tak sedikitpun ingin menikahi Minil. Kebohongan Darman bertujuan agar Slamet terpancing cerita tentang Mnil dan barangkali akan cerita tentang hal - hal lain yang memang diharapkan Darman keluar dari mulut Slamet. " O... jadi malam itu ketika kamu di rumah yu Kurni itu kamu mendekati Minil ta, Man ?" Tanya Slamet. " Ya ... tapi malam itu Minil kan di rumahmu ini ta, Met ? Kata kamu pada yu Kurni Minil ketiduran Betul itu, Met ?" Darman bertanya, pura - pura tidak tahu terhadap kejadian yang sesungguhnya yang disaksikannya lewat lubang intip. Kini Slamet yang berganti berbohong : " Betul, Man. Lha Minil itu sedang diajak ngomong - ngomong sama den Lurah kok ngantuk. Padahal Minil mlam itu diberi uang untuk ongkos jahitan kain - kain yang juga den Lurah yang memberi uangnya untuk beli kain ". Mendengar penuturan Slamet ini Darman tersenyum dalam hati. Kebohongan Slamet sangat nyata. Minil bukan ngantuk dan ketiduran. Tetapi Minil kelelahan dan sempat pingsan ketika keperawanannya direnggut pak Lurah dengan cara senggama yang kasar malam itu. " Nah, Met. Gimana kalau aku ingin menikahi Minil ?" Darman lagi berbohong minta pertimbangan Slamet. Slamet bingung. Darman ini serius apa main - main ? Kalau serius terus bagaimana dengan pak Lurah yang pasti sedang suka - sukanya sama Minil. Kalau nanti benar Minil dilamar Darman, pak Lurahnya akan kehilangan kesenangan. Dan ia akan kehilangan penghasilan. Karena setiap kali pak Lurahnya ingin Minil ia lah yang pasti menjadi mak comblangnya. Dan karena itu ia dapat upah yang tidak sedikit. " Lho, kok diam Met ? " Tanya Darman mencari penegasan dari Slamet. " Sebelum aku kasih pertimbangan, aku tanya kamu, Man. Apa yang menarik dari Minil, kok kamu ingin menikahinya ?" Slamet malah ganti bertanya. " Lho ...gimana ta, Met. Aku ini mau minta pertimbangan kok malah ditanya ". Jawab Darman sambil tertawa. " Soalnya gini, Man. Minil itu cuma gadis bodo, esde saja tak tamat. Lugu, wagu, dan kurang ayu. Mlarat lagi. Apanya sih yang menarik ?" Slamet merendahkan Minil di depan Darman. Agar Darman tidak menyukai Minil. " Tapi, Met. Bokongnya itu lho, Met. Terus .... itu penthilnya yang baru tumbuh itu. Terus ..... Minil itu ayu lho, Met. Terus ..... pasti pepeknya enak banget. Mulut Minil itu kan kecil, Met. Pasti juga pepeknya juga sempit. Dan .... itunya, Met..e... e... bibir Minil itu merekah dan selalu basah kayak kena madu ". Slamet terdiam. Dalam hatinya membetulkan apa yang dikatakan Darman. Pak lurahnya juga sangat puas sama Minil. Bahkan pak Lurah telah meminta kepadanya agar Minil terus dipantau. Jangan sampai ada orang yang menginginkan Minil selain pak Lurahnya. Minil memang gadis bodo, bonsor, tapi amat menggairahkan. Minil akan menjadi gula - gula pak Lurahnya. Wah, Darman ini rupanya akan menjadi pengacau ! Pikirnya. " Lho kok diam, Met. Mana pertimbanganmu ? " Darman mendesak Slamet. Slamet bingung mau jawab apa. Slamet tidak pernah tahu kalau dirinya sedang dicoba untuk masuk perangkap. Maka jawabnya mulai jujur : " Menurut aku jangan, Man. Kamu akan menyesal kalau kamu menikahi Minil, Man. Minil itu sudah tidak lagi perawan ". Mendengar penuturan Slamet ini Darman pura - pura terkejut. " Ah ... kamu jangan ngawur, Met. Masak iya Minil sudah tidak lagi perawan. Kamu ya, Met yang memerawani Minil. Iya ,Met ?" Darman terus mencoba memasang perangkap dengan kalimatnya yang menyudutkan Slamet. Slamet tidak pernah merasa kalau dirinya sedang dipancing untuk berceritera tentang Minil. " Betul, Man. Minil itu sudah tak lagi perawan. Tapi bukan aku, Man, yang memerawani Minil ". Slamet rupanya sudah tak tahan untuk tidak jujur. " Lalu siapa, Met. Kalau bukan kamu. Hanya kamu kan, Met, yang selama ini dekat sama Minil ?" Darman menjebak Slamet dengan kalimat yang semakin menyudutkan Slamet. " Kalau bukan kamu, apa den Lurah ya, Met ?" Pertanyaan Darman yang terahkir ini sangat membingungkan Slamet. Slamet terdiam sesaat dan hanya menikmati rokok dan kemudian : " Tapi ini rahasia lho, Man. Sebenarnya yang memerawani Minil ya den Lurah, Man ". Mendengar jawaban Slamet ini hati Darman berjingkrak kegirangan. Kena kamu, Met ! Darman gembira tapi Darman tidak menampakkan kegembiraannya, justru sikap pura - pura kaget yang ditampakkan. " Nah, Man. Apa kamu masih ingin menikahi Minil ?" Tanya Slamet sambil memperhatikan wajah Darman yang menunjukkan kekecewaan. " Wah ... kalau begitu tak jadi saja, Met. Terima kasih, untung kau beritahu. Kalau tidak kecewa aku ". Darman pura - pura. " Untung kamu minta pertimbangan aku, Man. Kalau tidak bisa - bisa Minil itu kamu ceraikan setelah kamu nikahi ". Kata Slamet dengan penuh kebanggaan. Pernyataan Darman tidak lagi ingin menikahi Minil membuat Slamet lega. Kegiatan menyomblangi antara pak Lurah dan Minil tidak terganggu. Tidak ada yang mengacau. Berarti uang dari pak Lurah bakal terus mengalir ke sakunya. Dan komisi demi komisi pasti akan diberikan Minil pada dirinya. " Wah enak ya,Met. Jadi orang kaya seperti den Lurah itu. Duitnya banyak. Perawan saja bisa dibelinya. Padahal den Lurah itu isterinya saja sudah tiga ya, Met. Kok masih suka sama perempuan lain " Darman mulai memasang perangkap lagi dengan umpan membicarakan pak Lurah. Lalu kalimat Darman lagi : " Lha kalau orang miskin seperti kita ini, tongkat hidup cuma bingung mau dimasukkan kemana. Paling - paling dikocok sendiri atau dimaksukkan di pepek kambing ". Mendengar penuturan Darman ini Slamet hanya bisa tertawa. " Sudah pernah merasakan pepek kambing ya, Man ?" Tanya Slamet di sela - sela tawanya. " Terus terang sudah, Met. Habis tak tahan. Dan pepek kambing ternyata enak juga, Met. Kamu juga pernah kan, Met ?" Darman ganti bertanya. " Ya ini nasib perjaka miskin ya, Man. Tapi aneh lho, Man. Kambingku itu kalau aku gitukan kok diam saja. Malah pantatnya dimundur - mundurkan, Man. Apa kambing juga merasakan enaknya tongkat kita ya, Man ? Dan anehnya juga, Man. Kalau aku selesai sama pepek kambing kok terus badan ini lunglai banget. Dan rasanya aku sangat puas. Beda dengan kalau aku kocok sendiri lho, Man ". Darman tertawa ngakak mendengar penuturan Slamet. Selesai dengan ngakaknya Darman kembali fokus pada kegiatannya memasang umpan untuk perangkapnya. " Siapa ya, Met. Gadis di dusun kita ini yang pernah diperawani den Lurah, ya ? Partini dan Ririn ya, Met ?" Slamet yang tidak menyadari kalau kalimat Darman ini adalah  kalimat menyelidik dijawabnya dengan ucapan yang spontan dan tak terpikirkan lebih dulu. " Hus.... jangan ungkit - ungkit peristiwa lama !" Ucapan Slamet ini disampaikan sambil melototi Darman.
     Hus .... Jangan ungkit - ungkit peristiwa lama ! disimpulkan oleh Darman bahwa pak Lurah ada hubungan dengan Partini dan Surinah alias Ririn. Dan Slamet tahu hubungan itu. Tak bakal meleset dugaannya selama ini. Pak Lurahnya pasti terkait dengan kematian Partini dan Surinah. Darman menjadi semakin yakin anggungan perkutut itu pasti tanda pak Lurah malam itu ada di rumah Surinah. Darman tidak ingin tergesa - gesa. Strategi mengorek Slamet harus diatur lebih hati - hati. Agar Slamet bisa buka mulut tanpa disadarinya kalau dirinya sedang dikorek. Kali ini Darman telah memperoleh informasi yang sangat berharga. Dan informasi berharga ini akan disampaikannya kepada polisi.

                                     bersambung kebagian keduapuluhtiga ..........

Rabu, 31 Agustus 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                                    edohaput 

Bagian keduapuluhsatu 

     Begitu malam tiba Darman segera menjalankan misinya, mengintip. Lubang - lubang intip yang kemarin lusa ketika Minil mengembalikan jaket kepada pak Lurah belum berubah. Darman mencoba mengintip, melihat di dalam rumah Slamet. Sepi tak ada orang. Lho kok sepi ! Tak ada orang ! Dimana Slamet. Menurut informasi yang diterima dari mak Kurni tadi malam, malam ini Minil mau dijemput Slamet ke rumah ini. Dan akan diberi uang jahitan oleh pak Lurah. Apa Slamet sedang menjemput Minil, ya ? Belum selesai menerka - nerka tiba - tiba Darman mendengar sepeda motor datang. Pak Lurah ! Jantung Darman deg - degan. Antara senang dan takut. Senang karena misinya bakal berhasil dan informasi dari mak Kurni tenyata benar. Takut karena jangan - jangan perbuatannya ini ketahuan pak Lurah atau Slamet. Malapetaka bagi dirinya bakal tak terhindarkan. 
     Setelah memarkir motornya, pak Lurah langsung masuk rumah. Tidak duduk di ruang depan, tapi terus ke ruang tengah. Pak Lurah melepas jaketnya, celana panjangnya, celana dalamnya, dan berganti memakai sarung. Lho kok semua dilepas ? Darman semakin deg - degan. Pak Lurah kemudian tiduran di balai - balai bambu yang berkasur dan spreinya berbeda dengan yang disaksikan Darman kemarin. Kali ini sprei itu warnanya putih bersih. Wah Slamet ini benar - benar orang yang bisa memanjakan majikannya ! Pak Lurah tampak sekali menikmat asap rokoknya. Darman menjadi ingin merokok. Tangannya meraba saku bajunya. Ada rokok. Tidak mungkin. Jika aku merokok perbuatannku ini pasti ketahuan ! Seberapa pun keinginanku harus ku tahan ! 
    Kalau malam ini benar - benar terjadi, memang betul  pak Lurah ini benar - benar keranjingan bersenggama ! Isteri tiga. Bahkan isteri ketiganya masih sangat muda. Umurnya baru dua belas tahun.  Cantik lagi. Lha kok Minil masih akan digasak juga ! Benarkah keperawanan Partini, keperawanan Surinah alias Ririn juga digasak pak Lurah ? Apakah malam ini keperawanan Minil juga akan direnggut pak Lurah ? Dasar Minil,  goblog banget kalau malam ini mau dijemput Slamet ! Wah tapi Minil itu,  malam itu ketika digarap pak Lurah nampaknya malah menikmati. Jangan - jangan Minil yang goblog itu malah ingin terus digitukan, ya ? Wah kalau gitu ya edan semua ! 
     Slamet datang bersama Minil. Slamet memasukkan sepeda ke dalam rumah. Minil mengikuti dari belakang. Slamet tahu kalau pak Lurah juga sudah datang. " Dah Nil, kamu langsung ke ruang tengah temui den Lurah !" Tidak menjawab kata suruhan Slamet Minil langsung meyibakkan gordin yang mebatasi ruang depan dengan ruang tengah. Minil mendapati pak Lurah sedang tiduran. Begitu melihat Minil pak Lurah langsung bangun dan duduk. " Sini Nil, duduk sini !" Minil dengan tidak cangung langsung duduk di tepi balai - balai. Slamet lewat di ruangan di situ ada pak Lurah dan Minil langsung ke ruang belakang. " Met, buat minum  yang anget !" Perintah pak Lurah. Sambil jalan Slamet mengiyakan perintah : " Ya den .. ". Dengan hanya melirik ke arah Minil Slamet terus berlalu. 
     " Kata Slamet kain yang kamu beli sudah masuk ke  tukang jahit. Betul , Nil ? " Tanya pak Lurah membuka percakapan. Minil hanya mengangguk tanpa berani menatap pak Lurah. Tangannya mempermaikan kancing bajunya. " Ongkosnya berapa, Nil ?" Tanya pak Lurah lagi. Yang lagi - lagi tidak dijawab dengan mulut, melainkan dengan hanya menggeleng. " Jadi belum tahu berapa ongkosnya ? " Minil cuma mengangguk. 
" Tolong ambilkan celenaku yang tergantung itu, Nil. Bawa kesini !" Perintah pak Lurah. Minil bangkit dari duduk dan meraih celana panjang pak Lurah yang tergantung di paku yang ditancapkan. Minil membawanya ke pak Lurah. Pak Lurah mengeluarkan setumpuk uang lembaran ratusan ribu dari saku celananya. " Nih, Nil, besuk untuk bayar ongkos jahitan !" Tangan pak Lurah mengansurkan tumpukan uang dan diterima tangan Minil. Tangan Minil dipegang pak Lurah. Minil ditarik pak Lurah sehingga menjadi terduduk di samping pak Lurah dan tubuhnya menempel di bahu pak Lurah. " Tubuhmu anget, kamu ya sakit ya, Nil ? " Tanya pak Lurah setelah merangkul pundak Minil. Lagi - lagi Minil hanya menggeleng. Minil tak bereaksi ketika dirangkul pak Lurah. " Sudah jadi beli celana dalam ?" Tanya pak Lurah lagi. Dan pak Lurah agaknya memang punya maksud agar segera sampai sasaran dengan menanyakan celana dalam. Minil mengangguk sambil tangannya mempermainkan setumpuk tebal uang yang di tangannya. " Kamu pakai sekarang ?" Minil mengangguk. " Coba lihat, Nil ? " Tanya pak Lurah lagi yang semakin menjurus ke arah sana. Minil tampak bingung tapi segera membuka juga roknya sehingga celana dalam baru dan berenda berwarna hitam tampak di mata  pak Lurah. " Wah pinter juga kamu milih celana dalam, Nil. Bagus banget !" Berkata begitu sambil tangan pak Lurah meraba celana dalam yang dibaliknya ada kemaluan Minil. Sesaat tangan pak Lurah mengelus - elus pepek Minil. Minil merapatkan paha karena geli. " Kutangnya juga sudah beli, Nil ?" Tanya pak Lurah yang ini disambut Minil dengan menegakkan dadanya. Sehingga membusung dan menampakkan kalau ia pakai kutang. Pak Lurah membuka kancing baju Minil di bagian dada sambil berkata : " Coba lihat Nil !" Yang kancing bajunya dibuka tak bereaksi. Setelah membuka seluruh kancing baju bagian dada dan menyibakkannya pak Lurah melihat payudara Minil yang tertutup beha warna hitam berenda biru. Payudara yang belum begita besar tertutup beha. Tampak agak longgar. Tangan pak Lurah mengelus beha. Dan kemudian menelusup ke balik beha dan menemukan penthil kenyal, padat, dan punting yang belum nampak tonjolannya. Dan tubuh Minil ditariknya sehingga berada di pelukan pak Lurah. Tangan pak Lurah meremas - remas penthil Minil. Dan Jari - jari mencoba menemukan putingnya. Tidak menemukan karena memang belum menonjol. Napas pak Lurah semakin memburu. 
     Di luar rumah Slamet dingin. Darman menutupkan sarung di tubuhnya. Matanya terus tetap ditempelkan di lubang intip. Apa yang diperbuat pak Lurah dilihat Darman. Mudah - mudahan lampu minyak itu tidak mati seperti kemarin dulu itu ! Pikir Darman. Kalau lampu itu mati hanya kegelapan yang kau lihat. Sementara itu Slamet sibuk menjerang air di atas tumpuk kayu bakar. Dan Slamet terus memasang telinganya. Dia juga ingin mengintip. Kalau sudah ada desis dan rintihan Minil pasti kegitan sudah dimulai. Dan Slamet tidak menutup rapat gordin yang membatasi ruang tengah dengan ruang belakang. Ia menyisakan celah untuk matanya agar bisa melihat ke ruang tengah. " Dilepas saja bajunya ya, Nil ?" Berkata begitu pak Lurah sambil melucuti baju Minil. Dengan mudah rok terlepas karena memang Minil juga membantu - bantu supaya bisa segera lepas. Kemudian kutang juga dilepas. Kemudian pak Lurah merebahkan tubuh Minil yang telanjang dada. Pak Lurah melepas baju yang dipakainya. Tinggal kaos singlet yang dikenakannya. Pak Lurah kemudian membungkuk dan mulai menciumi payudara Minil. Menjilatnya. Menggigit - gigit kecil punting penthilnya. Minil mendesis dan tubuhnya menggeliat - geliat menyebabkan balai - balai bambu berderit. Sementara tangan pak lurah terus mengelus - elus kemaluan Minil dari luar celana dalam. Ketika mulut pak lurah ke leher Minil, tangannya telah menyelusup di bailik celana dalam Minil. Jari - jarinya telah berada di belahan kemaluan Minil, dan memcoba menyibak - nyibakkan bibir kemaluan untuk menemukan liang kenikmatan yang sempit dan hangat membasah. Pak Lurah kemudian rebah di samping tubuh Minil. Nampak sekali perbedaan kedua tubuh di atas balai - balai itu. Tubuh Minil yang tidak begitu besar. Tubuh seorang gadis kencur bonsor. Berbanding dengan tubuh yang tinggi besar. Dengan tangan dan kaki yang kekar. Besar tubuh Minil tak ada separuhnya dari besarnya tubuh pak Lurah. Pak Lurah memelorotkan celana dalam Minil. Dan Minil membantu - bantunya dengan mengangkat  pantatnya. Celana dalam Minil terlepas. Kemaluan minil tampak jelas di mata pak Lurah. Daging menggunung terbelah terletak di selangkangan. Pak Lurah melepas sarungnya. Dan tongkatnya yang besar, panjang, dan kaku teracung - acung di atas perut Minil. Minil tak melihat itu. Karena Minil terus memejamkan mata karena geli nikmat di penthilnya, di lehernya, dan di pepeknya. Pak Lurah melumurkan jel di kemaluan Minil, Jel dimasukkan juga di liang senggama kemaluan Minil, juga dilumurkan di ujung penisnya. Pak Lurah tahu seandainya tanpa jel Minil pasti akan menjerit kesakitan liang senggamanya yang perawan ditusuk tongkatnya yang begitu kaku, panjang, dan besar. Jel yang licin dirasakan kemaluan Minil. Minil merasakan kemalauannya seperti ketumpahan oli. Sambil menyiumi penthil, leher, pipi, daun telinga berganti - ganti, jari tangan pak Lurah terus melumerkan jel di permukaan kemaluan Minil. Pak Lurah kemudian mengangkangkan paha Minil lebar - lebar, Minil menurut. Kemudian pak Lurah memposisikan pinggul dan pantatnya di tengah antara paha Minil yang kecil bila dibanding paha pak Lurah yang begitu besar dan berbulu. Tongkatnya sangat mencuat. Kemudian pak Lurah menurunkan pantatnya seredah mungking sehingga ujung penisnya telah persis di hadapan kemaluan Minil yang bibirnya telah membuka lebar. Kemudian ujung tongkat ditempelkan di bibir kemaluan Minil. Pak lurah merasakan kehangatan bibir basah dan lunak lumer. Sebaliknya Minil yang bibir kemaluannya serasa ditekan ujung penis pak Lurah seklias teringat apa yang dilihatnya tadi malam. Kemaluan maknya ditusuk tongkatnya kang Darman, dan maknya melantunkan kata : " Aduh Man.....enak sekali....aaaaahhhh !" Akankah kemaluannya merasakan seperti kemaulan maknya yang ditusuk kang Darman ? Minil menunggu apa yang akan terjadi. Dengan dibantu tangannya pak Lurah mengepaskan ujung penisnya di liang senggama kemaluan Minil. Kemudian mendorongnya dengan pantatnya. Ujung penis masuk ke lingan kemaluan Minil. Minil mendesis. Pak Lurah merasakan sempitnya perawan gadis bonsor. " Minil .......". Lembut sekali pak Lurah menyebut nama Minil. Minil yang kemaluannya terasa dijejali benda besar, kaku dan hangat sekejap membuka mata dan menatap mata pak Lurah yang disana ditangkap oleh Minil ada rasa sayang yang teramat dalam dari pak Lurah. Minil hanya bisa berucap lirih : Den.....Lurah ..... " Kemudian kembali matanya mengatup. Minil membayangkan kemaluannya yang sedang ditusuk tongkat pak Lurah. Pak Lurah terus mendorongkan tongkatnya dan karena bantuan jel, tidak terlalu sulit tongkatnya yang begitu besar terus berjalan memasuki liang senggama Minil. Minil menggeliat dan tangannya erat menarik - narik sprei, kepalanya diangkat - angkat tetapi matanya terpejam dan mulutnya meringis dan mendesis. Dirasakan ada rasa sakit di kemaluannya. Dirasakan dikemaluannya ada benda yang masuk dan memenuhi bagian dalamnya. 
Pak Lurah terus mendorong masuk tongkat sampai tidak ada yang tersisa. Sampai disitu pak Lurah berhenti mendorong. Karena terasa sudah mentok. Sampai - sampai buah pelirnya telah terhimpit di antara pantatnya dan pantat Minil. Pak Lurah menghentikan kegiatan. Didiamkan tongkat menikmati seluruh kedalaman kemaluan Minil. Yang dirasakan Minil sakit dan perih karena robeknya selaput dara. Minil hanya bisa mendesis dan meringis. Melihat Minil yang demikian pak Lurah menjadi semakin sayang terhadap Minil. Kemudian tangannya mengelus rambut Minil mulai dari keningnya hingga belakang kepala Minil. Sesekali pipi Minil dicium dengan lembutnya dan seskali pula di telinga Minil pak Lurah menyebut - nyebut nama Minil dengan bisikan lembut pula. " Minil.....Minil....Min....Minil ...." Elusan rambut dan bisikan lembut pak Lurah menusuk relung hati Minil. Perasaan itu begitu terasa di dadanya. Ada rasa bahagia mengalir di pikiran dan relung hatinya. Perasaan itu menindih rasa sakit di kemaluannya. Dan anehnya Minil malah sebaliknya merasakan geli di kemaluannya perihnya hilang. Dan ada rasa pegal gatal di kemaluannya. Seluruh rongga di dalam kemaluannya terasa enak luar biasa dan ada rasa mau menyentak, meledak, pegal, dan rasa geli meradang yang tak tertahankan. Minil membuka mata dan menatap mata pak Lurah. Pak Lurah tersenyum dan menyebut namanya : Min .....Minil.....". Dan Minil tak kuasa menahan rasa di kemaluannya. Yang dilihat pak Lurah kemudian di wajah Minil adalah, lubang hidung Minil mekar, mulut menganga, dan dada diangkat - angkat dan desisnya dengan hebatnya keluar dari mulutnya : Aaaaauggggghh........". Berbarengan dengan itu kaki Minil menelosot - nelosot. Tangannya menggenggam dan menarik - narik seprei kuat - kuat. Dan yang dirasakan pak Lurah tongkatnya  yang ada di dalam kemaluan Minil bagai dililit - lilit dan kemudian dirasakan ada cairan hangat yang mengguyur tongkat. Minil orgasme. Sebentar kemudian Minil Lunglai. Dan kemaluan Minil dirasakan sangat basah oleh tongkat pak Lurah. Kemudian pak Lurah juga mulai bergiat memanjakan tongkatnya. Dengan lembut tongkat ditarik mundur dan dimajukan lagi. Mundur dimajukan lagi sambil menikmati apa yang ada di dalam kemaluan Minil. Ketika tongkat dimundurkan Pak Lurah merasakan tongkatnya bagai dililit - lilit, disedot - sodot oleh kemaluan Minil. Dan ketika dimajukan pak Lurah merasakan tongkatnya membelah, menusuk, dan mendorong sesuatu yang melilit - lilit ketika tongkatnya dimundurkan. Luar biasa tak ada nikmat selain menyenggamai kemaluan perempuan. Apalagi ini perempuan perawan. Walaupun pelan tetapi tiada henti terus pak Lurah memaju mundurkan tongkat sambil terus menikmati kedalaman kemaluan Minil. Kemaluan Minil yang diperlakukan demikian tidak tahan. Rasa geli nikmat kembali menjalar, tubuhnya menjadi merinding. Rasa nikmat di pepeknya naik sampai di saraf otaknya. Tak ayal tubuhnya menjadi menggigil, kembali tangannya mencari - cari seuatu untuk digenggam, kakiknya menelosot - nelosot dan mata Minil sekejap terbeliak menatap pak Lurah dan : " Aaaaaaaahhhhgg .... den Lurah..... den.... !". Minil kembali sampai dipuncak kenikmatan. Kenikmatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kembali tongkat pak Lurah yang terus maju mundur di kamaluan merasa semakin longgar karena cairan licin yang dikeluarkan kemaluan Minil. Ujung penisnya semakin mengembang. Saluran kecingya telah dipenuhi air mani yang siap membasahi rongga kemaluan Minil. Tongkat semakin terasa pegal. Dan semakin gemas saja pak Lurah dengan tubuh Minil yang sedang disetubuhinya. Kemudian yang dilakukan pak Lurah mengangkat tubuh Minil, dipangkunya. Mulut Minil dicium. Lehernya dijilati. Dan tangannya mermas penthil. Dan pantat pak Lurah bergoyang - goyang menimbulkan suara balai - balai bambu sedemikian berderit. Pak Lurah menjadi garang. Napasnya memburu tak beraturan. Pantat Minil diangkat diturunkan, diangkat diturunkan dan semakin cepat - semakin cepat. Minil seperti cacing kepanasan menggeliat tak karuan. Pak Lurah tidak peduli. Rintihan Minil justru menambah semangat pak Lurah menghujam - hujamkan tongkatnya di kemaluan Minil .Setelah beberapa menit begitu, tubuh Minil kembali ditelentangkan dan dengan kuatnya pak Lurah memompa pepek Minil. Kedua paha Minil dicengkeram sedikit diangkat, dan pak Lurah juga sedikit mengangkat pantatnya dan terus memompa dengan kuat dan cepat. Minil menjerit kemudian lunglai. Dan pak Lurah tak peduli, terus dengan semakin cepat menjodokkan tongkat di kemaluan Minil yang entah wujudnya menjadi seperti apa karena disetubuhi dengan kuatnya. Kemudian tubuh minil yang sudah lunglai dibalikkan. Kali ini Minil tengkurap pantatnya di pangkuan paha pak Lurah. Kembali pak lurah memompakan tongkat di pepek Minil dengan cara pak Lurah mencengkeram kedua paha Minil dan paha itu dimaju mundurkan sehingga tongkat pak Lurah melesak masuk dan keluar di kemaluan Minil. Kegiatan ini dilakukan pak Lurah dengan kasarnya dan memakan waktu bermenit - menit. Minil tak lagi merasakan apa - apa karena sudah pingsan. Minil pingsan karena karena terlalu banyak orgasme, juga karena hentakan - hentakan tubuh pak Lurah yang begitu kuatnya. Kembali tubuh Minil yang lunglai diteletangkan, kali ini pak Lurah siap mengeluarkan maninya. Ia sudah tak tahan dengan enaknya kemaluan Minil. Setelah kemaluan melesak masuk pak Lurah tanpa ampun memompakan tongkatnya dengan kuat dan cepat di kemaluan Minil. Sampai - sampai beradunya paha pak Lurah dengan paha Minil menimbulkan suara ....ceplak ...ceplak ...ceplak ...ceplak ....!. Dan dari kemaluan Minil muncul suara kecipak .... kecipak ....  kecipak.....! Pak Lurah menjadi lupa diri dengan saking gemasnya terhadap tubuh Minil. Payudara Minil digigit. Dicupang. disedot dan pantat Minil diremas - remas kuat. Kegiatan pak Lurah ini menyebabkan Minil siuman. Minil tersadar. Terbeliak matanya. Dan anehnya Minil merasakan sensasi yang luar biasa dan dia orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya : " Ampun.... den...Minil ..tak kuat lagi ". Saat itu pula pak Lurah tak lagi kuat menahan maninya. Dengan kuat direngkuhnya tubuh Minil. Dipeluknya kuat - kuat  dan tongkatnya menyemburkan mani di dalam kemaluan Minil. Pak Lurah merasakan seolah kelaminnya pecah meledak  di dalam kemaluan Minil. Rasa nikmat luar biasa tak terbayangkan dirasakan pak Lurah. Pak Lurah mengerang hebat. Erangan pak Lurah begitu kautnya, sehingga semakin menyadarkan Minil yang sejanak tadi sempat pingsan. Sesaat Minil masih bisa merasakan tongkat pak Lurah berkedut cepat,  menyasak  - nyesak dan mendesak - desak di kedalaman kemaluannya dan semburan cairan kenthal, hangat, licin yang bagai air bah menerjang tanggul juga dirasakan Minil. Minil sesaat juga bisa menikmati air mani pak Lurah yang menghangat, meleleh, dan memenuhi seluruh rongga kemaluannya. Kemudian Minil lunglai dan lagi - lagi pingsan menyusul kejangnya kaki dan badan karena kemaluannya orgasme hebat. Lama sekali pak Lurah mendekap tubuh minil dan sesekali masih menggerakkan tongkatnya maju mundur untuk menuntaskan maninya yang masih tersisa di saluran. Sehabis itu pak Lurah juga terkulai di samping tubuh Minil yang pingsan.
     Darman masih terus menempelkan matanya di lubang intip. Melihat Minil diperlakukan begitu, rasa kasihan Darman muncul pula. Ingin rasanya Darman mengambil tubuh Minil yang lunglai lemas itu dan di bawa pulang ke mboknya. Minil yang terkulai dan perawannya telah direnggut dengan sedemikan ganasnya. Keperawanan yang dinikmati oleh pak Lurah yang memperlakukan pasangan senggamannya dengan begitu kejam. Slamet tak berani lagi mengintip. Ia segera sibuk mempersiapkan air hangat untuk pak Lurah bersih - bersih. Slamet mengisi ember - ember dengan air hangat. Kopi dan teh panas juga telah dipersiapkan Slamet.
     Pak Lurah bangkit dan meninggalkan Minil yang masih terkulai telanjang di balai - balai. Selesai bersih - bersih pak Lurah segera merapikan diri, mengenakan lagi seluruh pakainnya seperti ketika tadi datang. Minum kopi di dapur dan : " Tolong kau rawat Minil . Ingat Met, jangan kau apa - apakan dia. Minil milikku " Berkata begitu pak Lurah sambil mengulurkan setumpuk lembaran ratusan ribu pada Slamet. " Percayakan saya den.. di tangan Slamet Minil aman, den ? " Jawab Slamet sambil menerima uang pemberian pak Lurah. " Sudah aku pulang dulu ". Pak Lurah meninggalkan rumah Slamet. Minil sangat enak. Sambil berkendara menuju rumahnya pak Lurah terus berpikir mengatur strategi agar bisa terus berhubungan dengan Minil dan terus bisa selalu menyemenggamainya.
     Slamet tahu kalau Minil ternyata pingsan. Tubuhnya yang telanjang segera diselimutnya. Ke dapur Slamet mengambil ember berisi air hangat dan handuk kecil. Disibakkan selimut yang menutup tubuh  Minil. Slamet mulai mengelap tubuh Minil dengan air hangat. Wajahnya, lehernya, kemudian dadanya semua di lap oleh Slamet. Sampai di dadanya Slamet tergiur. Sebentar tangan Slamet meremas payudara Minil. Diteruskan mengelap perut dan terus ke bawah. Slamet mengangkang paha Minil. Slamet dengan jelas bisa melihat kemaluan minil. Bibir tampak tebal memerah. Slamet tahu pasti itu akibat tongkat pak Lurah yang tadi tak henti - hentinya menyodok dengan kuat. Dari liang senggamanya meleleh mani pak Lurah yang tercampur dengan darah merah, darah perawan Minil. Slamet memijit - mijit perut tepat di atas kemaluan Minil. Dan lelehan mani pak Lurah semakin banyak keluar dari pepek Minil dan membasahi sprei. Slamet mengelap kemaluan Minil sampai bersih. Minil siuman dari pingsannya. Dan samar - samar melihat Slamet yang masih terus mengelap kemaluannya. " Minta minum kang, aku haus banget " Kata Minil sambil mencoba bangun dari posisi tidurnya. Slamet bergegas mengambil teh di dapur dan memberikan gelas teh hangat ke Minil. Selesai minum Minil ambruk lagi. " Jangan tidur, Nil, ayo pulang !" Minil tak menggubris ajakan Slamet. Tubuhnya terlalu capai untuk bangun. Slamet menggoyang - goyangkan tubuh Minil. " Ayo Nil, pulang !" Sambil terus Slamet menggoyangkan tubuh Minil. " Dak kang, aku mau tidur sini saja, suk pagi saja pulangnya. Tolong uang ini dikasih ke simbok ". Tangan Minil mendorong tumpukan uang di sampingnya  dan terus menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
     Darman yang terus mengintip menyudahi kegitannya. Dan bergegas meninggal rumah Slamet, setengah berlari menuju rumah mak Kurni. Darman tahu kalau Minil tak pulang malam ini. Dan mak Kurni akan sendirian di rumah. Darman akan lagi menggoda mak Kurni. Hasrat bersenggamanya menggebu dengan menyaksikan persenggaman yang dilakukan Pak Lurah dan Minil tadi. Birahinya akan dilampiaskan ke mak Kurni. Darman langsung mendorong pintu yang Darman tahu pasti pintu di rumah mak Kurni belum dikancing lantaran mak Kurni sedang menunggu anaknya  pulang. Mak Kurni yang masih sibuk merapikan daun pisang calon pembungkus tempe dan duduk di lantai beralas tikar kaget. " Lho kok kamu, Man ? Aku kira Slamet dan Minil !" Mak Kurni menyambut kedatangan Darman. " Memangnya Minil sama Slamet kemana, yu ?" Darman pura - pura tidak tahu. Belum sempat dijawab Slamet masuk dan disapa mak Kurni : " Kok sendirian Minil mana ?" Dengan cepat Slamet menjawab dengan kebohongan yang kalimatnya telah dipersiapkan : " Walah yu, .... Minil itu memang tukang ngantukan tenan ta ? Lha wong sedang diajak bicara sama den Lurah kok kepalanya lentak - lentuk ngantuk. Malah terus tidur di kursi ". Mak Kurni mengerutkan keningnya dan : " Terus ?" Tanya mak Kurni. " Terus saya suruh tidur di tempat tidur ta, yu. Lha kok saya bangunkan ini tadi tidak mau bangun. Katanya besuk pagi saja pulangnya ". Slamet berbohong lagi. Mendengar penuturan Slamet, Darman tertawa dalam hati. Pinter juga Slamet berbohong ! Pikirnya. " Dan ini uang jahitan dari den Lurah untuk Minil ". Darman memberikan tumpukan uang ke hadapan mak Kurni. " Lho kok banyak banget, Met ?". Mak Kurni menghitung uang. " Dah terima saja, yu. Besuk sisanya kan bisa untuk keperluan lain - lain ". Slamet dengan santainya mengucapkan kalimat ini. " Terus den Lurah ?" Tanya mak Kurni. " Den Lurah ya terus pulang ta, yu. Lha yang diajak bicara malah ngantuk ". Slamet berbohong lagi . " Ya sudah Met, dak papa kamu segera pulang saja kasihan Minil sendirian. Oh .. ya Met titip Minil  lho". Slamet segera bangkit dari duduk dan meninggalkan Darman dan mak Kurni.
     Setelah Slamet pergi Darman menjulurkan kaki dan tiduran di depan mak Kurni yang lagi merapikan daun pisang yang sempat terhenti karena kedatangan Slamet. Darman menyulut rokok. " Mbok kamu itu dak usah ngrokok ta, Man ! Duitnya dikumpul - kumpul. Kalau sudah ngumpul kawinan. Dak takut jadi perjaka tua, pa Man ?"  Kalimat mak Kurni memecah kesunyian malam. " Dah kalau mau tidur sana di kamar Minil saja. Disini dingin, Man ?" Darman kaget dengan kalimat mak Kurni ini. " Lho aku boleh tidur sini ta, yu ?" Tanya Darman. " Ya apa mau pulang sudah malem gini. Disini tinggal tidur. Tapi besuk bangun pagi - pagi. Malu tetangga tahu kamu tiidur disini. Nanti dikiran kita berbuat yang enggak - enggak ". Kalimat mak Kurni lagi. " Lha kalau kayak kemarin malam itu enggak - enggak dak, yu ?" Goda Darman. " Ah embuh lah ... ya kamu itu yang bikin terjadi ". Jawab mak kurni manja. " Ini mumpung sepi diulang yuk, yu !" Goda Darman semakin menjurus sambil tertawa. " Wih enaknya kamu, Man ....Man... " Mak Kurni menimpali godaan Darman sambil tertawa juga. " Ya mau dak, yu. Kalau dak mau aku tak pulang saja ". Teringat kemarin malam Darman begitu membuatnya puas mak Kurni mulai terangsang. " Ya sudah sana kamu tiduran dulu di kamar Minil, nanti tak susul ". Darman bangkit dan segera menuju kamar Minil. Di dalam kamar Darman segera melucuti celananya, bajunya. Tinggal sarungnya saja yang membalut tubuhnya. Tongkatnya tak mau berhenti ereksi. Setelah mengancing pintu mak Kurni menyusul masuk kamar. " Sudah ayo, Man. Aku mau diapakan ?" Mak kurni masih berdiri di tepi ranjang. " Dilepas yu, dasternya " Perintah Darman. " Ah dak .... dingin, Man !" Berkata begitu tapi mak Kurni melepas juga dasternya. Mak Kurni telah telanjang dan masih berdiri. " Dah tiduran sini, yu !" Darman menarik tangan mak Kurni. Mak Kurni terduduk dan kemudian terlentang di samping Darman. Darman segera membuka sarungnya. Kemudian mengangkang kaki mak Kurni. Dan Darman segera ambil posisi memasukkan tongkat di kemaluan mak Kurni. Tak lama kemudian tongkat Darman telah masuk di kemaluan mak Kurni. " Aaaaaahhhh...Enak banget .... terpedomu, Man. Kaku banget. Gede lagi " Mak Kurni mengoceh sambil mendesis. " Awas Man......kalau kamu cepet keluar tak suruh bayar kamu ... " Mak Kurni mengancam agar Darman berlama - lama menyenggamainya. " Boleh yu, yu Kurni malam ini bakal tak buat puas ...puas sekali ... " Sambil terus memompa Darman terus meremas dan menyedot penthil mak Kurni. Mereka terus bergumul. Berganti posisi. Mak Kurni orgasme. Darman menyerang lagi. Lagi - lagi mak Kurni orgasme. Darman belum akan mengeluarkan maninya sebelum mak Kurni minta ampun.

                                                            bersambung kebagian keduapuluhdua ........
     


Senin, 29 Agustus 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput
 Anggungan Perkutut

                                                                                                                edohaput

Bagian keduapuluh

     Tiga hari setelah Slamet menyaksikan Minil diberi kenikmatan oleh pak Lurah di rumahnya, Slamet datang ke rumah Minil. Sore itu mak Kurni sedang membungkusi tempe ditunggui Minil. " Kok tempenya cuma sedikit ta, yu Kurni ?" Tanya Slamet setelah ikut duduk di tikar yang digelar di lantai tanah. " Tadi dak sempat beli dele, Met. Karena ngantar Minil ke tukang jahit ". Jawab mak Kurni. " Wah den Lurah itu baik banget ya, Met ? Minil sudah dapet sepuluh potong kain bagus - bagus saja duitnya masih sisa. Malah kutangnya saja Minil beli tujuh bagus - bagus juga. Celana dalamnya beli sepuluh bagus - bagus, malah ada rendanya juga. Yang milihkan celana dalam Minil penjualnya lho. Met ?" Dengan bangganya mak Kurni cerita tentang belanjaan Minil yang duitnya dari pemberian pak Lurah. " Sudah dibawa ke penjahit semua ta yu, kain - kain Minil ?" Slamet bertanya. " Sudah semua, Met . Malah penjualnya kain kok, Met, yang milihkan tukang jahitnya. Tapi kayaknya ongkosnya mahal, Met !" Mak Kurni nerocos cerita. " Nah soal ongkos jahit dak usah kawatir, yu. Den Lurah sudah menyanggupi semua ongkos jahitnya. Gitu ta Nil ?" Slamet memalingkan muka kearah Minil. Dan Minil mengangguk setuju dengan ucapan Slamet. " Dan kedatanganku ini juga disuruh  den Lurah. Besuk malam Minil ditunggu den Lurah di rumahku mau dikasih uang ongkos jahitnya, yu. Kamu mau ta Nil besuk malam ke rumahku. Besuk malam tak jemput kok, Nil " Slamet kembali memandangi Minil. Dan Minil mengangguk tanda setuju." Wah baiknya den Lurah ya, Met, kepada rakyatnya yang miskin ini. Mudah - mudahan den Lurah panjang umur, murah rezeki, dan selalu baik ya, Met ". Mak Kurni memuji pak Lurah. Mak Kurni tidak tahu kalau malam itu Minil telah dijadikan mainan yang sangat menyenangkan oleh pak Lurah. Mak Kurni tidak tahu kalau anaknya semata wayang ini telah sangat menyenangkan pak Lurah lantaran sangat penurut ketika dipakai sebagai alat pemuas birahi. Malahan dengan begitu bangganya mak Kurni terus memuji pak Lurah. Mak Kurni juga tidak tahu kalau Slamet begundalnya pak Lurah ini menjadikan Minil umpan yang sangat menggairahkan. " Minil ini untung sekali ya, Met, bisa bertemu den Lurah lantaran terpeleset. Nil besuk malam kalau kamu diberi lagi uang oleh den Lurah jangan lupa kang Slamet diberi ?". Suruh mak Kurni pada Minil. Slamet cepat - cepat menjawab : " Jangan ....jangan ...dak usah. Uang itu untuk Minil. Aku sudah diberi kok oleh den Lurah. Malah kedatanganku kesini selain mengabari kalau den Lurah ingin ketemu Minil lagi besuk malam, juga disuruh den Lurah memberikan uang ini untuk yu Kurni ". Slamet meletakkan amplop tebal berisi uang. Dan lanjutnya : " Ini uang lima juta. Yu Kurni dimnita den Lurah agar membuat kamar mandi dan wese dan juga sekalian buat sumurnya ". Slamet mengeluarkan uang dari amplop. Mak Kurni hanya terlongo -longo. Selama hidupnya mak Kurni belum pernah melihat tumpukan uang sebanyak itu. Mata dan pikiran mak Kurni tak percaya. Apalagi uang itu bakal menjadi miliknya. " Benar ini, Met ?" Mak Kurni meyakinkan dirinya. " Benar, yu. Den Lurah kasihan kalau Minil yang sudah gede masih mandi di pancuran ". Slamet memberi penjelasan untuk meyakinkan mak Kurni. " Walah ...walah .... baiknya den Lurah. terus apa ya dan bagaimana aku membalasnya, Met ?". Raut muka mak Kurni menunjukkan kegirangan yang luar biasa. " Dak usah mikir membalas, yu. Terima saja uang ini dan segera laksanakan perintah den Lurah. Dah simpan uang ini. Besuk cari tukang batu. Kalau nanti kurang bilang saja den Lurah pasti memberi lagi ". Slamet dengan kalemnya menyuruh mak Kurni menyimpan uang yang ada dihadapannya. Mak Kurni menimang - nimang uang itu dan  sambil terus tersenyum. " Sudah aku pulang dulu, yu. Dan besuk malam aku jemput ya, Nil !"  Slamet bangkit dari duduk dan pergi. Minil mengangguk tanda setuju.
     Sepeninggal Slamet. Minil masuk ke kamarnya. Pintu ditutup. Minil tiduran terlentang. Kakinya di kangkangkan. Tangannya menelusup masuk rok bawahannya. Dan mereba kemaluan. Kemaluannya dielus - elusnya sendiri dari luar celana dalammnya. Tangan yang lain meraba payudaranya. Minil merasakan nikmat. Ia bayangkan pak Lurah sedang mempermainkan kemaluannya, payudaranya, dan menciumi lehernya. Akankah besuk malam pak Lurah juga akan memepermainkannya lagi ? Minil memasukkan tangannya ke dalam celana dalamnya. Meraba bibir kemaluannya. Menusuk - nusukkan jarinya ke dalam liang pepeknya. Minil membayangkan dan teringat ketika menggenggam tongkat pak Lurah. Bagaiman kalau besuk malam pak Lurah menusukkan tongkatnya ke pepeknya ? Seperti apa ya rasanya ? Apakah lebih enak dari jari ?Minil malah menjadi semakin terangsang. Dan Minil semakin dalam menusukkan jarinya ke kedalaman kemaluannya. Dan memaju mundurkan seperti pak Lurah memainkan liang pepeknya. Mencari - cari di kedalaman kemaluannya yang apabila dikilik semakin geli dan membawa nikmat. Minil orgasme. Pepeknya basah. Minil kelelahan. Dan Minil ketiduran.
     Malam gelap. Dingin. Agak gerimis. Darman datang ke rumah mak Kurni. " Tumben, Man. Malam - malam datang ?" Sapa mak Kurni yang memang heran Darman berkunjung. Siang pun lewat di depan rumah Darman tak pernah mampir. Tapi kini tiba - tiba Darman datang malam - malam lagi. Ditanya mak Kurni Darman kaget dan bingung. Kedatangannya yang sesungguhnya adalah ingin menyelidik tentang uang pemberian pak Lurah. Tentang Minil. Tentang mak Kurni. Mak Kurni ini tahu tidak apa yang telah diperbuat pak Lurah terhadap anaknya. Darman tak segera menjawab pertanyaan mak Kurni. " Ada perlu penting ya, Man ?" Mak Temi lagi - lagi bertanya. Darman yang bingung menjawab sekenanya : " Dak penting kok, yu. Cuma disuruh simbok beli tempe sepuluh. Suk pagi tak punya lauk ". Darman menyampaikannya dengan sungguh - sungguh. Mak Kurni percaya : " Tapi tempenya belum jadi, Man . Tu barusan dibuat !" Mak Kurni menunjuk tempe yang ditaruh di tampah besar. " Dak papa, yu. Besuk kan ya jadi ta, yu ". Bahasa Darman diyakin - yakinkan agar mak Kurni tidak curiga. " Minil dimana, yu ?" Darman mengalihkan pembicaraan dan mencoba memancing mak Kurni dengan menanyakan Minil. Barangkali mak Kurni sudah dilapori Minil tentang perbuatan pak Lurah malam itu. Kalau Minil melaporkan perbuatan pak Lurah dirinya kepada maknya, pasti mak Kurni akan cerita banyak kepada dirinya. Tetapi yang terjadi sesungguhnya Minil tidak memberitahu maknya apa yang telah diperbuat pak Lurah pada dirinya. Minil tidak melapor karena Minil merasakan enak. Enak dipermainkan pak Lurah dan enak diberi duit. Minil sebenarnya menikmati apa yang diperbuat pak Lurah. Malahan Minil merindukannya. Ingin dibegitukan lagi. minil ketagihan. Minil gadis kencur yang tiba - tiba merasakan nikmatnya penthil diremas, kemaluan dikilik dan leher dicium. " Dak tahu, Man. Ketiduran barangkali. Sepulang Slamet dari sini sore tadi, Minil terus masuk kamar dan nampaknya dia tidur ". Jawab mak Kurni jujur. " Slamet sore tadi kesini ta, yu ?" Tanya Darman. Wah ini bakal dapat informasi lagi ! Pikir Darman. " Sendiri, yu ?" Darman mencoba memancing agar mak Kurni cerita. " Ya sendiri, Man. Kedatangannya kesini disuruh pak Lurah lho, Man !" Mak Kurni mengucapkan kalimat ini dengan penuh bangga. Seolah ingin mengatakan kalau keluarganya begitu diperhatikan pak Lurah. " Disuruh apa Slamet sama den Lurah, yu ?" Tanya Darman terus memancing. Harapan Darman mak Kurni akan cerita banyak. " Tu besuk malam den Lurah ingin ketemu Minil lagi. Kata Slamet Minil mau dikasih ongkos jahitan ". Mak Kurni lugas menerangkan. " Ongkos jahitan ?" Darman pura - pura tidak tahu. Padahal semua kejadian telah dikantonginya. " Iya, Man. Kemarin malam lusa tu Minil dikasih uang agar beli beberapa potong kain. Lalu disuruh menjahitkan. Den Lurah kasihan sama Minil yang roknya sudah pada compang - camping. Den Lurah itu kan dulu itu menolong Minil ketika terpeleset sehabis mandi di pancuran. Terus Minil dipinjami jaket den Lurah. Terus Minil disuruh ke rumah Slamet malam - malam dan Minil dikasih uang banyak untuk beli baju ". Darman berpura - pura manggut - manggut. " Malahan besuk malam Minil disuruh lagi ke rumah Slamet. Den Lurah mau kasih uang untuk ongkos jahitannya ". Darman terus manggut - manggut dan memasang wajah seolah - olah kagum dan heran. " Den lurah itu baik banget ya, Man ? Perhatian sekali sama orang miskin kaya saya ini ". Darman semakin manggut - manggut. Darman merasa yakin  mendapatkan informasi yang sangat baik. Darman tak perlu memancing - mancing. Mak Kurni malah sudah menggelontorkan informasi yang dibutuhkannya. " Ya....ya...den Lurah memang sangat baik, yu ". Timpal Darman mengiyakan kalimat mak Kurni dengan semangat. Tujuannya mak Kurni agar terus cerita. " Malah den lurah nyuruh saya buat sumur, buat kamar mandi dan wese. Agar Minil tak lagi mandi di pancuran ". Mak Kurni jadi sombong atas perhatian yang diberikan pak Lurah. " Lha uangnya, yu ?" Darman bertanya. Yang kali ini bertanya sungguh - sungguh karena memang belum tahu. " Ya... dari den Lurah ta, Man ". Jawab mak Kurni semakin sombong. " Den lurah ?" Darman mencari penegasan. " Lima juta, Man ! Cukup kan kalau untuk bikin sumur dan kamar mandi ?" Mak Kurni semangat. " Cukup ....cukup, Yu ! Tapi ..... tapi.... mengapa ya,yu, den Lurah kok semurah itu, ya ? Jangan - jangan den Lurah suka sama yu Kurni ". Darman mulai menggoda mak Kurni. Darman tahu persis uang lima juta itu adalah uang penutup mulut mak Kurni. Agar ia nantinya tidak mempermasalahkan jika Minil  dijadikan  perempuan simpanan oleh pak Lurah. " Ah jangan edan, Man ! Masak den Lurah suka sama aku ! Kamu jangan edan, Man ......Man.... !" Mak Kurni tiba - tiba genit. " Lho yu Kurni ini janda muda, ta ? Sebetulnya yu Kurni ini ayu lho, yu. Cuma karena tidak terawat dan hanya jualan tempe yan kayak gini jadinya. Coba kalau didandani, ya kara bidadari ". Godaan Darman ini menyasar. Karena ternyata mak Kurni jadi bersikap malu - malu kucing. " Lha kalau yu Kurni mau aku ya mau lho, yu ". Darman semakin nekat menggoda, karena Darman tahu yang digoda ternyata semakin tergoda. " Ah ....kamu aja Man.....Man... laki - laki banci ! Tuh sudah segitu tua belum berani kawin ! Tak bisa ya, Man ..?"  Mak Kurni balas menggoda Darman. " E....jangan tanya, yu. Punyaku besar, panjang, bisa kaku banget, dan atos lho, yu !" Pembicaraan mulai miring dan tak fokus. " Lha terus untuk apa kalau tak ada isteri ?" Mak Kurni juga semakin nekat menggoda. " Dikocok sendiri ya, Man ?" Berkata begitu mak Kurni tertawa nyekikik. Telak Darman kena hantaman kalimat mak Kurni yang terahkir. Darman tak kalah akal : " Ya ...mumpung ada janda cantik, .... ya kesitu aja arahnya .. !" Kalimat - kalimat godaan ini tak urung mendorong nafsu birahi mereka muncul. Darman sang perjaka yang sedang masanya menggebu, mak Kurni yang telah lama ditinggal mati suami. Ditambah suasana malam yang sepi, dingin dan gerimis. Karena omongan - omongan  itu mak Kurni yang sudah lama tak merasakan kehangatan tiba - tiba kemaluannya terasa ada rasa gatal - gatal dan membasah. " Sudah ah ....Man, bikin gatelan saja ". Mak Kurni keceplosan. " Apanya yang gatel, yu. Sini tak garuk - garuk !" Goda Darman yang semakin menjurus. " Ah ...edan ...kamu .. !" Berkata begitu mak Kurni berdiri dari duduk di lantai. Entah karena disengaja atau memang beneran mak Kurni yang mencoba berdiri tapi karena memang sudah terlalu lama duduk tiba - tiba terhuyung ke arah Darman. Darman yang juga duduk di tikar yang igelar di lantai tanah dengan sigap menangkap tangan mak Kurni. Mak Kurni yang ditangkap tangannya malah seperti ditarik dan ahkirnya jatuh di tubuh Darman. Keduanya ambruk. Darman tak menyia - nyiakan keadaan. Tangannya langsung ke penthil mak Kurni. Dan langsung diremas walaupun dari luar baju. Dan kaki Darman menjepit tubuh mak Kurni. Mak Kurni yang dijepit Darman yang hanya pakai sarung merasakan ada sesuatu yang kaku menyodok pahanya. Mak Kurni mendengus bernafsu. Darman tahu mak Kurni bernafsu tangannya langsung beralih meraba kemaluan mak Kurni walaupun masih dari luar daster mak Kurni. " Aaaah... jangan edan, Man... ". Berkata begitu mak Kurni sambil nafasnya tersengal. Darman yang sudah juga sangat bernafsu, semakin meneruskan kegiatannya. Tangannya masuk rok dan langsung ke selangkangan mak Kurni dan segera menemukan sesuatu yang basah, empuk, kenyal, kemaluan mak Kurni. Mak Kurni tak pernah mengenakan celana dalam. Lantaran tak punya. Mak Kurni sangat menikmati jari - jari tangan Darman. Rasa gatalnya di kemaluan hilang, berganti rasa geli nikmat. Kemaluan yang sudah lebih dari setahun tak dijamah. Mak kurni terus menggeliat. " Man ....ayo...Man ....aku tak tahan ... !" Mak Kurni merintih. Darman tanggap. Sarung dilepas. Celana dilepas. Dan tongkat mencuat. Dengan sigap pula mak Kurni menelanjangi diri. Minil yang sejak sore tertidur di kamar terbangun mendengar suara ribut - ribut. Minil bangun dan mencoba mengintip dari pintu yang sdeikit terbuka. Manil terkesiap. Maknya terlengtang kangkang. Minil melihat kemaluan maknya yang besar. Berambut lebat sedang di masuki jari tangan Darman. Dan Minil sangat jelas melihat tongkat Darman yang mencuat dan sedang dipegang - pegang maknya. " Ayolah ...Man...masukkan ....masukkan ...Man... !" Pinta mak Kurni. Darman mengangkangi tubuh mak Kurni. Dan tongkat Darman sudah berada persis di depan kemaluan mak Kurni. Minil terus melihat. Dan Minil dengan jelas bisa melihat tongkat Darman menusuk kemaluan maknya. Dan maknya mendesah : " Aaaaaaaaahhhh ....Man..... !" Desahan nikmat itu terdengar pula di telingan Minil. Minil jadi ingat pak Lurah. Apakah kemaluannya besuk malam juga akan dihujam seperti itu oleh pak Lurah ? Minil merapatkan paha karena dikemaluannya terasa ada yang mau menetes. Darman terus menyerang kemaluan mak Kurni dengan tongkatnya. Nafas mereka memburu. Desahan demi desahan terus terdengar. Setiap kali mak Kurni orgasme desahan dan rintihannya sangat membuat Minil ingin kemaluannya juga diperbuat seperti itu. Tikar dilantai tak lagi rapi. Kedua membuat tak beraturan lagi. Suara kaki mak Kurni yang terus menjejak - jejak tikar begitu kemresek. Masih juga ditimpali suara paha yang beradu. Terdengar pula suara kecipak kemaluan mak Kurni yang basah diserang tongkat Darman. Sambil duduk di paha mak Kurni dan memaju mundurkan tongkatnya di kemaluan mak Kurni Darman tak henti - hentinya meremas, memilin punting penthil mak Kurni. Darman melepas tongkatnya dari kemaluan mak Kurni. Membalikkan tubuh mak Kurni. Mak Kurni tengkurap Darman memasukkan tongkat ke kemaluan mak Kurni dari belakang. Mak Kurni menggerak - gerakkan pantatnya maju mudur. Darman melenguh - lenguh. Kembali mak Kurni ditelentangkan. Darman kembali menghunjamkan tongkatnya. Semakin cepat saja Darman memompa. Semakin cepat .....semakin cepat .... dan semakin cepat ..... dan Darman menjerit tertahan : " Y u u u u u u u u u ....... aaagggghhhh......!" Darman menusukkan tongkat menghujam dalam sekali di kemaluan mak Kurni. " Man.....Maaaaaaaaaannnnn .... eessss.... aahhgg.... !" Darman dan mak Kurni orgasme bersama. Sementara itu dua jari tangan Minil telah masuk di kemaluannya sendiri dan Minil juga tak bisa menahan : " Aaaaaauuuuugghhhhh .... !" Pepek Minil bagai bocor. Airnya deras mengalir membasahi pahanya. Setelah itu suasana kembali sepi. Yang terdengar hanya suara angin yang menggesekan dedaunan di luar rumah dan suara jatuhnya titik air dari langit menjatuhi genting.

                                                                       bersambung kebagian keduapuluhsatu ........

Jumat, 26 Agustus 2011

Anggungan Perkutut

cerita dewasa edohaput

Anggungan Perkutut 

                                                                                                                               edohaput 

Bagian kesembilanbelas  

     Darman melaksanakan tugas yang dibebankan polisi kepadanya. Mula - mula yang dikerjakan menyambangi rumah Minil. Darman mencoba mencari tahu dengan cara mengamati rumah Minil. Mencari tahu apakah jaket pak Lurah masih di rumah Minil. Atau sudah dikembalikan oleh Minil ke pak Lurah. Atau barangkali masih di rumah Minil. Pasti sudah dikembalikan. Kalau tidak ya pasti sudah diambil. Jaket itu sudah seminggu sejak peristiwa Minil terpeleset. Mungkinkah masih disimpan Minil. Kalaupun dicuci ya pasti sudah kering dan segera dikembalikan. Kalau jaket itu tertahan di rumah Minil rasanya tidak mungkin. Darman lewat di depan rumah Minil dan terkejut. Jaket pak Lurah ada di jemuran. Jaket itu belum dikembalikan atau ternyata belum diambil pemiliknya yaitu pak Lurah. Darman jadi maklum jaket itu belum dikembalikan. Jaket itu ternyata jaket kulit. Jaket itu dicuci, pasti sulit keringnya. Apalagi cuaca banyak mendungnya. Darman berlalu dari halaman rumah Minil sambil terus melirik jaket kulit yang sedang dijemur. Dan jaket itu tampaknya sudah mengering. Kalau jaket itu sudah kering pasti akan segera dikembalikan oleh Minil ke pak Lurah. Atau pak Lurah akan mengambilnya. 
     Malam mulai merangkak. Darman kembali menyambangi rumah Minil. Lampu minyak ruang depan masih menyala terang. Darman mendengar orang sedang bercakap - cakap. Darman berhenti dan duduk di teras rumah Minil. Darman ingin tahu siapa sedang ada di dalam rumah Minil. Darman duduk di lincak bambu yang ada dan menyulut rokok. Suasana sepi tak ada orang lewat.  
     " Jaket itu baru saja kering, Met " Terdengar di dalam rumah Mak Kurni berbicara. " Ya pantes saja yu, lha wong mendang - mendung gini ". Jawab Slamet.  " Den Lurah ya tidak kepingin jaket itu segera dikembalikan kok, yu. Tapi kalau sudah kering ya segera dikembalikan ". Kata Slamet lagi.  " Lha sekarang jaket itu bisa kamu bawa kok, Met. Besuk kamu bawa ke rumah den Lurah ". Terdengar mak Kurni menimpali kalimat Slamet. " Seperti saya kemarin ngomong, yu. Den Lurah ingin yang mengembalikan jaket itu Minil. Den Lurah ingin ketemu Minil. Kemarin kan sudah saya omongkan ta, yu, kalau den lurah itu kasihan sama Minil. Mosok anak sudah hampir perawan kok bajunya selalu compang - camping. Siapa tahu nanti kalau Minil ketemu sama den Lurah, terus Minil di kasih duit kan lumayan ta, yu ". Kalimat Slamet panjang mengingatkan mak Kurni. Slamet memang telah datang beberapa kali di rumah mak Kurni menanyakan jaket itu. " Ya sudah besuk biar Minil ke rumah den Lurah mengembalikan jaket itu, Met. Ya kamu tahu ta, Met,  kalau aku ini orang tak mampu. Sampai - sampai membelikan baju anak saja susah. Berapa ta, Met, hasil orang jual tempe kayak aku ini. Untung sedikit cuma bisa untuk beli beras. Ya matur nuwun betul, Met. Kalau den Lurah mau melasi Minil ". Kalimat mak Kurni juga jadi panjang. " Minil dak usah datang sendiri ke den Lurah, yu. Besuk malam aku tak kesini lagi. Nanti Minil saya boncengkan sepeda untuk ketemu den Lurah, yu ", pinta Slamet. " Wah jadi merepotkan kamu, Met. Matur nuwun ya, Met ya ". Kata mak Kurni  terdengar gembira. " Dak ..... dak merepotkan, yu. Justru aku senang bisa bantu - bantu Minil kalau benar - benar besuk den Lurah itu melasi Minil. Dan besuk malam itu den Lurah menunggu di rumahku kok, yu. Karena besuk malam itu den Lurah minta ditemani aku menjenguk orang sakit di tetangga desa. Jadi Minil besuk saya jemput saja dan saya ajak ke rumahku, yu. Den Lurah sudah menunggu di rumahku ". Slamet memberi penjelasan mak Kurni. " Ya sudah kalau gitu, pasrah Minil ya, Met. Tolong Minil diajari sopan besuk kalau ketemu den Lurah. O....ya....tak buatkan teh ya, Met !" Mak kurni terdengar sangat bergembira. " Dak usah, yu. Aku mau pulang saja kok, yu. Mau tidur. Capek banget seharian nyangkul di sawah. Lha ini Minil dah tidur ya, yu ?" Kalimat Slamet diahkiri dengan menanyakan Minil yang sudah tak terdengar suaranya. " Lha itu  ta, Met. Sudah bodo, malas lagi. Lha Minil itu tak suruh bantu - bantu bungkusi tempe saja tidak mau kok, Met. Sukaknya cuma tidur. Dia itu kan cuma gede badannya saja ta, Met. Pikirannya belum mau tahu susahnya orang tua cari beras. Pekerjaannya cuma glimpang - glimpung dengarkan radio. Kalau sudah lagunya dangdutan, wah ....Minil tak bisa diminta tenaganya, Met. Aku ini heran sama Minil itu lho, Met. Sejak ditinggal mati bapaknya kok jadi banyak diam dan tambah malas. Sekolah dak mau. Keluar rumah jarang. Keluar rumah ya kalau pergi mandi di pancuran itu. Lha wong saya ajak ke pasar saja ya dak mau kok, Met. O...ya tapi besuk  jangan malam - malam, Met. Nanti Minil keburu ngantuk. Kalau siang, atau sore saja ketemunya den lurah bisa ta, Met ? ". Dengan semangat mak Kurni ngomongkan sedikit tabiat anaknya. " Dak bisa yu, karena besuk seharian sampai sore den Lurah pergi ke kota mengantar isteri - isterinya belanja. Ya sudah, yu. Aku pulang dulu. Besuk malam kesini lagi. Yu Kurni jangan lupa kasih tahu Minil kalau besuk malam saya jemput ". Terdengar kursi kayu  berderit tersodok kaki Slamet yang beranjak berdiri dari duduk. 
     Darman mendengar Slamet mau pulang, segera cabut dari lincak dan segera pula meninggalkan teras rumah mak Kurni. Darman tidak ingin keberadaannya diketahui Slamet. Tak ingin pula Darman diketahui Slamet kalau dirinya telah menguping pembicaraan. Darman segera lenyap di kegelapan malam dan di rimbunnya tetanaman di sekitar rumah mak Kurni. 
     Darman tahu persis siapa itu Slamet. Slamet adalah begundal pak Lurah. Begundal adalah pembantu setia yang disayangi. Kemana perginya pak Lurah Slamet selalu diajak. Bahkan pada acara - acara pentingpun Slamet jarang ketinggalan. Slamet adalah pembantu yang menyediakan segala keperluan pak Lurah mulai dari urusan kecil - kecil sampai pada urusan besar dan urusan yang sifatnya pribadi. Hampir - hampir tidak ada yang tidak diketahui Slamet apa yang dikerjakan dan diperbuat pak Lurah. Slamet selalu mengiyakan apa yang diperintahkan pak Lurah. Hidupnya penuh diabdikan kepada pak Lurah. Urusan pribadinya menjadi terbengkelai. Sampai - sampai Slamet tak pernah berpikiran hidup berumah tangga. Kedua orang tua Slamet sudah tiada. Ia tinggal sendiri dan hidup dengan pemberian pak Lurah. Slamet adalah perjaka miskin yang tak banyak memilki ketrampilan. Hidup dan kehidupannya disandarkan pada pak Lurah yang cukup memberikan segala kebutuhannya. Bahkan rumah yang kini ditinggalinya pun pemberian pak Lurah.
     Darman sudah membayangkan apa yang akan terjadi pada Minil besuk malam. Minil dibawa ke rumah Slamet. Disana pak Lurah sudah menunggu. Wah ..... jangan - jangan Minil di apa - apakan sama pak Lurah. Waktu Minil terpeleset jatuh di pematang dan pak Lurah menolongnya, waktu itu pak lurah sudah cukup berani meraba - raba milik Minil. Padahal waktu itu banyak kerumunan orang. Lha besuk malam Minil sendirian di rumah Slamet. Disana hanya ada Slamet dan pak Lurah. Apa yang akan terjadi ?
     Rumah Slamet yang memang agak terpencil dari rumah - rumah warga lainnya sejak sore terus diawasi Darman. Darman tak mau ketinggalan. Ia sudah mengatur strategi. Begitu malam merangkak Darman sudah akan siap bersembunyi di samping rumah Slamet. Rumah Slamet yang tidak segede rumah - rumah warga lainnya dan terletak di tengah - tengah kebon pisang akan memudahkan Darman bersembunyi. Darman akan membuat lubang intip di beberapa tempat. Rumah Slamet yang terbuat dari dinding bambu itu akan memudahkan Darman membuat lubang intip. Alat untuk membuat lubang intip sudah dipersiapkan Darman. Darman harus mendahului kedatangan pak Lurah. Sebelum pak Lurah datang di rumah Slamet Darman sudah harus siap di tempat dia akan mengintip. Darman sangat mengenal rumah Slamet. Karena gotong royong sambatan membuat rumah itu Darman juga ikut bekerja. Di rumah Slamet hanya ada tiga ruangan. Ruang depan. Ruangan depan ada sepajang meja kursi kayu. Diterang lampu minyak. Di ruang tengah ada bale - bale atau tempat tidur yang terbuat dari bambu dan berkasur kapas randu. Tempat Darman tidur. Ruang ketiga ruang belakang ada dapur sederhana dan kamar mandi dan wese tempat buang air dan mandi yang amat ala kadarnya. Rumah orang tak berpunya pada umumnya di dusun. Di rumah Slamet belum tersentuh listrik. Lampu yang digunakan lampu minyak yang disebut gembreng atau teplok. Bahkan kalau sudah malam larut rumah Slamet ini hanya diterangi lampu sentir. Lampu minyak yang terbuat dari bola lampu yang sudah mati. Lampu - lampu seperti itu banyak dijual pasar desa.
     Malam mulai merangkak. Darman mengendap - endap diantara pohon - pohon pisang. Dan terus menuju samping rumah Slamet. Di dalam rumah Slamet sibuk dengan lampu - lampu minyak yang mulai dinyalakan. Di luar rumah Darman sibuk membuat lubang - lubang intip suara derik cengkerik dan walang kerik sangat membantu Darman membuat lubang - lubang intip. Tak lama kemudian pak Lurah datang. Motornya diparkir tepat di depan rumah Slamet. Pak lurah langsung masuk rumah dan ditemui Slamet. " Mumpung belum terlalu malam kau segera jemput Minil, Met !" Perintah pak Lurah yang tidak dijawab Slamet. Slamet segera mengeluarkan sepeda ontel dari rumah dan segera pergi. Darman mencoba mengintip. Pak Lurah duduk di ruang depan. Mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Di meja telah ada dua gelas teh. Mungkin itu sudah dipersiapkan Slamet untuk menjamu pak Lurah dan Minil. Tak urung jantung Darman berdegup juga menyaksikan pak Lurahnya dari lubang intip. Pak Lurah yang tinggi besar. Gagah. Tangannya besar tampak kokoh. Kalau - kalau sampai kelakuannya mengintip ini diketahui pak Lurah tak ayal dia bakal makan bogem mentahnya pak Lurah. Sekali pukul barangkali Darman langsung pingsan. Niatnya untuk mengintip apa yang akan terjadi menjadi ragu - ragu dan takut. Tetapi ketika teringat beban tugas yang diberikan polisi agar ia terus memantau kegiatan pak Lurahnya semangatnya tumbuh lagi dan menindih rasa takutnya.
     Slamet datang bersama Minil. Di tangan Minil ada jaket pak Lurah yang tempo hari yang lalu dikenakan pak Lurah di tubuh Minil yang nyaris telanjang karena terpeleset dan tercebur di sawah. Malam ini Minil mau mengembalikan jaket itu ke pak Lurah. " Sehat kamu, Nil ?" , tanya pak Lurah stelah Minil duduk di kursi kayu dihadapannya. " sehat, den Lurah ". Jawab Minil menunduk memandangi dan mempermainkan jaket pak Lurah yang masih ada di pangkuannya. Dengan suaranya yang lirih Minil melanjutkan kalimatnya : " Maaf den Lurah, saya baru malam ini bisa mengembalikan jaket den Lurah. Jaket ini saya cuci keringnya lama, den ". Minil memandangi pak Lurah sambil meletakkan jaket di atas meja. " Dak apa - apa, Nil. Aku punya jaket yang lain kok. O ... ya Nil, benar kata Slamet  kamu cuma punya tiga potong baju dan itu saja sudah kekecilan  ?" Tanya pak Lurah sambil memperhatikan tubuh Minil yang memang montok, padat berisi. Rupanya Minil tumbuh subur. Tak ayal jika bajunya cepat kekecilan. Minil jujur menjawab : " Benar den, malah yang satunya sobek, den. Dan simbok belum sempat menambalnya ". Pak Lurah merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan segepok uang yang terdiri dari pecahan puluhan ribu dan sebagian yang yang pecahan dua puluhan ribu dan lima puluhan ribu. " Ni, Nil. Besuk kamu beli kain di pasar. Terus dijahitkan. Uang ini cukup untuk beli kain dan kamu buat sepuluh baju. Ongkos jahitnya besuk saya kasih lagi. Mau ta Nil saya kasih uang untuk beli kain ?" Mengucapkan kalimat ini pak Lurah sambil terus memandangi Minil dan tertawa. Lagi - lagi Minil gadis bodo yang cenderung bloon ini menjawab dengan jujur : " Mau den. Kata simbok nanti kalau diberi apa - apa oleh den Lurah supaya saya tidak menolaknya ". Pak Lurah semakin lebar tertawanya. Di dalam hati pak Lurah tertawa geli juga : Dasar mbokmu, Nil !". 
     Darman yang menyaksikan dari lubang intip terpana dengan uang yang ada di atas meja. Edan banyak banget uang itu. Jangankan sepuluh potong kain, dua puluh potong kain pun cukup. Baik benar ini den Lurah sama Minil. Wah ... uang itu sama dengan hasil ngojekku berbulan - bulan. Beruntung amat kamu, Nil ! Darman mulai menduga - duga apa iya uang sebanyak itu den Lurah tidak meminta imbalan. Masak iya ! Jangan - jangan ...... ah .... aku tunggu saja apa yang akan terjadi. Darman terus menahan napas sambil mengintip. Gerak pupil matanya terus berganti - ganti melihat reaksi Minil dan aksi pak Lurahnya. Di ruang depan sedari tadi Darman tidak melihat Slamet. Dimana Slamet. Jangan - jangan Slamet ada di luar rumah dan mengetahui perbuatannya. Darman bergeser dan mengintip ruang tengah. Darman tak ada di situ. Darman semakin kawatir. Bergeser lagi mengintip ruang belakang. Darman lega. Ternyata Slamet lagi menikmati singkong rebus di dapur.
     " Sudah ayo uang itu kamu kantongi ! Ada dak bajumu itu kantongnya ! Besuk kamu dan mbokmu ke pasar beli kain !" Perintah pak Lurah. Minil meraup uang di meja dan menjejal - jejalkan di saku bajunya. Dua kantong bajunya penuh berisi uang. Pak lurah mengeluarkan meteran gulung dari saku celananya. " Sudah ayo, Nil. Badanmu tak ukur dulu. Nanti saya buatkan catatan supaya tepat membeli kainnya !" Kata pak Lurah sambil berdiri dan menggamit tangan Minil. Minil menurut saja ditarik pak Lurah dan berjalan ke ruang tengah. Melewati sekat kain gordin kini Minil dan pak Lurah ada di ruang tengah. " Dah kamu berdiri saja. Aku mengukur badanmu !" Minil menurut saja. Pak Lurah mulai merentangkan meteran dan mengukur badan Minil. Dimulai dari pundaknya. Di luar mata Darman yang juga sudah berpindah tempat ke lubang intip ruang tengahnya, jantung semakin berdegup. Ini dia ! Pikirnya. Mulai dari pundaknya terus pak Lurah mengukur dadanya. Di situ tangan pak Lurah berulang - ulang mengukur. Dan menekan - nekan dada Minil dengan punggung telapak tangannya. Minil diam saja. Tak bereaksi. Karena Minil tak beraksi pak Lurah semakin nekat. Kini tangannya mulai meraba dada Minil dan disertai sedikit menekan dan meremas dari luar baju Minil. Minil tetap tak bereaksi. Pak Lurah membuka kancing baju tepat di dada Minil. Sambil memegang pundak Minil pak Lurah memasukkan tangannya ke dalam baju Minil dan disitu terus meraba kedua payudara Minil yang baru tumbuh membesar. Pak Lurah dengan lembut meraba - raba kedua gundukan daging yang sedang tumbuh di dada Minil. Meremas - remas lembut dan jari pak Lurah menekan - nekan dan menggesek - gesak puting penthil perawan    yang belum pernah diperlakukan begitu.  Terdengar Minil mendesah lirih : " Aduuuuuuh ....geli den Lurah ...aaaaah ....eeeeessss ....geli den .... ". Tetapi Minil tidak meronta dan tidak menolak. Darman mendengar rintihan Minil itu dan melihat adegan itu. Tak urung tongkatnya ereksi. Edan ...! Darman semakin menempelkan matanya di lubang intip. Slamet pun dari dapur yang dengan ruang tengah hanya disekat pakai kain gordin mendengar pula. Slamet juga mencoba mengintip. " Kamu dak punya kutang ya, Nil ?" Ditanya pak Lurah begitu Minil hanya menggeleng. Pak Lurah merogoh saku celananya dan mengeluarkan lagi uang dan ditempelkan di telapak tangan Minil. " Ni, Nil. Besuk beli beha juga. Sayang kalau penthilmu tidak ditutup beha ". Setelah memberikan uang,  kembali tangan pak lurah masuk dibalik baju bagian dada Minil. Kembali pak Lurah menikmati rabaan penthil yang masih sangat ranum. Dielus, diraba - raba, diremas lembut. Dan Minil terus mendesis. Puas dengan payudara, pak lurah terus mengukur pinggang Minil. Turun ke pantat Minil. Pak Lurah melingkarkan meteran di pantat Minil. Tangan pak lurah berhenti persis di depan rok yang dibaliknya ada kemaluan Minil. Sekali lagi dengan punggung tangannya pak Lurah menekan - nekan kemaluan Minildari luar baju. Punggung tangan pak Lurah menyentuh gundukan daging yang empuk kenyal. Yang diperlakukan begitu lagi - lagi tak bereaksi. Hanya sedikit memundur - mundurkan pantatnya. Seperti disuruh tangan pak Lurah tak ragu - ragu lagi menelusup ke balik rok Minil. Disana tangan pak Lurah mengelus - elus kemaluan Minil yang ditutupi celana dalam yang tepat di depan muka kemaluannya celana itu sobek karena usang. Pak Lurah meraba - raba celana dalam Minil tepat di bagian yang sobek. Pak Lurah merasakan tangannya menyentuh daging hangat lembut dan empuk. Seiring dengan itu lampu minyak di ruang tengah itu meredup dan hampir padam. Suasana jadi temaram. Di luar mata Darman menjadi tak lagi jelas menyaksikan adegan yang ada di dalam. Edan ! Ini pasti perbuatan Slamet. Slamet pasti sudah dipesan pak Lurah agar supaya mengisi lampu dengan sedikit minyak agar padam pada saatnya. Darman mencoba semakin menempelkan matanya. Tapi kabur karena lampu terus meredup. Dengan semakin meredupnya lampu Slamet pun jadi semakin berani menyibakkan gordin untuk memperjelas penglihatannya. Pak Lurah terus mengelus - elus kemaluan Minil. Minil mendesah lagi. Dan terus mendesis. Kali ini desahannya jadi agak keras : " Aduuuhh ...den..geli....den...." Dengan adanya desahan Minil pak Lurah semakin bernafsu. Apalagi Minil tak menolak kemaluannya dielus - elus dan di tekan - tekan. Dengan lirih pak Lurah membisikkan kata di telinga Minil : " Celana dalamu .... sobek Nil, besuk beli sekalian ya .... " Sambil berkata begitu tangan pak lurah merogoh lagi kantong dan menjejalkan uang ditelapak tangan Minil. Minil menggenggamnya. Minil yang terus diberi uang jadi lupa. Ingatannya hanya pada uang di sakunya dan uang yang ada di genggaman tangannya. Rasanya Minil ingin segera menghitung uang itu. Tangan pak Lurah memelorotkan celana dalam Minil. " Ini dilepas saja. Dibuang ... besuk beli yang baru ...." Berkata begitu pak Lurah sambil napasnya semakin memburu. Celana dalam Minil berhasil dilepas. Pak Lurah segera melumuri jarinya dengan jel yang sudah dipersiapkan dari rumah. Jel pelumas itu dimaksudkan untuk dioleskan di kemaluan Minil. Agar saat dipermainkannya nanti tidak terasa perih. Maklum pepek perawan. Lampu minyak di ruang tengah padam. Darman tak lagi melihat adegan. Secara samar - samar Slamet masih bisa menyaksikan dari balik celah gordin. Slamet ereksi dan mulai bernafsu. Slamet menggosok - gosok tongkatnya sendiri. Darman hanya bisa membayangkan yang sedang terjadi di ruang tengah yang berubah jadi gelap. Pak Lurah menyandarkan Minil di pinggir bale - bale bambu. Minil tak menolak. Pak Lurah mengangkangkan kaki Minil. Minil menurut. Pak Lurah membuka ruitsleting celananya dan mengeluarkan tongkatnya yang sudah kaku dan mendongak. Mulut pak Lurah menciumi leher Minil. Tangan kirinya memeluk Minil melingkar sampai bisa meramas penthil Minil dan jari tangan kanannya yang sudah dilumuri jel pelumas berada di kemaluan minil. Tangan kiri terus meremas penthil, sementara jari - jari tangan kanannya semakin nakal melumurkan jel di belahan kemaluan    Minil dan menyodok - nyodok,  mencari - cari liang senggamanya. Sementara itu juga pak Lurah terus menekan - nekankan tongkat di pantat Minil yang sudah tidak ditutupi celana dalam. Dan melelehkan sedikit maninya di kulit pantat Minil. Jari tengah tangan pak Lurah berhasil masuk di liang kemaluan Minil. Saat itulah Minil cukup keras mendesah tanpa sadar karena lupa dia sedang diapakan dan sedang ada dimana : "Auuuuugghhh ...aaaaah.... eeeesssssss....aduuuuuhhh..... !" Jari tengah tangan pak Lurah yang ada di dalam kemaluan Minil terjepit dan basah.. Minil terus menggelinjang dipelukan pak Lurah yang semakin erat dan semakin menekankan tongkatnya di pantat Minil. Tongkat pak Lurah terus menyodok - nyodok pantat Minil. Tongkat pak Lurah terus sedikit - sedikit melelehkan mani di pantat Minil. Yang dirasakan Minil hanya melayang. Rasa geli dan enak di penthilnya yang terus diremas dengan tangan kiri pak Lurah, rasa di pepeknya yang terus dikilik jari tengah pak Lurah, dan rasa di kulit pantatnya yang digesek  - gesek dan disodok - sodok tongkat pak Lurah dan ada rasa licin - licin hangat meleleh di kulit pantatnya.  Pak Lurah semakin menggelitik kemaluan Minil. Dengan pengalamannya yang cukup banyak tentang menggelitik kemaluan pak Lurah terus mempermainkan pepek Minil. Minil terus menggelinjang seperti cacing kepanas. Apalagi bila jari pak Lurah tepat mengenai sasaran di kedalaman kemaluannya. Minil bergetar dan menggeliat. Pak Lurah yang tahu itu, dan semakin menderanya dan Minil hanya bisa terus mendesis dan mendesah nikmat. " Auuuuggh.....aaaaahhh..."  Tubuh Minil menggelinjang. Darman yang tak lagi bisa melihat dan hanya mendengar desahan tak kuat menahan ereksinya tongkatnya. Darman onani. Di dapur Slamet pun onani. Secara tidak sengaja tangan Minil meraba pantatnya yang terasa di sodok - sodok sesuatu yang kaku, hangat dan keras dan ada cairan basah hangat dan licin, dan tangan Minil menemukan benda itu. Minil menggenggamnya erat. Pak lurah yang tongkatnya digenggam Minil merasakan kenikmatan yang luar biasa dan meminta Minil terus memegangnya : " Terus Nil. Genggam erat Nil. Aduh enak Nil !" Dan jari tangan pak Lurah semakin ganas di pepek Minil. Dan yang terjadi kemudian muncratlah mani pak Lurah membasahi pantat Minil. " Min......M i n i i i i i i i i l " Pak Lurah menjerit tertahan. Dan berbarengan dengan itu karena semakin ganasnya jari pak Lurah menggelitik kemaluan , maka lagi - lagi Minil Orgasme. : " Aaaaaaaahhhhh ....aaauuuuuughh ....... !!  Pepek Minil menjadi sangat basah. Sementara itu di luar Darman juga memuncratkan maninya. Keluarnya mani dari tongkat Darman membuat dirinya lupa. Sampai - sampai kakinya menendang - nendang semak - semak dan menimbulkan bunyi kersek - kersek. Untung suara itu tak terperhatikan oleh mereka yang ada di dalam rumah karena masing - masing sedang  sibuk dengan kenikmatannya. Karena bersamaan dengan itu Slamet pun memuncratkan maninya. Mukanya mendongak. Matanya terpejam dan : " Auuuuuuugghh .... !" maninya muncrat - muncrat membasahi sarungnya.

                                                                bersambung kebagian keduapuluh ...........